Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 48



Enam tahun berlalu, sejak Rania menjadi bagian keluarga Darmawan. Sejak itu pula, Rania mulai tahu bagaimana sifat dan karakter Pak Darmawan, Sang Bapak mertua. Beliau tipikal orang yang gampang marah, jika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Lain hal nya dengan Sang istri, beliau adalah seorang yang sabar dan penyayang. Sungguh dua sifat dan karakter yang bertolak belakang, dipersatukan dalam satu hubungan. Namun, terlihat sangat harmonis.


"Pulang sekarang aja yuk!" ajak Pak Darmawan.


"Lho kok pulang sekarang. Kemarin katanya mau nginep, lalu berubah mau pulang habis asar, sekarang malah mau pulang cepat. Nanti aja atuh, nginep aja!" ujar Bu Sekar pada Pak Darmawan.


"Pengen shalat di mesjid yang 97 itu lho Bu. pemandangannya bagus di sana," jawab Pak Darmawan beralasan.


"Nanti aja lah, Pak. Abis asar, nangung ini." Bu Darmawan melirik jam dinding. Kurang dari setengah jam lagi waktu asar tiba. Kalau harus berangkat sekarang dan shalat di rest area daerah Purwakarta, tentu tidak akan tepat waktu.


Pak Darmawan melihat keluar rumah lewat kaca jendela. Dareen sedang asik berlari berkejaran dengan Zyan. Nalendra sedang duduk di teras memperhatikan mereka berdua.


"Yuk, pulang!" Pak Darmawan berdiri dan mengulurkan tangannya pada Sang istri.


Bu Darmawan menghela napas, akhirnya dia menurut saja. Bu Darmawan merasa sangat tidak enak hati pada keluarga Rania karena sifat suaminya.


"Maaf, ya Teh. Nanti Ibu akan main ke sini lagi. Tadinya Ibu pengen nginep di sini dulu," kata Bu Darmawan sambil melirik Sang suami.


Mereka berpamitan kepada orangtua Rania. Pak Idris maupun Bu Sekar sudah paham betul bagaimana sifat besan mereka ini.


"Nak, kami pulang dulu," ujar Pak Darmawan pada Nalendra yang asik memerhatikan Dareen.


"Iya, Pak. Ko pulang, bukannya mau menginap ya?" tanya Nalendra, dia pun berdiri memberi salam pada Pak Darmawan.


"Kami masih punya sedikit urusan di rumah," jawabnya ngasal. Nalendra hanya tersenyum, dia tidak mengerti. Namun, juga tidak mau bertanya lebih.


Pak Darmawan berjalan menghampiri Zyan dan Dareen. Dia mencoba menggendong Dareen yang terus meronta menolak.


"Nak Nalendra, Ibu titip Dareen ya," ujarnya menepuk pelan lengan Nalendra sambil tersenyum hangat. "Juga Teh Rania," lanjutnya setengah berbisik.


Nalendra tersenyum mendengar Bu Darmawan berkata demikian. Dia yakin kalau Bu Darmawan sudah tahu jika dia menyukai Rania, lebih dari seorang teman.


"Minta doanya saja, Bu." Nalendra membungkuk hormat.


"Dareen, Oma pulang ya," ujarnya pada Sang cucu.


"Oma, kapan ke sini lagi?"


"Nanti Oma ke sini secepatnya. Nanti Oma pengen nginep tidur sama Dareen," jawabnya memeluk Dareen dan menciuminya sebelum berangkat.


Selepas mereka pergi, Rania beserta orangtuanya dan nalendra masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu.


"Teh, mau ke makam dulu?" tanya Pak Idris. "Besok saja ya, Bapak cape banget." Pak Idris menjawab sendiri pertanyaannya.


"Iya besok aja. Rania juga ngantuk ini, tapi nanggung bentar lagi asar." Rania merebahkan kepalanya ke senderan sofa.


"Ibu mau pulang dulu, Bapak mau di sini dulu atau pulang?" tanya Bu Sekar.


"Bapak juga mau pulang. Dari datang tadi, Bapak di sini belum ke rumah." Pak Idris berdiri mengambil koper kecil yang berisi pakaian di kamar depan.


"Biarin aja koper mah, nanti biar sama Zyan dibawa pulang. Jangan di bawa Bapak, berat!" ujar Rania.


"Iya, ya." jawab pak Idris tersenyum senang. Dia kembali memasukan kopernya ke dalam kamar. "Nak, sudah tahu kan mesjidnya. Nanti kalau mau shalat ke sana aja. Jangan lupa bawa Dareen shalat, Bapak mau langsung ke mesjid dari rumah. Ga akan mampir sini dulu," tuturnya pada Nalendra.


"Iya, Pak. Tenang saja, saya sudah tau ko, Kalau pun lupa, saya nanti bareng Zyan," jawab Nalendra mengantar pak Idris dan Bu Sekar ke depan rumah.


"Ndra lapar ga?" tanya Rania begitu Pak Idris dan Bu Sekar sudah tidak terlihat lagi.


"Enggak, belum. Aku 'kan tadi siang udah makan," jawabnya mengikuti Rania masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu.


"Maaf, ya. tapi aku beneran lagi ngantuk ini!" ujar Rania menyenderkan kepalanya di bahu kursi.


Sudah hampir 10 bulan sejak kejadian kecelakaan itu terjadi. Selama itu pula, tanpa dia sadari Nalendra setia ikut menemani dia dan Dareen melewati semuanya. Sekarang, Rania pun sudah tidak terlalu canggung di hadapan Nalendra lagi.


"Rania," panggil Nalendra. "Besok 'kan aku masih cuti sampai Jumat. Boleh ga besok aku bawa Dareen main ke tempat rekreasi?" tanya Nalendra.


"Kemana?"


"Entahlah, aku belum tau. Mungkin berenang, mungkin juga berkuda atau ke mana gitu. Di daerah Lembang 'kan banyak tempat rekreasi sekarang. Mumpung aku libur dan hari kerja, jadi ga terlalu penuh." ujar nalendra penuh harap.


"Besok ya?" Rania memijit dahinya pelan. "Nanti aku tanyain dulu sama Dareen."


"Dareen pasti mau kalau diajak sama aku, tinggal nunggu izin kamu," ujar Nalendra. "Makanya aku bilang dulu sama kamu sebelum ngajak dia."


"Ndra, bukankah kamu cuti dari hari ini ya nyampe Minggu?" Rania membuka matanya seperti orang terkejut lalu memandang Nalendra.


"Iya, kenapa?" tanyanya dengan perasaan takut.


Rania menegakan posisi badannya. "Ndra bukannya ada cewe yang lagi kamu suka. Tadi kamu bilang pas kita ngobrol di dapur?"


"Iya, kenapa? tanya Nalendra tampak bingung.


"Dia orang mana sih? kenapa ga ajak dia aja, sekalian biar kalian tambah dekat?" Rania sungguh tidak menyadari jika dirinyalah wanita yang Nalendra sukai.


"Ya, aku memang sedang berencana mendekatinya, seperti katamu tadi. Jadi, boleh ga nih besok aku ajak Dareen?" tanya Nalendra lagi.


"Jam berapa?" tanya Rania. "Jangan terlalu pagi ya." Rania mulai cemberut memikirkan dia harus menyiapkan Dareen pagi-pagi.


"Paling sekitar jam 8 atau jam 9 an lah ya."


"Jangan lupa siapkan beberapa baju ganti," pinta Nalendra.


"Buat apa?"


"Ya buat gantilah. Takutnya besok aku ajak dia berenang." Nalendra merasa gemas sekali melihat Rania.


"Baiklah."


"Apa kamu ga mau ikut?" tanya Nalendra ragu.


"Aku harus, ehm ....Banyak yang harus aku bereskan," jawab Rania, mengingat baju-baju dia dan Dareen masih di dalam koper.


Adzan asar berkumandang, Nalendra meminta izin untuk ke mesjid terlebih dahulu. Dia juga mengajak Dareen sesuai perintah Pak Idris.


"Ayo, shalat dulu. Nanti besok Om ajak Dareen main. Kita jalan-jalan, gimana?"


"Besok, asik ...," ujar Dareen dengan suara keras.