
Kini mereka semua telah berkumpul. Minuman dan makanan sudah tersedia di atas meja. Sebelumnya, Nalendra telah memesankan makanan atas perintah Abah Danu. Mereka tidak mungkin hanya menumpang untuk mengobrol saja di restoran, bukan?
Keluarga Liana meminta segera membahas apa yang menjadi permasalahan, sehingga mereka harus berkumpul siang itu di sana. Namun, Abah Danu meminta semuanya menikmati dahulu hidangan yang telah tersedia di atas meja.
Setelah selesai bersantap, Abah Danu pun selaku yang tertua, mulai membuka percakapan tujuan mereka berkumpul siang itu. Abah Danu mengungkapkan permasalahan yang akan mereka bahas sore itu menurut versinya.
"Maaf, sebelumnya. Saya di sini selaku perwakilan pihak keluarga A Nalendra. Tujuan kami memanggil Ibu juga Aa dari Liana, ingin bersilaturahmi juga meminta maaf jika anak kami Nalendra mungkin telah mengecewakan Neng Liana."
"Mengecewakan apa maksudnya?" tanya Liana. Namun, Bu Ratna langsung memberi kode pada anaknya untuk diam mendengarkan saja.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kakak Liana.
"Aku minta maaf, ini terjadi mungkin karena keteledoranku. Saat itu aku tidak berpikir panjang tentang perasaan Liana." Nalendra mulai menceritakan awal dia dekat dengan Liana, tetapi hanya untuk mengenal Rania lebih jauh. "Aku minta maaf."
"Ndra, kamu bohong! bukankah kamu bilang kalau kamu menyukaiku?" sergah Liana. "Apa kamu ingat, kalau kita pernah jalan, nonton, makan."
"Aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Ya, kita memang jalan, nonton, tapi hanya sebagai teman. Sejak Rania menikah dengan Ergha, aku pun berhenti menghubungimu!"
"Itu karena kamu sibuk kerja di Jakarta. Aku mengerti, sangat mengerti kesibukanmu
Ga masalah buatku, yang penting sekarang kamu ada buatku!"
"Aku sudah menikah, Liana!"
"Kamu bisa menceraikannya atau jadikan aku istri kedua kamu pun, aku mau!"
Dia gila! pikir Nalendra.
Semua yang berada di sana hanya mendengarkan perdebatan Nalendra dan Liana. Kini, mereka mengerti kenapa terjadi kesalahpahaman.
"Maaf, Neng Liana kalau Abah memotong pembicaraan kalian. Tapi Aa Nalendra tidak mungkin bisa menceraikan Teh Rania."
"Kalau ga bisa, aku tidak masalah menjadi istri kedua pun asalkan bisa terus bersama Nalendra!"
"Jangan gila!" tolak Kakak Liana, wajahnya sudah memerah menahan amarah yang ingin keluar. "Aa ga akan pernah ngasih restu kamu jadi istri kedua. Sudahlah, bukan hanya dia laki-laki di dunia ini!"
"Benar kata A Agus, pulang yuk." air mata merembes di pipi Bu ratna. Wajah yang sudah mengeriput itu terlihat lelah dan sedih dengan putri satu-satunya tersebut. Nadin, sang menantu pun mengelus punggung ibu mertuanya, berusaha memberi kekuatan pada Bu Ratna.
"Ndra, bukankah kamu mengajakku ke sini mau melamarku?" ujar Liana kemudian.
"Apa maksudmu?" Nalendra menatap tajam sambil mengerutkan keningnya.
"Bukankah tadi kamu bilang ingin berbicara denganku dan kamu pun memanggil keluargaku ke sini. Itu artinya kamu mau melamarku dan setuju menikahiku, bukan?" jawab Liana.
Nalendra menghela napas pelan. "Dengarkan aku Liana. Ini terakhir kalinya aku berbicara denganmu. Aku tidak pernah jatuh cinta padamu. Sedikitpun tidak pernah terlintas di dalam benakku untuk melamarmu. Ingat, aku sudah beristri!" ucap Nalendra tegas.
Liana yang mendengar perkataan Nalendra langsung menyambar garpu yang berada dia atas meja, tak jauh dari tempat dia berada. Entah drama seperti apa yang dia tonton dan ikuti, garpu tersebut hendak dia tusukan ke lehernya.
"Apa yang kamu lakukan!"
"Liana!" seru A Agus.
"Lebih baik aku mati jika kamu sudah tidak menyukaiku lagi!"
"Astaghfirullah, sadar Neng!" ucap Abah Danu.
Liana mulai menusukan garpu tersebut di lehernya. Namun, dengan sigap Abah Danu yang berada di samping Liana langsung menangkis tangan Liana hingga garpu tersebut terlempar.
Bu Ratna langsung memeluk sang anak yang mulai berteriak histeris, hingga beberapa pelayan restoran masuk. "Sadar Na', sadar!" ucapnya sambil terus memeluk sang anak meskipun dia meronta kuat. Kakaknya pun membantu memegang Liana.
Setelah beberapa lama, tubuh Liana mulai terkulai lemah. Bu Ratna tetap memeluk anaknya erat sambil berderai air mata.
"Maafkan saya, Bu." Nalendra tidak bisa lagi berkata-kata. Dia sungguh sangat merasa bersalah melihat Liana yang seperti itu.
"Kami sudah memaafkanmu. Tapi tolong, jangan pernah kamu tunjukan wajahmu di depan Liana lagi!" ucap Agus. Walaupun sebenarnya itu sangat susah, karena Nalendra adalah suami Rania. Tentu esok, lusa atau suatu nanti mereka akan bertemu kembali karena rumah orangtua Rania berdekatan dengan rumah Liana.
"Sebaiknya kita bawa Liana pulang." Pak Idris menyarankan pada Agus. Mereka berdua membopong Liana keluar dari restoran menuju mobil keluarga Liana yang terparkir di halaman restoran.
Keluarga Liana pun tidak bisa berkata apa-apa, melihat Liana yang bersikeras ingin bersama Nalendra. Mereka merasa sikap Liana sudah berubah. Seperti seorang yang mulai terganggu mentalnya.
"Bu, saya sekeluarga juga Teh Rania, meminta maaf sebesar-besarnya pada ibu sekeluarga. Sepertinya ini bukan ranah kita lagi untuk menyadarkan Liana. Sepertinya kita harus ke psikologi," ucap Bu Sekar berharap Bu Ratna mengerti dengan apa yang dia bicarakan.
"Iya, sepertinya begitu, Bu. Tolong rahasiakan kejadian ini ya, Bu." pinta Bu Ratna.
"Tentu, tentu akan saja rahasiakan. Nanti biar saya temani ibu ke psikologinya."
Bu Ratna yang di bantu Nadin, berjalan keluar dari restoran, menyusul Liana yang telah dibawa terlebih dahulu oleh pak Idris dan Agus.