Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 31



"Rania itu seorang yang mudah akrab dan gampang berteman dengan siapa saja. Rania juga seorang yang mudah mengekspresikan apa yang dia rasa, tapi terkadang kalau marah dia akan cemberut hanya cemberut ga bilang apa-apa persis mamanya," ungkap pak Idris.


Sungguh wanita adalah makhluk yang misterius. Memiliki berjuta pesona, tetapi juga memiliki berjuta teka-teki yang sulit terpecahkan.


"Lebih baik bilang sekarang," batinnya.


"Pak, ada yang harus saya katakan. Sa-saya akan menerima apapun keputusan Bapak," ucap Nalendra gugup.


"Pak, apa kalau saya bermaksud menjadikan Rania istri saya, apa bapak akan mengusir saya?" tanyanya, Nalendra menunduk tidak berani melihat pak Idris. Dia sungguh takut akan mendengar penolakan, tetapi dia pun tidak mau menyembunyikan maksudnya berlama-lama lagi.


Pak Idris menegakan posisi duduknya, memandang Nalendra dengan lekat. "Jadi 'Nak Nalendra berniat mendekati Dareen karena bundanya?"


Nalendra mendongakkan kepalanya memandang pak Idris, dia mengernyitkan dahi. "Saya mendekati Dareen bukan karena Rania."


"Terus?"


"Saya ga bisa menjelaskan rasanya seperti apa, tapi saat pertama kali bertemu dengan Dareen, saya langsung punya perasaan yang ingin berada dekat dengannya, dia sungguh seorang anak yang menarik hati. Membuat saya senang, dekat dengannya membuat lelah saya hilang dan menjadi senang aja gitu pak. Maafkan saya tapi itu yang saya rasakan," Nalendra menunduk kembali. Jantungnya berdegup lebih dari biasanya, takut pak Idris salah paham dengannya.


"Saya tau, cucu saya memang punya daya tarik tersendiri walaupun dia masih kecil," ujarnya bangga. "kenapa kamu menginginkan Rania menjadi istrimu?"


"Karena saya menyukainya, saya sangat menyukai Rania," jawabnya.


"Bukankah banyak gadis yang lebih cantik dari Rania yang pasti mau jadi istrimu, kenapa harus Rania?"


"Ya, Bapak benar. Banyak sekali gadis yang lebih cantik diluar sana, tetapi saya tetap menyukai anak Bapak. Saya tidak tahu kenapa saya menyukai, mencintai anak Bapak, yang saya tahu saya sangat mencintai anak Bapak," ungkap Nalendra.


"Sebaiknya 'Nak Nalendra istirahat. Mungkin itu hanya rasa suka, rasa cinta sesaat saja karena mungkin Nak Nalendra kasian melihat Rania ditinggal meninggal oleh suaminya yang juga teman Nak Nalendra," tutur pak Idris.


"Saya sudah menyukai Rania sejak SMA dulu. Ini bukanlah rasa suka sesaat karena sudah belasan tahun. saya pikir juga saya bisa melupakan Rania seiring berjalannya waktu, tetapi ternyata dugaan saya salah. saya tetap menyukainya, mencintainya."


Pak Idris sungguh terkejut mendengar penuturan Nalendra yang sudah menyukai anaknya selama belasan tahun itu. "Belasan tahun?" gumamnya, hatinya mulai terenyuh membayangkan bagaimana rasanya menyukai seseorang selama itu dalam diam.


"Bagaimana mungkin 'Nak Nalendra bisa menyukai anak saya selama itu, bukankah Ergha adalah teman dekatmu?"


Nalendra mengangguk pelan," Iya, Ergha adalah teman dekat saya, tapi saya tetap menyukainya bahkan ketika tahu Rania berpacaran dengan Ergha dan menikah dengannya. Saat itu saya pun ikut senang melihat mereka bahagia, saya tidak pernah sekali pun mengganggu hubungan mereka atau berencana merusak kebahagiaan mereka. Sampai terjadi kecelakaan pun saya sangat sedih mendengarnya."


"Perasaan yang saya kubur dalam pun kembali muncul bahkan lebih dari sebelumnya. Saya sudah beberapa kali istikharah, tetapi rasa itu tetap ada." Nalendra menitikan air matanya.


Pak Idris menghela nafas, "Sebenarnya Bapak sudah punya firasat jika 'Nak Nalendra menyukai Rania. Bapak bersyukur ternyata Rania punya penggemar rahasia," ujar pak Idris terkekeh. Dia menepuk punggung Nalendra lembut.


"Maaf," ucapnya.


"Tidak usah minta maaf, tidak ada yang harus dimaafkan. Allah yang Maha Membolak-balik hati, yang membuat Nak Nalendra menyukai Rania. tapi bapak mau minta maaf jika bapak tidak bisa mengambil keputusan. Bapak hanya bisa memberi restu pada kamu, semua keputusan ada pada Rania."


"Dekatilah dia pelan-pelan, tidak usah tergesa-gesa karena dia baru saja kehilangan orang yang sangat dia cintai. Juga karena dia baru aja selesai masa iddahnya, rasanya kurang pantas jika langsung meminangnya. Memang boleh, tapi omongan orang lain juga harus dipikirkan, perasaan keluarga Ergha juga harus dipikirkan karena 'Nak nalendra juga tahu jika Rania adalah seorang janda bukan gadis lagi bahkan sudah punya anak. Berilah dia ruang untuk bernafas dahulu, mengatur hati dan pikirannya dulu."


"Iya, insyaallah saya tidak akan tergesa-gesa. Terimakasih sudah memberi saya restu, itu yang utama," ujar Nalendra tersenyum. Hatinya mulai menghangat, rasa gugupnya pun mulai menghilang perlahan. Dia bersyukur bisa mengatakannya malam ini pada pak Idris, ayah dari wanita yang dia cinta selama 14 tahun.


Malam itu dia tidur nyenyak setelah mengungkapkan isi hatinya pada pak Idris. Nalendra tersenyum mendapati Dareen tengah memeluknya ketika dia terbangun sebelum subuh.


Pukul setengah 7, Nalendra sudah bersiap hendak berangkat ke kantor, Dareen pun sudah rapi memakai seragam sekolahnya. Mereka juga sudah sarapan nasi goreng buatan Nalendra.


"Om, mau anter aku sekolah?" tanyanya.


"Nanti sama Abah aja," timpal pak Idris. "Nanti kasian Om nya kesiangan kalau nganter Dareen sekolah dulu," ujarnya.


Wajah Dareen langsung ditekuk, air matanya mulai luluh.


"Ko anak jagoan Om nangis? coba sini ngobrol sama Om." Nalendra mendudukkan Dareen di pangkuannya.


"Om, Dareen mau dianter Om," ungkapnya.


"Boleh, nanti Om anter sekalian berangkat kerja."


"Ga apa-apa, biar saya aja yang nganter 'Nak. Nanti 'Nak Nalendra malah kesiangan," ucap pak Idris.


"Ga apa-apa ko pak. Santai aja, saya biasa sampai kantor jam 9an." ungkapnya.


"Terimakasih, ya. berarti nanti Abah cuma jemput Dareen aja kan ya, ga usah nangis lagi kan Om nya udah setuju nganterin sekolah," bujuk pak Idris.


Dareen segera mengambil tasnya. Mereka pun berpamitan pada pak Idris.


"Om, kemarin ada anak nakal yang ngejek aku di sekolah," ujarnya mulai bercerita sementara Nalendra menyetir.


"Bilang sama temennya ga boleh ngejek orang, nanti dosa! emang Dareen di ejek apa sama temennya?" selidik Nalendra.


"Dia bilang kasian liat aku udah ga punya ayah lagi," jawab Dareen sendu, matanya berkaca-kaca.


Nalendra menghela nafas, dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup luas hingga tidak mengganggu arus lalu lintas.


"Dareen, dengerin Om. Dareen punya ayah ko, walaupun ayah Ergha sudah meninggal tapi dia akan selalu ada di hati Dareen," ucap Nalendra menyentuh dada Dareen.


"Jangan sedih karena perkataan seperti itu. 'Kan masih banyak orang yang sayang pada Dareen, ada bunda, Abah, ibu, Om Zyan, trus siapa lagi ya ...," ucap Nalendra sambil menekuk jarinya satu-satu.


"Ada om juga," ujar Dareen. "Om sayang 'kan sama aku?"


"Oh iya, ada Om juga. Om kan sayang sama Dareen, jadi ga boleh sedih lagi ya," pinta Nalendra mengelus pipi Dareen.


Nalendra kembali menjalankan mobilnya dan begitu sampai di sekolah Dareen, dia keluar mengantar Dareen sampai di kelas, mengalihkan pandangan para ibu-ibu yang sedang mengantar anaknya.


"Dareen sekolah ya, Om kerja dulu. Nanti dijemput Abah. Jangan sedih lagi," gumamnya sambil berjongkok mensejajarkan pandangannya dengan Dareen.


Dareen memeluk Nalendra erat sebelum mereka berpisah.


"Dareen, itu siapa? tanya seorang ibu.