Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 42



"Bunda, telepon Om Nalendra ya. Boleh ya," rengek Dareen.


"Nanti aja, Sayang. Mungkin Om nya lagi istirahat sekarang," jawab Rania mencoba menenangkan anak semata wayangnya yang merengek.


"Biasanya Om datang, ko hari ini ga datang." sedari pagi Dareen menunggu Nalendra datang ke rumah atau hanya sekedar menelepon, tetapi orang yang ditunggu tak kunjung datang ataupun menghubungi.


"Kemarin 'kan sudah datang. Hari ini biar Om nya beristirahat, kasian kalau bolak-balik ke sini nanti om kecapean terus sakit," bujuk Rania.


"Kalau sakit tinggal ke rumah sakit, nanti aku jagain deh!"


Rania tertawa kecil. "Om Nalendra kan udah besar, Sayang. Kalau dia masuk rumah sakit ya Dareen ga bisa jenguk apalagi nungguin Om."


"Berarti bunda yang jagain," jawab dareen singkat membuat wajah Rania bersemu teringat kejadian semalam. Dareen sudah pintar menjawab sekarang. pikirnya.


"Dareen, nanti ya." Rania mencolek pipi Dareen yang cemberut membuatnya bertambah chubi. "Atau gini aja, Dareen makan dulu, nanti setelah makan kita telepon Om Nalendra," bujuk Rania lagi.


"Janji ya." Dareen mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Rania untuk membuat janji kelingking.


Rania pun menyambut jari kelingking Sang anak sambil tersenyum. "Ok." sambil membuat janji kelingking. "Ayo makan!"


Dareen makan dengan cepat lebih dari biasanya. Dia ingin sekali secepatnya dapat menghubungi Nalendra. "Pelan-pelan makannya 'Nak, nanti kamu tersedak!"


"Sudah bunda," ujar Dareen menyodorkan piring ke depan Rania.


"Minumlah dulu, pelan-pelan kali minum!" seru Rania yang melihat Dareen menegak segelas air putih sampai tandas. Dasar Dareen!


Rania mengambil ponsel yang berada di kamar, menyerahkan ponsel itu pada Dareen setelah menyambungkan panggilan ke Nalendra. "Abah, tidur kayanya ya?" tanya Rania melihat kamar pak Idris yang tertutup rapat.


"O ...," belum sempat Dareen memanggil, Nalendra langsung memotong.


"Hallo Sayang, udah makan. Daddy lagi makan nih," ujar Nalendra dari seberang telepon sambil tersenyum pada Dareen hanya memandangnya seperti terkejut.


Rania langsung berbalik ke arah Dareen, Apa dia ga salah dengar, Nalendra menyebut dirinya Daddy?"batinnya.


Rania langsung menyambar kerudung yang berada di kursi dan menghampiri Dareen. Dia melihat Nalendra sedang duduk, mungkin di tempat umum karena terlihat banyak orang di belakangnya. Nalendra melambaikan tangan pada mereka.


"Apa yang ka ...." belum juga selesai, Nalendra kembali memotong perkataan Rania.


"Hallo, sayang. Sudah makan? aku lagi makan," ujar Nalendra lagi dengan senyuman tanpa rasa bersalah.


Apa dia sudah gila! Pikir Rania.


"Oh, istrinya menelepon ya Mas?" terdengar suara wanita di seberang telepon.


Rania mengernyitkan dahi. Apa aku yang salah karena meneleponnya sekarang? Pkirnya lagi.


"Permisi," ucap Nalendra di seberang telepon. Dia terlihat berdiri dan keluar dari keramaian tadi.


"Om," panggil Dareen dengan kebingungan. "Daddy siapa?" tanyanya tidak mengerti.


"Hahaha ... ga usah dipikirkan, tadi om lagi makan. Dareen udah makan?" tanya Nalendra yang mulai takut melihat wajah Rania menatapnya dengan tajam.


"Aku udah makan Om, Om makan di mana? ko banyak orang?"


"Om makan dekat tempat tinggal Om, ini Om mau pulang."


"Om jalan kaki ga pake mobil?"


"Tempat makannya dekat, di bawah. Om tinggal di apartemen dan tempat makannya berada di bawah, kaya waktu kita menginap di hotel dan makan di restoran hotel." Nalendra mencoba menerangkan pada Dareen.


"Om ko ga ke sini?" tanyanya.


Nalendra memandang Rania yang masih berada di samping Dareen. Sepertinya dia meminta penjelasan yang tadi. Pikir Nalendra.


"Bunda, kenapa kita ga pindah ke dekat rumah om aja."


Rania memandang Dareen dan bertanya balik. "Kenapa Dareen pengen pindah ke dekat rumah Om?"


"Rumah om, dekat ayam krispi yang aku suka beli. Kata Om tadi tinggal jalan kaki aja ga usah naik mobil," ujar Dareen penuh harap.


Rania tersenyum, mengerti maksud anak semata wayangnya. "Jadi Dareen pengen tinggal dekat om karena ayam kripsi?" Dareen mengangguk pelan.


"Ehmm ... anak bunda gemas banget sih," ujar Rania memeluk dan berusaha mencium Dareen yang menjauhkan wajahnya.


Nalendra yang memperhatikan Rania dan Dareen tersenyum. Andai aku bisa bersama terus dengan mereka tentu senang hariku, gumamnya dalam hati.


"Dareen ga tidur siang?" tanya Nalendra yang sudah keluar dari lift dan berjalan di lorong menuju kamarnya.


"Enggak Om, besok aja tidur siangnya."


"Kenapa?"


"Ini kan hari Minggu, Dareen ga sekolah juga 'kan udah libur jadi ga cape," ungkapnya. "Om udah ada di rumah?" tanyanya melihat Nalendra sedang duduk di sofa.


"Iya, om udah ada di rumah. Kenapa? Dareen mau main ke sini?" tanyanya.


"Aku boleh main ke rumah Om?" mata Dareen membulat, terlihat dia ingin sekali mendapat jawaban iya.


"Tentu, Dareen boleh main ke sini."


"Bunda, kata om, aku boleh main ke sana. Ayo ke rumah Om, yuk!" ajaknya sedikit memaksa.


"Enggak bisa Sayang. Bunda ga tau rumah Om di mana," jawab Rania beralasan.


"Om, kata bunda Om harus jemput ke sini. Bunda ga tau rumah Om di mana," ujarnya tidak sabar.


"Dareen! bunda ga bilang kalau mau dijemput Om," Rania sedikit menaikan volume suara karena terkejut.


"Bukannya tadi kata Bunda, bunda ga tau rumah Om di mana, ya berarti Om harus jemput ke sini 'kan, iya 'kan?"


Nalendra tertawa terbahak. "Jadi Dareen mau ke sini?" tanya Nalendra. "Gini aja kalau Dareen ke sini sekarang ga kan cukup buat Dareen main lama karena nyampe sininya aja udah malem, kalau menginap juga nanti Dareen sendirian besoknya karena Om 'kan harus kerja besok. Nanti aja ya," bujuknya.


"Kapan Om," tanyanya sendu. "Kata bunda Dareen liburnya lama, besok Dareen masih libur ko, ga sekolah."


"Dareen memang libur, tapi Om Nalendra 'kan tetap harus kerja besok." Rania membelai rambut Dareen lembut.


"Jadi kapan aku boleh main ke rumah Om?"


Rania tau, Dareen akan terus bertanya sampai hatinya merasa puas dengan jawaban yang dia peroleh. "Sayang, nanti kalau Om Nalendra libur. Bunda akan izinkan Dareen menginap di rumah Om, tentu dengan persetujuan Om Nalendra juga kalau Dareen rajin belajar dan rajin juga ibadahnya akan bunda pertimbangkan."


"Om Nalendra hari Sabtu 'kan libur. Iya 'kan Om?"Rania lupa Dareen seorang yang cerdas.


"Sabtu nanti kita udah di Bandung, Sayang. Kasian Om nya kalau harus bolak balik Jakarta Bandung." Nalendra hanya memperhatikan ibu dan anak itu mengobrol.


"Dareen, nanti Om akan kabari jika libur. Nanti Om akan bicara sama bunda ya." Dareen mengangguk pelan, ternyata sekarang dia lebih menurut pada Nalendra dibanding Rania.


"Boleh Om bicara sama bunda berdua saja?" tanya Nalendra pada Dareen.


"Kenapa?"


"Ehm, kenapa ya. Ehm, Om mau bujuk bunda nanti kalau ada Dareen takutnya bunda malu sama Dareen." Dareen semakin mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


"Ini obrolan orang besar, orang dewasa. Anak kecil tidak boleh tau, boleh?" terang Rania.