
Nalendra mendorong troli mengikuti Rania menyusuri tiap lorong di pusat perbelanjaan. Rania telah mencatat apa saja yang akan dia beli. Trik mencatat ini untuk menghindari terlalu banyak membeli barang yang tidak dia butuhkan.
Dia hanya akan berbelanja kebutuhan untuk seminggu ke depan, itu pun tidak banyak hanya untuk persediaan Nalendra saja. Dia telah membeli daging sapi segar baik potongan untuk rendang ataupun slice, telur, sayuran segar. Kini dia menyusuri lorong tempat bumbu dapur, penyedap rasa, kecap, saus. Nalendra dengan setia mengikutinya.
"Ndra, mie kayanya banyak ya. Berarti ga usah beli!" ujar Rania. "Kita harus beli buah-buahan. yang di kulkas sudah lama kayanya ya?"
Nalendra tidak menjawab, dia hanya tersenyum melihat Sang istri memilah apa yang akan dia beli.
"Kita ke tempat sabun, di mana?" tanya Rania, baru kali ini dia berbelanja di sana jadi kurang hafal setiap lorong tempat barang-barang yang akan dia beli.
"Di sana, ayo!" Nalendra mendorong troli di samping Rania.
"Ndra, sebentar, aku mau beli sikat gigi." Rania memilah sikat gigi anak.
Nalendra hanya memperhatikannya, lama Rania melihat-lihat sikat dari berbagai merek. "Ndra, bagus mana, ini atau ini?" tanya Rania.
"Yang kanan bagus, kiri juga," jawab Nalendra yang kurang mengerti.
"Yang kanan kepala sikatnya besar, ga cocok untuk Dareen. Yang ini saja, lebih bagus," kata Rania mengambil sikat gigi lain yang menggantung di sana. Nalendra mengusap tengkuknya, dia sungguh tidak mengerti apa yang dicari Rania.
"Ndra, ada yang mau kamu beli?" tanya Rania setelah semua yang di daftar sudah masuk ke troli.
"Sepertinya tidak ada lagi, aku cuma butuh cukuran aja!" ucapnya menunjuk cukuran yang telah ada di dalam troli.
"Ayo, ke kasir. Sebentar lagi magrib dan aku juga harus masak!"
"Kalau kamu cape kita makan di luar aja, mumpung kamu di sini juga. Sekalian kencan," ucap Nalendra. Rania melingkarkan tangannya di tangan Nalendra.
"Aku ingin masak buatmu."
Setelah selesai berbelanja, mereka menaiki lift yang membawanya ke apartemen. Di dalam lift sudah ada dua orang wanita yang salah satunya pernah mau dijodohkan dengan Nalendra. Ya dia Shareen, anak dari teman Ibu Nalendra.
Nalendra hanya tersenyum ketika melihat mereka berdua, ya sebatas senyuman menyapa tetangga satu apartemen. Nalendra menenteng keresek belanjaan di tangan kirinya dan tangan kanan dia lingkarkan di pinggang Rania.
Tidak ada obrolan selama lift naik mengantarkan mereka ke lantai masing-masing. Barulah ketika Nalendra dan Rania keluar, Shareen bercerita pada teman wanitanya jika Nalendra pernah sempat akan dijodohkan dengannya oleh orangtua mereka.
"Masa iya, gue kawin sama duda? lu tau sendiri, dia udah punya anak!" Clarissa hanya mengangguk menangapi setiap ocehan Shareen.
"Ko lu diem bae!" tanyanya.
"Terus gue harus bilang apa, ya udahlah bersyukur aja. Lagian lu udah punya pasangan dia juga dah punya istri!"
"Istri?" tanyanya terkejut.
"Ko lu terkejut gitu! lu liat sendiri mereka pakai cincin kawin. Berarti mereka udah nikah!"
Shareen terdiam. Masa sih mereka udah nikah, baru sebulan yang lalu gue nolak dijodohin sama dia, dah nikah lagi aja! pikirnya.
**
Nalendra begitu lahap makan makanan yang dibuat oleh Rania, capcay dan beef teriyaki. "Pelan-pelan makannya, nanti tersedak lho!" ucap Rania.
"Aku tahu rasanya enak, tapi pelan-pelan aja!"
"Aku senang kamu ada di sini, aku bersyukur kamu yang jadi istriku," ucap Nalendra haru, bergidik mengingat kelakuan Shareen.
Mereka menghabiskan makan malam dan membereskannya bersama-sama seperti pasangan lain dalam beberapa drama Korea yang ditonton Rania. Kini mereka menikmati malam berbaring di sofa, menonton TV. Nalendra bertelanjang dada mendekap Rania yang berada di depan dengan pakaian lingerie hitamnya dan juga berselimut.
"Jadi telepon Andriana?" tanya Nalendra.
"Udah, tadi aku hanya kirim pesan ke dia. Minggu besok ketemuan," jawab Rania.
"Minggu jam berapa?" tanya Nalendra lagi. "Jangan terlalu sore."
"Mungkin siang, lagian kita ketemu di galerinya. Waktunya mepet jadi lebih baik ketemuan di sana, biar langsung fitting baju."
"Bajunya ga buat khusus?"
"Cuma seminggu, kalau buat sama profesional mungkin bisa. Sewa aja, lebih hemat waktu. Kalau kamu mau buat khusus, biar nanti untuk resepsi aja. Kayanya waktunya cukup kalau buat untuk nanti!" terang Rania. "Aku tahu kamu mau yang terbaik, tapi kita berpikir lebih efisien aja dulu."
Keluarga mereka sudah mendaftarkan pernikahan Nalendra dan Rania ke KUA di hari Sabtu depan. Namun, untuk resepsi akan dilangsungkan setelah Nalendra selesai mengerjakan proyeknya di Singapore. Bukan hanya pekerjaan Nalendra saja yang menjadi pertimbangan acara resepsi, tetapi mereka juga meminimalisir omongan orang tentang Rania yang belum setahun menjanda.
"Baiklah," jawab Nalendra mencium puncak Rania yang hanya ditutupi tali lingerie.
Sesekali Nalendra mencium pundak dan leher Sang istri yang berada dalam kungkungannya. Selimut yang mereka gunakan tidak menutup bahu Rania yang putih.
Debaran jantung Rania mulai meningkat ketika napas Nalendra mulai terasa panas menerpa telinganya. Nalendra sedikit membalikan tubuh Rania, tangannya membelai wajah Sang istri yang sudah merona merah.
Kecupan ringan secara perlahan berubah menjadi saling menuntut. Nalendra menggendong Rania ala bridal style berpindah ke tempat tidur.
Hujan deras Jakarta tidak menjadikan mereka kedinginan, tetapi hawa panas sangat terasa di kamar Nalendra. Kamar yang ber-AC pun tidak mengalahkan keringat yang bercucur dari badan kedua sejoli itu.
Alunan suara Rania begitu merdu terdengar mengalahkan suara gemericik air yang jatuh dari langit. Bahkan suara TV yang masih menyala pun tidak begitu terdengar oleh mereka berdua.
Rania langsung tertidur begitu selesai membersihkan diri. Bukan hanya rasa lelah dia rasakan, tetapi juga sakit seperti saat pertama dulu bahkan lebih dari itu. Apakah Nalendra lebih besar dari Ergha? hanya Rania yang tau!
Nalendra mengecup puncak kepala Rania yang sudah tertidur pulas. "Terima kasih," ucapnya.
Nalendra merasakan kepuasan yang sangat dalam dirinya. Bukan tanpa sebab, dia merasakan sempit yang luar biasa ketika menerobos benteng Rania. Mungkin karena sudah hampir 1 tahun dia menjanda dan Rania juga rajin senam kegel.
Rania terbangun pukul tiga subuh. Dia berjalan tertatih ke kamar mandi. Nalendra yang juga sudah bangun memperhatikan Sang istri berjalan. Ada rasa kasian terbersit dalam hati Nalendra.
"Mau aku bantu?" tanya Nalendra.
"Tidak usah, aku bisa sendiri. Apa kamu kebangun gara-gara aku?"
"Tidak." Nalendra bangun dan menghampiri Rania yang baru setengah jalan ke arah pintu kamar mandi. dia langsung memangku Rania mengantarkannya ke dalam kamar mandi.
"Maaf, gara-gara aku kamu pasti kesakitan." ucap Nalendra sendu. Dia mengingat semalam Rania meringis dan mengeluarkan air mata saat dia menerobos masuk, ya walaupun setelah itu menikmatinya.
Rania mengalungkan tangannya di leher Nalendra, mengeratkan pelukan sambil tersenyum malu. "Aku mencintaimu, Nalendra Sulaiman."