
Rania begitu anggun dalam balutan kebaya putih, ber-train. Kebayanya memiliki detail bebatuan yang terlihat seperti choker di area leher. Sentuhan mewah juga diberikan di area dada hingga perut dengan penempatan bebatuan serupa bros. Kebaya dengan siger sunda dan ronce bunga melati.
Rania pun memakai make up flawless yang semakin menambah kecantikannya yang natural. Nalendra tak berkedip ketika melihat Rania berjalan menghampiri, hingga dia duduk di sampingnya.
Nalendra kembali mengucapkan ijab kabul, di depan penghulu KUA. Ijab kabul berjalan sangat lancar, tanpa harus menghafal seperti sebelumnya. Setelah ditandangani Rania dan Nalendra, buku nikah tersebut diserahkan pada mereka. Tangan Nalendra bergetar ketika menerima buku tersebut.
Rasa haru tak terbendung di hatinya, apalagi ketika Rania mencium tangan nalendra, seakan itu pertama kali baginya. Nalendra menarik Rania ke dalam pelukannya, membuat yang hadir bersorak.
"Maafkan aku," ucap Nalendra tersedu. Rania hanya tersenyum sambil menepuk punggung suaminya.
"Jangan lama-lama A, ingat puasa. Nanti batal!" sindir Pak penghulu.
Nalendra terkekeh dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Dia melepas pelukannya, "Maaf."
Seluruh Rangkaian acara telah mereka lewati. Nalendra sudah berada di rumah Rania, tetapi sebagian keluarga Rania masih betah mengobrol di sana. Entah apa yang mereka obrolkan sampai terdengar gelak tawa keluarga rumah.
Nalendra bersandar pada punggung kursi tamu. Apa mereka lupa hari ini malam pertamaku? Apa aku harus mengusir mereka? pikirnya.
"Kapan selesenya?" lirih Nalendra.
"Kenapa, Bro. Lemes amat!" Alaric menepuk bahu Nalendra dan duduk di sebelahnya.
"Ga apa-apa," jawabnya menghela napas pelan.
"Inget, Bro. Malem pertama masa lemes gitu!"
"Pulang, Sono!" Nalendra baru menyadari Alaric yang berada di rumah Rania bersamanya. "Kenapa lu ada di sini?"
"Gue ga akan pulang, Ibu nyuruh nginep di sini!" jawab Alaric tersenyum lebar.
"Ngapain?"
"Dia mau maen game sama aku, Kak." Zyan datang dan bergabung duduk dengan mereka. "Tenang aja, ga akan ganggu Kakak sama Teteh. Kita di rumah sana bukan di sini!"
"Jangan begadang, nanti malah ga sahur!"
"Tenang aja, kita biasa tidur besok pagi. Iya ga?" Alaric menyenggol Zyan, tertawa.
"Kapan mereka pulang!" Nalendra kembali menggerutu.
"Mereka pulang besok. Orang rencananya mau pada sahur bareng di sini ko!" seru Zyan.
"Apa?"
"Iya, emang Teh Rania ga ngasih tahu?" tanya Zyan polos. "Di keluarga sini, tiap tahun suka ada acara buka dan sahur bareng. Berhubung hari ini acara nikahan Teh Rania, jadi buka dan sahur barengnya ya sekarang. Biasanya di Minggu ke tiga atau beberapa hari sebelum lebaran." terang Zyan.
Nalendra berdiri lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Zyan dan Alaric tanpa sepatah kata pun. Dia masuk ke dalam mencari Rania.
"Eh, Aa. Nyari Teteh ya?" tanya Bi Tanti, adik ipar Bu Sekar.
"Iya, Bi. Rania mana ya?"
"Tadi nemenin Dareen tidur, mungkin masih di kamarnya," jawab Bi Tanti.
Nalendra mengangguk pelan, dia pun segera ke kamar Dareen. Di bukanya pintu pelan-pelan, takut membangunkan Sang anak yang sudah tertidur. Ruangan itu sudah gelap, lampu di kamar Dareen sudah dimatikan. Nalendra masuk ke dalam mencari sosok istri tercinta dalam keremangan cahaya yang masuk dari luar kamar. Hanya ada Dareen di tempat tidurnya.
"Apa dia udah masuk kamar duluan?" tanya Nalendra bermonolog.
Wangi semerbak langsung tercium, begitu Nalendra membuka pintu kamar Rania. Aroma lenbut bunga lili, lotus, cyclamen, dan carnation membuat pikiran Nalendra semakin menggebu untuk menghabiskan malam berdua dengan Sang istri.
Nalendra tertegun memandang ke arah tempat tidur. Nampak Rania yang sudah berganti pakaian dengan pakaian tidur jenis pyjama berlengan panjang berwarna tosca.
Nalendra berjalan ke arah tempat tidur, dilihatnya Rania berbaring di sana memunggunginya. "Rania," Nalendra menyentuh bahu Sang istri pelan, tidak ada jawaban.
"Rania," Nalendra menggoyangkan pelan bahunya.
Nalendra berpindah ke seberang tempat tidur, ingin melihat wajah Rania. "Ya Allah, dia udah tidur!" Nalendra menghela napas, ketika tahu Rania meninggalkannya tidur lebih dahulu.
Apa aku harus membangunkannya? pikir Nalendra.
"Kasian, sepertinya dia kelelahan," lirih Nalendra melihat raut wajah Rania yang terlelap dengan hembusan napasnya teratur.
Tak kuasa membangunkan Sang istri, dia pun segera membersihkan diri di kamar mandi dan tidur di samping Rania untuk beristirahat. Mengistirahatkan pikiran dan juniornya yang meronta.
Beneran puasa! batin Nalendra.
**
"Bangun, Ndra!" Rania menggoyangkan lengan Nalendra beberapakali. "Dia tidur jam berapa nyampe susah banget dibangunin!"
Rania menepuk-nepuk pipi Nalendra pelan. "Ndra, ayo bangun. Sahur dulu, nanti keburu imsak!"
Nalendra mengerjapkan mata pelan. "Sebentar," lirihnya menarik tangan Rania lalu mendekapnya. "Aku sangat merindukanmu."
Rania melihat jam digital yang berada di atas nakas. "Bangun, Ndra. Ayo sahur dulu, ga enak sama yang lain udah nunggu!"
Akhirnya, Nalendra pun menurut untuk bangun dan masuk ke kamar mandi. Rania keluar dari kamarnya bergabung dengan para wanita di keluarganya menyiapkan untuk sahur.
Walaupun sudah mencuci wajahnya, raut lelah dan mengantuk nampak jelas di wajah Nalendra.
"Berapa ronde A?" tanya Atep, adik Bu Sekar sambil terkekeh melihat Nalendra yang selalu menguap.
"Berapa ya, lupa!" jawab Nalendra membuat Rania tersipu.
Acara sahur bersama itu begitu ramai dengan candaan dan sindiran pada pengantin baru.
"Aa sama Teteh hebat, nikahnya di bulan ramadhan. Harus banyak bersabar menunggu waktu," sindir Lukman, Kakak Bu Sekar.
"Ya harus atuh, Pah. Kalau ga sabar mah nanti batal puasana, menggantinya lebih dari sekedar puasa qodo!" timpal istri Lukman, disambut gelak tawa keluarga.
Wajah Rania semakin merona tersipu. Dia lebih sering menunduk tersenyum. Berbeda dengan Nalendra yang nampak cuek karena masih berusaha membuka lebar-lebar matanya.
Setelah shalat subuh, Nalendra masuk ke dalam kamar untuk membaringkan badannya yang masih merasa lelah. Hari pertama setelah mereka sah menjadi suami istri tidak hanya secara agama tetapi juga secara hukum. Namun, sayang mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha menjaga jarak karena sedang berpuasa.
"Ndra, hari ini mau ke rumahmu dulu ga?" tanya Rania.
"Enggak, kita di sini aja. Badanku terasa sangat lelah," ujar Nalendra masih menutup matanya.
"Apa ga sebaiknya kita ke sana dulu. Bukankah kamu harus berpamitan pada mereka?" tanya Rania lagi.
Nalendra terdiam, dia memang terbiasa hanya memberitahu jadwal keberangkatan ke luar kota ataupun negeri hanya lewat pesan. "Ga usah, nanti aja aku telepon.