
Drrrt ... drrttt ...
Suara getaran ponsel terdengar, Rania segera mencuci tangannya dan mengambil ponsel yang dia simpan di meja dapur.
Rania memandang layar di ponselnya, Nama adik iparnya terpampang di sana.
"Ada apa dia meneleponku?" pikirnya. Walaupun ragu dia tetap menerima telepon dari adik iparnya.
"Assalamu'alaikum," sapanya.
"Teh, kamu di mana?" tanyanya, terdengar sedikit sisa Isak tangis.
"Di rumah, kenapa?" Rania balik bertanya.
"Ibu masuk rumah sakit," ujarnya pelan.
"Ibu ...!" Rania terkejut mendengar kabar itu. "Rumah sakit mana?" tanyanya kemudian.
"Rumah Sakit dekat rumah," jawabnya.
"Nanti aku ke sana, nunggu Dareen pulang dulu."
"Tidak bisa sekarang ya, Teh?" tanyanya.
"Maaf, ga bisa. Dareen baru mau di jemput dan lagi masak juga ini tanggung," jawab Rania.
Dia memang bisa saja langsung meninggalkan semua yang sedang dia kerjakan sekarang, toh Dareen juga di jemput oleh Pak Idris, soal makan bisa beli. Namun, dia tahu bagaimana sifat iparnya itu. "Pasti disuruh jagain ibu, dia nya ga mau!" batinnya.
Bukan tanpa sebab Rania menyimpulkan pikirannya, tetapi itu bukan yang pertama kalinya dia berlaku seperti itu. Dulu pun saat masih ada Ergha yang mengurus semua kebutuhan di rumah sampai rumah sakit, Rania yang mengurusnya. Rania yang menemani orang sakit di siang hari, malam harinya Ergha yang menemani malam harinya. Rania sampai harus meminta orangtuanya untuk menjaga Dareen sementara dia sibuk mengurus mertuanya. Sedangkan adik iparnya hanya diam rebahan di rumah.
"Febri di mana?" tanya Rania.
"Di rumah sakit," jawabnya.
"Bapak?"
"Bapak ada nemenin ibu, aku di luar," terangnya.
"Baiklah, nanti Teteh langsung ke rumah Sakit," jawab Rania, "Sudah ya, lagi masak ini tanggung. Biar cepat selesai."
Rania segera menyelesaikan acara memasaknya dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dia pun menyiapkan segala keperluan Dareen juga bapaknya. Dia tahu betul berdosa menitipkan anak pada orangtua, tetapi dia meyakinkan diri jika ini darurat. Mertuanya juga orangtua dia walaupun Ergha sudah meninggal, tetapi tidak ada kata mantan mertua.
"Teh, udah rapi. Mau kemana?" tanya Pak Idris melihat Rania sudah berganti pakaian dari dasternya.
"Tadi di telepon sama Febri. Katanya ibu masuk Rumah Sakit, Pak." jawab Rania.
"Oh, ya udah. Ayo Bapak ikut sekalian, pengen jenguk juga," kata Pak Idris.
"Dareen nanti gimana?" tanyanya.
"Ya ga gimana-gimana. ya ... nanti kita lihat dulu di sana ada siapa, kalau ada Pak Darmawan atau Febri ya kita bisa gantian, Dareen titip mereka dulu. Kalau ga ada ya tinggal balik lagi. Masa iya orangtua sakit ga ada yang nemenin anaknya," ujar Pak Idris.
"Kaya yang ga tau aja," jawab Rania.
"Pak, takutnya nanti Rania di suruh jaga malem. Baju sekolah Dareen buat besok sudah Rania siapkan. Buat makan malem nanti Rania pesan online aja ya," ujarnya.
"Ga usah pesan, gampang nanti Bapak sama Dareen tinggal keluar nyari makan sambil jalan-jalan," jawab Pak Idris meminum air yang telah dia ambil sebelumnya.
"Bunda, kita mau kemana sih?" tanya Dareen melihat bundanya sudah berkerudung rapi.
"Ke Rumah Sakit, Oma sakit katanya," jawab Rania sambil mengganti baju seragam Dareen dengan baju rumahan.
"Dareen ikut?" tanyanya.
"Iya, nanti pulang lagi sama Abah ya," ujar Rania membereskan rambut Dareen yang berantakan.
***
Mereka tiba di lobi Rumah Sakit. Rania masuk ke lift yang akan membawanya ke ruangan tempat mertuanya di rawat inap. Dareen dan Pak Idris menunggu di lobi bawah.
"Ini dia," ujarnya berdiri di salah satu pintu ruang rawat.
"Assalamu'alaikum," ucapnya begitu masuk dan melihat ibu mertuanya terbaring lemas, di sebelahnya ada Pak Darmawan yang terus memegang tangan istrinya.
"Pak," panggil Rania.
"Teh," sahutnya.
Rania mengambil kursi kosong, memindahkannya ke sebelah brangkar ibu mertuanya.
"Kenapa katanya pak?" tanya Rania.
"Biasa hipertensi nya kambuh," jawabnya.
"Semalam, Ibu pingsan pas keluar dari kamar mandi. Mungkin kecapean dan banyak pikiran." Pak Darmawan terlihat lesu, "Pasti bapak yang jagain dari semalam," batin Rania.
"Bapak udah makan?" tanyanya.
"Belum, Teh. Bapak ga tega ninggalin ibu sendirian, ujarnya sendu.
"Ya Allah, padahal dia punya anak gadis!" pikir Rania.
"Febri mana? Rania tadi di telepon Febri, Rania kira dia yang jagain ibu," selidiknya.
Pak Darmawan menghela nafas, lama dia terdiam tidak menjawab pertanyaan Rania. Seperti malas membicarakan tentang anak gadisnya.
"Dia ada di rumah," jawabnya kemudian.
"Ternyata benar dia berbohong!" gerutu Rania dalam hati.
"Rania bawa makan, Bapak mau makan sekarang atau makan diluar sama Dareen?" tanyanya.
"Dareen ikut?"
"Iya, di bawah sama Bapak. Gini aja, Bapak makan di luar aja sama Dareen sekalian bapak nyari udara regangin otot. Bapaknya Rania mau jengukin ibu juga katanya." bujuk Rania.
Pak Darmawan pun menitipkan Sang istri yang masih terlelap pada Rania. Dia berjalan keluar dari kamar rawat.
"Assalamu'alaikum, Pak," sapa Pak Darmawan.
"Hei, wa'alaikumsalam. Bagaimana kabarnya?" jawab pak Idris membalas salam.
"Alhamdulillah baik."
"Gimana ibu?" tanya pak Idris.
"Masih dalam pemantauan. Darahnya masih tinggi," ujarnya.
"Ya, mungkin dia menahan sendiri semua kesedihannya. Makanya berakhir begitu," ungkap pak Darmawan.
Menata hati kehilangan anak laki-laki yang sangat mereka andalkan, bukanlah perkara yang mudah. Berusaha ikhlas, tetapi tetap saja perasaan sedih masih sangat terasa bagi seorang ibu.
"Kalau begitu, saya izin mau jenguk ibu dulu ya," ujar Pak Idris.
"Dareen sama kakek dulu ya," ajak pak Darmawan.
"No, Dareen ga mau sama kakek mau sama Abah aja," jawabnya sambil menyuapkan kue coklat ke mulutnya.
"Eh, ga boleh gitu. Abah mau jenguk Oma dulu, 'kan anak kecil ga boleh," tutur pak Idris.
"Waktu Dareen sakit, Oma bisa jengukin Dareen ko Dareen ga boleh jenguk Oma, Abah?" tanyanya.
"Karen 'kan Dareen masih kecil. Kalau Oma sudah besar. Beda peraturannya," jawab pak Idris, merasa tak enak hati pada pak Darmawan.
"Kakek mau makan, Dareen temenin kakek yuk. Nanti kakek beliin apapun yang Dareen mau," bujuknya.
"Kakek beliin ice cream, mau?"
Dareen pun mengangguk setuju, demi ice cream. Pak Idris pun mengangguk pamit pada pak Darmawan.
"Dareen mau digendong kakek?"
"Kata Bunda Dareen sudah besar, sudah berat. Harus jalan," jawabnya.
"Jadi ga mau kakek gendong," bujuknya lagi.
Dareen merentangkan tangannya ke arah pak Darmawan meminta digendong, membuat kakeknya terkekeh. "Dasar, Dareen ... Dareen," pikirnya.
Sementara di ruang rawat, Bu Darmawan telah bangun dari tidurnya. Dia melihat ada Rania di samping. "Bapak mana Teh?" tanyanya dengan suara parau.
"Bapak makan dulu di bawah sekalian nemenin Dareen," jawabnya memberikan minum untuk mertuanya.
"Assalamu'alaikum," sapa pak Idris.
"Wa'alaikumsalam," jawab Rania dan Bu Darmawan.
"Gimana kabarnya Bu?" tanya pak Idris, duduk di kursi yang disodorkan Rania.
"Alhamdulillah, baik pak." jawabnya. "Terimakasih sudah datang, maaf jadi merepotkan Bapak," lanjut Bu Darmawan.
"Ga merepotkan ko Bu. Ga usah terlalu dipikirkan," jawab pak Idris.
"Febri mana Teh?"
"Ehm, Febri. itu ...." Rania gelagapan, dia tidak tahu harus menjawab apa.