Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 17



"Kalau gitu ibu mau ngenalin Kaka ke anak temen ibu ya," ujar Bu Shafira dengan suara yang mulai melembut.


"Apa, enggak ah!" sergah Nalendra memundurkan badannya.


"Ih, Kaka tuh harus inget umur. Temen-temen Kaka udah pada punya anak, malah ada yang udah dua anaknya. Apa kaka ga iri sama mereka?"


"Bu, jodoh ga bisa sesuka hati kita. Allah yang nentuin, Bu. Kaka juga iri liat temen Kaka yang berakhir pekan dengan istri mereka, anak mereka, keluarga mereka. Tapi kakak bisa apa Bu," Nalendra langsung menghempaskan badannya ke sandaran kursi.


Bu Shafira terdiam mendengar penuturan Sang anak. Baru kali ini Nalendra berbicara lumayan panjang tentang perasaannya.


"Tapi 'kan tetep Kaka juga harus usaha. Nanti ibu bantu, kali aja berjodoh," ujar Bu Shafira masih keukeuh dengan keputusan menjodohkan anaknya.


"Maaf Bu. tapi udah ada perempuan yang kakak suka," tegas Nalendra.


"Mau ibu bantuin dapetin perempuan yang kakak suka itu?"


Nalendra berpikir keras, ga mungkin dia cerita sekarang sama ibunya tentang Rania. Bisa-bisa dia langsung dimarahi dan dinikahkan sama orang lain. batinnya.


"Ditanya ko malah bengong sih!"


"Ga bengong, lagi berpikir aja, Bu."


"Ya itu, itu ... karna Kaka kebanyakan berpikir, makanya ga dapet-dapet 'kan!"


"Perempuan itu asal terus dirayu nanti juga luluh 'nak, Coba kenalin ke ibu, biar ibu nanti bantu rayunya. Ibu 'kan juga perempuan, tau bagaimana perasaan perempuan, tau keinginan perempuan kaya gimana," ucap Bu Shafira.


"Tapi dia beda, Bu," jawab Nalendra.


"Beda gimana? perempuan beneran 'kan?" tanya Bu Shafira.


"Iyalah perempuan beneran, masa boongan."


"Berarti ibu bisa bantu, 'kan sama-sama perempuan."


"Sama perempuan, tapi dia udah janda. Apa ibu juga bisa ngerti dia," pikir Nalendra.


"Udah ah, bahas yang lain aja." Nalendra mengambil air minum di depannya, langsung meminumnya sampai tandas. "panas sekali," ujarnya padahal ruangan ber-AC.


"Nih anak kalau dikasih tau suka ngeyel," ucap Bu Sekar.


Nalendra memandang langit-langit kamar. Perkataan ibunya membuat dia berpikir, "Apa benar aku harus gerak cepat, tapi dia masih dalam masa Iddah. Bagaimana kalau ada yang ngeduluin, ah ... ga mungkin, dia masih dalam masa Iddah." pikiran yang cukup membuat Nalendra sedikit frustasi antara gerak cepat atau bersabar menunggu.


Pagi hari yang cerah, Nalendra terbangun oleh bunyi alarm yang di settingnya tadi subuh. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan perkataan Sang ibu dan baru tertidur sehabis shalat subuh.


Nalendra keluar kamar setelah membersihkan diri. Matanya langsung tertuju pada makanan yang telah terhidang di meja makan.


"Lemes banget," ejek ibunya sebagai ganti sapaan pagi.


"Tidur jam berapa? ko matanya kaya yang kurang tidur?" tanya Bu Shafira lagi.


"Keliatan ya? baru tidur tadi abis subuh," ungkap Nalendra.


"Kenapa? ga bisa tidur mikirin perempuan ya?" sindirnya.


"Bukan, Kaka ngerjain kerjaan nyampe subuh," jawab Nalendra beralasan.


Kalau sampai ibunya tahu dia tidak bisa tidur karena obrolan semalam, bisa berlanjut berminggu-minggu tuh obrolan. batin Nalendra.


"Makanlah, ibu sama ayah udah makan tadi. Malahan ibu udah jalan-jalan ke taman bawah," ucapnya menyindir Sang anak yang bangun siang.


Bu Shafira kembali mencecar si anak sulung sebelum mereka pulang ke Bandung. Seperti belum puas menumpahkan segara yang dirasa.


"Sabar, dengerin aja. Nanti juga kalau dia cape berenti," nasehat ayahnya, pak Sulaiman.


Benar saja, Bu Shafira akhirnya berhenti mengomel setelah memaksa Nalendra berjanji akan membawa calon istrinya atau sekedar mengenalkannya sebelum IdulFitri.


Bagi sebagian orang mungkin itu adalah hal yang sangat mudah, tinggal membawa seorang wanita dan dikenalkan pada orangtua mereka. Namun, bagi Nalendra itu adalah hal yang lumayan sulit, selain belum mempunyai kekasih, orang yang dicintainya juga seorang janda beranak satu yang belum tentu juga menerimanya.


Nalendra berada di dalam apartemennya sepanjang hari, memikirkan bagaimana caranya dia mendekati Rania. Bagaimana cara dia mengetahui nomor telepon Rania. Dia takut jika terus menelepon nomor alm. Ergha, Rania akan me-non aktifkan nomornya. Dia harus punya rencana cadangan.


"Sebaiknya aku menelepon Faqih atau yang lain. Kali aja mereka tahu alamat rumahnya," gumam Nalendra.


Sudah beberapa orang yang dia telepon, tetapi tidak ada yang tahu alamat rumah alm. Ergha.


"Ya Allah, mereka teman macam apa yang tidak tahu alamat rumah teman sendiri!" gerutunya tidak menyadari jika dia pun sama tidak tahu alamat rumahnya.


"Liana, ya Liana mungkin tahu alamatnya!" seru Nalendra. "ah, ga mungkin di tahu, tapi setidaknya dia bisa menanyakan alamat Rania ke saudaranya, bukankah rumah orangtua Riana dekat dengan rumah Liana."


"Bagaimana kalau dia nanya buat apa aku nanya alamatnya. Aku harus jawab apa?" Nalendra berjalan mondar-mandir mengetuk-ngetuk ponsel ke dahinya.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, Nama teman yang tadi dia hubungi menelepon balik.


"Assalamu'alaikum." Nalendra memberi salam.


"Ya, wa'alaikumsalam." Suara di seberang telepon terdengar buru-buru.


"Ada apa?" tanya Nalendra.


"Boleh aku nanya, tapi jawablah yang jujur!"


"Buat apa kamu menanyakan alamat alm. Ergha? apa kamu berencana mendekati Rania?" tanya temannya di seberang telepon.


Nalendra tertawa untuk menutupi rasa gugupnya karena ketahuan. "Aku lagi di daerah Bekasi. Aku pikir kalau alamatnya dekat, aku akan ke sana melihat Dareen. Kemarin 'kan aku ga sempat ikut tahlil 40 harian, bukankah kata kalian Dareen menanyakan aku?" tutur Nalendra beralasan.


"Aku ga tau alamat pastinya, tapi aku masih ingat jalannya," kata Faqih. Dia pun menceritakan jalan yang dia lalui saat bertamu ke rumah Ergha.


"Ok, Thank Bro. Ternyata memang dekat sini," ujar Nalendra. Apartemennya berada di daerah Jakarta Selatan, lumayan jauh dan bisa menghabiskan waktu dua jam perjalanan. Tentu dengan perhitungan macetnya Jabodetabek dan waktu yang harus dia habiskan mencari alamat yang belum pasti.


Nalendra pun segera bersiap dan langsung meluncur ke daerah bekasi.


Setelah lama berkeliling komplek perumahan dan harus beberapa kali menelepon Faqih, akhirnya dia sampai di sebuah rumah yang asri setelah bertanya pada satpam cluster.


Nalendra keluar dari mobilnya, berjalan mendekati pagar rumah dan beberapa kali menekan bel.


"Assalamu'alaikum," ucapnya.


"Maaf, mau ke siapa ya?" tanya seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya.


"Saya saudaranya Rania," ujar Nalendra berbohong. Dia takut orang-orang akan menggosipkan Rania jika mereka tahu dia adalah teman alm. suaminya.


"Oh, coba tekan lagi aja bel nya. Mobilnya juga ada."


Nalendra pun menekan kembali bel. Tak berapa lama seorang laki-laki berusia lanjut keluar dari dalam rumahnya.


"Wa'alaikumsalam," ucapnya, membalas salam Nalendra.


"'Nak Nalendra, ada apa ke sini?"