Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 117



Nalendra terlihat sangat bersemangat hari itu. Senyuman tidak pernah meninggalkan bibirnya yang tipis. Aziz pun menyadarinya, dia sangat senang ketika melihat atasannya tersenyum, itu berarti harinya ikut tersenyum cerah.


"Pak, ini bahan untuk meeting hari ini." Aziz memberikan map yang berisi file dokumen. Soft nya sudah saya kirim ke e-mail bapak.


"Masih ada satu jam lagi. Ayo ngopi!" ajak Nalendra.


Dia dan Aziz pergi ke sebuah cafe yang tidak jauh dari kantor. "Ziz, kita meeting di sini saja kali ya?"


"Ehm, tapi Pak ...." Aziz tidak melanjutkan perkataannya.


"Coba tanya bisa reservasi dadakan ga! bosan rasanya kalau terus-terusan di kantor."


"Baik, Pak." Aziz segera menghampiri waiters menanyakan reservasi untuk meeting mereka. Waiters pun memanggil manager cafe tersebut.


Setelah sepuluh menit penuh berbincang, akhirnya dia kembali menghampiri Nalendra.


"Saya sudah resevasi tempatnya. Kalau begitu saya mohon izin untuk memberitahukan meeting kita pindahkan ke sini."


Nalendra hanya mengangguk tersenyum sambil menyeruput segelas americano.


"Pak, biar saya yang ambil dokumen untuk bahan meeting."


"Baiklah, terima kasih," ucap Nalendra lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela, melihat orang-orang yang berlalu lalang.


Meeting yang harusnya selesai satu jam menjadi lebih dari itu. Mereka meeting sambil menikmati segelas minuman dan waffle dan cake yang disediakan.


"Terima kasih, Pak. Anda sudah mentraktir kami."


"Saya sangat senang bisa menjadi tim Anda, di sini."


"Coba saja, Anda akan terus bekerja dengan kami seperti ini. Aku sangat senang."


Itulah ucapan yang mereka lontarkan diakhir meeting. Saat pertama kali bertemu Nalendra, mereka mengeluhkan sikapnya yang sangat dingin. Bukan hanya itu, Nalendra pun lebih sering bekerja lembur, itu membuat mereka tidak enak hati.


Namun, setelah beberapa lama, mereka akhirnya tahu jika Nalendra mengambil lembur hanya untuk mengisi waktu saja. Mereka juga tahu jika dia seorang yang ramah dan yang paling mereka sukai adalah Nalendra terkadang mentraktir, seperti saat ini.


"Hari ini saya melihat Anda selalu tersenyum. Itu membuat saya senang," ujar salah satu bawahannya.


Nalendra terkekeh, dia memang sedang bahagia. Bahagia mempunyai istri seperti Rania. Dia selalu mengingat kejadian semalam.


Semalam, Rania memberikan kejutan untuknya. Kejutan yang membuat dirinya selalu tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia melihat Rania menggunakan gaun malam yang mengekspos seluruh bahu dan punggung. Gaun yang berwarna baige, sangat cocok dengan kulit Rania yang putih bersih. Rambut hitam panjang yang dia biarkan tergerai, sangat indah terlihat di bahunya. Riasan flawless pun menambah kecantikan alami yang dimilikinya.


Rania juga menyiapkan makan malam yang sangat spesial, seperti di restoran ternama. Nalendra sangat terkejut apalagi mengetahui jika dia sendiri yang menyiapkan semuanya. Mempunyai ide makan malam romantis untuk pasangan, yang bahkan Nalendra saja tidak pernah terbersit ide seperti itu.


Nalendra juga ingat, Rania membuatkan steak salmon untuknya. Dia tahu jika suaminya itu tidak makan daging sapi atau pun daging ayam. Nalendra berpikir jika steak salmon yang Rania buat adalah yang terlezat yang pernah dia makan, tak kalah dengan steak salmon dari restoran ternama.


"Apa kalian mempunyai ide liburan kemana bersama keluarga?" tanya Nalendra. Nalendra berani bertanya hal lain di luar pekerjaan karena mereka telah selesai meeting dan sudah masuk jam istirahat untuk makan siang.


Sore itu, Nalendra segera membooking salah satu kamar di hotel mewah di Singapore. Dia mendapat ide itu dari anak buahnya tadi siang. Dia merekomendasikan hotel mewah tersebut karena banyak yang berbulan madu di sana. Nalendra jadi ingat, dia belum pergi berbulan madu dengan Rania.


Sementara itu, Rania sedang mengobrol serius dengan Bu Sekar melalui sambungan telepon. Beberapa hari lagi satu tahun Ergha meninggal.


"Apa Teteh harus menelepon ibu?" tanya Rania pada Bu Sekar. "Teteh merasa ga enak hati."


Bu Sekar mengerti dengan apa yang sedang dirasakan oleh putrinya. Dia pasti merasa tidak enak menghubungi orangtua Ergha, membahas acara tahlilan satu tahun Ergha. Apalagi dengan keadaannya sekarang yang sedang berada di luar negeri.


"Kalau kata bapak, biar nanti kita saja yang menghubungi mereka. Bertanya acaranya mau di mana, di sini atau di sana."


"Bu, haruskah Teteh pulang?"


"Tidak usah, ga apa-apa. Lagian jauh, ongkosnya juga lumayan!"


"Teteh beneran ga enak sama ibu. Apa lagi ini kan baru satu tahun, tapi Teteh malah ada di sini."


"Teteh di sana juga kan bukan karena menghindar, tapi karena ngikut suami. Udah jangan terlalu dipikirkan, malah jadi sakit nantinya."


"Teh, jangan terlalu mengkhawatirkan segala sesuatu. Jangan mikirin bagaimana tanggapan tetangga, toh kita ngadain tahlilan sekalian sodakoh atas nama almarhum. Biarkan saja orang bilang apa, yang penting kita tetep berbuat baik pada mereka."


"Teteh takut, Mama sama bapak sakit hati gara-gara Teteh."


"Mama sama bapak ga pernah sakit hati oleh Teteh sekalipun. Sebagian orang memang suka begitu, bikin rumor ga jelas, ga usah diladeni. Kalau kita ladeni, nanti malah dia kesenengan, biarkan saja. Nanti mereka bosan terus ilang sendiri kalau ga diladeni mah!"


"Iya, nanti kalau ada apa-apa kasih tau Teteh, ya."


"Iya. Teteh kudu baik-baik di sana. Inget jangan terlalu banyak pikiran, sehat-sehat di sana."


Rania sedikit termenung setelah bertelepon dengan Bu Sekar. Tidak terasa sudah mau satu tahun, Ergha meninggalkannya dan Dareen. Satu tahun yang lalu dia masih menjadi istri Ergha, kini Nalendra yang menjadi suaminya.


Serakahkah aku dalam satu tahun sudah berganti suami? pikirnya menghela napas.


"Kok melamun?"


Rania berbalik, terkejut melihat Nalendra sudah berdiri di sampingnya. Dia m noleh ke arah pintu, lalu menoleh kembali ke arah Nalendra. "Kok kamu udah di sini, kapan pulang?" tanya Rania karena dia sama sekali tidak mendengar ada orang membuka pintu ataupun bunyi password pintu yang Nalendra tekan.


"Baru saja, kamu melamun apa sampai tidak menyadari aku udah pulang?" tanya suaminya dengan sedikit terkekeh menggoda istrinya.


Rania langsung membuang muka ke arah jendela, seperti seseorang yang ketahuan telah berbuat kesalahan. Wajahnya merona, jantungnya berdegup lebih dari normal.


"Tidak ada apa-apa," sergahnya menepis semua prasangka. "Duduklah, aku ambilkan minum dulu." Rania langsung beranjak ke arah kitchen island menuangkan air putih ke dalam gelas yang bersih.


"Ndra, ko sudah pulang?" tanya Rania.


"Iya, kerjaan hari ini sudah selesai. Jadi aku pulang saja."


Rania menyimpan nampan berisi gelas untuk Nalendra minum di meja. Dia juga membawa puding yang dia buat tadi siang.


"Sepertinya badanku akan tambah berisi." ucapnya ketika melihat puding di hadapannya.


"Kenapa, ga suka?"


"Aku suka, Sayang. Terima kasih selalu membuatkan aku makanan yang enak-enak."


Rania tersenyum senang. "Ndra, mau mandi dulu?"


"Iya, sebentar lagi. Dareen mana?"


"Ada di kamarnya. Dia lagi senang belajar bahasa Inggris. Katanya jangan diganggu!" Rania terkekeh mengingat betapa lucu anak semata wayangnya.


"Aku mandi dulu," ucap Nalendra. Rania pun mengikuti Nalendra masuk ke dalam kamar mereka.


Malam harinya, setelah makan malam Dareen langsung kembali ke dalam kamarnya. Dia sedang sibuk membuat miniatur stasiun kereta dengan barang-barang yang ada di kamarnya.


Nalendra berencana akan memberitahu Rania jika dia sudah membooking kamar di hotel untuk akhir pekan ini. Namun, niatnya itu dia urungkan setelah mendengar cerita dari istrinya.


"Tadi aku menghubungi mama," ucap Rania memulai percakapan. "Sebentar lagi satu tahu Ergha meninggal. Aku meminta Mama mengadakan tahlilan satu tahun untuknya." Rania memandang Nalendra, dia berpikir harus segera memberitahu Nalendra tentang hal ini. Bagaimana pun juga dia harus bercerita pada suaminya tentang hal tersebut.


"Kapan acaranya?"


"Hari Minggu atau Senin besok."


Nalendra tersentak kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin dia bisa lupa tentang hari Ergha meninggal.


"Baiklah, Sabtu nanti kita pulang dulu."


"Tidak, kata mama tidak usah. Biar mama dan bapak aja yang mengurus semuanya."


"Apa tidak apa-apa kalau kita tidak pulang?"