
Pukul lima sore, Rania beserta Dareen dengan ditemani pak Idris pergi ke kediaman keluarga Ergha. Walaupun sedikit memaksa Dareen agar mau ikut ke rumah keluarga ayahnya. Jarak tempuh hanya membutuhkan hampir satu jam perjalanan menggunakan mobil.
Mereka disambut oleh Bu Darmawan. "Hallo, cucu Oma yang cakep akhirnya dateng juga."
"Assalamu'alaikum," ucap Rania dan pak Idris, lalu bersalaman dengan Bu Darmawan yang langsung mempersilahkan mereka masuk ke dalam.
Rania mengikuti arah langkah Bu Darmawan masuk. Mereka melewati ruang tamu dan masuk ke ruang keluarga. Di sana ada pak Darmawan yang sedang menonton tv.
"Assalamu'alaikum," sapa pak Idris pada besannya.
"Wa'alaikumsalam, gimana perjalanannya?"
"Biasa lebih macet dari Bandung," kelakar pak Idris tersenyum.
"Mari pak, duduk," ucapnya mempersilahkan pak Idris duduk.
Mereka mengobrol sebentar lalu terdengar suara adzan magrib berkumandang. "Ayo pak, ke mesjid," ajak pak Darmawan.
"Iya, mari pak."
Karena Rania sedang berhalangan dan tidak melaksanakan shalat, dia membantu ibu mertuanya menyiapkan makan malam.
"Beli saja, Bu," ucap Rania yang melihat ibu mertuanya kebingungan dengan menu yang akan mereka masak.
**
"Teh, ayo sini."
Pak Darmawan memanggil Rania dan istrinya untuk duduk bersama mereka.
"Teh, bapak sama ibu belum minta maaf sama teteh. Mungkin anak bapak Ergha banyak ngelakuin kesalahan selama menjadi suami teteh, mungkin Ergha belum bisa menjadi pemimpin yang baik buat teteh, mungkin juga pernah buat teteh menangis. Bapak dan ibu sangat minta maaf atas nama Ergha juga sebagai orangtuanya." Rania menunduk mendengarkan semua yang pak Darmawan katakan, tak terasa buliran bening jatuh ke pipinya.
"Bapak dan ibu juga berterima kasih pada teteh juga keluarga besar teteh yang mau menerima Ergha dan mengurus jenazahnya dari awal hingga bersedia memberikan tempat untuk Ergha dimakamkan." pak Darmawan menghela nafas. "terimakasih juga, bapak sudah mengizinkan anak saya memperistri anak bapak, maafkan anak saya ya pak," ucapnya pada pak Idris.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ergha anak yang shaleh, bertanggung jawab, selalu membuat kami senang. Dia juga anak yang rajin dan ramah pada semua orang," ungkap pak Idris, dibalas anggukan oleh pak Darmawan.
Rania sungguh tidak dapat menahan rasa sedihnya, begitu pun dengan Bu Darmawan. mereka berdua terisak dalam diam.
"Bapak tidak akan memaksa teteh untuk tinggal di sini ataupun di rumah teteh atau di Bandung, itu semua bapak sama ibu serahkan keputusannya ke teteh. Soal rumah, nanti bapak bantu pengurusannya ke bank dan balik nama teteh juga. Itu kan Ergha yang beliin buat teteh juga Dareen jadi itu sudah menjadi hak teteh sama Darren."
"Ini surat kecelakaan dari kepolisian mungkin teteh akan butuh buat asuransi. Ini surat akta Kematian untuk teteh gunakan ketika ngurus-ngurus dokumen asuransi, BPJS, ke kantor, juga ke bank. Ini kartu keluarga teteh yang baru," kata pak Darmawan memberikan satu-satu surat-surat yang tadi siang dia rapikan kepada Rania.
Deg, jantung Rania berdetak lebih cepat ketika menerima kartu keluarga yang baru. Tangannya bergetar, di sana hanya tertulis nama Rania sebagai kepala keluarga dan Dareen sebagai anak kandungnya, hanya tertulis nama mereka berdua.
Air matanya sudah tak bisa terbendung lagi, hatinya sungguh sangat sedih sekali.
"Kenapa mereka tidak membiarkan nama Ergha tetap ada di kartu keluarganya. Kenapa mereka harus menghapus nama Ergha!" pikirnya.
Namun, yang membuatnya sangat sakit ketika melihat distatusnya telah berganti dari menikah menjadi janda.
"Sabar, teh. Allah Maha Tahu yang terbaik buat teteh dan Dareen," ucap pak Idris memeluk dan berusaha menenangkan anaknya.
Mereka semua yang berada dalam ruangan itu tidak ada yang berkata-kata lagi dalam waktu yang cukup lama, menyelami pikiran masing-masing.
"Teh, menginaplah di sini," ujar Bu Darmawan setelah obrolan panjang yang menguras air mata dan emosi mereka mereda walaupun belum berakhir dan bersambung ke lain hari.
"Nanti, Bu. Nanti saja aku sama Dareen akan menginap," jawab Rania, dia tidak membawa bekal untuk menginap di sana.
"Bu, teteh pamit ya," ucapnya, terlihat dia berjalan lunglai sekali.
"Assalamu'alaikum," pamit Rania dan pak Idris sambil menggendong Dareen yang tertidur.
Rania membukakan pintu belakang, agar pak Idris menidurkan Dareen di kursi belakang. Dia sangat tahu jika Dareen masih empat tahun, tetapi menggendongnya yang tertidur dalam waktu lama bisa membuat tangan kesemutan, pegal-pegal.
"Teh, biar bapak aja yang nyetir," pinta pak Idris setelah menidurkan cucunya di kursi belakang. Dia tidak mungkin membiarkan anaknya menyetir dalam keadaan kalut seperti itu. Safety first, mungkin itu ungkapan tepat yang ada dipikiran pak Idris saat ini.
Selama perjalanan, Rania memandang ke luar jendela samping. Rasanya waktu begitu cepat berlalu. Jika bisa, dia ingin mengulang waktu saja. Namun, itu adalah sesuatu hal yang sangat mustahil bisa dia lakukan.
***
Dareen tetap bersekolah diantar jemput oleh pak Idris. Dia anak yang rajin dan cerdas, dia tidak pernah mengeluh tentang bundanya yang jarang di rumah saat siang karena sibuk mengurus dokumen.
"Teh, seminggu lagi 40 harian alm. aa, mau ngadain acaranya di sini atau di Bandung?" tanya Bu Sekar.
"Di Bandung aja," sahut Rania.
"Teh, udah ngobrol belum sama keluarganya?"
"Belum." Rania masih asik dengan ponselnya.
"Teh, coba taro hela eta ponselnya!" titah Bu Sekar yang merasa kesal anaknya tidak memperhatikan ketika diajak berbicara.
"Apa Mama?" Rania bertanya balik setelah menyimpan ponselnya di meja.
"Mama nanya, teteh udah ngobrol belum sama keluarga Ergha kalau mau ngadain acara 40 harian di Bandung?" tanya Bu Sekar yang mulai terdengar kesal.
"Belum, 'kan tadi teteh udah bilang belum ngobrol. Kenapa harus ngobrol sama mereka. 'Kan teteh yang ngadain," ujar Rania.
"Ih, ari teteh ya harus ngobrol atuh! apanan mereka orangtua alm. takutnya mereka mau ngadain di sini."
"Ya, nanti Rania telepon," jawabnya.
Sebenarnya Rania agak malas kalau harus ke rumah mertuanya. Bukan karena tidak mau bertemu mertuanya, hanya saja dia masih sakit hati dengan ucapan adik iparnya.
Minggu yang lalu, Rania pergi ke rumah mertuanya. Dia ke sana untuk memberitahukan jika dia sudah memutuskan akan pulang ke Bandung. Karena dia berpikir jika di Bandung dia bisa kembali bekerja lagi dan ada yang menjaga Dareen.
"Bu, Pak, nanti setelah 100 harian Ergha atau setelah masa Iddah Rania selesai, Rania mau pindah ke Bandung ya. Rania mau kembali bekerja," tutur Rania kepada Bu Darmawan.
"Kenapa ga di sini aja. 'Kan di sini juga bisa teteh kerja?" tanya pak Darmawan, memang dulu dia pernah bilang akan menyerahkan semua keputusan ke tangan Rania. Namun dia juga harus tahu alasannya.
"Rania rasa kalau di Bandung bisa lebih mudah Rania nyari tempat mengajar lagi. Nanti Rania minta tolong ke mama atau bisa ke temannya mama," sahutnya.
"Nanti kalau teteh ngajar, Dareen dengan siapa?" tanya Bu Darmawan.
"Di sana banyak tetangga yang bisa Rania mintain tolong buat jaga Dareen juga banyak saudara Rania yang bisa mantau Dareen."
"Kenapa ga di sini aja, titipin aja ke ibu. Ya 'kan Bu!" seru Febri adiknya Ergha.
Rania terdiam. Sejak menikah dia tidak pernah bekerja lagi, karena Ergha tidak mengizinkannya. Bisa saja dia melamar ke seluruh sekolah yang terdekat di sana, tetapi untuk dapat masuk mengajar lagi butuh relasi atau istilah "orang dalam" yang bisa mengajaknya. Apalagi dia telah lima tahun berhenti.
"Rania hanya berpikir, di sana akan lebih mudah mendapat pekerjaan lagi."
"Iya, bapak ga mempersalahkan itu. Bapak yakin teteh tahu yang terbaik buat teteh dan Dareen. Terus nanti rumah teteh gimana?" Pak Darmawan berusaha mengerti perasaan menantunya.
"Mungkin akan Rania kontrakan," jawabnya.
"Kenapa ga teteh jual?" tanya pak Darmawan.
"Rumah itu Ergha belikan buat Rania dan Dareen. Kalau menjualnya ... rasanya itu bukan keputusan yang bagus. Nanti kalau Dareen udah besar, Rania berencana membalik nama atas nama Dareen karena itu peninggalan ayahnya."
"Bilang aja mau dikuasai sendiri warisannya. Dapet uang asuransi gede aja ga bilang-bilang, diam-diam Bae!" seru adiknya lagi.
"Febri!" seru pak Darmawan.
"Kenapa bapak teriak?" jawabnya dengan menaikan suaranya. "Emang bener 'kan kalau dia ngambil semua uang asuransi kak Ergha?"
"Itu memang hak nya teteh dan Dareen. Kenapa kamu ikut capur urusan asuransi kak Ergha," sergah Bu Darmawan.
"Dengerin bapak!" ucap pak Darmawan dengan wajah yang memerah karena kesal dan malu. "Ga ada yang teh Rania tutupi, rumah itu emang hak nya teh Rania dan Dareen. masalah uang asuransi, bapak dan ibu sudah tahu karena bapak yang antar teteh ngurusin semuanya, jadi bapak tau," kata pak Darmawan berusaha berkata lembut pada anak bungsunya yang sekarang menjadi anak tunggalnya.
"Ayo minta maaf sama teh Rania!" titah pak Darmawan.
Namun, bukannya minta maaf Febri malah melengos masuk ke kamar dengan membanting pintu kamarnya.
"Maafkan Febri ya teh," ucap Bu Darmawan meneteskan air mata, melihat kelakuan anak gadisnya.
Rania hanya mengangguk pelan, dia tahu adik iparnya memang berbeda sifatnya dengan Ergha. Namun, dia tidak percaya dia bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu.