
Rania bercerita pada Nalendra, jika Liana baru saja mengirimkan pesan padanya setelah sekian lama. Rania memberitahu, Liana meminta dia menghubunginya balik.
"Tidak usah, biarkan saja!" tolak Nalendra. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada istri juga anak dalam kandungannya.
"Kenapa?"
"Istirahatlah, kalau memang ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan, pasti dia akan menghubungimu lagi," kilah Nalendra. "Istirahatlah, tidak usah terlalu dipikirkan tentang Liana. Dia akan menghubungimu lagi jika memang ada sesuatu yang urgent!"
Rani mengangguk setuju dengan suaminya. Ya, dia pasti akan menghubungiku jika penting. pikir Rania.
**
Malam harinya setelah acara pengajian empat bulanan selesai, seluruh keluarga yang hadir masih di sana berkumpul, bercerita. Kecuali anak-anak yang sudah tertidur karena sudah lewat waktu tidur mereka.
"Berarti bayinya Made in Singapore, ya Kak," ujar salah satu sepupu Nalendra sambil tertawa.
"Ya, bisa dibilang begitu." Nalendra ikut tertawa, melirik Rania, membuat wajah istrinya merona.
"Kita juga kayanya harus bulan madu lagi biar cepat dapet anak kedua!" ujar sepupu Nalendra yang lain pada istrinya.
"Kalau kita bilang madu, anak-anak sama siapa? masa iya mau dibawa juga!" ketus sang istri.
"Titip dulu sama mama. Dia pasti setuju, kan buat keberlangsungan keturunan keluarga juga!"
"Keberlangsungan keturunan katanya!" sergah sang istri sambil tertawa sinis.
"Bawa aja, kita juga bawa Dareen kemana-mana. Atur aja waktunya, pasti bisalah. Di rumah atau di mana pun bisalah, sama aja cuma beralih tempat doang!" kata Nalendra tertawa.
"Si Kakak cepet ngertinya ya soal begitu. langsung pinter!" ketus Pak Sulaiman tertawa. "Kayanya sudah ahli atur strategi!"
Wajah Rania semakin merona, memerah. Dia sungguh tidak menyangka Nalendra bisa berkata seperti itu pada saudara-saudaranya. Rasanya malu sekali.
"Iyalah, orang Ibu berdoa tiap waktu agar Allah ngasih cucu lagi. Alhamdulillah kan Allah ngasih cepat." ucap Bu Shafira bangga.
"Berdoa tanpa usaha kan sia-sia, Bu!" timpal Nalendra. "Kakak juga yang usaha ekstra!"
"Ekstra apa?" tanya Rania mendelik ke arah Nalendra.
"Ekstra cinta sama kamu, Yang," jawabnya terkekeh dan langsung dicubit kecil oleh Rania.
"Teh, katanya kemaren masuk rumah sakit, ya. Apa sekarang masih terasa mualnya?" tanya istri sepupu Nalendra.
"Masih, tapi ga terlalu kaya kemaren. Kalau kemaren tuh, tiap makan mual, nyium bau masakan pun mual," ungkap Rania.
"Kalau nyium parfum mual juga ga? kalau dulu aku pas hamil, tiap nyium parfum pasti aja langsung kliyengan terus mual muntah-muntah. Nyampe aku ga mau dekat-dekat si A Farhan kalau dia mau kerja. Perasaannya itu kaya nyium parfum yang menyengat gitu, padahal katanya pake cuma sedikit!"
"Kalau aku, enggak. Hanya bau masakan aja. Cuma terkadang aku ga mau dekat-dekat Nalendra. Bawaannya kesal terus kalau liat dia!" Jawab Rania.
"Kalau mual karena bau masakan, terus ngidam makanan enggak?"
"Ngidam pertamanya sop iga buatan mamanya. Lah, kan jauh banget, masa iya harus ke Indonesia dulu cuma buat makan sop iga."
"Terus gimana itu, beli sop di Singapore? emang ada yang jualan sop iga?
"Ya ada kayanya, cuma kita ga beli. Karena dia di rawat di RS, jadi aku minta Mamanya sama ibu nyusul ke Singapore." jawab Nalendra.
"Terus, kalau ga beli gimana dong?"
"Ya ga gimana-gimana. Kan Mama mertua datang ke Singapore, ya udah aku minta beliau masak sop!"