Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 23



Dareen langsung menarik tangan pak Idris begitu turun dari mobil. Untunglah, hari ini langit lumayan cerah walaupun ada awan-awan yang mengintai dan matahari bersembunyi malu di baliknya. Setidaknya tidak terlalu panas.


"Dareen, tunggu. Ganti dulu bajunya sama baju renang," ucap Rania sedikit berteriak karena Dareen sudah lumayan jauh di depan.


Ketika Rania dan Bu Sekar tiba di tepi pantai, Dareen sudah basah kuyup menerjang ombak.


"Padahal belum ganti baju, basah jadinya," gerutu Rania.


"Biarin aja tinggal di cuci, lagian itu bajunya juga baju main bukan baju kondangan," kata Bu Sekar.


"Ayo nyari tempat buat duduk," ajak Bu Sekar yang masih menenteng beberapa totebag berisi makanan.


"Zyan, gelar tikernya. Mama udah pegel nih!" seru Bu Sekar pada anak bungsunya.


Zyan menggelar tikar yang mereka bawa dari rumah di dekat pohon, belakang bangunan pengawas penjaga pantai. Bu Sekar dan Rania pun duduk, mengeluarkan makanan dari totebag dan menatanya di atas tikar.


Rania melihat ke arah pantai, Dareen tertawa terbahak bermain air bersama pak Idris dan Zyan yang membawa ember pasir juga skop dan peralatan mainan pasir yang lain.


Setiap ada ombak yang menghampirinya, Dareen tertawa terbahak. Dia begitu senang bermain jauh dari rumah, setelah empat bulan lebih hanya bermain di rumah.


"Panggil, suruh makan dulu. Nanti sakit lagi!" Bu Sekar mengeluarkan nasi dan lauknya.


Rania berjalan ke arah pantai, memanggil Dareen dan pak Idris. Namun, Dareen menolak bahkan tidak menghiraukan Rania yang memintanya untuk makan dahulu.


"Dareen, ayo makan," ujar Rania, tetapi tidak di dengar oleh Dareen.


"Pak, suruh Dareen berhenti dulu. Ayo makan dulu," ucap Rania pada pak Idris.


"Dareen, tuh kata bunda makan dulu. Ayo, nanti kita main lagi habis makan," kata pak Idris. Dareen tetap tak bergeming, dia asik menendang-nendang kakinya didalam air hingga terjatuh lalu tertawa terbahak.


Rania kembali ke tempat mereka menggelar tikar.


"Mana, udah di bilangin belum?" tanya Bu Sekar yang hanya melihat Rania saja yang kembali.


"Pada ga mau!" ucapnya.


"Yeee, atuh suruh makan dulu. Nanti masuk angin, main air ga makan dulu mah," kata Bu Sekar yang langsung berjalan cepat ke arah pantai.


"Pak, ayo makan dulu. Gendong aja Dareen nya," ucap Bu Sekar.


"Ga mau katanya, Bu," jawab pak Idris.


"Masa kalah sama cucu!"


"Dareen, ayo makan dulu. Kalau ga makan nanti sakit lagi gimana? mau masuk rumah sakit lagi, 'kan Dareen baru sembuh. Nanti ga bisa main lagi kalau sakit," rayu Bu Sekar dan langsung dituruti cucunya.


"Jangan mau kalah sama cucu," ucapnya pada pak Idris yang tersenyum melihat kelakuan istrinya.


"Ibu, tuh Om juga main. Dareen mau main pasir sama Om," ujar Dareen menunjuk ke arah Zyan yang sedang anteng bermain pasir sendirian.


"Abah, panggil Om Zyan suruh makan dulu!" seru Bu Sekar pada pa Idris. "tuh, nanti om juga makan dulu, lagi dipanggil sama Abah."


"Tadi aja dipanggil sama bunda ga mau, sama ibu mau," ledek Rania pada anak semata wayangnya.


"Bundanya aja yang ga bisa ngerayu. Ya Dareen ... ya." Bu Sekar balik mengejek Rania.


Rania mengeluarkan handuk, mengeringkan baju Dareen walaupun tidak kering setidaknya tidak terlalu basah kuyup. Dia menyampirkan handuknya di badan Dareen agar hangat.


"Dareen, duduk sini. Bunda suapi," ujar Rania menepuk tempat di sampingnya agar Dareen duduk di sana.


Mereka makan makanan yang di bawa dari rumah. Setelah selesai, Dareen dan Zyan langsung pergi ke pantai lagi bermain air, Pak Idris menuju toilet untuk membersihkan diri. Rania dan Bu Sekar setelah membereskan bekas makan, mereka kembali berselonjoran menikmati angin yang berhembus.


"Jalan yuk Teh," ajak Bu Sekar.


"Ya tunggu bapak, biar nanti bapak yang jaga," jawab Bu Sekar. Rania pun mengangguk setuju.


"Dareen ajak jangan ya, Mah?" tanya Rania.


"Ga usah, biarkan aja sama Zyan."


"Kalau nanti nyari gimana?"


"Ya biarin aja. 'kan ada Abahnya sama Om nya, masa ga bisa jagain bentar," kata Bu Sekar.


"Pak, mama mau jalan sama Rania. Jagain ya, jangan kemana-mana. Dareen ga ikut, dia anteng sama Zyan," tutur bu Sekar.


"Iya, ya udah saja. Nanti jangan lupa beliin Abah kopi ya atau apa gitu yang seger," pintanya.


"Iya, awas jagain," kata Bu Sekar lagi.


Rania segera mengambil topi floopy untuk menutupi kepalanya agar tidak terlalu terpapar matahari walaupun cuaca tidak terlalu terik, tetapi tetap saja panas.


Mereka menyusuri jalan yang biasa digunakan untuk berjalan-jalan, di sepanjang jalanan banyak pedagang kaki lima berjualan minuman, mie cup, kopi, layang-layang, ember pasir dalam berbagai macam bentuk, topi pantai.


"Mah, beli bakso yuk," ajaknya melihat truk yang berjualan makanan di depannya. ada menu bakso terpampang jelas di spanduknya.


Bu Sekar menuruti Sang anak, dia duduk di tempat yang telah disediakan menunggu Rania yang sedang memesankan untuknya.


Rania menikmati baksonya sambil melihat ke arah laut. Lumayan enak pikirnya untuk harga yang cukup menguras kantong.


"Mau beli baju ga?" tanya Bu Sekar menunjuk gerai baju tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Buat apa?"


"Ya buat dipake!"


"Ga usah, ngapain," tolak Rania.


"Ih, ga seru pisan Teteh mah, main ke pantai tapi ga beli apa-apa," ucap Bu Sekar.


"Kalau mau beli, ayo Rania temenin," ujar Rania yang tidak terima disebut tidak seru oleh mamanya sendiri.


Bu Sekar segera menghabiskan baksonya lalu mengajak Rania ke gerai baju. Dia membolak-balik baju yang di pajang. Entah yang seperti apa yang dia inginkan, Rania hanya berdiri melihat mamanya sibuk memilih.


"Teh, mau beli buat Dareen? ini bagus nih." Bu Sekar menyodorkan baju berwarna dasar hijau pada Rania.


"Ini juga bagus, lumayan buat di main," ucapnya lagi.


Rania tidak terlalu memperhatikan baju yang Bu Sekar pilihkan, dia hanya menumpuk baju-baju tersebut di lengannya.


Setelah puas berbelanja dan berjalan-jalan berkeliling. Rania dan Bu Sekar kembali ke tempat pak Idris menunggu barang-barang mereka.


Rania berjalan menenteng beberapa kresek belanjaan ibunya, tidak lupa mereka juga membeli kopi cup untuk pak Idris.


Pak Idris sedang tiduran berbantal tas berisi baju ganti Dareen, wajahnya dia tutupi dengan topi milik Zyan.


"Pak, bangun. Nih kopinya," ujar Bu Sekar menepuk lengan pak Idris.


Pak Idris pun terbangun dan langsung mengambil cup kopi dari tangan Sang istri. Dia langsung menyeruput kopinya yang sudah mendingin.


"Dareen mana?" tanya Rania pada pak Idris.


"Masih main," ucapnya singkat.


Pantai sudah mulai penuh oleh pengunjung. Rania masih mencari keberadaan anak dan adiknya hingga tiba-tiba dia melihat sosok Dareen sedang bermain air laut bersama seseorang yang mulai dia kenal.