
"Bunda, mereka bicara seperti di film yang aku tonton!"
Itulah kalimat yang Dareen ungkapkan ketika pertama kali di bawa keluar berjalan-jalan pagi oleh Nalendra. Dia sangat senang memperhatikan orang-orang yang mengobrol di sekitarnya, hingga Rania harus mengalihkan wajahnya ketika dia terus memperhatikan seorang lelaki paruh baya yang sedang menemani seorang anak kecil bersepeda.
"Apa yang mereka katakan, Bunda. Aku tidak mengerti!" kalimat kedua terlontar dari mulut kecilnya ketika dua orang pelayan minimarket mengajaknya berbicara karena Dareen berdiri seperti patung di depan etalase donat.
Rania dan Dareen menghabiskan hari pertama mereka dengan menonton televisi. Ingin sekali Rania mengajak Dareen berkeliling, hanya berkeliling sekitar apartemen mereka. Namun, rasa malas dia rasakan ketika menyadari dia tidak begitu mengerti bahasa yang mereka pakai di sana. Bahkan untuk bahasa Inggris pun Rania kurang fasih.
Waktu terasa berjalan lambat ketika kau merasa bosan. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan selain menonton.
"Dareen, bosan ya?" tanya Rania yang melihat anaknya sibuk menatap tab.
"Enggak, aku ga bosan!"
"Masa? bunda bosan!"
"Aku ga bosan, Bunda. Jangan ganggu dulu, aku lagi fokus belajar ini!" kata Dareen dengan gayanya menggemaskan. "Kalau bunda bosan, nanti minta aja tab ke Daddy buat belajar kaya aku!"
Rania mengerlingkan matanya, menghembuskan napas malas. Pagi tadi sebelum berangkat, Nalendra memberikan tab kepada Dareen. Dia sudah mendownload aplikasi untuk belajar bahasa Inggris di tab tersebut. Dia ingin Dareen belajar, memahami bahasa yang akan dia gunakan untuk berkomunikasi selama di sini.
Sesuai rencana, Nalendra menjemput Rania dan Dareen untuk berjalan-jalan sekaligus membeli kebutuhan pokok selama beberapa Minggu.
"Ayo!"
"Daddy, ini mobil siapa?"
"Mobil kantor, Sayang. Kita kan mau belanja banyak."
Rania tersenyum mendengar perkataan Nalendra. Ya, mana ada yang mau menenteng beberapa kantong belanjaan melewati beberapa blok apartemen! itu yang Rania pikirkan.
"Kita ke supermarket yang tadi itu?" tanya Rania mengingat tadi pagi Nalendra berkata akan membawa mereka ke sana.
"Iya."
Hanya butuh kurang dari 10 menit, mereka sudah sampai di salah satu supermarket terbesar di Singapore. Supermarket ini memiliki lebih dari 50 cabang yang tersebar di negara singa tersebut. Beberapa cabangnya bahkan melayani 24 jam.
Supermarket ini juga memberikan kemudahan bagi calon pembelinya. Kita bisa mengecek ketersediaan barang apa saja melalui website online. Kita juga bisa langsung tahu berapa harga dari produk tersebut. Bila kita tidak sempat untuk datang langsung ke Supermarket, maka bisa membelinya secara online. Cukup mudah karena hanya tinggal klik dan membayar.
Kalau barang belanjaan sudah lebih dari 100 dollar Singapore, maka Anda tidak perlu membayar biaya pengantaran. Sangat mudah dan praktis bukan?
Nalendra mendorong troli belanjaan di samping Rania dan Dareen. Dia selalu menikmati kebersamaan mereka ketika berbelanja seperti ini.
Mereka berbelanja banyak bahan makanan, sayuran dan daging untuk satu Minggu ke depan dan yang lainnya untuk satu bulan ke depan.
**
Sudah lebih dari seminggu Rania berada di singapore. Selama itu pula dia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam apartemennya. Dia keluar hanya untuk mengantar jemput Dareen bersekolah. Nalendra mendaftarkan Dareen di sebuah sekolah setingkat TK yang tak jauh dari apartemen mereka.
Baru beberapa hari Dareen bersekolah, tetapi dia sudah bisa berkomunikasi dengan teman-temannya. Anak kecil memang lebih mudah belajar dan cepat paham dengan apa yang dia pelajari, terutama bahasa.
Berbeda dengan Sang bunda, Rania belum baru bisa kalimat-kalimat pendek untuk menyapa dan obrolan sederhana. Rania akan kebingungan jika lawan bicaranya berbicara dengan cepat.
Seperti yang terjadi sore itu, Dareen mengajak Rania bermain ke taman. Dia sudah berjanji dengan temannya akan bermain bersama di sana.
"Hai, Mrs. Nalendra," sapa seorang ibu yang anaknya sedang bermain dengan Dareen, dia berbicara menggunakan bahasa Inggris.
"Hai, Mrs. Gerald."
"Aku baru melihatmu lagi."
"Iya, aku jarang keluar."
"iya."
"Anakku banyak bercerita tentang Dareen. Dia bilang kalau dia mempunyai teman baru dari Indonesia." Mrs Gerald berbicara dengan cepat dan hanya dibalas dengan senyuman oleh Rania.
Sore itu, Rania ikut berkumpul dengan Ibu-ibu yang anaknya sedang bermain di taman. Namun, dia lebih banyak diam mendengarkan dan sesekali hanya tersenyum ketika ditanya.
Malam harinya, Dareen lebih awal tidur karena kelelahan bermain sepanjang sore. Rania mulai memasak menyiapkan makanan untuk makan malam dia dan suaminya. Hari ini Nalendra pulang telah karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, tetapi dia berjanji akan makan malam di rumah.
Rania memasak steak salmon, tentu karena Nalendra tidak makan daging ataupun ayam. Kalaupun ke tempat makan ayam kripsi menemani Dareen, dia akan memesan spaghetti atau yang lain. Ketika Rania memasak sop daging sapi atau ayam, dia hanya memakan sayurannya saja. Dia juga membuat puding untuk makanan penutup.
Selesai memasak, Rania menata meja makannya dengan menambahkan taplak meja dan dining set terbaik yang ada di lemari. Dia juga menambahkan beberapa holder lilin di tengah meja dan tentu saja beberapa tangkai bunga pun sudah berada di sana.
Rania tersenyum ketika selesai menata meja untuk makan malam mereka. Dia segera mandi dan berdandan cantik. Malam ini dia akan menggunakan gaun yang dia beli sebelum lebaran ketika mereka berada di Jakarta.
Rania mempunyai ide ini dari Mrs. Gerald, dan Mrs. Zang dia sempat mengobrol lebih pribadi dengannya. Mereka berbincang tentang waktu yang mereka habiskan dengan pasangan setelah mempunyai anak.
Apa tak masalah aku memakai ini? pikirnya sambil bercermin. Dia menggunakan slip dress berwarna baige dengan spaghetti strap. Gaun yang dia gunakan juga memiliki blackless yang mengekspos seluruh punggung mulusnya.
Dia keluar dari kamarnya, mengambil sebotol sparkling white grape juice dari lemari es yang dia beli online tadi sore. Dia menyimpannya di meja yang telah dia dekor tadi.
"Ko, Nalendra lama ya?" gumamnya, lalu mengambil ponsel yang berada di kitchen island.
Baru saja Rania memegang ponselnya, terdengar seseorang menekan password pintu masuk apartemennya. Rania melirik ke arah lorong pintu.
Rania tersenyum ketika melihat Nalendra memandangnya dalam keremangan. Rania telah mematikan lampu dan menggantinya dengan cahaya dari lilin.
"Wow," ucap Nalendra terkejut. Dia berjalan menghampiri istrinya yang sedang merentangkan tangan, senyumannya sangat manis dikeremangan. "Kamu menyiapkan semuanya sendiri?"
"Tentu, sapa coba yang akan membantuku!"
"Terima kasih, kamu sangat cantik memakai pakaian seperti ini. Aku suka, sangat-sangat suka," ungkap Nalendra yang terus memandangi istrinya.
"Ayo, makan. Aku sudah buatkan steak salmon." Rania melirik dua piring yang masih berada di atas kitchen island.
"Apa tak masalah jika aku belum mandi?"
"Apa badanmu terasa sangat lengket?" Rania bertanya balik.
"Tidak, ayo kita makan." Nalendra mengambil piring yang berisi steak salmon tersebut dan membawanya keeja yang telah disiapkan oleh Rania.
"Kenapa?" tanya Rania melihat Nalendra tak hentinya memandanginya. "Apa aku terlihat jelek?"
"Tidak, kamu sangat cantik. Aku hanya masih merasa terkejut. Aku senang sekali," ucapnya. "Aku tidak pernah berpikir kamu mempunyai ide seperti ini."
"Ya, ini emang bukan ideku sih. Tadi sore aku menemani Dareen bermain di bawah. Aku sedikit ngobrol dengan beberapa ibu-ibu di sana. kami membahas tentang menikmati waktu bersama suami setelah mempunyai anak," ungkap Rania. "Jadi aku dapat ide ini dari mereka."
"Terus botol ini?" Nalendra menunjuk botol yang masih tertutup.
"Oh, itu juga ide mereka. Tenang saja itu hanya jus, halal ko. Aku membelinya lewat online dari supermarket terdekat. Mereka juga memberitahu beberapa merk minuman anggur yang halal padaku."
"Lalu dress itu, baru kali ini aku melihatnya?"
"Ini baru, aku baru membelinya di Jakarta sebelum lebaran," jawab Rania. "Apa kamu risih melihatku begini?"
"Tidak, tentu tidak! aku sangat menyukainya, bahkan aku berencana membelikan gaun yang seperti itu lagi."
"Kenapa?"
"Karena aku menyukainya."