
Rasa cinta adalah sebuah hal yang misterius. Kita tidak tahu kapan akan mulai mencintai atau pun dicintai oleh seseorang. Bukan terkadang lagi, rasa itu tiba-tiba muncul tanpa kita duga sebelumnya. Seperti halnya Rania, entah sejak kapan dia mulai menyukai Nalendra. Rasa itu kembali hadir saat Nalendra mulai kembali mendekatinya ketika dia menjadi seorang single parent untuk anak semata wayangnya.
"Harusnya kamu tetap memendamnya sendirian!" Liana setengah berteriak pada Rania. "Harusnya kamu tetap menjanda saja!"
Tanpa sadar Rania menampar keras Liana hingga dia sendiri terkejut dengan apa yang telah dilakukannya.
"Kau, berani menamparku?!"
"Sepertinya kamu memang harus ditampar agar tersadar dari pikiran kotormu itu!" seru Rania berusaha menata pikirannya agar tidak gugup. "Kamu tahu, sekuat apapun aku berlari menjauhinya, menolaknya puluhan kali dalam hati dan pikiranku, bahkan setelah aku sempat menikah dengan orang lain pun, tetap saja pada akhirnya kami menikah dan menjadi suami istri karena sedari awal kami memang berjodoh!"
"Aku sudah memberimu waktu belasan tahun untuk mendekatinya. Namun, nyatanya sekuat apapun kamu berlari berusaha mengejar seseorang yang bukan jodohmu. Kamu tetap tidak akan mendapatkannya! Jadi, berhentilah mengejar sesuatu yang memang tidak akan pernah menjadi milikmu!" Rania menatap tajam wajah Liana yang sudah memerah karena marah. "Rasa yang kamu miliki itu bukanlah cinta, tetapi obsesi dan itu adalah sebuah penyakit! Sadarlah, Nalendra sudah menikah denganku dan kami sudah mempunyai anak. Berhentilah mengejarnya, itu pun kalau kamu masih punya rasa malu!"
"Kamu berani berbicara tentang rasa malu denganku? bukankah kamu sendiri orang yang tanpa rasa malu tega mengambil cinta sahabatnya sendiri?!" sergah Liana.
"Sahabat?" Rania tersenyum sinis tertawa kecil. "Dengar baik-baik, tidak ada yang bisa mengubah takdir yang telah digaris oleh Yang Maha Kuasa. Nalendra memang ditakdirkan berjodoh denganku, entah itu sahabat atau saudara tetap saja dia tidak bisa mengubah apa yang telah menjadi takdir seseorang!"
"Berhentilah mengharapkan Nalendra, jangan pernah mengusik lagi rumah tanggaku. Itu pun kalau kamu memang mencintainya seperti yang kamu bilang. Kalau kamu tetap keukeuh bilang jika kalian saling mencintai dan akan menunggunya. Tunggulah dengan benar jangan dengan cara merusak rumah tangga orang lain!"
Rania berdiri dari tempat duduknya, dia melangkah beberapa langkah lalu berhenti dan berbalik ke arah Liana. "Ah, ya. Aku lupa satu hal, jangan pernah mengusik anak-anakku atau kau akan tau akibat dari perbuatanmu. Ingat, seorang ibu akan lebih menyeramkan dari pada seorang istri yang lakinya diusik oleh pelakor!"
Rania tersenyum sinis ke arah Liana, antara mengejek, kasian dan jijik melihat temannya tersebut. Dia menatap ke arah dia wanita paruh baya yang tak melepaskan pandangannya ke arah mereka.
"Hayu, Bu. Maaf ya, udah buat keributan." Bu Sekar melirik Liana yang masih terdiam dengan raut wajah yang sulit diartikan, antara kesal, marah, sedih, bingung menjadi satu.
Bu Ratna hanya mengangguk, dia tidak bisa berbuat banyak untuk membela sang anak. Dia sadar betul jika anaknya lah yang bersalah. Dia berharap setelah mereka mengobrol, Liana dapat tersadar jika memang Nalendra tidaklah berjodoh dengannya dan tidak akan mengharapkannya kembali.
Rania berjalan berdampingan dengan mamanya, Bu Sekar, tanpa mengobrol sepatah kata pun. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Sampai tiba di halaman rumah, Rania sedikit terkejut melihat mobil Nalendra yang telah terparkir di sana. Dia setengah berlari masuk ke dalam rumah.
"Kamu sudah pulang, mana Dareen?" tanyanya begitu melihat Nalendra yang sedang duduk dan baby Ara di pangkuannya.
"Aku pulang duluan, karena ada kerjaan yang harus aku kerjakan. Dareen masih di kolam bersama kakeknya." Nalendra tersenyum melihat Rania.
Rania melirik Bu Shafira yang menganggukkan kepalanya. Rania sungguh takut jika Nalendra tahu dia ke rumah Liana, tentu kemungkinan besar dia akan marah. Namun, Nalendra tidak menunjukan ekspresi marah ataupun kesal.
"Mau jalan-jalan?" tanya Nalendra pada wanita yang kini duduk di sebelahnya.
"Ehm?" Rania menatap Nalendra lekat.
Apa dia tau aku ke rumah Liana, apa dia akan mengomeliku? ah, raut wajahnya tidak menunjukan kalau dia kesal. pikir Rania.