
"Bunda," panggilnya.
"Apa Sayang?"
"Coba telepon Om, dia mau ikut ga ke mesjid agung!"
"Iya nanti bunda kasih telepon. Tapi kayanya Om ga bisa ikut, kan dia kerja," ujar Rania.
"Kerjanya lama banget sih, ko ga libur-libur?"
Rania hanya bisa tersenyum kecut melihat anaknya sedikit merengek merindukan Nalendra.
**
Rania menonton tv setelah menidurkan Sang anak. Entah kenapa dia belum merasa mengantuk, padahal udah pukul 9 malam.
Pak Idris menghampiri Rania dan duduk di sebelahnya, membawakan teh hangat.
"Nuhun," ucap Rania.
"Teh, apa ada yang mau Teteh obrolkan sama Bapak?" tanya pak Idris pada putrinya. Bu Sekar menoleh kearah mereka, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Ehm." Rania melirik Pak Idris, tersenyum malu dan mengangguk. "Kemarin, waktu Rania ikut jalan-jalan sama Nalendra. Dia mengajak Rania nikah," ungkap Rania, suaranya pelan seperti berbisik.
"Lalu Teteh jawab apa?" tanya Pak Idris.
"Enggak jawab apa-apa." Rania memainkan ujung kain bajunya. "Rania ga tau harus jawab apa. Waktu kemarin jalan-jalan, Rania seperti melihat Ergha tersenyum pada Rania. Rania merasa kesal seperti ketauan selingkuh, Pak," lanjut Ranai sendu, mulai meneteskan air mata.
Bu Sekar yang sedang berada di depan laptop pun beranjak mendekati Sang putri. Dia merangkul Rania, memeluknya. Pak Idris membelai lembut rambut Rania.
"Aku benar-benar takut," ujarnya sesegukan. "Padahal aku tidak bermaksud buat mengkhianati Ergha, Pak, Mah."
"Iya, sok nangislah dulu. Keluarkan dulu sedihnya, tapi jangan lama-lama. Enggak bagus klo sedih dipendam lama. Enggak bagus juga nangis lama-lama, nanti matanya keliatan bengkak banget. Inget besok Teteh 'kan harus ke sekolah!" Bu Sekar mencoba membuat Rania tersenyum walaupun sedikit.
"Rania senang Nalendra suka nengokin Dareen juga ngajak Dareen main, jalan-jalan, Rania beneran seneng. Tapi Rania takut jika nanti Nalendra nikah terus Dareen nanyain kenapa ga dateng lagi, Rania harus jawab apa?" ungkapnya. "Makanya kemarin Rania bilang ke dia agar jangan terlalu sering dateng. Biar lambat laun Dareen terbiasa tanpa dia. Rania takut dia akan nangis sampe demam karena pengen ketemu Nalendra, sama kaya waktu dia pengen ketemu ayahnya!"
Pak Idris tersentak, ternyata anaknya berpikir sejauh itu. Dia ingat saat Dareen menangis ingin bertemu Ergha, meminta Rania menghubunginya. Namun, tentu saja mereka tidak dapat mengabulkan permintaan Dareen. Dia pun jatuh sakit, demam tinggi hingga harus dirawat beberapa hari di Rumah Sakit.
"Lalu, Nalendra jawab apa?" tanya Pak Idris, berpura-pura tidak mengetahui ceritanya.
"Dia mengajak Rania menikah," jawab Rania. "Rania hanya menganggapnya sebagai candaan, mungkin dia sedang kecapean karena mengajak kami jalan."
"Kenapa Teteh berpikir itu hanya candaan?" tanya Bu Sekar mengerutkan kening.
Rania terkekeh, "Mah, mana ada bujang yang mau sama janda kaya Rania. Apalagi Rania sudah berumur dan punya anak juga!" jawabnya.
"Berumur, siapa yang bilang? Teteh masih muda kali!" kata Bu Sekar terkekeh.
"Umur Rania kan udah kepala tiga, Mah. Bukan 20an lagi!"
Bu Sekar tertawa mendengar perkataan Sang suami. "Iya, bener ya, Pak. Mama juga pernah beberapa kali nonton beritanya, malah yang umurnya masih muda banget nikah sama nenek-nenek," timpal Bu Sekar. "Nalendra mah udah 30an sama kaya Teteh, ya ga jadi masalah kalo dia nya mau mah. Lagian kayanya keluarganya juga ga masalahin itu, buktinya mereka suka sama Dareen, suka nitipin oleh-oleh buat kita ke Nalendra."
"Itu karena mereka ga tau anaknya ngajakin aku nikah, coba kalau tahu. Pasti nyuruh Nalendra ga ke sini lagi walaupun cuma buat Dareen!" sergah Rania.
"Ga boleh suuzan begitu, ga baik!" kata Pak Idris tegas. "Mungkin Nalendra memang ingin jadi suami Teteh dan mungkin juga keluarganya udah tahu. Jadi ga boleh suuzan duluan."
Rania menunduk mendengar nasehat dari Pak Idris. "Jadi Rania harus gimana?"
"Ya, itu mah balik lagi ke Teteh. Bagaimana perasaan Teteh ke Nalendra?" tanya Bu Sekar to the point.
"Mah, Rania kan baru kehilangan Ergha, belum ada setahun. Masa udah mikirin laki-laki lain, nanti gimana kata orang lain. Gimana kata keluarganya Ergha!"
"Udah lama kali, Teh. Udah mau satu tahun, Teteh juga udah lama selese masa Iddah. Ga ada yang ngelarang Teteh buat berhubungan dengan laki-laki lain!"
"Sekarang tuh banyak yang istrinya meninggal, besoknya dia nikah lagi. Ada di film tv, Bapak pernah nonton," timpal Pak Idris.
"Tapi kan Rania perempuan, Pak. Gimana pandangan tetangga nanti?"
"Begitu pun perempuan, kan Teteh udah lepas dari masa Iddah. Ya, ga jadi masalah. Tetangga mah jangan terlalu di dengerin, jangan terlalu dibawa perasaan kalau mereka ngegosip. Baik diomongin, buruk apalagi tambah diomongin!" kata Pak Idris. "Yang terpenting perasaan Teteh, mau ga nikah sama Nalendra. Teteh, suka ga sama dia?"
Pak Idris dan Bu Sekar tersenyum melihat Rania terdiam dan menunduk. Mereka tahu jika Rania mulai menyukai Nalendra. Mereka tahu Sang anak menyadari hal itu dan berusaha menepis perasaan yang mulai datang ke relung hatinya.
Sebagian besar orangtua memang tahu tahu bagaimana perasaan semua anak mereka, tanpa mereka memberitahu. Mereka tahu ketika anaknya sedang bahagia, sedih, kesal, bingung, ataupun sedang banyak yang dipikirkan. Mereka tahu itu.
"Kalau begitu, shalat istikharahlah. Minta sama Yang Maha Tahu, Yang Maha membulak-balikan hati manusia. Allah Maha Tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya, Allah akan membantu Teteh menentukan pilihan. Pilihan-Nya jauh lebih baik dari kita, percayalah," kata Pak Idris menasehati Rania.
Malam itu, Rania langsung melaksanakan apa yang dipesankan oleh Pak Idris. Dia melaksanakan shalat istikharah, Meminta pada Yang Maha Segalanya untuk menetapkan hatinya pada pilihan yang akan dia ambil.
**
Hari Minggu yang dingin, matahari masih malu-malu untuk menampakan diri dari peraduannya. Dedaunan di halaman rumah Pak Idris masih diselimuti oleh embun.
Rania keluar rumah, hendak menyapu teras juga halaman. Nampak sebuah mobil terparkir di depan pagar rumahnya. Rania tersenyum menyadari siapa pemilik mobil itu. Dia segera membukakan pagar rumah dan mendekati mobil tersebut. Diketuknya kaca mobil si pengemudi.
Kaca pintu mobil yang diketuk Rania pun terbuka. Nampak seorang pria muda tersenyum padanya.
"Maaf Teh, mau nanya. Rumah Teteh di mana ya, bolehkah aku mampir ke rumah Teteh walaupun ini masih pagi?" tanya Nalendra.
Ya, pria itu adalah Nalendra. Rania tertawa mendengar celotehan Nalendra. "Dari kapan di sini? ko ga ngasih tau!" tanya Rania. Biasanya, Nalendra akan menelepon atau mengirim pesan memberitahu jika dia akan datang.
"Dari setengah enam tadi. Pintu rumah masih tertutup dan ini hari Minggu. Jadi, aku pikir pada tidur lagi." Nalendra tersenyum melihat wajah Rania yang menurutnya sangat cantik pagi ini.
"Ayo, masuk!" titah Rania. Rania berjalan masuk ke dalam rumah, dia melupakan niat awalnya yang akan menyapu teras dan halaman rumah.
Dari dalam rumah keluarlah anak kecil yang berteriak girang memanggil Nalendra. "Om, Om!"