Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 110



Hari raya adalah waktu untuk seluruh keluarga berkumpul. Namun, kita tidak akan pernah tahu apakah di hari raya nanti akan berkumpul lagi dengan keluarga yang sama atau berbeda. Seperti Rania, tahun lalu dia masih merayakan hari raya bersama keluarga Ergha, tetapi hari raya kali ini dia merayakan dengan keluarga barunya, keluarga Nalendra.


Dareen sangat senang berada ditengah-tengah keluarga Nalendra. Dalam sekejap saja dia menjadi cucu dan cucu buyut kesayangan mereka.


Abah Danu begitu sayang pada Dareen, terlihat dari caranya mengajari membuat mainan tradisional sederhana dari berbagai macam bahan, seperti membuat perahu atau mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali, membuat orang-orang dari daun dan batang singkong.


Beliau juga mengajari Dareen permainan egrang. Beliau sengaja membuatkan tongkat egrang khusus untuk Dareen, begitu dia tahu cucu buyutnya akan merayakan hari raya di sana.


Egrang adalah sebuah permainan tradisional yang menggunakan sepasang bambu untuk berjalan. Bambu dibentuk seperti tongkat yang memiliki tumpuan kaki yang terbuat dari kayu dengan dua bambu tambahan untuk penyangga kaki di bagian bawahnya. Egrang memiliki banyak penamaan di berbagai daerah di Indonesia.


Alat egrang terbuat dari sepasang bambu bulat, masing-masing bambu memiliki ukuran panjang ± 2,75 meter dan memiliki diameter antar 6 sampai 9 cm. Pada ukuran 50 cm dari bawah, dibuat tempat berpijak kaki yang rata ± 7,5 cm. Namun, karena ini untuk Dareen yang masih berumur 5 tahun, Abah Danu membuat egrang sedikit lebih pendek, hanya ± 2 meter saja.


Sepanjang sore itu, Dareen belajar egrang bersama Abah Danu juga Pak Sulaiman. Rania membantu Bu Shafira membuat makanan untuk hari raya esok hari.


Keesokan harinya, matahari masih malu-malu untuk menampakan diri. Keluarga Nalendra sudah bersiap untuk melaksanakan solat idul Fitri. Tidak ketinggalan, Dareen sudah memakai pakaian yang serupa dengan yang dipakai Nalendra.


Sudah menjadi budaya di berbagai daerah di Indonesia. Selesai solat, mereka akan berjejer bersalaman dengan warga sekampung. Para gadis dan orangtua yang mempunyai anak gadis tersenyum-senyum malu begitu bersalaman dengan Nalendra dan Alaric.


Banyak warga yang bersilaturahmi ke rumah Abah Danu, karena Beliau salah satu yang dituakan di kampungnya.


"Hei, apa kabar?" sapa Pak Sulaiman pada seorang pria seusianya yang baru saja memberi salam.


"Alhamdulillah baik, Man. Aku kira kamu tidak lebaran di sini, taun ini."


"Di sinilah, di mana lagi. Orangtua istriku sudah tidak ada, jadi ya kita di sini terus."


Pak Sulaiman bersalaman dengan istri dan anak dari temannya, Pak Asep. Mereka berteman sejak kecil, terpisah saat kuliah karena Pak Sulaiman berkuliah di Bogor, sedangkan Pak Asep meneruskan mengelola lahan pesawahan milik keluarganya.


Pak Sulaiman pun mempersilakan keluarga temannya untuk mencicipi kue-kue lebaran yang dibuat oleh Bu Shafira dan Rania.


"Mah, sini." Pak Sulaiman memperkenalkan kembali Bu Shafira dengan temannya itu.


Mereka pun duduk berbincang di dalam rumah. "Kamana Abah?" tanya Pak Asep.


"Masih di rumah Haji' guru, biasa ngobrol dengan teman sebayanya," ujar Pak Sulaiman.


Nalendra keluar dari arah dapur melewati mereka, lalu bersalaman dengan teman Sang Ayah.


"Oh, ini A Nalendra?" ujar Pak Asep sambil sedikit melirik anak gadis yang duduk di samping istrinya. "Apa kabar A, tambah ganteng aja."


Nalendra tersenyum, "Alhamdulillah baik, Pak. Sawalerna?"


"Alhamdulillah," jawab Pak Asep tak henti tersenyum. "Ini anak Bapak yang nomor dua, Sarah. Dia baru lulus setahun yang lalu, udah PNS ngajar di SMA negeri Garut." Pak Asep memperkenalkan Nalendra pada gadis yang sedari tadi tersenyum, sesekali dia mencuri pandang pada Nalendra.


"Oh, iya." Nalendra tersenyum sekilas pada Sarah. "Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Nalendra hendak keluar rumah.


"Mau kemana A?"


"Nyusul Dareen, dia belum makan?" Bu Shafira mengangguk.


Pak Asep tersenyum, tidak ada niatan untuk bertanya tentang Dareen. Dia tahu temannya itu mempunyai dua orang putra, Si sulung Nalendra dan si bungsu dia kurang tahu namanya karena jarang sekali bertemu. Dia tahu Nalendra karena sejak kecil, setiap liburan sekolah Nalendra selalu menghabiskan waktu liburnya di Garut, Berbeda dengan adiknya.


"Mau kopi?" tanya pak Sulaiman pada temannya, yang secara tak langsung meminta tolong istrinya membuatkan kopi untuk mereka berdua. Bu Shafira pun masuk ke dalam untuk membuatkan kopi.


"Si Aa masih kerja di Jakarta?" tanya Pak Asep.


"Hebat nya tos (sudah) dugikeun (sampai) ka Singapore mah. Sendirian weh meren nya?" Pak Sulaiman hanya mengangguk-angguk.


Bu Shafira keluar dari dalam diiringi Rania yang membawa nampan, berisi dua cangkir kopi.


"Si Aa mah bageur nya, masih belum menikah. Udah punya calonnya belum?" tanya pak Asep. Membuat Rania yang berada di belakang Bu Shafira menaikan alis. "Mun mau mah urang bebesanan ," ujar Pak Asep mulai mengungkapkan niatan awal dengan diselingi candaan.


"Mangga (silakan)," ujar Rania meletakan kopi di meja.


Pak Sulaiman terkekeh, sekarang dia tahu maksud kedatangan temannya itu bersama dengan istri dan anak gadisnya. "Si Aa mah udah nikah, anaknya juga udah besar. Ini istrinya." Pak Sulaiman mengenalkan Rania pada semua yang ada di sana. Rania pun tersenyum menyapa mereka dengan anggukan.


Pak Asep dan keluarganya terkejut, mereka tersenyum dengan terpaksa. Sarah memandang Rania dengan menelisik dari kepala sampai ujung kaki lalu tersenyum kecut. Bu Shafira yang menyadari, merapatkan kedua bibirnya menahan tawa. Rania pamit masuk kembali ke dalam.


"Kirain Si Aa belum nikah. Naha ga ada kabar-kabar nikahannya?"


Pak Sulaiman tertawa kecil. "Si Aa sama Si Tetehnya pengen sederhana aja. Cuma keluarga aja."


"Eh, geuning ada tamu," ujar Abah Danu yang baru masuk diiringi Alaric lalu Nalendra yang menggendong Dareen.


Mereka pun bersalaman dengan Pak Asep dan keluarganya. Setelahnya Alaric juga Nalendra masuk ke dalam sedangkan Dareen duduk di pangkuan Pak Sulaiman.


"Ini anaknya si Aa teh?"


"Iya."


"Meni udah besar nya. Eh da umur A nalendra juga udah 30 an ya, Kan cuma beda empat taunan sama Teh Winda." Pak Asep ingat jika Nalendra dan anak sulungnya berbeda empat tahun, lebih tua anak sulungnya.


Pak Sulaiman hanya mengangguk, dia menepuk-nepuk paha Dareen.


"Ari Si bungsu kerjanya di mana?"


"Masih kuliah, baru juga semester berapa ya." pak Sulaiman menoleh ke arah Bu Shafira.


"Masih jauh itu mah," Ujar Bu Shafira mengibaskan telapak tangannya di udara, yang mengerti arah pembicaraan pak Asep.


Setelah obrolan panjang dan keluarga pak Asep pulang, Bu Shafira tertawa terkekeh. "Ada yang ngajak besanan sama Ayah," ujar Bu Shafira bercerita pada anak-anak dan mantunya yang sedang makan sambil menonton tv.


"Besanan apa?" tanya Alaric.


"Itu tadi temen ayah, dia ga tau kalau Si Kakak udah nikah. Ngajak besanan sama Ayah, terus ayah bilang Kalau Si kakak udah punya anak istri. Ekspresi mereka beneran terkejut, lucu liatnya," tutur Bu Shafira. "Pas liat kamu, dia beralih nanyain kamu." Bu Shafira menatap Alaric.


"Ko nanya aku!"


"Ya ga tau, ngebet kali dia ngebesan sama Si Ayah!"


"Kalau aku ogah, sama gadis yang barusan di sana kan?" ujar Alaric bergidik.


"Kenapa ga mau, cantik ko!" seru Pak Sulaiman.


"Aku masih kuliah, wajahnya keliatan judes. Senyum tapi judes!" jawab Alaric. "Ga usah jodoh-jodohin, biar aku yang nyari."


"Kuliah dulu yang bener, jangan ngomongin jodoh dulu!" geram Bu Shafira.