Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 49



Nalendra pulang ke rumah orangtuanya selepas shalat magrib. Dia membawa oleh-oleh alpukat dan pisang dari orangtua Rania sebagai ucapan terima kasih karena telah membantu Rania pindahan hari ini.


"Assalamu'alaikum," Nalendra mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam," terdengar samar suara wanita membalas salam nya.


"Kaka, ko ada di sini?" tanya Ibunya terkejut.


"Iya, Kaka ambil cuti nyampe Jumat." Nalendra mencium tangan Bu Shafira dan masuk ke dalam rumah. Tidak lupa dia menyerahkan kantong plastik berisi alpukat dan pisang


"Cuti? apa Kaka sakit?" tanya Bu Shafira lagi, tidak biasanya Nalendra mengambil cuti beberapa hari hanya untuk pulang ke rumah orangtuanya, kecuali jika ada acara penting yang harus dia hadiri.


"Enggak, Kaka sehat, Bu. Apa Ibu ga suka Kaka cuti dan pulang?"


"Bukan begitu, Kak. Ibu cuma ... ya ga biasa aja Kaka pulang di hari kerja kecuali ada kerjaan di Bandung!" Sergah Bu Shafira. "Ini Kakak beli di mana?" tanya Bu Shafira, Anaknya tidak mungkin mau membeli buah-buahan di pinggir jalan.


"Dari orangtua Rania. Kaka masuk dulu, pengen mandi!" ujarnya, langsung pergi ke kamarnya.


"Rania, siapa Rania?" Bu Shafira cukup terkejut, tetapi senang. Akhirnya Nalendra menyebutkan nama seorang wanita untuk pertama kalinya. "Kak, siapa Rania?" Bu Shafira mengulang pertanyaan. Namun, percuma saja tidak dijawab Sang anak.


Bu Shafira segera masuk ke dapur dengan hati berbunga-bunga, menyiapkan makan malam untuk mereka nanti.


Untung aja belum masak. pikir Bu Shafira.


Nalendra masuk ke dalam kamar, dia langsung merebahkan diri di tempat tidur. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celana dan memeriksa beberapa telepon juga pesan yang masuk.


Banyak pesan yang masuk ke ponselnya, dua pesan dari Aziz yang pasti tentang pekerjaan dan ratusan chat dari pesan grup nongkrongnya.


Teman-teman yang selalu nongkrong di rumah Nalendra membuat grup pesan, sehingga mereka bisa mengobrol tiap hari walaupun tidak bertemu secara langsung. Grup pesan tersebut diberi nama Kolektor, entah apa maksudnya.


Nalendra langsung meluncur ke pesan chat paling bawah karena malas membaca pesan yang telah menumpuk hingga ratusan chat. Chat terakhir dari yang ditulis temannya Indro mengajak mereka bertemu dan nongkrong malam Minggu nanti.


Tempat liburan keluarga yang bagus dan lagi viral di mana?


Mau ke mana om nanyain tempat liburan? tanya Faqih. membalas pesan Nalendra.


Mau liburanlah, kerja Mulu 😬. balas Nalendra lagi.


Banyak Om, sendiri atau ngajak si dia nih?


Mau tau aja 🤪


Nalendra pun asik berkirim pesan dengan teman-temannya hingga suara ketukan pintu terdengar. Bu Shafira memanggil-manggil Nalendra.


"Kak," panggilnya.


Nalendra merasa malas untuk bangun. Dia berjalan gontai ke arah pintu dan membukanya.


"Ada apa, Bu?"


"Kaka, belum mandi?" tanya Bu Shafira melihat Nalendra masih memakai baju yang sama.


"Belum," jawab Nalendra singkat.


"Ayo, mandi cepat. Makan malam udah siap!" ujar Bu Shafira menggelengkan kepala.


Hampir satu jam berlalu, Nalendra baru turun dari kamar. Bu Shafira dan Pak Sulaiman sedang asik bercengkrama sambil menonton berita.


"Berdua aja," ujar Nalendra.


"Iri ya? makanya cepet nikah!" jawab Bu Shafira.


"Iya, nanti. Ini baru mau mulai," jawab Nalendra tersenyum membayangkan dirinya bersanding dengan Rania.


"Baru mulai mulu, kapan jalannya?" sindir Sang Ibu.


"Tenang aja, nanti tiba-tiba udah di finish aja." jawab Nalendra terkekeh.


Mereka makan malam bertiga, karena adik Nalendra lebih senang tinggal di kos daripada di rumah, sama seperti Nalendra.


"Kak, kalau ga ada acara besok anterin mama ya," ujarnya tersenyum-senyum.


"Ga bisa mah, besok kaka mau sibuk!"


"Sibuk apa? bukannya Kaka besok cuti sampai Jumat," tanya Bu Shafira dengan wajah merengut.


"Iya, Kaka emang cuti, tapi Kaka ada janji dan banyak acara sampai Minggu." jawabnya santai.


Apa acaranya dengan rania-rania itu ya. pikir Bu Shafira.


"Kaka, mau jalan sama Dareen!"


"Dareen siapa?" tanya Bu Shafira terkejut.


Apa anakku ga normal mau jalan sama laki-laki, tapi keliatan seneng banget! pikirnya.


"Dareen, Bu. Anaknya Rania temen Kaka SMA yang sama Ergha itu lho."


"Rania, Ergha?" tanya Bu Shafira semakin bingung.


"Itu lho Bu yang temen kuliah Nalendra, yang dulu suka nginep di sini. yang meninggal taun lalu," jawab Pak Sulaiman mengingatkan.


"Oh, Ibu lupa. Emang dia di sini, bukannya di mana tuh?" tanya Bu Shafira lagi.


"Hari ini mereka pindahan ke sini, makanya Kaka cuti juga abis bantuin mereka pindahan."


Jadi Rania yang itu. pikir Bu Shafira sedikit menciutkan hati.


"Kaka cuti cuma buat nganterin mereka pindahan?" Bu Shafira terkejut. Anak sulungnya sungguh tidak mudah ditebak.


"Iya, emang kenapa?"


"Ayah mau ikut, ya?" tanya Pak Sulaiman.


Nalendra tampak berpikir sejenak. Kalau ayah ikut ... pasti Rania ga mau ikut, tapi lumayan sekalian ngedeketin Dareen sama kakek barunya. pikir Nalendra sambil terkekeh sendiri.


"Kakak ditanya malah cekikikan sendiri. Boleh ga?" tanya Pak Sulaiman.


"Kenapa ayah mau ikut?" Nalendra harus memastikan niat ayahnya dulu.


"Ayah, bosan di rumah. Ayah pengen ikut jalan-jalan, ayah rasa bagus buat ningkatin mood dengan ngajak Dareen main. Anggap saja bermain dengan cucu."


"Ya udah. Ayah boleh ikut kalau begitu," Nalendra menyetujui permintaan Sang ayah.


Keesokan harinya, Bu Shafira telah berada di dapur sehabis shalat subuh. Dia terlihat sibuk menyiapkan banyak makanan.


"Ibu bikin kue?" tanya Nalendra yang turun mencari makanan untuk sarapan.


Nalendra duduk di meja makan dan melihat ada banyak ayam goreng, ayam krispi, prekedel, capcay. Nalendra segera mengambil piring dan menyendokan nasi.


"Panggil ayah, Kak. Makan ko sendiri-sendiri!"


"Tuh, ayah," jawab Nalendra melihat Pak Sulaiman yang baru saja duduk di kursi sebrang Nalendra.


"Banyak banget makanannya. Mau ada tamu?" tanya Pak Sulaiman pada Sang istri.


"Bukankah kita mau jalan-jalan hari ini. Ibu juga pengen ikut, masa ayah aja yang boleh ikut!" seru Bu Shafira mengambilkan nasi dan lauk buat pak Sulaiman.


Mereka makan dengan khidmat, sesekali Bu Shafira berlari ke arah dapur mengecek kue yang sedang dia panggang.


"Kak, tolong beresin dan cuci bekas makannya ya. Semuanya!" ucap Bu Shafira pada Nalendra. Dia segera mengambil beberapa kotak makan dan diisinya dengan berbagai makanan yang telah dia pasak sedari subuh. Dia juga mengisi beberapa toples dengan kue-kue yang telah dia buat.


Pukul 8 pagi, Bu Shafira telah siap untuk berangkat. "Kak, lama banget. cepet!" ujarnya. "Hari kerja suka macet!"


"Santai aja, Bu. Baru juga pukul 8." Pak Sulaiman masih asik membaca koran pagi yang baru datang.


Nalendra turun dengan membawa tas berisi pakaian ganti, untuk mengantisipasi jika mereka jadi berenang.


"Kak, tolong kotak makannya bawa ke mobil." titah Bu Shafira.


Nalendra membawa beberapa totebag berisi kotak makan dan toples makanan ke mobil. Dia tidak menyangka jika orangtuanya sangat antusias untuk ikut jalan-jalan bersama Dareen.


Hampir setengah 9 mereka baru berangkat dari rumah menuju rumah Pak Idris. Rania dan Dareen tinggal dengan Pak Idris dan Bu Sekar, tidak tinggal di rumahnya sendiri.


Bunyi klakson mobil terdengar sampai ke dalam rumah, membuat si empunya keluar. Nalendra keluar dari mobil membuka gerbang sendiri dan memarkirkan mobil di halaman rumah.


"Sudah datang, Dareen sedang bersiap. Sebentar lagi selesai," Ujar Pak Idris.


"Assalamu'alaikum, Pak. Damang?" tanya Pak Sulaiman yang baru saja keluar dari mobil Nalendra dan menyapa Pak Idris.


"Wa'alaikumsalam, eh, Pak. Ikut juga?" tanyanya.