Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 120



Orangtua Ergha sudah datang ke Bandung sedari tadi, hanya mereka berdua tanpa putri mereka. Mereka sengaja tidak memintanya menemani, menghindari omongan yang tidak berarti.


Rumah pak Idris kini telah banyak kedatangan tamu. Tidak hanya orangtua Ergha saja, orangtua Nalendra pun turut datang.


Seluruh keluarga tahu jika Rania sedang berada di Singapore dan tidak memungkinkan ikut serta dalam acara tahlilan tersebut. Namun, tetangga tetaplah tetangga, baik ataupun buruk tetap saja menjadi bahan obrolan.


"Di rumah Bu Sekar lagi ada acara ya?" tanya Ceu Romlah yang sedang memilih sayuran di warung sayur.


"Mau ada tahlilan katanya. Tahlilan satu tahun almarhum suami Rania," sahut Ceu Empon. "Kamari Bu Sekar pesen sayuran dari sini, jadi tau."


"Teu karasa nya tos satuan deui." timpal Bu Vina.


"Muhun, tapi Teh Rania na mah moal dateng. Katanya mah lagi ikut suaminya dinas ke Singapore."


"Kamana, Bu. Singapore?" tanya Ceu Romlah tersentak.


"Iya, Singapore. Saya juga tau, kemarin dikasih tau Bu Sekar waktu nanyain anaknya Rania."


"Meni kasian ka almarhum jadina teh. Baru juga setaun udah dilupakan."


"Kalau dilupakan mah moal ngadain tahlilan satu taunan, Ceu!" sergah Bu Vina.


"Nya atuh da, Bu. Belum setaun, udah nikah. pas tahlilan setaun, ga dateng. Apanan kasian jadina teh!"


"Iya, juga ya Ceu. Tapi da ari udah jodoh mah atuh kumaha. Eh, katanya eta suami Teh Rania yang sekarang teh sebenarnya pacarna Liana anak Bu Ratna. Bener ga sih, Ceu?"


"Katanya mah iya. Tapi ga tau juga da Ceuceu mah pertama liat suami Teh Rania teh pas waktu Teh Rania pindahan ke sini, sebelumnya mah belum pernah!"


"Ih, mungkin pacar waktu SMA na. Kan katanya Teh Rania sama si Aa na teh teman sakelas waktu SMA. Apanan Teh Rania sama Liana satu SMA juga!"


"Bener, meren nya. Dipikir-pikir, Teh Rania gede miliknya (banyak rezeki) ya. Dapet suami nu barenghar hungkul (orang kaya semua). Sekarang aja lagi di Singapore, anak saya kapan dapet suami yang bisa ngajak ke Singapore?" ujar Ceu Empon.


"Ya, nanti kalau udah waktunya atuh Ceu. Nanti bilang ke si Puri kalau nyari suami harus seperti suami Rania." Bu Vina terkekeh menertawakan perkataannya.


"Lagian si Puri nya juga masih SD atuh, Ceu. Masih jauh ke nikah mah!" timpal Ceu Romlah ikut tertawa.


"Doa ini mah, Ceu. Harapan!" tegas Ceu Empon.


"Kata anak saya mah, Liana sekarang sering upload foto cowo. Dia juga bilang pacarnya boss, tapi dia juga bilang ada komentar kalau cowo itu temen lamanya."


"Naha bisa tau Liana suka eta keun foto?"


"Nya bisa atuh Ceu. Apanan mereka saling follow di media sosial. Anak zaman sekarang mah ga perlu nunggu temennya atau tetangga cerita, cukup liat media sosialnya pasti tahu dia lagi ngapain, lagi di mana, sama siapa!" ucap Bu Vina.


"Jangan-jangan Si Aa na Teh Rania." Ceu Empon membelalakkan matanya.


"Bisa jadi!"


"Padahal mereka teh temenan. Tapi geuning bisa ciga artis wae teman makan teman!" seru Ceu Empon lagi.


"Itu mah yang terlihat saja. Bisa jadi cerita sebenernya mah bukan begitu. Bisa wae


kan Liana nu ngejar-ngejar, tapi Si Aa na mah cinta ke Rania!" sahut Bu Vina.


"Kawas sinetron wae nya, Bu!" timpal Ceu Romlah.


"Punten, Ceu. Mau ngambil pesenan ayam, kata mama tadi ketinggalan." suara seorang laki-laki membuat mereka yang sedang asik mengobrol langsung berhenti.


"Eh, Aa. Sebentar." Ceu Empon ngeloyor masuk ke dalam, sedangkan ibu-ibu yang berada di sana terdiam membisu sambil memilih sayuran yang tak kunjung usai. Entah sayuran seperti apa yang merek inginkan.


"Ini A, ka mama punten (maaf) gitu, bilangan ya." Ceu Empon menyerahkan kresek berwarna merah besar pada Zyan.


"Iya, nuhun. Mangga (permisi)!" Zyan segera keluar dari warung sayur tersebut. Sebelum hatinya bertambah kesal dan makian keluar dari mulutnya.


"Syukurlah, meni kaget!" seru Ceu Romlah mengelus dadanya.


Zyan berjalan cepat ke arah rumah. Hatinya sakit mendengar sang kakak menjadi buah bibir ibu-ibu sekitar rumahnya. Ingin rasanya dia menyumpal mulut mereka semua dengan sayuran yang berada di sana.


"Wa, ini ayamnya." Zyan menyerahkan bungkusan ke tukang masak yang dimintai tolong Bu Sekar.


"Ada apa?" Bu Sekar memperhatikan raut wajah Zyan yang terlihat kesal.


"Ga apa-apa. Mah, nanti kalau ngadain acara, jangan pesen di Ceu Empon lagi. Nanti biar aku aja yang anter ke pasar." titahnya.


"Iya, nanti Mama mau pesen ketringan aja!" sahut Bu Sekar yang tidak ingin berdebat dengan Zyan. Pasti dia ngedenger ibu-ibu ngagosip! pikirnya.


Bu Sekar sudah tahu, beberapa Minggu ini warga sekitar rumah mereka sedang menggosipkan anak perempuannya. Dia juga tahu, Liana yang pertama menyebarkan gosip tersebut. Namun, dia sudah diwanti-wanti oleh suaminya, pak Idris, agar tidak menghiraukan mereka dan tidak terlalu dipikirkan. Dia sendiri pun tahu bagaimana cerita sesungguhnya antara Nalendra dan Rania.


Acara tahlilan dimulai setelah solat magrib. Keluarga Rania bersyukur, banyak yang mengikuti tahlilan tersebut. Berarti banyak yang mendoakan almarhum Ergha. Tahlilan tersebut selesai sebelum pukul 8 malam.


"Kalian ke sini juga?" tanya Pak Sulaiman melihat teman-teman Nalendra hampir semuanya datang.


"Iya, Yah. Apa kabar?"


Teman-teman Nalendra terbiasa memanggil ayah Nalendra dengan panggilan 'ayah'.


"Alhamdulillah, semua ke sini," ujarnya lagi.


"Iya, Nalendra memberitahu kami dan meminta kami semua datang."


"Oh, iya da si Kakak mah ga bisa datang. Kerjaannya lagi numpuk banget katanya, pengen cepet selesai."


"Iya," jawab Indro mengangguk tersenyum.


"Ayo, dimakan lagi." Pak Sulaiman mempersilakan teman-teman Nalendra mencicipi kue-kue yang sudah tersedia di depan mereka.


Pak Sulaiman kemudian beralih pandangan ke arah pak Darmawan. Dia pun mengajaknya mengobrol, tentu dengan bapak-bapak lain yang berada di sana.


Gio menyenggol lengan Indro agar dia menoleh padanya.


"Apa?"


Gio memperlihatkan suatu postingan di ponselnya.


Bestie, gimana menurutmu jika ada seseorang yang tidak datang ke tahlilan satu taunan almarhum suaminya. Terlepas dari dia punya suami lagi atau karena jarak yang jauh ke tempat acara?


Indro langsung merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel dan mengecek postingan tersebut dari media sosialnya. Dia melihat sudah banyak yang memberi komentar di postingan tersebut.


Dia benar-benar cewe pemberani! pikir Indro.


****


Hai, terima kasih masih setia menunggu up. 🥰🙏


Sambil nunggu, yuk baca kisah Edelweiss dan Pangeran Malik di novelku "He's a Prince"