
Teman-teman Nalendra datang dari sebelum shalat Jum'at. Mereka memang berencana untuk shalat Jumat di mesjid dekat rumah orangtua Nalendra.
Seperti kebanyakan orang zaman sekarang yang tidak bisa lepas dari mengabadikan setiap momen. Mereka pun banyak mengambil gambar groofie bersama Nalendra dan Rania, lalu mengunggahnya di media sosial. Dalam hitungan detik, foto-foto tersebut telah tersebar di dunia maya.
Banyak yang melihat, memberi komentar, dan like pada foto-foto tersebut. Tak terkecuali Liana, dia pun melihat foto yang diunggah oleh Reno di media sosialnya.
Liana menatap Nalendra yang tersenyum bahagia, merangkul Rania erat. Hatinya sangat sakit melihat foto tersebut. Dia membaca caption yang disematkan pada foto.
"Mereka ngadain resepsi di rumah Nalendra?" lirihnya. "Aku harus ke sana!"
Liana bergegas membereskan pekerjaannya. Dia berencana akan izin pulang di waktu istirahat nanti. Dia akan langsung pergi ke rumah Nalendra.
Semua teman-teman SMA Nalendra tahu dimana rumah dia, itu karena rumahnya terlewati ketika menuju sekolah SMA mereka. Walaupun sudah belasan tahun tidak melewati jalanan tersebut, tetap saja letak rumah-rumah di sana masih tetap sama.
Selesai shalat Jumat, teman Nalendra masih berada di sana. Mereka masih bercanda tawa dengan nalendra dan Dareen. Sedangkan Rania berada di dalam rumah bersama keluarga Nalendra menemani para tetangga dan keluarga yang datang silih berganti.
Sudah lama sekali mereka tidak berkumpul. Acara seperti ini adalah salah satu momen yang ditunggu, melepas rindu dengan para sahabat. "Habib dateng tar malem. Katanya ngambil penerbangan sore dia!" ujar Faqih melihat pesan yang dikirim oleh temannya itu.
"Kerenlah, pake pesawat!" celetuk Rezky.
"Cape Bro, nyetir sendiri dari Semarang-Bandung bisa nyampe 8 atau 10 jam kalau macet. Ilham naik pesawat penerbangan pertama besok subuh, kemungkinan nyampe siang. Katanya tungguin jangan ditinggalin!" jawab Faqih, pandangannya masih tertuju ke layar ponsel, menjawab pesan-pesan yang sahabat mereka kirim.
Mereka sangat antusias dengan pernikahan Nalendra. Diantara semuanya, Nalendra lah yang terakhir melepas masa lajang. Sehingga mereka rela mengeluarkan uang lebih untuk naik pesawat agar bisa menghadiri acara tersebut.
Ketika sedang asik bersenda gurau, terdengar suara wanita yang memanggil Nalendra.
"Nalendra!"
Nalendra dan yang lain menengok ke arah suara. Mereka melihat Liana datang menghampiri mereka, berdiri mematung.
"Eh Liana dateng. Mau ke Rania ya?" tanya Indro memecah kesunyian diantara mereka. Sebenarnya tidak sunyi karena banyak sekali orang yang datang. Mereka tahu Liana datang bukan mencari Rania, tetapi Nalendra.
"Aku," ucap Liana ragu.
"Masuk saja, Rania ada di dalam." ujar Nalendra. Namun, Liana tetap mematung di tempat dia berdiri.
Merasa tidak enak dengan tamu yang lain, Nalendra menghela napas. "Sebentar, aku panggil istriku dulu." Nalendra menekankan kata istriku agar Liana tahu dan sadar jika dia sudah beristri sekarang. Temannya cekikikan mendengar Nalendra berkata istriku.
"Aa, meni bisik-bisik cinta sama si Teteh. Bikin iri nu liat!" kata salah satu teman Bu Shafira. Semua yang berada di sana terkekeh.
"Kenapa Kak?" tanya Bu Shafira.
"Ga apa-apa, Bu. Ada temen Rania di depan." Nalendra menyebut Liana teman Rania karena memang dia teman istrinya.
"Kenapa ga disuruh masuk?"
"Mungkin dia malu, Bu. Biar aku yang keluar," jawab Rania tersenyum. Di satu sisi Rania senang Liana datang, tetapi disisi lain dia juga bingung kenapa Liana datang.
Apa dia mau mengucapkan selamat padaku, mendoakan kami atau malah mau mengajak berdebat lagi denganku? tanya Rania dalam hati.
"Kalau kamu ragu bertemu dengannya, ga usah keluar, biar aku menyuruhnya pergi!" ujar Nalendra khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya.
"Buat apa ragu, aku akan menemuinya. Dia temanku, dia tidak akan menggigitku, tenang saja!" jawab Rania.
Dia memang tidak akan menggigit, tetapi aku takut akan menyakiti hatimu. Batin Nalendra, khawatir.
Rania keluar diiringi Nalendra, Dia tersenyum ke arah Liana yang masih berdiri mematung di dekat teman Nalendra berkumpul.
"Hai, Na'," sapa Rania menghampirinya. "Masuk aja, yuk!" ajak Rania.
"Di sini aja!" jawabnya.
Rania mengangguk, mengajaknya sedikit menjauh dari nalendra dan temannya, mempersilakan dia duduk. "Haturnuhun udah datang," ucap Rania. Ya, walaupun dia tidak mengundangnya dan tidak mungkin juga Nalendra menggundang dia. Namun, Rania tetap harus berterima kasih atas kedatangannya.
Liana melirik perut Rania yang sedikit membuncit. Dia sudah mendengar jika Rania sedang mengandung.
"Aku ke sini bukan untuk minta maaf padamu," ujar Liana sambil menunduk, entah karena malu atau karena ingin menangis. "Aku ke sini karena aku ingin bicara padamu. Aku masih mencintai Nalendra dan akan tetap menunggunya. Aku tidak mendoakan kamu berpisah dengannya. Aku hanya akan berdoa semoga Allah menjadikan Nalendra jodohku, menjadi suamiku nanti!"
Rania mengernyitkan dahinya. Sudah dia duga, Liana tidak akan mudah menyerah sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Kamu boleh bersenang-senang sekarang. Namun, kamu juga harus selalu ingat, kalau Nalendra pun mungkin melakukan apa yang aku lakukan sekarang ketika kamu menikah dengan almarhum suamimu dulu!" ketus Liana.