
"Bentar ya, aku beli minuman dulu. Mau minuman apa?" tanyanya pada Rania.
"Aku kira udah beli dari tadi?" ujar Rania. "Udah, biar aku aja yang beli. Kamu tunggu di dalam saja! mau minum apa?" tanya Rania pada Nalendra dengan cemberut.
Nalendra tertawa melihat wajah Rania yang cemberut. "Tadi aku masuk cuma beli susu Dareen saja. Tolong belikan aku air mineral dan kopi kemasan botol."
"Oke!" Rania langsung masuk ke dalam minimarket membeli beberapa botol minuman untuk bekal di perjalanan.
"Oke, kita kemana sekarang?" tanya Nalendra begitu Rania sudah duduk di samping kemudi.
"Jalan saja ke Lembang, nanti kalau ada yang menarik kita ke sana!" jawab Rania.
Sebenarnya Rania jarang sekali jalan-jalan keliling Bandung. Ketika Ergha masih adapun, dia jarang sekali liburan ke tempat wisata di Bandung. Kalaupun ingin berlibur, Ergha selalu mengajak Rania dan Dareen ke pantai terdekat seperti Ancol atau Anyer.
Jalanan ke arah Lembang mulai padat, walaupun masih pukul 9 pagi. Mobil berplat B mendominasi jalanan.
"Banyak yang berlibur ternyata," ungkap Rania melihat beberapa mobil yang melaju di sampingnya berplat B.
"Kan ini hari Minggu," jawab Nalendra.
Rania berbalik ke belakang memastikan Sang anak duduk dengan nyaman. "Dareen, ko diem aja. Pusing?"
"Enggak, aku lagi mau diem aja," jawabnya. "Om aku mau nonton!"
"Dareen, ga usah teriak, Sayang. Pelanin suaranya," ujar Rania.
"Maaf, Om aku mau nonton," ucap Dareen. Nalendra menyalakan video kartun yang telah dia persiapkan sebelumnya.
Dahulu saat pertama mereka jalan berdua, Dareen mengomelinya karena tidak ada video kartun kesukaannya. Ya, namanya juga mobil bujangan, mana ada video kartun. Namun, sekarang Nalendra sudah belajar dari Utube menyediakan kebutuhan anak-anak ketika di perjananan. Nalendra juga tidak lupa menyediakan bantal untuk Dareen tidur, minuman dan cemilan untuknya dan yang terutama mainan.
"Ndra, ko kamu nyuruh aku buat ga bilang-bilang Liana, kalau kita mau jalan-jalan?" tanya Rania yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Ya, kalau dia tahu nanti dia pengin ikut," jawab Nalendra santai sambil mengemudi.
"Emang kenapa kalau dia mau ikut?" selidik Rania.
"Ya, ga kenapa-kenapa juga. Cuma, ehm ... sedikit canggung aja nantinya," jawab Nalendra lagi tanpa menoleh pada Riana.
"Canggung, ko bisa?"
"Bisalah!"
"Bukannya kemaren kamu makan siang sama dia?" tanya Riana memastikan apa yang ada dipikirannya. "Liana mengirimiku fotomu kemarin," ujar Riana jujur.
Nalendra terdiam untuk sesaat, dia hanya fokus pada kemudinya.
Apa maksudnya mengirimkan fotonya pada Rania? batin Nalendra.
"Ndra, ko ga jawab?"
"Aku ga makan siang dengannya. Dia mengirim pesan padaku kemarin, ketemuan di rumah makan steak. Karena tempatnya dekat dengan tempat Ibuku arisan, ya aku ke sana sebentar. Dia ngajak makan siang, tapi aku tolak. Aku cuma sebentar ko di sana, langsung pulang. Beneran!" jawab Nalendra meyakinkan Rania agar dia percaya.
"Oh, lagian kalau makan siang sama dia juga ga masalah kali. Cuma makan siang!" Rania terkekeh melihat keluar jendela, entah kenapa hatinya tiba-tiba sedikit kesal. "Trus kenapa kamu canggung sama dia, kalau sama aku kayanya ga ada canggung-canggungnya!"
"Ya, bedalah. Sama kamu 'kan udah sering ketemu, udah biasa. Ga baik tau Laki ma perempuan jalan berduaan," jawab Nalendra.
"Terus aku? bukannya aku juga perempuan!" jawab Rania.
Bertengkar seperti sepasang kekasih yang ketahuan jalan dengan orang lain. pikir Rania membuatnya terdiam.
"Kita bertiga bukan berdua. Ingat ada Dareen, tuh," jawab Nalendra menunjuk Dareen yang sedang asik menonton lewat kaca spion.
"Ah, iya," jawab Rania kembali memandang keluar jendela.
"Ndra, boleh aku nanya sesuatu sama kamu?" tanya Rania.
"Dulu apa?"
"Dulu, Liana terkadang bercerita padaku. Ketika dia bosan, dia akan mengajakmu nonton bioskop. Kamu juga cukup sering mengajaknya jalan. Kamu bahkan memberinya kapal dalam botol, oleh-oleh dari Bali!" Rania terdiam kembali.
Astaghfirullah, itu kejadian kapan. Dia nyampe ingat. pikir Nalendra.
"Karena aku pikir dulu kami sama, tidak ada teman untuk diajak nongkrong. Makanya saat dia ngajak aku nonton atau makan atau jalan, ya aku ikut aja," ungkap Nalendra. "Kenapa emang?"
"Ndra, pernahkah kamu punya perasaan lebih padanya?" tanya Rania ragu, tetapi rasa penasarannya mengalahkan keraguan.
"Perasaan lebih bagaimana, sama siapa?" tanya Nalendra.
"Ya, kamu kan sering jalan sama Liana. Apa kamu ga pernah tertarik padanya. Tertarik lebih dari seorang teman?" tanya Rania lagi.
"Enggak," jawabnya dengan cepat.
Karena aku hanya menyukaimu. batinnya.
"Ndra, bagaimana kalau seandainya Liana menyukaimu?"
"Ya, ga gimana-gimana."
"Maksudnya?" tanya Riana yang bingung dengan jawaban Nalendra.
"Ya, ga gimana-gimana. Biarkan saja, aku menyukainya hanya sebatas teman, tidak lebih."
"Dia perempuan lho Ndra!"
"Aku tahu, emang kenapa?"
Rania menghela napas kasar. Bagaimana caranya aku menjelaskan padanya. pikir Rania.
"Ndra, perempuan itu lebih sensitif lho perasaannya. Okelah, kamu mungkin melihatnya tomboi, tapi dia tetap seorang perempuan Ndra. Dia mungkin bisa menganggap perhatian yang kamu kasih itu lebih dari seorang teman!" ujar Rania yang terdengar kesal.
Untunglah, Dareen tertidur jadi tidak melihat perdebatan Rania dan Nalendra.
"Aku tahu. Makanya aku berusaha menolaknya ketika dia mengajakku," jawab Nalendra.
Tidak ada percakapan lagi setelah perdebatan antara Rania dan Nalendra. Mereka menyelami pikirannya masing-masing.
Nalendra masuk ke salah satu tempat wisata terkenal di Bandung. Dia sudah bertanya pada temannya tentang tempat wisata yang bagus untuk anak, salah satunya di Farmhouse Lembang.
Tempat yang juga dijuluki rumah Hobbit ini sangat viral karena bukan hanya itu saja, di sana juga terdapat kebun bunga dan bangunan-bangunan ala Eropa, Gembok Cinta Pont Des Arts Paris, bahkan terdapat mini zoo di dalamnya. Konsep tempat wisatanya yang unik menjadikan Farmhouse Lembang menjadi trend wisata yang banyak disukai wisatawan dari berbagai penjuru tanah air.
"Dareen, bangun 'Nak. Udah sampai." Rania membangunkan Dareen dengan menepuk lengannya lembut.
Dareen membuka mata perlahan, terlihat Sang Ibu tersenyum padanya. "Bunda," panggilnya.
"Apa, Sayang? ayo, bangun udah sampe!" kata Rania, membantu Dareen bangun dan duduk.
"Ayo, Jagoan!" ajak Nalendra yang berada di belakang Rania.
Rania menggendong Dareen keluar dari mobil, Nalendra segera mengambil alih gendongan setelah mereka keluar. Dia tahu Dareen sudah berat, rasanya tidak tega melihat Rania kesusahan menggendong. Kaki Dareen sudah mencapai lutut Rania, Dia benar-benar berbadan tinggi.
"Makasi," ucap Rania.
Mereka berjalan masuk ke dalam kawasan wisata, tiga tiket yang tadi telah dibeli oleh Nalendra ditukar dengan tiga cup susu segar dengan berbagai rasa.
"Ayo, duduk dulu di sana!" ajak Rania. Dia melihat Sang anak masih belum sadar betul.
"Rania, Rania 'kan?" tanya seorang pria muda yang sebaya dengannya.