Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 50



"Assalamu'alaikum, Pak. Damang?" tanya Pak Sulaiman yang baru saja keluar dari mobil Nalendra dan menyapa Pak Idris.


"Wa'alaikumsalam, eh, Pak. Ikut juga?" tanyanya.


"Iya, nih. Sama Ibu juga," tunjuknya pada Sang istri yang berada di belakangnya.


"Masuk, masuk, Pak. " Pak Idris mempersilahkan mereka ke rumah.


"Terima kasih."


Mereka masuk ke rumah orangtua Rania, tetapi sebelum mencapai pintu Dareen sudah berlari ke luar.


"Om," teriaknya sambil tersenyum senang.


"Jalan aja, awas jatoh!" Nalendra berjalan cepat menangkap Dareen yang melompat ke arahnya.


"Ehm, udah wangi jagoan Om." Nalendra mencium pipi Dareen gemas dan menurunkannya dari gendongan.


"Hahaha ... begitulah Dareen kalau bertemu Nalendra. Langsung berlari," ungkap Pak Idris.


"Saya baru tahu jika Nalendra senang anak-anak," jawab Pak Sulaiman. "Saya senang melihatnya." Seingat Pak Sulaiman, Nalendra seorang yang agak tertutup. Ketika ada acara keluarga dia jarang sekali bergaul dengan saudara seusianya apalagi dengan anak-anak, tetapi begitu melihat kedekatannya dengan Dareen, dia sangat bersyukur.


"Iya, biasanya kalau pulang, kerjaannya ngurung di kamar." Bu Shafira tertawa kecil mengingat sifat Nalendra.


Mereka semua duduk di ruang tamu. Rania yang tahu orangtua Nalendra akan ikut jalan-jalan pun menjadi gugup. Dia takut Dareen merepotkan mereka berdua.


Rania menghampiri mereka memberi salam, lalu masuk ke dapur mengambilkan air untuk orangtua Nalendra dan Pak Idris.


"Ibu kemana?" tanya Bu Shafira.


"Ibu ke sekolah, ngajar."


"Oh iya, ya. Ini hari kerja, saya lupa," ujar Bu Shafira.


Rania datang membawakan teh manis hangat untuk mereka. Nalendra membantunya meletakan cangkir teh itu di meja.


"Makasi," bisik Rania, dibalas anggukan. Rania pun bergabung duduk dengan mereka.


"Ayo, Om!" ajak Dareen sudah tidak sabar ingin pergi.


"Sebentar jagoan. Sebentar lagi," jawab Nalendra menggelitik kecil Dareen hingga dia tertawa.


"Maaf, kami jadi merepotkan Bapak sekeluarga." Pak Idris memulai percakapan.


"Ga apa-apa, Pak. Lagian kalau kami hanya pergi bertiga rasanya kurang seru. Saya juga ini pergi karena semalam Nalendra bilang akan ngajakin Dareen jalan-jalan, makanya saya maksa dia ngajak saya," tutur Pak Sulaiman terkekeh.


"Saya juga sedikit ga percaya Nalendra mau jalan sama Dareen, hobinya kan ngurung dalam kamar kalau libur," Ungkap Bu Shafira.


Nalendra melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah pukul 9 lewat. "Ayo, berangkat sekarang. Keburu panas," ajak Nalendra. "Kamu ga ikut?" tanya Nalendra.


"Ah, aku harus belum beres-beres baju." Rania beralasan. Tadinya dia ingin ikut dan berencana ikut jalan-jalan, tetapi begitu tahu mereka jalan-jalan dengan orangtua Nalendra niatnya diurungkan.


"Aku bawa dulu bekal Dareen," kata Rania lalu masuk ke kamarnya.


"Saya titip cucu ya, Pak. Terima kasih sebelumnya, saya juga minta maaf merepotkan Bapak sama Ibu," ucap Pak Idris.


"Ga merepotkan ko, Pak. Saya yang pengen ngajak jalan Dareen," jawab Nalendra tersenyum.


"Makasi ya 'Nak," ucap Pak Idris menepuk lengan kekar Nalendra.


"Dareen, nurut sama Om ya. Jangan jauh-jauh dari Om." Rania memberi pesan untuk anaknya.


"Bunda ga ikut?" tanya Dareen.


"Bunda 'kan harus beresin baru Dareen yang masih di koper," jawab Rania.


"Baju aku banyak ya?" tanyanya tersenyum.


"Iya, baju Dareen banyak banget!" Rania cemberut di depan anaknya.


"Iya, ya. Bunda lagi ya." Rania tersenyum melihat Dareen. "Inget jangan jauh-jauh dari Om!"


Dareen mengecup pipi Rania lalu memeluknya. "Sayang, Bunda ...," ungkapnya.


Semua orang yang berada di sana memperhatikan tingkah mereka dan merasa terharu.


"Titip ya 'Ndra," ujar Rania.


"Ga gratis ya," bisiknya.


Rania langsung melotot melihat Nalendra yang berdiri di sampingnya. Nalendra hanya tersenyum, ingin sekali dia menarik Rania ke dalam pelukannya atau hanya sekedar mengecup pipinya seperti yang tadi Dareen lakukan.


Berbeda dengan Sang ayah, Pak Sulaiman. Dia melihat hal tidak biasa dari sikap Nalendra terhadap Rania. Dia seperti melihat seorang suami yang sedang merayu istrinya. Tatapan Nalendra sungguh berbeda pada Rania.


"Buatkan aku mie telor," ujar Nalendra lagi.


Dia lucu sekali, pengen dibayar mie telor. pikir Rania.


Rania menuntun Dareen sampai di depan mobil Nalendra. "Sini sama kakek!" ajak Pak Sulaiman.


Dareen memandang Rania. "Itu ayah Om Nalendra," kata Rania, Dareen mengangguk lalu berjalan pelan ke arah Pak Sulaiman.


"Dareen sama Nenek aja, yuk. Nenek punya kue buat Dareen," ajak Bu Shafira.


Dareen memandang Nalendra dengan wajah antara cemas dan bingung.


"Dareen kalau mau di depan dekat om, Dareen duduk di pangku kakek, kalau Dareen mau sama nenek berarti Dareen duduk di belakang," kata Nalendra.


"Ya udah gini aja. Dareen 'kan udah besar kakek sama nenek di belakang ya. Dareen duduk di sebelah Om Nalendra, mau?" tanya Pak Sulaiman. Dareen mengangguk setuju.


Rania berdiri di pintu pagar rumah. Memandang mobil Nalendra yang telah melaju, lalu kembali ke dalam rumah setelah mobil itu sudah tak terlihat dari pandangan.


"Dareen suka kue ga? nenek punya kue." Bu Shafira mengambil salah satu toples yang berada di belakang kursinya dan memberikannya pada Dareen.


Nalendra tersenyum senang dengan perlakuan ibunya pada Dareen. "Dareen mau ga?" tanya Nalendra. Dareen menggelengkan kepalanya.


"Jadi kita mau ke mana?" tanya Pak Sulaiman.


"Dareen mau renang atau jalan-jalan aja?" tanya Nalendra.


"Aku mau renang aja," jawab Dareen melirik Nalendra yang sedang menyetir.


"Oke. Ayo kita renang!" seru Nalendra mengacak rambut Dareen pelan.


"Seperti ayah ke anak sendiri ya, Yah." Bu Shafira memperhatikan tingkah Sang anak.


"Bu, tempat renang yang bagus di mana?"


"Ya, banyak, Kak. Kakak mau renang di hotel atau di tempat renang biasa atau di kaya Waterboom?" tanya Bu Shafira.


"Ke Lembang aja atau ke Garut, ada air panas di sana," jawab Bu Shafira sangat antusias.


"Jadi, Lembang atau Garut nih. Ayo tentukan sekarang, jalannya 'kan beda arah." Nalendra menghentikan mobilnya di parkiran minimarket. Selain mau belanja bekal minuman dan cemilan lain, dia juga harus menentukan dulu ke mana akan pergi.


"Ke Garut aja ya, sekalian jalan-jalan ya, Yah," ujarnya. "Dareen kita jalan-jalan ke Garut ya. berenang air hangat," lanjut Bu Shafira merayu Dareen agar Nalendra setuju dengan keinginannya.


"Tapi pulang pergi ya, jangan mau nginep. 'Kan bawa Dareen!" ucap Nalendra, jaga-jaga jika Bu Shafira nanti merengek minta menginap.


"Kenapa Rania tidak ikut, coba kalau ikut," ujar Bu Shafira mulai merengek.


"Jadi, kemana nih?" tanya Nalendra lagi.


"Udah, ke Garut aja. Kalau ibu pengen nginep, nanti nginep berdua sama ayah." Pak Sulaiman tersenyum, mereka bisa berbulan madu lagi dengan Bu Shafira.


"Ih, Si Ayah mah pasti mikir na macem-macem!"