
"Aku sehat, Mih!" seru Liana. Beberapa kali Bu Ratna mengajak Liana ke psikiater, tetapi selalu ditolaknya. "Ngapain ke sana, aku ga gila!"
"Siapa yang menyuruhmu gila. Tidak ada yang menuduhmu gila!" ucap Bu Ratna. "Kita ke sana hanya untuk mengobrol saja dengan psikiater, mungkin mereka akan menemukan solusi dari semua yang kamu pikirkan. Mungkin mereka bisa memberi saran tentang hubunganmu dengan Rania ataupun suaminya!" Bu Ratna merasa enggan untuk menyebut nama Nalendra. Dia merasa kesal dengannya. Dia merasa Nalendra yang membuat Liana seperti sekarang.
Liana nampak terdiam. "Tidak, aku tidak mau ke sana!" ucapnya lalu meninggalkan sang ibu di ruang keluarga sendirian.
Berbeda dengan Liana, Rania kini sudah berada di apartemen Nalendra. Dia menghabiskan waktu dengan membaca buku, menonton, membuat snack untuk Dareen dan Nalendra. Sudah sebulan lebih telah terlewat dari acara resepsi pernikahan mereka.
Seminggu ini dia selalu tersenyum-senyum ketika mengingat kejadian Minggu lalu. Nalendra mengajaknya dan Dareen berkendara, hingga sampailah mereka di sebuah rumah berukuran tidak terlalu besar pun tidak terlalu kecil. Tentu lebih besar dari rumahnya yang di Bekasi dahulu.
Rumah dia tingkat dengan halaman yang cukup luas, tetapi tidak seluas halaman rumah yang Nalendra siapkan di Bandung. Rumah berukuran 10x12 m² itu terlihat sangat asri dengan pohon mangga dan kelengkeng di halamannya.
"Rumah siapa?" tanya Rania.
"Rumah kita, ayo masuk!" ajak Nalendra menuntun Dareen dan membuka gerbang rumah.
"Rumah kita, maksudnya kamu membeli rumah lagi?" Rania tidak habis pikir, kenapa suaminya suka sekali membeli rumah.
"Kamu ingat, Ibuku pernah berkata kalau kita harus pindah ke rumah bukan tinggal di apartemen?" Nalendra membuka pintu rumah yang terkunci.
"Ini rumahku yang aku beli 10 tahun lalu, cicilannya sudah selesai beberapa bulan yang lalu. Selama ini, rumah ini aku kontrakan." terang Nalendra. "Aku lebih nyaman tinggal di apartemen. Tapi kini aku sudah menikah, lebih baik kita pindah ke rumah. Aku bisa melihat anak-anak kita bermain di halaman, bermain air seperti yang suka Dareen lakukan saat di rumah orangtua kita."
"Terima kasih." Rania memandang Nalendra, dia tak menyangka jika Nalendra sudah mempersiapkan segalanya untuk istri dan anak-anaknya.
"Kita bisa mengisi ruangan kosong ini perlahan. Lagian kita juga harus menunggu Dareen selesai TK dulu, hanya tinggal beberapa bulan lagi. Biar SD nya dekat sini aja, kebetulan di sini juga dekat dengan beberapa sekolah negeri juga swasta yang bagus."
"Apa di sini dekat dengan rumah sakit?" tanya Rania. Dia ingat kalau beberapa bulan lagi dia akan melahirkan dan waktunya tidak jauh setelah Dareen masuk sekolah dasar.
"Tenang saja dekat, hanya berjarak mungkin 10 menit berkendara. Ibuku pernah bilang 'membeli rumah itu harus memperhatikan fasilitas penunjang seperti rumah sakit, sekolah, tempat belanja kebutuhan, yang terutama air' dan aku menurutinya," ucap Nalendra bangga.
Rania membuka pintu beberapa kamar tidur. Kamar tidur yang cukup luas, sama luasnya dengan kamar tidur Nalendra di rumah orangtuanya. Sedangkan dua kamar tidur untuk anak berada di lantai atas.
"Kamu bisa mengubah kitchen set nya sesukamu, nanti aku akan menghubungi temanku yang kemarin mengurus rumah kita di Bandung. Oh ya, aku lupa memberitahumu. Rumah kita yang di Bandung, ditempati Alaric."
Rania mengangguk, dia juga berpikir akan lebih baik ada yang menempatinya dari pada harus kosong. Tidak baik mengosongkan rumah dalam jangka waktu lama.
Rania bersyukur Nalendra susah menyiapkan segala sesuatu untuk mereka.