
Pak Sulaiman pun menuruti kemauan Sang istri. Dia juga penasaran tentang perasaan Nalendra terhadap Rania.
"Dareen main sama Kakek, yuk?" ajak pak Sulaiman yang langsung menggendong Dareen pergi menjauh dari sana, sebelum dia kena semprot Sang istri.
"Yah, tunggu!" Nalendra berdiri hendak mengejar mereka, tetapi dicegah oleh Bu Shafira.
"Eits, mau ke mana? duduk di situ!" ucapnya penuh penekanan.
"Ada apa, Bu?" tanya Nalendra dengan wajah tanpa dosa karena memang dia merasa ga punya salah.
"Ibu mau nanya serius sama Kaka. Ada hubungan apa Kaka dengan Rania?" tanya Bu Shafira memandang tajam Nalendra.
Nalendra mengernyitkan dahi. "A-aku sama dia, kami temenan," kata Nalendra dengan jujur.
"Kalau hanya temenan ga mungkin Kaka segitunya nyampe cuti bantu pindahan!" selidik Bu Shafira.
Jujur ga ya, ngeri banget tatapan emak gue. batin Nalendra.
"Kebetulan aja, Bu. Nalendra emang belum ngambil cuti tahun ini, jadi ya kebetulan Kaka ngambil cuti dan dia pindahan. Kaka bantu karena Sekalian pulang ke rumah, 'kan arahnya sama ke Bandung!" ujarnya beralasan, dia masih belum berani memberitahu ibunya, kecuali keadaan memaksa untuk jujur.
"Kak, Ibu tahu Kaka seperti apa. Ayo, cerita ke ibu!"
Nalendra menghela napas pelan. Jujur aja kali ya. pikirnya.
"Janji ya ibu ga akan marah atau nyuruh Nalendra menjauhi Dareen!" pintanya dengan wajah memelas.
"Ayo, cerita!"
"Nalendra suka dengan Rania sejak SMA," ucap Nalendra jujur, akhirnya dia jujur. Ada perasaan lega ketika memberitahu Bu Shafira, tetapi perasaan cemas, khawatir, takut bercampur menjadi satu begitu melihat mata tajam Sang Ibu.
"SMA? itu udah lama sekali Kaka!" Bu Shafira memukul lengan Nalendra.
"Sakit, Bu!" rengeknya.
"Apa Rania tahu?" tanya Bu Shafira. Nalendra menggeleng pelan.
"Jadi, siapa saja yang sudah tahu?" tanya Bu Shafira lagi.
"Aziz, Pak Idris dan Ibu," jujur Nalendra.
"Pak Idris tahu?" tanya Bu Shafira kaget.
"Iya, Kaka 'kan harus izin dulu sama bapaknya sebelum deketin anaknya," ucap Nalendra pelan. Raut wajah Nalendra sungguh sangat menggemaskan, seperti anak kecil yang sedang mengakui kesalahan.
"Astaghfirullah, Kaka." Bu Shafira tertawa terbahak. "Kamu tuh, ngeselin tapi pikaseurieun!"
Nalendra yang melihat Bu Shafira tertawa tersenyum kecut, dia tidak mengerti kenapa ibunya menertawai dia.
"Kalau Kaka suka kenapa ga dari dulu aja Kaka bilang sama Rania?" Bu Shafira masih penasaran tentang betapa hebat Nalendra bisa menyimpan perasaan selama belasan tahun pada seorang wanita.
Nalendra terdiam, pikirannya melayang ke belasan tahun yang lalu saat dia sudah lulus dan kuliah semester pertama.
Nalendra kuliah di salah satu universitas ternama di Bandung. Dia dipersatukan kembali dengan Indro teman saat SMA. Di sanalah dia mulai berteman dengan Ergha, Agus, Geo, dan Radit.
Setiap weekend mereka selalu menginap di rumah Nalendra karena orangtua Nalendra memang jarang di rumah. Pak Sulaiman saat itu sudah pensiun dan mengurus beberapa toko dan Sang ibu masih bekerja di salah satu perusahaan asuransi terbesar di Indonesia, Bu Shafira juga seorang aktif menjadi relawan. Sehingga mereka lebih sering bepergian ke luar kota di saat weekend.
Sudah beberapa Minggu ini ada nomor tak di kenal yang selalu menghubungi Nalendra di jam-jam tertentu saat siang atau sore hari. Tentu saja dia merasa terganggu dengan hal tersebut, apalagi kalau menghubungi saat jam kuliah sedang berlangsung.
"Kenapa Bro?" tanya Indro melihat Nalendra dengan raut wajah kesal memandang ponsel.
"Ada yang neror aku Bro!" ucap Nalendra, masih memandangi ponsel.
"Maksudnya?"
"Udah beberapa Minggu ini ada yang selalu misscall. tapi aku ga tau itu siapa!"
"Penggemar rahasia itu namanya!" timpal Geo tertawa.
"Cewe atau cowo?" tanya Ergha penasaran.
"Itu dia yang aku ga tau!"
"Coba aku lihat, kita teror balik!" Ergha segera mengetik nomor ponsel yang selalu misscall Nalendra. "Jangan berisik!" ucap Ergha yang sedang menghubungi nomor tadi.
"Halo, assa ...." terdengar suara perempuan hendak memberi salam, tetapi langsung dimatikan oleh Ergha.
Nalendra tambah termenung memikirkan siapa perempuan yang selalu menghubunginya. Benarkah dia punya penggemar rahasia.
"Coba sekali lagi," ujar Agus penasaran dengan suara perempuan tadi.
Ergha menghubungi kembali nomor dengan suara perempuan tadi.
"Jangan dulu di matiin, pastikan dulu itu bener cewe atau cowo!" kata Agus bersemangat.
Terdengar beberapa kali nada tunggu.
"Halo, assalamu'alaikum." kembali Ergha mengakhiri panggilan telepon.
"Beneran, Bro. Cewe!" seru Agus. "Aku minta nomornya ya, biar aku teror balik," ujarnya sambil tertawa.
"Jangan, biarkan aja!" sergah Nalendra. Dia tidak mau jika teman-temannya tahu siapa penggemar rahasia.
Beberapa bulan telah berlalu, Si penggemar rahasia masih suka menghubungi Nalendra. Namun, sejak tahu yang menghubunginya seorang perempuan, rasa kesal pun menghilang.
Perkuliahan semester dua telah dimulai, kembali sibuk dengan berbagai macam mata kuliah dan tugas. Nalendra dan teman-temannya sedang berkumpul di rumah, tetapi bukan untuk mengerjakan tugas melainkan untuk bermain game.
"Giliran siapa sekarang?" tanya Geo, menggoyangkan stik game.
"Ergha, dia malah molor!" ucap Agus. "Aku aja." Agus langsung mengambil stik game yang dipegang Geo.
Mereka berada di rumah Nalendra sejak kemarin siang. Bergadang, bermain game offline maupun online.
"Aku mau masak mie dulu," ujar Indro keluar dari kamar Ergha. Orangtua Nalendra memang jarang di rumah, tetapi persediaan makanan selalu ada.
"Dro, buatnya banyak ya. Buat tiga atau empat bungkus!" teriak Agus.
Setengah jam kemudian wangi mie instan masuk ke dalam kamar. Agus dan Radit langsung berhamburan ke ruang depan kamar Nalendra. Indro telah membawa satu panci mie instan.
"Mereka ga akan makan gitu?" tanya Indro menunjuk ke dalam kamar, di sana masih ada Nalendra dan Ergha yang sedang tidur nyenyak.
"Sini mangkoknya. Biar aku bangunkan," ujar Radit menyendokan banyak-banyak mie instan ke dalam mangkok dan membawanya ke kamar.
Dia mengaduk-aduk mie instan di dekat Ergha dan Nalendra. Uap dari mangkok mie instan langsung melambung tinggi.
Ergha membukakan mata mencium wangi dari mie instan. "Mau dong, lapar banget," ujarnya begitu terbangun dengan wajah bantal.
"Bangun makanya, tuh Indro dah buatin banyak, ayo keluar!" Radit berlalu keluar membawa mangkok mie instan tadi. "Jangan lupa bangunin Nalendra!" teriak Radit.
"Ndra bangun, ayo makan!" Ergha menepuk pantuat Nalendra kencang hingga dia terbangun mengasuh kesakitan.
"Sakit woy!" teriaknya, tetapi Ergha hanya tertawa meninggalkan dia yang masih di tempat tidur.
Nalendra tanpa mencuci muka dahulu langsung duduk dan mengambil mangkok kosong yang tadi dibawakan Indro dari dapur.
Mereka makan sambil mengobrol dan bercanda ria.
Drrttt ... drrrrttt ....
Suara getaran ponsel yang cukup keras terdengar.
"Punya siapa tuh?" tanya Agus.
Radit masuk ke kamar dan mengambil ponsel yang tadi menyala.
"Ponselmu," ujar Radit menyerahkan ponselnya pada Nalendra. Dia melihat notifikasi panggilan masuk.
"Siapa?" tanya Radit penasaran melihat raut wajah Nalendra yang tersenyum. Nalendra tidak menjawab hanya memberi senyuman.
"Si penggemar rahasia masih suka misscall?" tanya Agus.
"Oh iya, aku udah tau siapa si penggar rahasia itu!" timpal Ergha tersenyum bangga.
"Siapa?" tanya Nalendra dengan wajah penuh keraguan.
"Rania, namanya Rania."
l