
"Aku tau kamu menolakku 'kan?"
"Aku ga bilang gitu!" jawab Rania.
"Bukannya tadi kamu bilang, kamu ga mau menjawab pertanyaan ku?"
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan kaya gitu. Bukankah kita bukan anak sekolah atau kuliahan lagi yang harus menjawab iya atau tidak. Kalau aku menolakmu, aku ga akan mau semobil denganmu, aku pasti menolak pergi denganmu dan menjauh darimu!" jawab Rania kesal. Dia menarik napas pelan meredam rasa kesal dalam hatinya.
Nalendra langsung berbalik menghadap Rania yang berada di sampingnya. "Jadi maksudmu. Ka-kamu menerimaku?" tanyanya tergagap.
Rania mengangguk, dia merasa terlalu malu jika harus berkata iya pada Nalendra.
Nalendra langsung menarik Rania ke dalam pelukannya. Dia memeluk Rania sangat erat. Dia merasa tidak ingin melepaskan pelukannya.
"Aku ga bisa napas kalau kamu memelukku seperti ini," gumam Rania.
Nalendra tertawa, dia melonggarkan pelukannya. "Biarkan seperti ini dulu. Aku ga mau melepasmu," ucap Nalendra mencium kepala Rania yang tertutup hijab.
"Nanti ada orang liat gimana?" tanya Rania. Bagaimana pun Rania merasa kurang nyaman, apalagi mereka sedang berada di parkiran masjid.
"Apa kamu lupa, kaca mobilku pakai kaca film 70%. Tidak akan kelihatan dari luar," jawab Nalendra tersenyum senang. Dalam hati dan pikirannya seperti ada ratusan kupu-kupu yang berdatangan ke sebuah taman bunga.
"Ndra, lepasin dong. Jangan lama-lama, bahaya!" ujar Rania.
Nalendra melepas pelukannya, perasaannya terasa lebih ringan, Beban yang ada dalam hatinya seakan terangkat sedikit.
"Kenapa kamu menunduk dari tadi?" tanya Nalendra.
"Entahlah, aku merasa malu," jawab Rania tersenyum memegang kedua pipi yang terasa panas.
"Ayo kita cari makan sekitar sini!" ajak Nalendra. "Sebentar lagi masuk waktu isya, sebaiknya kita shalat di sini aja. Biar nanti kita langsung pulang tanpa harus berhenti buat shalat dulu." Nalendra melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Ndra, bolehkah kita merahasiakan dulu, hubungan kita ini. Aku masih merasa malu," ucap Rania.
"Kenapa? keluargaku harus tahu," tanya Nalendra. Dia harus segera memberitahu keluarga jika Rania menerima pinangannya. Dia tidak mau orangtuanya kembali menjodohkan dengan wanita atau gadis lain.
"Aku belum mau membaginya dengan Liana, sepertinya dia suka denganmu. Aku takut jika dia tahu, dia akan merah padaku!" terang Rania.
"Enggak usah takut, hadapi saja. Sekarang ataupun nanti sama saja 'kan," ujar Nalendra.
"Baiklah, terserah kamu aja kalau begitu. Ndra, Kita di sini dulu aja, aku lagi malas keluar. Apa kamu lapar banget ya?" tanya Rania.
"Tidak, ehm ... sedikit," jawabnya tersenyum, dia ingin kembali menarik Rania ke dalam pelukannya, tetapi pasti akan ditolak, pikirnya.
"Ndra, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rania dibalas anggukan oleh Nalendra yang masih belum mau mengalihkan pandangan dari wanita di sampingnya.
"Kenapa kamu suka sama aku, sejak kapan?"
"Entahlah, aku sendiri enggak tau kapan aku mulai menyukaimu. Mungkin cinta pandangan pertama," ungkap Nalendra.
Rania tertawa, "Kaya anak ABG aja!"
"Emang waktu itu kan aku masih ABG, masih SMA!"
Mereka terus mengobrol sampai masuk waktu isya dan menunaikan shalat di sana. Nalendra mengajak Rania untuk makan malam di sebuah restoran di rest area KM 57, daerah karawang. Tentu saja Nalendra juga sudah menghubungi Pak Idris terlebih dahulu untuk meminta izin pulang larut.
"Ayo!" ajak Nalendra begitu dia parkir di parkiran dekat masjid. "Makan apa?"
Fasilitas yang disediakan di rest area ini terbilang cukup lengkap, mesjid yang luas, toilet yang bersih dan banyak sehingga kamu tidak perlu mengantri panjang kecuali saat mudik lebaran atau libur tahun baru tiba. Restoran di rest area ini pun terbilang sangat lengkap, dari mulai berbagai restoran yang menyajikan menu ayam, seafood, makanan khas Sunda, Jepang, Korea. Terdapat juga banyak gerai kopi dan minimarket.
Mereka berjalan berdua menyusuri trotoar. Nalendra merangkul pundak Rania.
"Malu tau, diliatin orang. Noh!" ketus Rania.
"Mana ada diliatin. Itu hanya perasaan kamu aja!" kata Nalendra yang tidak mau menyia-nyiakan waktu berdua dengan Rania. "Lagian orang-orang pasti berpikir kita suami istri."
"Kenapa?" tanya Rania menghentikan langkahnya sambil melirik Nalendra. "Apa aku terlihat tua?"
"Tidak, kamu masih sangat terlihat cantik. Hanya saja mereka pasti tahu kita sudah dewasa bukan anak kecil lagi," ujar Nalendra memilah kata berharap Rania tidak salah paham. Dia menarik badan Rania pelan agar melanjutkan langkahnya.
Mereka makan di salah satu restoran Jepang. Nalendra masih seperti dulu, menghindari makanan dari ayam atau daging sapi kecuali setelah di olah menjadi sosis dan nugget.
Mereka mengobrol sambil menikmati makan malam, sesekali Nalendra menyuapi Rania. Mereka benar-benar seperti sepasang pengantin baru, walaupun terkadang rasa canggung hinggap di hati mereka.
"Ndra, sampe kapan kamu di Bandung?"
"Hanya dua hari sampai Selasa, sisa Minggu ini di Jakarta." terang Nalendra mengingat jadwal yang sudah ditetapkan sebelumnya.
"Baiklah," ucap Rania cemberut. .
Malam itu terasa lebih singkat dari malam sebelumnya, tetapi jauh lebih berkesan di hati. Sudah lebih dari pukul 10 malam ketika Nalendra mengantarkan Rania pulang. Pak Idris pun berusaha mengerti akan hal itu. Dia tersenyum bahagia saat melihat wajah Rania yang mulai tersenyum bahagia lagi seperti sebelum ditinggal Ergha dulu.
Hampir 11 bulan sudah Ergha meninggal. Selama itu pula Rania berusaha merangkai kepingan hati yang tercecer karena ditinggal orang terkasih. Rania selalu berusaha tersenyum dan tertawa dihadapan Sang buah hati, tetapi menangis ketika sendiri. Sebagai orangtua Pak Idris dan Bu Sekar berusaha memahami apapun yang Rania lakukan, selama itu tidak melewati batas.
Pak Idris dan Bu Sekar bersyukur atas kehadiran Nalendra di tengah duka yang menyelimuti anaknya. bersyukur Nalendra mau bersabar menunggu Rania membukakan pintu yang sengaja dia atutup rapat. 11 bulan, Nalendra berdiri di depan pintu hati Rania, mengetuk perlahan sampai Si empunya mau membukakan pintu hati untuknya.
Malam itu Nalendra pulang ke rumah orangtuanya dengan hati yang berbunga-bunga. 14 tahun bukanlah waktu yang singkat, semua rasa suka maupun duka bercampur di waktu itu.
**
Udara pagi yang dingin mulai menggelitik kulit Nalendra yang terbiasa dengan udara panas Jakarta. Namun, tidak menyurutkan semangatnya untuk pergi bekerja.
"Pagi yang cerah," gumam Nalendra. Dia sudah bersiap dengan stelan kerjanya.
"Kak, mau bawa bekal?" tanya Bu Shafira.
"Tidak usah, Bu," jawab Nalendra tersenyum.
"Kak, cerah amat hari ini!" celetuk Bu Shafira. "Lagi seneng ya, ada apa?"
"Aku melamar Rania tiga Minggu yang lalu!" ucapnya memberitahu Sang Ibu. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi.
"Apa? ko ga bilang-bilang dulu!" ketus Bu Shafira.
"Nalendra bilang. Cuma Ibu yang mungkin lupa," timpal Pak Sulaiman.
"Ko Kakak baru ngasih tau sekarang?" tanyanya lagi tanpa memperdulikan perkataan Sang suami.
"Kakak baru ngasih tau karena baru dapet jawabannya." Dengan santai Nalendra menceritakan semua pada orangtuanya.
"Jadi, kapan kita ke rumahnya untuk lamaran resminya?"