Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 92



"Kenapa kamu harus beli rumah. Sayaang tahu uangnya, padahal kita bisa tinggal dulu di sini atau di rumahku," keluh Rania.


"Rumah itu udah aku beli sejak lama. Itu rumah pertama yang aku beli dari gajiku." ungkap Nalendra. "Apa Ergha tidak pernah cerita mengenai rumah itu. Padahal dulu kita sering nongkrong di sana."


Ergha. pikir Rania. Hatinya sedikit mencelos mendengar Nalendra berkata soal Ergha. Kenapa aku bisa lupa soal Ergha, pikir Rania lagi.


Rania merasa beberapa hari belakang dia lupa dengan sosok Almarhum suaminya. Rasa bersalah terbersit di pikirannya. Bukan rasa bersalah pada Ergha karena dia sudah tiada, tetapi rasa bersalah pada Dareen.


Bagaimana mungkin aku melupakannya!


"Ndra, aku tidur duluan." Rania langsung merebahkan diri di tempat tidur dengan membelakangi Nalendra. Hatinya sungguh bimbang.


"Kamu beneran udah ngantuk?" tanya Nalendra karena beberapa menit yang lalu dia yang meminta pillow talk, tidak ada jawaban dari mulut Rania. Ranai sengaja menutup matanya. Mata Rania mulai berkaca, dia teringat dengan obrolan orang-orang di acara pernikahan kemarin.


"Oh, Jadi calonnya Nalendra udah janda beranak satu?" ucap salah satu ibu-ibu. "Padahal Nalendra tampan, tajir juga. Tapi malah dapet bekas!"


Keesokan harinya, Nalendra berangkat setelah shalat subuh. Dia membawa mobil ke Jakarta. Bukan tanpa alasan, dia tidak ingin Rania menyusulnya ke Jakarta dengan membawa kendaraan. Terakhir kali dia menyusul mengendarai mobil Nalendra, waktu tempuh yang normalnya Bandung-Jakarta 3-4 jam, Rania tempuh dengan hanya 2 jam saja padahal di hari kerja.


"Walaupun aku ga ada di Jakarta. Kamu bisa membawa Dareen ke sana, dengan naik kereta agar tidak terlalu lelah. Mobil aku bawa untuk kendaraanmu nanti di sana." Nalendra memberi pesan kepada Rania.


Dia juga mewanti-wanti pada Zyan dan orangtua Rania agar tidak mengizinkannya membawa mobil jika jarak tempuhnya jauh.


Perempuan lebih berani kebut-kebutan dibanding laki-laki. pikir Nalendra.


Setelah Nalendra berangkat kembali ke Jakarta. Rania lebih sering termenung.


Apa aku terlalu buru-buru mengambil keputusan menikah! pikir Rania. Selama berhari-hari dia memikirkan itu.


Dia juga jarang mengangkat atau membalas pesan Nalendra. Ketika Nalendra menghubunginya untuk berpamitan ke singapore pun, dia tidak terlalu banyak bicara.


"Teteh kenapa? Mama perhatikan ko melamun aja?" tanya Bu Sekar yang ikut duduk mengambil angin di teras rumah.


"Ehm, ga kenapa-kenapa."


"Cerita sama Mama, ada apa?" tanyanya lagi. "Apa teteh kangen Aa?"


Rania tertawa kecil. "Enggak, kenapa?"


"Ya itu, Teteh ngelamun aja dari Aa pergi!"


"Mah, apa Rania terburu-buru nikah sama Nalendra?" tanya Rania ragu.


"Kalau nikah udah ada calonnya ya emang harus disegerakan, Teh. Ga boleh dinanti-nanti, bisi (takut) timbul fitnah!"


"Kemarin, Nalendra ajak Rania liat rumahnya yang lagi di renovasi. Dia ingin raniandan Dareen tinggal di sana kalau Nalendra pulang, tapi kalau dia kerja Rania boleh tinggal di sini. Katanya biar ga kesepian sama Dareen," kata Rania mulai bercerita.


"Ya, bagus atuh ari (kalau) gitu mah. Berarti A nalendra tanggung jawab, ngasih rumah buat istri dan anaknya," jawab Bu Sekar.


"Rania pikir dia membeli rumah baru-baru ini, tapi katanya rumah itu udah dia beli bertahun-tahun yang lalu saat Rania masih sama Ergha," ujar Rania sendu.


Bu Sekar mulai tahu arah kemana pembicaraan Rania, dia pun menarik napas pelan. "Teh, ya Aa Nalendra membeli itu emang untuk istri dan anaknya 'kan. Saat membeli itu dia pun tidak tahu kalau yang menjadi istrinya, yang akan nempati rumah itu adalah Teteh, istri temannya." Bu Sekar mencoba menjelaskan. "Kalau Teteh tidak suka rumah itu karena takut mengingat terus A Ergha ya ... Teteh harus jujur sama A Nalendra. Mama yakin, dia pasti mengerti dan mencari solusinya."


"Intinya Teteh harus jujur dengan apa yang Teteh rasakan. Tapi Teteh juga harus berusaha mengerti jalan pikiran A Nalendra."


**


Sudah lebih dari seminggu sejak Nalendra tiba di Singapore, mengurus proyek yang sudah terjadwal dari beberapa bulan yang lalu. Nalendra lebih sering kerja sampai larut malam. Menyibukkan diri dan pikirannya yang selalu saja berbalik-balik ingin pulang, bertemu istri dan anaknya.


Beberapa hari ini, dia menyadari jika Rania jarang mengangkat telepon ataupun membalas pesannya langsung. Setelah dipikirkan, hal itu berlangsung sejak dia kembali ke Jakarta.


"Ziz, Rania kenapa ya?" tanyanya di suatu sore di ruang kerjanya.


"Kenapa memang, Pak?"


"Entahlah, Aku ngerasa dia lagi marah."


"Ko Bapak bisa berpikir begitu?" tanya Aziz menghentikan jarinya mengetik.


"Belakangan dia jarang angkat teleponku, harus beberapa kali, malah terkadang tidak diangkat sama sekali. Pesanku pun jarang langsung dibalas," ungkap Nalendra. "Ya memang sih, sebelum nikah juga begitu. tapi sejak kita menikah biasanya dia langsung angkat telepon juga cepat membalas pesanku."


"Mungkin lagi sibuk kali, Pak," jawab Aziz.


"Pertamanya juga aku pikir begitu, tapi masa iya dari aku berangkat ke Jakarta jadi begitu lagi!"


"Dari berangkat ke Jakarta, berati hampir dua minggu yang lalu ya. Apa Bapak sudah tanyakan padanya?"


"Tanya gimana? aku ga berani nanyanya. Takut beneran dia marah!"


"Tanyakan saja, Pak. Dari pada Bapak penasaran, kadang perempuan pengen ditanya," ujar Aziz memberi nasihat.


**


Rania mengepak bajunya dan Dareen yang akan dia bawa ke rumah orangtua Nalendra. Mereka meminta Rania dan Dareen menginap di rumahnya karena akan ada acara keluarga di sana.


"Teh, ada Liana," ujar Bu Sekar memberitahu Rania.


Rania mengerutkan dahinya. "Ada apa ya, Bu?"


"Ya ga tau atuh. Samperin aja, itu nunggu Teteh di depan. Kangen mungkin ngobrol sama Teteh," jawab Bu Sekar. Dia tahu bagaimana kedekatan Rania dengan Liana.


Rania bergegas keluar rumah, Liana sedang duduk di teras rumah. "Hei, ada apa? tumben," ujar Rania menghampiri teman masa kecilnya.


"Pengen aja, ngabuburit (istilah menunggu waktu berbuka puasa)," jawab Liana. "Ih, nikah ga bilang-bilang. Aku tau dari Amih!"


Liana baru seminggu pulang dari luar kota. Dia mengikuti pelatihan selama sebulan dari instansi tempatnya bekerja.Warga sekitar rumah orangtua Rania hanya tahu kalau Rania sudah menikah lagi, tetapi tidak tahu siapa lelakinya.


"Maaf, soalnya dadakan acaranya," jawab Rania jujur.


"Nalendra masih suka ke sini ga?" tanya Liana. "Biasanya tiap Sabtu atau Minggu dia ke sini. Kemarin aku nunggu, kirain dia mau dateng ternyata enggak." Liana terkekeh.


Apa dia tidak tau aku sudah nikah dengan Nalendra? tanya Rania dalam hati.


"Waktu kamu nikah, dia dateng enggak?" tanya Liana.