
Rania sudah berada di salah satu rumah sakit di Singapore. Hari ini jadwal cek up kandungannya. Dia menunggu Nalendra di lobby bersama dengan Dareen.
Sore itu, rumah sakit nampak ramai, banyak yang akan memeriksakan diri atau mengantar keluarganya berobat. Cukup lama mereka di sana menunggu, tetapi orang yang ditunggu belum juga terlihat batang hidungnya.
"Bunda, Daddy ko lama!" Dareen mulai merengek. "Aku bosan!"
"Mau baca buku?" Rania sengaja meminta Dareen membawa dua buku cerita dan beberapa mainan kecil untuk menemaninya dikala bosan.
Dareen mengeluarkan sebuah buku cerita dari dalam tas. Buku baru yang Nalendra belikan tempo hari. Dia membaca buku tersebut lirih.
"Dareen, mau minum?" Rania ingat anaknya belum minum dari mereka tiba di rumah sakit.
"Engga, Bunda. Nanti aja!"
"Maaf, pasti kalian bosan menunggu Daddy yang lama datang!" ucap Nalendra yang baru saja datang dengan napas terengah.
Rania tersenyum mengangguk pelan. "Ga apa-apa, ayo!" dia beranjak dari tempat duduk setelah memastikan Dareen menggendong tasnya kembali.
"Daddy ko lama banget!" gerutu Dareen.
"Iya, maaf. Tadi waktu Daddy mau berangkat ada teman Daddy yang datang dan mengajak ngobrol sebentar."
Nalendra sudah membuat janji temu dengan dokter sebelumnya. Mereka pun di persilakan masuk ke ruang praktek dokter.
"Halo, selamat sore." sapa dokter Cho, begitu melihat Rania datang dengan Nalendra dan Dareen.
**
Keesokan paginya,
"Enak ya, punya mantu kaya mantunya Bu Sekar itu," ujar Ceu Empon.
"Emang kenapa Ceu?"
"Katanya Rania lagi hamil, terus masuk rumah sakit di rawat. Suaminya langsung pesenin tiket buat Bu Sekar nyusul ke Singapore!"
"Rania masuk rumah sakit, kapan?" tanya Bu Ratna, ibunya Liana.
Seperti biasa, Bu Ratna membeli sayuran di warung sayur Ceu Empon. Di sana juga ada beberapa ibu-ibu yang lain yang juga sedang membeli sayuran. Mereka memilih sayuran sembari bertukar cerita atau lebih tepatnya bertukar gosip.
"Udah lama, Bu. Kalau ga salah bulan kemarin apa ya!"
Bu Ratna mengangguk. "Terus sekarang gimana keadaannya?"
"Lah ga tau kalau soal Rania mah. Kayanya baik-baik aja, kalau dia kenapa-kenapa lagi mungkin akan nyuruh Bu Sekar ke Singapore lagi!"
Bu Ratna segera membayar sayuran yang telah dia pilih dan langsung berpamitan pada ibu-ibu di sana. Dia ingin segera pulang dan memberitahu anaknya tentang Rania yang sedang hamil.
Bu Ratna masuk ke dalam rumah dengan terengah. Dia langsung menghampiri Liana yang sedang duduk bersantai sebelum pergi bekerja. Bu Ratna segera duduk di sebelah Liana setelah menyimpan belanjaannya terlebih dahulu.
"Na', tadi kan' Amih dari warung. Katanya Rania lagi hamil!"
Liana yang sedang asik mengulir layar ponsel langsung berbalik menatap ibunya. "Kata siapa?" tanyanya mengerutkan kening.
"Kata Ceu Empon, tadi dia cerita ke ibu-ibu di sana. Katanya Mamanya Rania nyampe di telepon disuruh ke Singapore da (karena) Rania masuk rumah sakit!"
"Rania masuk rumah sakit, kenapa?" Liana terkejut mendengar perkataan ibunya.
"Ga tau, Amih cuma denger Rania masuk rumah sakit. Tapi ga tau sakit naon!" jawab Bu Ratna. "Coba atuh taroskeun (tanyakan) ke Rania!"
"Ngapain? biarin aja!" ucap Liana ketus, dia masih kesal dengan Rania yang menikahi laki-laki pujaannya. Namun, dalam hati tidak bisa dipungkiri, ada kekhawatiran terhadap teman masa kecilnya tersebut. Hanya saja dia enggan untuk mengakui perasaannya.
Hari itu, pikiran Liana selalu berbalik lagi memikirkan keadaan Rania. Dia sangat penasaran dengan keadaan Rania saat ini. Tentang sakit apa yang sampai membuat Rania masuk rumah sakit, apakah dia masih sakit, apakah dia sudah baik-baik saja sekarang? itulah yang Liana pikirkan.
Dia memutuskan mencari tahu dengan melihat media sosial milik Rania dan Nalendra. Namun, seperti biasanya tidak ada kabar terbaru yang menunjukan keadaan Rania saat ini. Mereka memang sudah lama tidak bermedia sosial cukup lama, terlihat dari postingan mereka terakhir kali.
"Kalau saja, Rania tidak merebut Nalendra dariku. Aku pasti akan langsung menghubunginya menanyakan keadaannya saat ini!" gerutu Liana.
"Dia sungguh membuatku kesal, kenapa juga aku harus memikirkan keadaan dia! Dia saja tidak memikirkan perasaanku seperti apa!" ucap Liana ketus.
"Kenapa dari tadi ngomong sendiri! lagi kesal ya?" tanya seorang teman perempuan.
"Enggak, cuma lagi belajar buat presentasi aja!" jawab Liana beralasan.
"Kepo banget, mau tau aja!" jawab Liana.
"Yee, dasar!" temannya menepuk lengan Liana cukup keras dan berlaku dari sana.
Liana kembali memikirkan bagaimana cara dia agar tau keadaan Rania sekarang. Tidak mungkin kalau harus bertanya langsung pada Rania apalagi pada keluarganya. Dia juga tidak bisa bertanya pada teman SMA-nya.
"Kenapa ga nyuruh Sari aja buat nanyain!" Liana tersenyum dengan ide baru saja terlintas di pikirannya.
**
Rania mulai mengemas barang-barang yang akan dia kirim ke Indonesia. Sebagian pakaian, sepatu, mainan yang mereka beli di Singapore pun akan dia kirim lewat jasa kirim. Akan sangat merepotkan jika mereka membawa barang-barang tersebut bersama mereka ketika pulang nanti.
Pakaian mereka saja sudah 5 koper besar, itu yang akan mereka tenteng ketika pulang. Belum oleh-oleh untuk keluarga dan teman dan barang-barang lain yang mereka beli.
"Ternyata banyak juga!" pikir Rania melihat beberapa dus yang sudah siap dikirim.
Seminggu lagi, mereka akan kembali ke Jakarta. Dokter memperbolehkan Rania untuk naik pesawat, melakukan perjalanan ke Indonesia. Kandungannya sehat dan morning sickness nya pun sudah berkurang. Namun, dokter tetap mewanti-wanti mereka agar Rania tidak boleh terlalu kecapean. Dokter juga menyarankan agar setelah tiba di Indonesia, mereka segera memeriksakan kembali ke dokter kandungan.
"Jangan terlalu cape, istirahatlah!" titah Nalendra yang melihat sang istri masih bergelut dengan barang-barang dan dus.
"Ga cape ko, ini aku sambil duduk."
"Istirahatlah, nanti biar aku yang pack sisanya!"
"Baiklah," jawab Rania beranjak dari tempat duduk, menghampiri Nalendra, bergabung dengannya menemani Dareen yang sedang melukis.
Sejak tinggal dengan Nalendra, Dareen mempunyai hobi baru, yaitu melukis. Dia sangat senang melukis dan menggambar tokoh-tokoh yang ada dalam komik Nalendra.
"Bunda, belikan aku cat air lagi," pinta Dareen.
"Emang udah habis semuanya?"
"Tinggal sedikit lagi!"
"Ya udah, pakai aja dulu sampai habis. Nanti kita beli di Indonesia aja, ya," ujar Rania.
"Bunda, kita mau pulang?"
"Iya."
"Kita ke rumah Daddy atau ke rumah Abah atau ke rumah Kakek?"
"Kita pulang ke rumah kita, Jagoan. Rumah Daddy kan udah jadi rumah Dareen sama Bunda juga!"
"Terus nanti aku sekolah, gimana?"
"Dareen sekolah deket apartemen kita aja. Dulu Daddy pernah tunjukan sekolahnya sama dareen, ingat ga?"
"Iya, aku ingat, tapi udah lupa lagi yang mana!"
"Katanya ingat, ko ujungnya bilang lupa?" tanya Rania terkekeh.
"Aku ingat, Daddy pernah bawa aku jalan lewatin sekolahan. Tapi aku lupa sekolahannya kaya gimana, Bunda!" jawab Dareen dengan ekspresi wajah datar. "Padahal aku senang sekolah di sini, kenapa kita ga di sini aja sih?"