
Sudah hampir tiga bulan Rania menjalani masa iddahnya. Dia keluar rumah hanya untuk berbelanja kebutuhan atau mengantar jemput Dareen bersekolah, itupun jika pak Idris sedang pulang ke Bandung.
Musim sudah berganti menjadi musim penghujan, dari semalam langit belum berhenti menumpahkan air matanya. Seperti Rania yang masih menjaga Dareen, mengganti kompres di badannya.
"Sembuh ya, Sayang bunda," ucap Rania membelai lembut rambut hingga pipi Dareen.
"Dareen mau minum?" tanyanya ketika Sang anak mencoba bangun dari tidur.
"Dareen mau pipis," ungkapnya. Rania segera menggendong Dareen membawanya ke kamar mandi.
"Apa harus aku bawa ke rumah sakit," pikirnya merasakan panas dari tubuh Dareen. "Demamnya belum juga turun."
Pak Idris harus kembali ke Bandung empat hari yang lalu, karena teman karibnya meninggal dunia. Sudah dua hari Dareen demam, panasnya tak kunjung juga mereda. Rania sudah memberinya obat penurun demam, tetapi tetap saja panasnya tinggi.
"Sayang, makan ya. Bunda udah buatkan bubur buat Dareen." Rania memegang mangkok bubur dan mengaduknya agar cepat bisa di makan.
"Bunda, Dareen pengen ketemu ayah," ujarnya membuat Rania tertegun lalu tersenyum.
Rania segera menyimpan mangkok bubur yang dipegangnya di atas nakas, dia pun beralih duduk ke atas tempat tidur mendudukan Dareen di pangkuannya.
"Dareen kangen ayah?" tanyanya pelan. Dareen mengangguk.
"Kasian sekali anakku, kangen ayahnya sampai demam," gumam Rania memeluk dan mengelus punggung anaknya.
"Keluar yuk, lihat hujan." Dareen mengangguk.
Rania menggendong Dareen membawanya ke ruang tamu dan mendudukkannya di kursi menghadap ke jendela besar.
"Bunda, hujannya banyak," ujar Dareen.
"Iya, Sayang. Hujannya deras, Dareen masih ingat doa turun hujan?"
"Allahumma shoyyiban nafi'an. Ya Allah, jadikanlah hujan ini berkah dan manfaat," ucap Rania. "Lihat pohon mangganya, daunnya pada gerak-gerak."
"Ya kan tertiup angin, bunda," jawab Dareen mendelik pada Rania.
"Dareen mau makan di sini sambil lihat hujan?" tanya Rania?"
"Bunda ambil dulu buburnya, tunggu ya ...," lanjutnya.
Rania segera mengambil bubur di kamar Dareen, lalu menyuapinya.
"Dareen senang liat hujan?" tanyanya lagi.
"Dareen mau hujan-hujanan, Bunda."
"Bunda juga mau. Nanti bunda mau main hujan-hujanan kalau Dareen udah sembuh," jawabnya.
Mereka terus berbicara tentang hujan, sampai bubur pun telah tandas dimakannya.
"Bunda, aku suka main hujan-hujanan dengan ayah. Dulu ayah pernah jatuh di sana," ujar Dareen menunjuk tempat ayahnya terjatuh.
"Iya, nanti Dareen main hujannya sama bunda aja ya."
"Sama Abah juga," jawab Dareen.
"Jangan sama Abah, kasian Abahnya udah sepuh. Nanti kalau abahnya sakit, malah bunda yang dimarahi ibu," canda Rania terkekeh.
"Dareen minum obat dulu ya, biar cepat sembuh. Katanya mau main hujan-hujanan, ya 'kan?" Rania segera meminumkan obat pada Dareen.
"Kalau misalkan nanti sore, panasnya belum reda. Bunda bawa Dareen ke dokter ya, boleh?" tanyanya lagi. Dareen mengangguk setuju.
***
Demam Dareen tak kunjung reda, akhirnya Rania membawanya ke rumah sakit. Kini dia berada di UGD menunggui anaknya yang tertidur di brangkar setelah melakukan serangkaian tes.
Pak Idris dan Bu Sekar sedang dalam perjalanan setelah di telepon Rania dua jam yang lalu. Dia juga menghubungi keluarga Ergha yang sedang berada di kampung halaman bapak mertuanya. Mereka berjanji akan pulang besok, menengok Sang cucu.
"Bu, Ruangannya sudah siap," ujar salah satu perawat UGD.
Rania segera menggendong Dareen dan duduk di kursi roda.
Raut lelah terpampang jelas di wajahnya. Menjaga anak yang sedang sakit bukanlah hal yang mudah, apalagi sendirian seperti Rania.
"Dareen," panggil seorang dokter usia awal 30 an berbadan tinggi, cukup tampan.
Rania mendongakkan kepalanya melihat siapa yang menyapa mereka.
"Dareen, kenapa?" tanyanya.
"Demam dokter, demamnya ga reda-reda," terang Rania.
Dokter tadi melihat layar di atas pintu lift, "cepet sembuh ya," ucapnya mengusap kepala Darren lalu keluar dari lift.
"Terimakasih."
Tiba di kamar, telah ada seorang ibu yang menunggui anaknya juga. Dia melihat ke arah Rania yang sedang didorong seorang perawat, Rania menganggukan kepalanya menyapa Sang ibu.
Rania segera menidurkan Dareen. Dia menatap lekat anak semata wayangnya. Bulir air mata pun terjatuh di pipi, rasa lelah yang dia rasa kini bertambah.
"Sembuhlah, anakku. Cepatlah sembuh, bunda sangat membutuhkan Dareen," gumamnya dalam hati.
Rania memegang tangan Darren yang masih terlelap, mungkin karena pengaruh obat yang diminum saat di UGD.
Rasa lapar juga kini dia rasakan. Perutnya baru terisi sarapan tadi pagi. Dia segera mengeluarkan ponselnya.
"Assalamu'alaikum," salamnya setelah lama menunggu.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya di seberang telepon.
"Mah, masih di mana? Rania lapar. Nanti kalau ke sini bawain makanan ya," pintanya.
"Iya, ini sebentar lagi sampe," ujar Bu Sekar.
"Ya udah, hati-hati ya. Rania tunggu."
Dareen terbangun mencari bundanya yang sedang berada di kamar mandi.
"Eh, anak bunda udah bangun," ujarnya begitu sampai di brangkar yang ditempati Dareen.
"Makasi ya Bu," ucapnya pada ibu pasien sebelah Dareen yang menenangkan Dareen ketika dia terbangun.
"Maaf, bunda tadi ke kamar mandi. Bunda pengen pipis dulu, masa bunda harus pipis di sini," ujarnya membuat Dareen tersenyum diantara Isak tangisnya.
"Dareen haus?" tanyanya, mengambil botol minum di atas nakas. Namum, ditolak oleh anak semata wayangnya.
"Assalamu'alaikum."
"Abah!" seru Dareen senang, dia merentangkan tangannya agar di gendong.
"Dareen kangen Abah ya?" tanya Bu Sekar. "kasian nya cucu ibu nyampe sakit ditinggal Abah."
Dareen bersandar di pangkuan pak Idris dengan tubuh yang lemas dan mata sayunya. Pak Idris mengusap-usap punggung Dareen pelan.
"Teh, makan dulu," titah pak Idris, yang melihat wajah anaknya begitu lelah.
"Iya," jawabnya segera mengambil makanan yang dikeluarkan mamanya dari tote bag.
Tak butuh waktu lama bagi Rania menghabiskan makanan di kotak makannya. Akhirnya perutnya terisi juga.
"Rania mau ke bawah dulu ya, mau beli air," ucapnya melihat air minumnya habis.
"Beliin roti juga beberapa cemilan," titah Bu Sekar.
Sementara di tempat lain, Nalendra sedang berhadapan dengan kedua orangtuanya yang tiba-tiba muncul di apartemen tempat dia tinggal.
"Kak, Ini udah dua bulan lebih," ucap Sang Ibunda. "Kakak janji mau kenalin calonnya ke ibu, nyampe sekarang belum dikenalin juga!"
Nalendra mengusap wajahnya, menghela napas. "Nanti Bu, nanti Kaka kenalin ko. Sekarang belum bisa Bu," jawab Nalendra.
"Kenapa belum bisa? emang Kaka belum bilang juga sama perempuan itu?"
"Belum, Bu. waktunya belum tepat."
"Kapan waktunya tepatnya, Kak. Nanti keburu diambil orang baru tau!" seru ibunya.
Pak Sulaiman hanya terdiam menatap Sang istri mengomeli anak sulung mereka. Kalau ikut berbicara bisa-bisa dia yang kena omel. batinnya.
"Sabarlah Bu, Aku juga lagi sabar nunggu ini," terangnya yang tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semua pada ibunya.
"Kalau gitu ibu mau ngenalin Kaka ke anak temen ibu ya," ujar Bu Shafira dengan suara yang mulai melembut.
"Apa, enggak ah!"