Treat You Better

Treat You Better
99. Pencarian



Dengan hati yang terluka, Adira meninggalkan Sindy dan suaminya itu di rumah sakit begitu saja.


Hatinya sudah hancur berkeping-keping dan entah bagaimana caranya Adira menyatukannya kembali.


Setelah berada di mobil, Adira menumpahkan semua tangisnya di sana. Sudah cukup sampai di sini dirinya disakiti dan di bohongi.


Tristan dengan mudahnya memanfaat kepercayaan yang telah Adira berikan.


Padahal, kepercayaan itu mahal harganya.


Adira menyuruh pak Yanto untuk pulang lagi ke rumahnya.


Melihat keadaan atasannya yang menyedihkan, pak Yanto memilih diam dan tidak mau ikut campur terlalu jauh.


Dia menjalankan tugasnya yaitu mengantar atasannya kembali ke rumah.


...........


Di lobi rumah sakit.


 


Setelah kepergian Adira, Tristan menatap tajam ke arah Sindy yang tersenyum mengejek ke arahnya.


“Puas kamu!” ucap Tristan penuh penekanan.


“Sangat puas. Karena Adira sudah pergi, lebih baik kamu kembali lagi denganku dan menikah denganku,” ucap Sindy yang urat malunya sudah putus.


Tristan tersenyum meremehkan mendengar ucapan Sindy.


“Kamu pikir aku sudi? Nggak sama sekali. Dasar perempuan rubah.” jawab Tristan pedas.


“Kamu jangan lupa kalau aku punya bom waktu yang akan menghancurkan hati Adira lebih parah lagi,” ucap Sindy mengancam.


“Aku sudah tidak perduli. Silahkan saja kamu kirimkan video itu,” jawab Tristan tanpa rasa takut.


Dia sudah tidak peduli lagi dengan segala ancaman yang Sindy lakukan.


Sekarang ini, yang sedang Tristan pikirkan adalah, bagaimana caranya untuk meyakinkan Adira kembali.


Setelah itu, Tristan pergi meninggalkan Sindy yang tiada henti meneriaki namanya untuk kembali.


Sindy juga mengeluarkan sumpah serapah dan ancaman yang sama sekali tidak Tristan hiraukan.


Saat akan masuk ke dalam mobil, Tristan menoleh sebentar ke arah Sindy dan melihat tubuh Sindy yang sudah di pegangi oleh beberapa petugas rumah sakit laki-laki.


"Akan lebih baik, kirimkan saja dia ke rumah sakit jiwa," pekik Tristan sebelum benar-benar pergi dari area rumah sakit


Tristan sudah tidak peduli lagi dengan wanita gila yang sudah menghancurkan hidupnya untuk yang kedua kali.


Mau depresi atau tidak, Tristan sudah tidak mau membantunya lagi.


.........


Setelah sampai di rumahnya, Adira segera menuju kamarnya dan akan mengemas semua barangnya. Dia memutuskan untuk pergi ke tempat yang jauh dan tidak bisa Tristan jangkau.


Biarlah dirinya menenangkan dirinya sendiri dahulu.


Adira mulai menata semua baju dan barang-barang miliknya untuk di taruh ke dalam koper yang telah dia siapkan.


“Aku harus cepat pergi,” monolog Adira dengan tangan yang sibuk mengemas barang-barangnya.


Air matanya sejak tadi tidak mau berhenti untuk menetes.


“Cengeng sekali aku ini,” monolog Adira lagi pada dirinya sendiri.


Setelah semua tertata rapi di dalam kopernya, Adira segera menutup koper itu dan menyeretnya keluar dari rumah yang sebenar-benarnya rumah.


Adira hanya membawa satu koper besar keluar dari rumah tempatnya tinggal.


“Selamat tinggal untuk segala kesakitan,” gumam Adira pada dirinya sendiri.


Dia berada di ambang pintu dan tidak menoleh ke belakang lagi untuk menatap seisi rumah yang dia tinggali untuk yang terakhir kali.


Untung saja, teh Ratih sedang ijin tidak masuk karena anaknya sedang sakit. Hanya ada pak satpam yang berjaga dan pak Yanto, sang sopir pribadi.


“Pak, kalau kak Tristan nanyain aku, bilang aja nggak tahu ya,” ucap Adira berpesan kepada dia lelaki paruh baya yang bekerja di rumahnya.


Tanpa bertanya panjang lebar, karena tidak mau ikut campur terlalu jauh, pak satpam dan pak Yanto hanya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah itu, Adira keluar dari rumahnya tinggal dengan menaiki taksi menuju bandara.


Dia sudah memesan tiket via online dan untung saja, ada jadwal penerbangan menuju tempat tujuannya untuk mengasingkan diri.


Adira menatap kosong ke arah luar jendela mobil yang di tumpanginya.


“Bunda berjanji, walau tanpa ayahmu, Bunda bisa membesarkanmu sendirian,” gumam Adira dalam hati.


Tidak terasa, air matanya menetes lagi jika mengingat suaminya itu.


Sudah terlalu dalam luka yang ditorehkan Tristan di hati Adira, sehingga akan sangat terasa menyakitkan bila teringat orangnya.


Adira yakin, jika dirinya dan Tristan memang berjodoh, entah ke mana dan sejauh apapun Adira pergi, pasti dirinya dan Tristan akan di pertemukan lagi.


Biarlah aku pergi mengasingkan diri terlebih dahulu.


Bila waktunya tiba, dan hatiku masih terukir namamu,


Tidak ada yang tidak mungkin untuk kita kembali lagi.


Aku hanya lelah dan ingin beristirahat sejenak.


Setelah rasa lelah itu hilang, bisa jadi aku akan kembali.


~Adira Belvina~


.........


Tristan mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan agar bisa segera sampai di rumahnya.


Dia memilih jalan tikus agar cepat sampai karena macet sedang melanda di jalanan ibu kota siang itu.


Hampir tiga puluh menit di perjalanan, akhirnya mobil Tristan sampai di rumahnya.


Tanpa menunggu lama lagi, Tristan segera berlari masuk ke dalam rumahnya.


Tristan sudah kelimpungan sejak tadi jika mengingat Adira akan pergi lagi setelah apa yang dia lakukan benar-benar tidak bisa di maafkan lagi.


Tristan mencari Adira ke setiap sudut ruangan di rumahnya, dia tidak menemukan Adira sama sekali.


Saat mencari Adira di kamarnya, Tristan juga memeriksa barang-barang Adira yang berada di lemari.


Kosong.


Lemari yang berisikan baju Adira sudah kosong tak bersisa.


Adira sudah benar-benar pergi dari rumah dan Tristan tidak tahu ke mana perginya Adira.


Belum kehabisan akal, Tristan segera keluar rumah dan mengemudikan mobilnya menuju tempat-tempat yang mungkin bisa Adira datangi.


Mulai dari halte bus, stasiun kereta api dan Tristan juga menelepon temen-teman Adira untuk menanyakan apakah mereka mengetahui keberadaan Adira.


Tristan bukannya tidak berusaha untuk menghubungi nomor Adira. Dia sudah berpuluh-puluh kali menghubunginya, Namun, nomor Adira selalu tidak aktif saat Tristan berusaha menghubunginya.


Tristan juga sudah menghubungi kedua mertua dan orangtuanya.


Adira tidak pulang ke rumah mama Dewi maupun rumah mama Siska.


“Di mana sebenarnya kamu, Ra?” tanya Tristan pada dirinya sendiri.


Tristan dilanda kekalutan dan kebingungan besar. Tubuhnya yang lelah dan lapar seakan sudah tidak Tristan pikirkan lagi.


Fokusnya kali ini adalah mencari keberadaan Adira.


Dia sudah menepikan mobilnya di pinggir jalan.


Dia segera keluar untuk membeli air mineral karena tenggorokannya terasa kering.


Setelah membelinya, Tristan bersandar di kap mobil dan mulai membuka tutup botol itu yang masih bersegel.


Tristan segera meneguk habis semua isi air di botol itu. Otaknya berpikir tempat mana yang sama sekali belum Tristan datangi.


Ting.


Tristan teringat satu tempat yang mungkin saja Adira datangi.


Bandara.


Itulah nama tempat yang terpikir di otak Tristan.


Tanpa menunggu lama lagi, Tristan segera masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bandara.


“Semoga di sana, aku bisa menemukan mu, Ra.” gumam Tristan penuh harap.