
Dua tahun kemudian.
Adira terlihat mondar-mandir di dalam kamar mandi.
Dia gelisah menunggu hasil test urinenya.
Selama dua tahun ini juga, Adira belum diberi momongan oleh Yang Maha Kuasa.
Padahal, Adira dan Tristan sudah melakukan berbagai macam program kehamilan.
Namun, sampai sekarang belum juga menemui hasilnya.
Adira begitu takut jika dirinya tidak bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri.
Setelah menunggu selama sepuluh menit, Adira segera mengambil alat test kehamilan itu.
Lagi-lagi dia kecewa dengan hasilnya.
Masih garis satu.
Adira terduduk lemas di lantai kamar mandi.
Dia merangkul kedua kakinya dan menelusupkan wajahnya disana.
Dia menumpahkan semua air matanya.
“Mengapa takdir baik belum juga berpihak kepadaku?” monolog Adira pada dirinya sendiri.
Tangis Adira semakin menjadi hingga isak tangisnya terdengar sampai kamar.
Tristan yang masih tidur, dia membuka mata dan menajamkan telinga kala mendengar suara tangisan dari kamar mandi.
Dia langsung beranjak dari ranjang dan berjalan tergesa menuju kamar mandi.
Gubrak!
Tristan mendorong pintu sangat keras hingga terdengar suara gebrakan.
Adira yang terkejut, dia langsung mengangkat kepalanya dan menatap seseorang yang masih sabar menemaninya.
“Adira ... Kamu kenapa?” tanya Tristan khawatir.
Adira menggeleng dengan air matanya yang masih mengalir. Lalu dia menyodorkan hasil test kehamilan tadi kepada Tristan.
Tristan yang sudah melihat satu garis di alat itu, langsung membuangnya ke tempat sampah dan mendekap tubuh Adira ke dalam pelukannya.
Tristan selalu lemah jika melihat air mata Adira jatuh.
Dia tidak bisa melihat Adira menangis. Hatinya selalu merasa teriris.
Kemudian, Tristan menuntun Adira menuju ranjang dan mendudukkannya di sana.
Tristan memposisikan diri duduk bersimpuh di depan Adira dan menggenggam tangan Adira.
Air mata Tristan jatuh seketika.
Dia tidak bisa menahan laju air matanya.
Adira yang melihat air mata Tristan, dia bergegas menghapusnya dengan tangannya.
“Jangan nangis, Kak hiks hiks.” ucap Adira sambil terisak.
Tristan menatap Adira dan menggelengkan kepalanya.
“Gimana aku nggak nangis, kalau tiap hari aku liat kamu nangis karena hal yang sama,” jawab Tristan.
Satu tangannya dia gunakan untuk menghapus air mata Adira.
Tangis Adira semakin menjadi mendengar pengakuan dari Tristan.
“Maafin aku ... Maafin aku ....”
Adira menggumamkan kata maaf berulang-ulang dan memeluk Tristan dengan erat.
Mereka menangis bersama dalam posisi memeluk erat satu sama lain.
Setelah tangisan mereka reda, mereka melonggarkan pelukan dan menatap satu sama lain.
Tristan berusaha tersenyum dan berkata.
“Kamu nggak perlu khawatir, Sayang. Suatu saat pasti kita akan diberi anak sama Tuhan,” ucap Tristan menenangkan.
Tangannya dia gerakan untuk mengelus pipi Adira dengan lembut.
“Bagaimana kalau aku tetep nggak bisa punya anak?” tanya Adira murung.
“Jangan berpikir negatif dong. Kamu harus yakin, kalau kamu pasti bisa. Bukan cuma kamu, tapi aku juga,” ucap Tristan memberi ketenangan untuk Adira.
Tristan mengecup sekilas bibir Adira dan melanjutkan ucapannya lagi.
“Apapun caranya akan aku usahakan supaya kita bisa punya anak,” lanjut Tristan lalu memeluk Adira lagi.
Adira tersenyum dan mengangguk di dalam pelukan Tristan.
Dia sedikit merasa lega karena Tristan tidak pernah menuntutnya.
Adira mengurai pelukannya dan menatap wajah tampan suaminya.
“Aku mandi dulu ya ... Atau kakak yang mau mandi dulu?” ucap Adira.
Wajahnya sudah kembali ceria.
Tristan tersenyum dan berkata.
“Kamu dulu. Habis ini aku mau ajak kamu makan di luar dan jalan-jalan,” jawab Tristan tersenyum manis kepada Adira.
Dia juga menatap Adira dengan penuh cinta.
Adira menggumamkan kata iya dan tersenyum. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Adira tidak terlihat lagi, Tristan mengusap wajahnya kasar.
Dia sebenarnya sangat menginginkan kehadiran anak di pernikahannya dengan Adira.
Dia kadang juga merasa lelah karena Adira selalu menangisi hal yang sama setiap harinya.
Setiap malam mereka melakukan hubungan badan dan setiap pagi, Adira selalu mengeceknya, apakah sudah hamil atau belum?
Namun, rasa cintanya pada Adira berhasil membuat Tristan kuat.
Mungkin belum saatnya mereka diberi momongan.
Mungkin Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk dirinya dan Adira.
Begitulah kira-kira pemikiran Tristan untuk menenangkan hatinya.
........
Adira dan Tristan saat ini sudah berada di mobil.
Setelah sarapan di warung bubur langganannya, mereka akan pergi mengunjungi rumah mama Siska.
Karena hari ini hari Minggu, disana pasti ada Amanda dan Doni juga.
“Aku udah nggak sabar ketemu sama ponakan cantik ku,” ungkap Adira bahagia.
Adira terlihat sangat antusias bila akan bertemu dengan anak dari Doni dan Amanda itu.
Ya, Amanda dan Doni sudah menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan yang usianya masih satu setengah tahun.
Anak Amanda begitu cantik dan lucu, sehingga Adira sangat senang bila akan bertemu dengan keponakannya itu.
Adira selalu membayangkan dirinya juga punya anak selucu keponakannya.
anaknya dan anak Amanda akan bermain bersama.
Dia juga membayangkan suatu hari nanti, dia akan di panggil dengan sebutan 'Bunda' oleh anaknya. Seperti anak Amanda yang memanggilnya bunda.
Adira juga ingin dipanggil seperti itu.
Tristan yang melihat wajah Adira yang begitu bahagia pun tersenyum dan mengacak gemas rambut Adira.
“Tersenyumlah, Sayang. Karena senyum kamu, senyum aku juga,” ucap Tristan tulus.
Dia menatap Adira sebentar dan kembali fokus dengan setirnya.
Adira balas tersenyum.
Hatinya selalu menghangat melihat Tristan begitu sabar menghadapi sikapnya yang kadang menyusahkan.
“Maafin aku selama ini ya, Kak. Aku udah banyak nyusahin banget,” ucap Adira berkaca-kaca.
Adira merasa, dirinya terlalu egois karena melakukan hubungan badan hanya karena ingin memiliki anak. Dia tidak melihat apakah Tristan terpuaskan atau tidak.
Dia merasa bersalah dengan Tristan.
Tristan yang melihat mata Adira berkaca-kaca langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Dia duduk menyerong dan menggapai tangan Adira lalu menggenggamnya.
“Untuk apa kamu minta maaf? Kamu nggak salah. Aku ngerti perasaan kamu kaya apa,” ucap Tristan sambil menatap Adira lembut.
“Aku selama ini nggak pernah jadi istri yang baik untuk Kakak. Apa aku belum terlambat untuk merubahnya?” tanya Adira.
Kepalanya tertunduk karena menyesal.
“Kita jalani semuanya sama-sama ya. Kita rubah semuanya sama-sama. Kamu harus janji, kalau kamu nggak bakalan nangis lagi saat liat hasil test pack. Kamu harus bahagia, Ra,” ucap Tristan panjang lebar.
Adira mengangguk dan berjanji.
“Iya, aku berjanji untuk selalu menjalani hidup ini sebagaimana Tuhan menakdirkan,” jawab Adira tersenyum dan memeluk Tristan erat.
Dia berjanji untuk selalu berpikir positif agar hal-hal positif masuk ke dalam hidupnya.
Setelah pelukan terurai, Tristan menjalankan mobilnya lagi menuju rumah orangtuanya.