
Adira dan Tristan sudah tiba di Bandar Udara Internasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Butuh waktu tiga jam perjalanan jalur udara dari Jakarta menuju Kupang.
Adira dan Tristan segera mencari taksi online untuk menuju resort yang sudah orang tuanya pesankan. Adira sangat bersyukur memiliki empat orang tua yang begitu mengerti dan menyayangi dirinya.
Duo mama itu memang sangat pengertian dengan keadaan dirinya. Jika Adira sudah banyak marah-marah dan gampang tersinggung, itu berarti Adira butuh liburan.
Tanpa harus meminta persetujuan dari Adira dan Tristan, duo mama itu langsung memesan tiket keberangkatan ke Nusa Tenggara Timur. Mereka juga yang telah menyewa resort untuk Adira dan Tristan beristirahat.
Setelah masuk ke dalam taksi itu, sang sopir segera menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan.
Adira menatap wajah suaminya yang seperti sedang mengalami jet lag. Kemudian, Adira langsung membawa kepala Tristan untuk berbaring di pangkuannya.
Layaknya anak kecil, Tristan langsung menurut begitu saja dan menjatuhkan kepalanya di paha Adira.
“Nanti istirahat aja kalau udah sampai resort ya, Mas. Kita jalan-jalannya mulai besok aja,” ucap Adira lembut sambil mengusap-usap rambut hitam legam milik Tristan.
Tristan terpejam merasakan tangan halus Adira membelai rambutnya. Begitu menenangkan. “Iya, hari ini kita bakal di kamar seharian,” ucap Tristan sambil tersenyum penuh arti.
Adira langsung mencubit hidung Tristan hingga Tristan meminta di lepaskan karena kesulitan bernafas. Adira kemudian melepaskannya dan langsung merengut kesal dengan tingkah suaminya.
Tristan mendongak menatap wajah istrinya dari bawah. Dan anehnya, Adira masih saja terlihat sangat cantik walaupun di lihat dari sisi mana pun.
“Kamu cantik banget sih, jadi pengen makan kamu sekarang,” ucap Tristan sambil menatap Adira dengan penuh puja. Ucapannya bukanlah gombalan melainkan tulus dan benar adanya.
Adira mengulum senyum mendengar pujian keluar dari mulut suaminya itu. Dia memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.
Tristan yang melihat Adira memalingkan muka pun langsung berkata. “Cie ... Salting nih ....” ucap Tristan menggoda.
Adira langsung tersenyum malu-malu digodai seperti itu oleh suaminya. “Apaan sih? Orang aku biasa aja,” ucap Adira mengelak.
Tidak berapa lama, mobil yang di tumpangi Adira dan Tristan akhirnya sampai di Resort tempat keduanya menginap. Keduanya keluar dan meminta bantuan sang sopir untuk mengeluarkan koper yang berada di jok belakang.
Kemudian, Tristan bertanya berapa uang yang harus dia bayar. Setelah pak sopir menyebutkan nominalnya, Tristan segera menyodorkan dua lembar uang berwarna merah kepada sang sopir.
“Terima kasih, Pak. Kembaliannya buat bapak aja,” ucap Tristan saat pak sopir terlihat mencari uang kembalian di saku celananya.
Pak sopir langsung berbinar dan mengucapkan terima kasih berulang kali karena mendapatkan rezeki yang lebih.
Setelah proses pembayaran selesai, Adira dan Tristan segera menuju ke dalam Resort. Keduanya langsung di sambut oleh orang yang bekerja di Resort tersebut.
Setelah menyuruh Tristan untuk check in, petugas Resort itu mengantarkan Tristan dan Adira menuju kamarnya berada. Saat sudah sampai di depan pintu, petugas itu pamit dan Adira mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarkan dirinya dan juga suaminya.
Tristan segera menempel kartu akses pada pintu agar bisa masuk ke dalam Resort yang akan mereka tinggali selama beberapa hari ke depan.
“Aku udah nggak sabar nih, Sayang,” ucap Tristan sambil mengerling nakal pada Adira.
Tubuhnya sangat lelah karena melakukan perjalanan selama tiga jam lamanya. “Mandinya nanti aja deh, Mas. Aku pengen tidur dulu,” ucap Adira yang sudah tidur telentang di atas ranjang king size itu. Matanya terpejam merasakan betapa nikmatnya bertemu dengan kasur.
Tristan tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Adira begitu antusias bertemu dengan kasur. Kemudian Tristan menyusul Adira untuk ikut berbaring di sebelahnya.
Adira membuka matanya karena merasakan getaran hebat di sebelahnya. Kepalanya meneleng dan melihat suaminya juga ikut berbaring di sampingnya. Adira tersenyum menatap suaminya itu.
Adira merasa bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Adira ingin kebahagiaannya berjalan terus sampai nanti maut memisahkan. Apalagi di rumah ada dua bocah lucu-lucu yang selalu membuat hari-hari Adira menjadi lebih berwarna.
Ada saja tingkah yang kedua bocah itu lakukan. Membicarakan tentang mereka, Adira jadi rindu dengan kedua anaknya itu.
“Aku makin ganteng ya, saat merem?” tanya Tristan percaya diri dan tersenyum menyebalkan. Entah sejak kapan, Tristan sudah memangku kepala sambil menatap Adira.
Lamunan Adira langsung buyar karena suara Tristan yang mengagetkan. “Iya, suami aku memang yang paling ganteng sedunia,” jawab Adira agar Tristan merasa puas.
Adira kemudian beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu yang mengarahkan menuju balkon. Saat Adira membuka pintu, matanya langsung ter manjakan dengan pemandangan pantai di depannya.
Adira juga baru tahu jika pintu yang habis dia buka juga menghubungkan dengan kolam berenang. Adira terpejam dan merentangkan kedua tangannya merasakan embusan angin pantai yang sangat sejuk itu.
Grep.
Adira merasakan ada tangan kokoh yang memeluk pinggangnya. Siapa lagi pelakunya, jika bukan suaminya sendiri.
“Kamu suka, Sayang?” tanya Tristan sambil melabuhkan kecupan di tengkuk Adira. “Suka banget, Mas. Kita harus berterima kasih sama mama sama papa di rumah,” ucap Adira yang langsung teringat pada orang yang berjasa atas liburannya kali ini.
Adira dan Tristan langsung menepuk jidatnya berbarengan. Sedetik kemudian, mereka langsung tergelak mengingat hal yang wajib dilakukan malah mereka lupakan.
Adira segera berlari masuk ke dalam kamar untuk mencari ponselnya. Setelah menemukannya, Adira segera mendial tombol hijau untuk menghubungi mamanya yang berada di Jakarta.
“KENAPA BARU TELEPON!”
Suara mamanya langsung terdengar melengking di seberang sana. Adira langsung menjauhkan ponsel dari telinganya karena merasakan telinganya berdenging setelah mendengar lengkingan dari mamanya.
Setelah berbincang sebentar dan mengatakan sudah sampai dengan selamat, Adira menutup panggilannya. saat tubuhnya berbalik untuk keluar lagi menuju balkon, mata Adira langsung terpana melihat suaminya yang sudah masuk ke dalam air dan sudah berenang ke sana ke mari.
Tristan muncul lagi ke permukaan dengan rambut basah dan menetes ke mana-mana. tubuhnya juga basah dan terlihat berkilau karena terkena pancaran sinar matahari.
Tanpa menunggu lama, Adira segera mengganti bajunya dengan baju renang. Setelah selesai berganti, dia segera berlari kecil untuk ikut menyusul suaminya berenang.
Byur!
Adira langsung menyeburkan dirinya ke dalam kolam. Tubuh Adira merasakan dingin sekaligus segar dalam kolam itu.
"Woah! my trip my adventure!" pekik Adira girang yang berhasil membuat Tristan tergelak mendengar Adira mengucapkan kalimat yang seakan-akan dirinya tengah menjadi host di acara yang selalu ditayangkan di TV nasional Indonesia.