Treat You Better

Treat You Better
Fakta baru.



Adira terkekeh menanggapi. Hanya sebuah mie instan dan Tristan ingin dibuatkan lagi.


“Emang bikin sendiri nggak bisa?” ucap Adira sambil mencuci mangkok dan panci kotor.


“Bisa. Cuma kalau kamu yang bikin tuh rasanya beda” ucap tristan sambil memeluk Adira dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Adira.


“Geli kak haha” ucap Adira sambil tergelak karena merasakan geli pada lehernya.


“Masa sih?” Jawab Tristan masih belum juga beranjak dari kegiatannya.


“Ih .. malu kak kalau nanti sampai dilihat yang lainnya” ucap Adira. Entah kemana perginya asisten rumah tangga di rumah Tristan. Sejak berada di dapur, Adira belum melihatnya sama sekali.


“baiklah” ucap Tristan namun tak kunjung melepaskan Adira hingga Adira selesai melakukan mencuci.


“Ya Tuhan.. mata suci ku hari ini telah ternodai” ucap suara tersebut dengan lantang.


Adira dan Tristan sontak mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.


Dan mereka sudah melihat Doni yang berdiri tidak jauh dari mereka sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


“Ganggu aja Lo” ucap Tristan mendengus kesal.


“Di ruang tv, gue liat orang pacaran, nengok sedikit ke teras belakang, gue liat orang pacaran. Dan sekarang, gue melarikan diri ke dapur.... Tetep aja liat orang pacaran” ucap Doni panjang lebar dengan wajah nelangsa.


Tristan dan Adira langsung tertawa terbahak melihat si jomblo akut satu ini.


“malah ketawa. Niat awal mau jenguk orang sakit, yang ada malah jenguk orang pacaran” omel Doni lagi kesal.


“semoga hamba-Mu ini kuat menahan godaan syetan yang terkutuk ya Allah” ucap Doni lagi sok suci


“Ya udah, main kemana gitu yuk. Mumpung lagi kumpul gini nih” ucap Tristan bernegoisasi.


“Kakak kan belum pulih sepenuhnya. Nanti aja kalau udah pulih lah” ucap Adira khawatir.


“nggak jangan sekarang. Sekarang waktunya memeras Azka hahaha” ucap Doni dengan senyum liciknya dan pergi meninggalkan Adira dan Tristan.


Adira menautkan kedua alisnya bingung. Apakah Doni sekarang beralih profesi jadi tukang palak?.


“maksud Doni tuh mau minta traktiran” ucap Tristan yang mengerti akan kebingungan Adira.


“Oooooh... Ya udah kalau gitu aku ikutan” ucap Adira dengan mata berbinar.


“kak Doni tunggu. Kita malak bareng-bareng” teriak Adira sambil berlari mengejar Doni ke arah teras belakang.


Tristan ingin menghentikan Adira namun kalah cepat. Karena Adira suda berlari dan Tristan tidak bisa mencegahnya. Tristan menghembuskan nafasnya pelan.


Jika sudah urusan makanan, bagaimanapun caranya Adira akan lakukan. Padahal baru tadi mereka makan mie instan.


Sungguh perut Adira terbuat dari karet sungguhan kayaknya.


..........


“Enaaak...” ucap Adira dengan mulut penuh oleh pizza.


Doni dan Adira benar-benar merealisasikan keinginanya untuk memalak Azka.


Mereka merengek meminta dibelikan makanan. Jadilah Azka memesan banyak sekali pizza untuk teman-temannya.


“Cobain yang ini deh Ra” ucap Lidya sambil menyodorkan pizza beda rasa dengan yang Adira makan.


“Iya enak banget... Tapi tetep papperoni paling enak” ucap Adira sambil mengacungkan jari jempolnya.


Tristan yang berada di sebelahnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Adira sudah menghabiskan tiga potong pizza dan belum juga berhenti untuk tidak makan.


“Lumayan lah. Makan siang enak dan gratis” ucap Amanda dengan senyum mengembang.


“Makan yang banyak. Kalau kurang nanti pesan lagi” ucap Azka sang tuan traktir.


“Siap 86!! Doni siap melaksanakan tugas menghabiskan makanan” ucap Doni penuh semangat dan masih dengan mulut penuhnya.


Tidak berbeda dengan Doni, Vian dan Kinara juga sangat menikmati makanan tersebut. Mereka hanya makan dalam diam.


“Euugrrr” sendawa Vian setelah kenyang.


“Jorok Lo. Tutup Napa tu mulut” ucap Tristan kesal.


“gue jadi nggak selera makan nih” ucap Doni dengan wajah kesal.


Sedangkan Vian acuh tak acuh dengan protes itu.


“itu sih bukan nggak selera. Tapi kenyang iya” ucap Amanda menimpali.


“Lo doyan apa laper sebenarnya?” tanya Azka kepada Doni.


Yang di semprot hanya bisa cengengesan. Memang benar , kalau nggak selera harusnya nggak makan banyak dong.


“Tau nih kak Doni. Sok nggak selera tapi sendiri nya yang paling rakus” ucap Adira menanggapi.


Akhirnya Doni mendapat sorakan dari semua teman-temannya.


........


Setelah selama satu minggu berada di tahanan, Elvan sudah mulai berdamai dengan keadaan. Dia juga selalu berbaur dengan para tahanan lainnya


Untung di tahanan tersebut tidak seperti di film-film yang kalau ada penghuni baru langsung di kerjain. Atau mungkin dihajar oleh yang lainnya.


Mereka seakan tidak perduli dengan urusan masing-masing yang membuat mereka berada di tempat tersebut. Yang terpenting adalah kebersamaan mereka.


“Elvan.. ada yang ingin bertemu anda.” Ucap salah satu polisi yang berjaga sambil membuka gembok.


“siapa pak?” tanya Elvan penasaran.


“katanya bapak kamu” ucap polisi tersebut.


Elvan langsung keluar diikuti polisi tersebut setelah sang polisi berhasil membuka gembok dan menguncinya lagi.


“Kamu.. malu-maluin papa. Nggak pantes kamu berbuat seperti itu. Kemana akal kamu. Nggak ada otak kamu!” ucap papa Elvan dengan nada datar namun sangat tajam mengenai hati Elvan.


Elvan hanya bisa tertunduk tanpa bisa membalas ucapan papanya. Memang benar, dia manusia terbodoh yang hidup di bumi ini.


“Mau taruh dimana muka papa di depan teman-teman papa. Dasar anak nggak berguna. Bisanya nyusahin orang tua. Jangan harap papa akan menebus kamu. Kamu harus jalani hukuman ini sepenuhnya. Biar kamu tau rasa dan dapat pelajaran” ucap papa Elvan lagi dengan menggebu.


Elvan rasanya ingin menangis. Memang perbuatanya tidak dibenarkan. Namun dia juga butuh dukungan dari keluarganya agar dia bisa menjadi lebih baik lagi.


Tapi apa yang Elvan dapat? Hanya makian dari papanya. Elvan merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi.


Semua selalu meninggalkannya.


Soal Adira? Ingin sekali Elvan bertemu dengannya walau hanya sekali saja. Dia ingin meminta maaf walau mungkin maafnya tidak akan mengembalikan semua seperti semula.


Dia juga ingin meminta maaf kepada Tristan yang tidak bersalah apa-apa.


Elvan benar-benar menyesali perbuatannya. Biarlah dia menjalani hukumannya berada di penjara.


Ini lebih baik daripada dia menjalani hidup seperti biasa namun tetap merasa sendiri.


Dia sudah mulai terbiasa dengan kegiatan di balik jeruji besi ini.


Tidak hanya berada dalam kurungan, di penjara ini, para tahanan di biasakan untuk sholat lima waktu, membersihkan lingkungan, dan kegiatan sosial lainnya.


Walaupun kegiatannya masih di dalam area tahanan. Namun bagi Elvan, itu adalah sebuah jalan kebaikan.


Dia bertekad untuk merubah sikapnya yang buruk. Dan di dalam penjara ini, Elvan yakin dia bisa berubah menjadi lebih baik.


“Kamu nggak mau bicara sama papa? Diam terus dari tadi” ucap papa elvan menyesal. Walau bicaranya pedas, dia tetap menyayangi Elvan.


Semenjak istrinya meninggal dan Elvan berubah menjadi pendiam, papa Elvan malah menjadi kurang perhatian dan seperti mengacuhkan Elvan.


Apalagi setelah tau bahwa Elvan bukan anak kandung nya melainkan anak dari selingkuhan istrinya.


Papa Elvan merasa sakit hati setiap melihat wajah Elvan. Karena wajahnya mirip sekali dengan mendiang istrinya. Itulah yang membuat papa Elvan tidak terlalu mempedulikan Elvan.


Rasa kecewa, sakit hati dan marah seakan telah menguasainya.


Elvan belum mengetahui kebenaran itu. Rasanya papa Elvan tidak sanggup untuk memberi tahu. Dia juga menyesal telah memperlakukan Elvan dengan tidak layak.


Namun, setiap kali melihat wajahnya, sakit hatinya seakan menganga kembali.


Randy sudah mengetahui semuanya. Namun dia juga enggan untuk memberi tahu. Dia tidak tega dan tidak mau Elvan sampai pergi meninggalkan rumah.


“Elvan...” ucap papa Elvan.


“Maafin papa. Papa belum bisa jadi papa yang baik buat kamu” ucap papa Elvan penuh penyesalan.


Kata makian yang keluar tadi seakan telah menyakiti hatinya sendiri. Padahal dia yang mengatakannya, tapi dia yang tersakiti pula.


Dulu dia sangat menyayangi Elvan sama seperti kasih sayangnya kepada Randi, tapi setelah tau kebenarannya, semua seakan berubah.