Treat You Better

Treat You Better
115. Sholat berjamaah perdana



Setelah melakukan perjalanan selama satu setengah jam, akhirnya mereka semua sampai di Jakarta.


Mereka sudah berada di kediaman keluarga Wijaya termasuk bu Dewi dan pak Irawan.


Sedangkan pak Hendra dan bu Siska, mereka sudah berangkat ke Bandung untuk menyusul Amanda dan Doni yang sudah dibawa ke rumah sakit terdekat.


Sekarang ini, belum ada kabar yang pasti dari pak Hendra maupun bu Siska. Semua menunggu kabar tentang Amanda dan Doni. Berharap mereka berdua baik-baik saja.


Para sahabatnya, Lidya, Kinara, Azka, dan juga Vian, mereka sudah dikabari tentang kecelakaan yang menimpa Amanda dan Doni.


Kinara dan Lidya hanya bisa mendoakan dari rumah semoga Amanda dan Doni baik-baik saja. Sedangkan Azka dan Vian, mereka segera menyusul ke Bandung untuk menemani kedua orangtua Tristan dan mengurusi semua administrasi di sana.


“Nda?” ucap Echa tiba-tiba saat berada di pangkuan Adira.


Adira menggercapkan matanya berulang-ulang agar air matanya tidak jatuh di depan Echa.


“Bunda?” tanya Adira dengan nada lembut. Echa mengangguk dengan mimik wajah lucunya.


Adira semakin tidak tega melihat wajah polos Echa yang entah untuk keberapa kali Echa menanyakan bunda dan ayahnya.


“Echa sabar ya. Besok bunda pasti pulang. Sekarang Echa bobok dulu, oke?” ucap Adira memberi pengertian dengan lembut.


Adira tidak mungkin mengatakan kepada Echa bahwa kedua orangtuanya sekarang ini sedang melawan maut di rumah sakit.


Adira juga tidak tahu harus menjelaskan atau mencari alasan agar Echa kembali tenang.


Sepertinya, perasaan seorang anak kepada kedua orangtuanya memang sangat kuat. Echa seakan mengerti bahwa kedua orantuanya sedang tidak baik-baik saja di sana.


“Echa mau nda, Yayah,” ucap Echa yang mulai menampakkan wajah murungnya.


Tristan yang sedang berada di dekat mereka pun tidak bisa menahan kesedihannya.


Hatinya begitu hancur mendengar permintaan Echa yang tidak mungkin Tristan kabulkan untuk sekarang ini.


“Nanti ya, Echa. Sekarang Echa bobok dulu sama Onty Rara, oke?” ucap Tristan lembut, dan mencoba untuk membantu membujuk Echa.


Pasrah. Echa akhirnya mengangguk menuruti dan meminta di gendong menuju kamar bundanya, Amanda.


Tristan yang bertugas menggendong Echa karena tidak memungkinkan bila Adira yang menggendongnya dengan keadaan hamil besar seperti itu. Pasti akan sangat sulit melakukannya.


Setelah Echa di baringkan di atas ranjang, Adira dan Tristan tidur di sebelah Echa dengan Echa berada di tengah-tengah.


“Yuk bobok, entar sama Om biar di beliin ice cream. Iya nggak, Om?” ucap Adira meminta bantuan Tristan agar Echa segera tidur.


“Iya dong. Kalau mau ice cream harus bobok dulu,” jawab Tristan yang mengikuti permainan Adira.


Setelah itu, Echa terlihat memejamkan matanya dan perlahan, dengkuran halus dari Echa mulai terdengar menandakan bahwa Echa sudah benar-benar tidur.


Adira bisa bernafas dengan lega. Dia langsung duduk dan menatap suaminya yang juga sudah terduduk.


“Semoga semua baik-baik saja ya, Ra,” ucap Tristan lirih.


“Semua akan baik-baik saja, Kak. Rencana Allah pasti lebih indah,” jawab Adira mencoba menenangkan Tristan dan dirinya sendiri.


Pasalnya, Adira tidak yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Dia mempunyai firasat yang kurang baik tentang Doni dan Amanda.


Tapi Adira berharap, firasatnya tidaklah benar dan hanya perasaannya saja yang terlalu berlebihan.


“Apa papa udah kasih kabar lagi?” tanya Adira memastikan.


Tristan menggeleng lemah dan menjawab.


“Belum sama sekali,” jawab Tristan sambil menunduk.


Adira mencoba memahami perasaan suaminya itu. Dia juga merasa ketakutan akan kehilangan kedua adik iparnya.


Tapi, Adira mencoba untuk tenang dan berpikiran positif. Mungkin kecelakaan ini sudah menjadi kehendak Tuhan.


Kita sebagai manusia mungkin sudah merencanakan semuanya. Tapi, Tuhan lah yang Maha Tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tuhanlah penentu segalanya.


Beberapa menit hening, suara azdan Dzuhur terdengar dari masjid.


Tristan segera tersadar dari lamunan dan menatap Adira lembut. Kemudian Tristan berkata.


“Kita sholat berjamaah ya, Ra,” ucap Tristan lembut sambil menatap mata Adira.


Sholat?


Adira saja sampai lupa kapan terakhir kali dirinya sholat. Adira merasa, dia telah melupakan Tuhan yang telah membuatnya hidup sampai sekarang.


“Ayo kita rubah sama-sama hidup kita. Kita bisa memulainya dengan memperbaiki sholat kita,” ucap Tristan yang memahami bahwa Adira tampak ragu.


Adira sampai tidak bisa berkata-kata mendengar penuturan Tristan yang begitu puitis.


Dia terpana dengan perubahan Tristan yang mau memperbaiki diri.


Tanpa rasa ragu, Adira mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan Tristan.


Adira tidak perlu merasa khawatir karena dia masih ingat gerakan dan doa dalam sholat. Walau sudah tidak pernah melakukannya, Adira masih sangat ingat.


Bisa di bilang, ini adalah sholat berjamaah perdana yang Adira lakukan bersama suaminya setelah menikah.


Dulu, mereka tidak pernah melakukan sholat walau sendirian apalagi berjamaah.


Setelah itu, Tristan turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Adira mengikuti dari belakang dan melakukan hal yang sama ,yaitu berwudhu.


Setelah keluar dari kamar mandi, Adira baru tersadar bahwa dia tidak membawa mukenanya yang berada di rumah. Mukena itu juga menjadi mahar di hari pernikahannya.


“Aku baru ingat kalau aku nggak bawa mukena,” ucap Adira ragu-ragu karena melihat Tristan sudah bersiap dengan memakai Koko dan sarungnya.


“Amanda punya. Aku akan ambilin,” jawab Tristan sambil tersenyum ke arah istrinya itu.


Tristan segera berjalan mendekati lemari yang dulu menjadi lemari Amanda. Sekarangpun masih menjadi milik Amanda. Ada beberapa baju dan barang Amanda yang masih di simpan di dalam lemari tersebut.


Setelah apa yang dicarinya berhasil ditemukan, Tristan segera mengangsurkannya kepada Adira. Adira menerima mukena yang diberikan oleh Tristan dan segera memakainya.


Setelah selesai memakai dan sajadah sudah digelar, Tristan memimpin sholat dan mulai melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Adira merasa terharu dan bahagia bisa melakukan sholat jamaah bersama suaminya. Entah sudah sejak kapan Tristan melakukan sholatnya kembali.


Dulu waktu dirinya dan Tristan menikah, Tristan tidak pernah melakukan sholat lima waktunya. Yang Adira tahu, paling Tristan hanya melakukan sholat Jumat saja.


Saat sholat sudah berada di penghujung dengan penanda salam, Adira segera memohon berdoa memohon ampunan kepada Tuhan Pencipta semesta alam.


Setelah itu, dia berdoa untuk keselamatan orangtuanya. Tidak lupa, adira juga mendoakan untuk kesembuhan dan keselamatan Doni dan Amanda.


Setelah doa selesai, Adira meminta telapak tangan Tristan untuk dia cium punggung tangannya.


Setelah punggung tangannya di cium, Tristan mencium kening Adira dengan sayang.


Akhirnya, Adira bisa kembali lagi ke dalam pelukannya. Tristan sangat bahagia akan hal itu. Apalagi, Adira mau di ajak sholat berjamaah dengannya. Sesuatu hal yang sangat di tunggu-tunggu akan terjadi dan akhirnya terjadi juga.


Mulai saat ini, Adira akan berusaha melakukan kewajibannya lagi kepada Tuhan.


Entah datang dari mana, hatinya merasa mulai terbuka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Adira tidak perlu menunggu hidayah dari Allah SWT.


Bukankah hidayah itu harus di jemput?


“Kakak sejak kapan sholat lagi?” tanya Adira sambil melepas mukenanya.


“Sejak di tinggal kamu kabur,” ucap Tristan sambil mencolek hidung mancung Adira.


“Oh ya?” tanya Adira merasa tidak percaya.


Tristan mengangguk dan tersenyum simpul melihat wajah tidak percaya Adira terpampang nyata.


“Aku sadar, aku sudah terlalu jauh dengan Allah. Makanya aku dijauhkan dari kamu. Lalu aku mencoba mendekati Allah lagi. tanpa di duga, Allah begitu mudah mendekatkan aku dengan kamu lagi,” ucap Tristan puitis.


Adira tersenyum dan langsung memeluk suaminya itu. Dia sangat bahagia, keputusannya untuk kembali lagi dengan Tristan memang sudah tepat.


Adira percaya, bahwa Tristan pasti akan berubah menjadi lebih baik lagi.


Semoga setelah badai yang datang menghadang, Adira berharap dirinya dan Tristan bisa mengambil pelajaran yang ada.


Dan Adira juga berharap semoga kedepannya, bila badai itu datang lagi, mereka bisa menaklukkannya bersama-sama.


Bersama Tristan, Adira akan mengarungi lautan rumah tangganya kembali.