
Happy reading!😊
.
*****
Semua siswa berkerumun di halaman sekolah setelah bel istirahat berbunyi. Teriakan-teriakan histeris siswa perempuan memekakkan telinga.
"Ada apa?" tanya Abbie bingung.
"Mana aku tahu, D'alejjandra." Izzy mendesah kesal.
Jiwa-jiwa penasaran mereka berdua meronta dan mendekati kerumunan itu.
"Oh my God, Abbie. Ada pa-..." Izzy langsung menutup mulutnya tatkala melihat siapa yang ada di tengah kerumunan itu. "Pria itu?" gumamnya.
Abbie hanya terdiam. Ia muak melihat wajah anak baru itu. Bukan orang yang pantas dipuja kalau mereka tahu siapa pria rupawan itu.
Bast*rd.
Satu kata yang mewakili semua perasaan Abbie sekarang.
Segera ia berlari menjauhi Izzy untuk mencari seseorang. Jantungnya berdegup tak karuan bersamaan dengan langkah lebarnya membawanya ke suatu tempat.
"Kau di mana, Charles?" bisiknya di dalam sana.
Tak lama kemudian, ia tersenyum. Tapi, rasa khawatirnya belum juga terobati.
I found you.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil membalikkan badan pria itu.
"Apa maksudmu?"
Pria itu bingung, wajah panik Abbie membuatnya penasaran. "Apa yang terjadi?"
"Baiklah. Kau tidak apa-apa."
Ia baru bisa menghembuskan napas lega sekarang setelah memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi pada pria itu.
"Kau belum menjawabku, Nona."
"Itu...itu...Ada pria yang bertemu kita semalam di sekolah ini. Aku takut kau dihajarnya."
Ia mengucapkan kalimat itu dengan terbata-bata sambil memalingkan wajahnya. Pipinya memerah sekarang.
Charles terkekeh.
"Kami baru saja berpapasan."
Jawaban santai dari pria itu membuat Abbie melotot.
"Apa? Apa yang dikatakannya padamu?"
"Tidak banyak. Dia hanya memastikan perihal semalam." Bukan hanya pipinya yang merah sekarang, tetapi seluruh wajahnya bahkan sampai ke telinganya. Ia malu mengingat kejadian semalam.
"Lalu?" Ia penasaran. Sangat.
"Aku menjawabnya seperti yang terjadi semalam." Ia tersenyum tipis.
Abbie segera memalingkan wajahnya ketika ia merasa Charles memperhatikannya lamat-lamat.
"Kenapa? Kau mengkhawatirkanku?" tanya Charles menggodanya.
"Aku memang mengkhawatirkanmu, bodoh. Aku takut kau tidak bisa mengikuti olimpiade itu nanti."
Jawaban gadis itu membuat senyuman Charles yang awalnya seluas samudera kini hanya menyisakan seulas senyum tipis.
Jawaban yang membuat Charles seperti tertampar untuk kembali ke alam sadarnya dari mimpi-mimpi indahnya.
"Memangnya apa yang kau khawatirkan? Siapa dia?"
"Bukan siapa-siapa. Aku akan memberitahumu nanti."
"Janji?"
Abbie mengangguk.
*****
"Kau kemana saja tadi?"
Izzy yang penasaran dengan kepergian tiba-tiba Abbie tadi membuka mulutnya setelah menelan sesuap makanan.
"Ke suatu tempat."
Izzy makin penasaran.
"Mencari si cupu itu?"
Hah! Bagaimana Izzy tahu?
Izzy terkekeh melihat perubahan wajah Abbie.
"Jadi benar ya!"
"Benar apanya, sialan?"
Abbie geram sendiri memperhatikan tingkah teman di depannya ini.
"Yang semmpphhh---" belum selesai Izzy menyelesaikan kalimatnya, tangan Abbie sudah secepat kilat membekap mulutnya.
"Hentikan, sialan!"
"Hei nona Abigail, pipimu bahkan sudah memerah sekarang," ejek Izzy lagi setelah tangan Abbie melepaskannya.
"Kau mau mati, ya?"
"Hahaha...Kau menggemaskan, Abbie."
"Kau tahu, semalam aku pangling melihat penampilannya. Ternyata dia sangat tampan tanpa kacamatanya itu." Izzy sengaja memancing perasaan Abbie pada pria itu.
"Cih...Kau tidak malu ya? Kau sudah punya kekasih sekarang, tapi masih membicarakan pria lain." Ia mulai kesal.
"Oh, aku hampir saja melupakannya. Siapa pria itu?" ujar Izzy setelah tawanya sedikit reda.
"Kenalan lama."
Izzy hanya mengangguk. Ia merasa topik ini membuat Abbie sedikit muram sehingga ia tak melanjutkan banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan semenjak kejadian tadi malam.
Abbie menjadi banyak diam sejak percakapannya dengan Izzy berakhir. Ia masih sangat sensitif bila pembicaraan mengenai pria berambut putih itu dimulai.
Selesai bimbingan seperti biasanya, keduanya keluar beriringan dari kelas. Keterdiaman Abbie membuat Charles sedikit ragu memulai pembicaraan. Ia takut menyinggung gadis itu.
Ia mengikuti langkah gadis itu ke luar. Sesampai di tempat parkir, ia melenggang pergi.
"Tunggu!"
Sebuah suara menghentikannya. Segera ia membalikkan badannya.
"Ikutlah bersamaku!"
"Tidak. Aku akan pergi ke tempat kerjaku terlebih dahulu," tolaknya dengan alasan itu agar tidak mengganggu gadis itu.
"Aku akan mengantarmu." Ia tetap bersikukuh pada pendiriannya.
"Aku tidak ingin merepotkanmu."
"Aku ingin melakukannya."
"Tapi aku tidak mau."
"Kau membuatku kesal, Charles. Kemarilah sebelum aku memukul kepalamu itu."
"Kau suka sekali mengancam ya," sahut Charles dan mendekat ke arahnya.
*****
"Oh...Jadi, kau bekerja di toko rotinya mommy Zamora?" tanya Abbie setelah menghentikan mobilnya di depan sebuah toko kue yang sangat ia kenali.
"Kau mengenalnya?"
Abbie tersenyum.
"Tentu saja."
Charles memanggut-manggut.
"Terima kasih atas tumpangannya. Aku masuk dulu."
Baru beberapa langkah Charles beranjak, gadis itu turun mengikutinya.
"Holla, Metti. ¿Cómo estás? (Apa kabar?)" sapa pria itu sambil tersenyum pada gadis bermanik biru safir di meja kasir ketika melewatinya.
"Seperti yang kau lihat, Charlie," sahut gadis itu, tersenyum manis membalas sapaannya.
Seorang gadis yang baru masuk itu terperangah mendengar Metti menyebut nama kecil milik Charles. Apalagi senyum manisnya yang ia persembahkan untuk pria itu.
Mereka akrab rupanya.
Ia merasa tersaingi sekarang.
Akhh...Belum apa-apa aku sudah merasa ingin membunuh gadis sialan itu.
"Eh...Nona D'alejjandra!" pekik Metti kaget melihat seseorang yang melewati mejanya.
Abbie melengos melewatinya dan berjalan naik ke atas menuju ruangan atasannya.
"Charlie, apa kau datang bersamanya?"
"Siapa?"
"Nona D'alejjandra."
"Ya. Kenapa?"
"Tidak. Aku hanya terkejut saja melihatnya ada di sini."
Kalimatnya sedikit lirih namun ia menutupinya dengan senyuman lebarnya.
"Oh...Apa Frank sering ke sini?" tanya Charles pada gadis itu.
Gadis itu tersenyum lemah. Tak tahu apa yang dirasakannya sekarang, tapi Charles melihat kehampaan di binar matanya.
"Beberapa hari ini tidak lagi."
"Cihh...Si tengik itu sudah mulai sadar rupanya," gumamnya tapi masih didengar Metti.
"Apa?"
"Tidak. Aku hanya berpikir sekarang dia sudah mulai bisa memanfaatkan waktu yang ada rupanya."
Gadis itu terkekeh. Ia tahu Franklyn adalah tipe orang melakukan apapun semaunya. Tak pedulikan waktu yang ia miliki.
"Sepertinya memang begitu."
Tiba-tiba saja ada sedikit rasa takut dalam diri Metti. Ia melihat dengan jelas raut muka tidak suka Abbie pada dirinya tadi setelah mendengar percakapan akrabnya dengan Charles. Memang tadi ia sengaja sedikit berakting agar tahu sejauh mana yang akan dilakukan Abbie.
Ia saja sedikit gugup ketika menyebut nama kecil Charles yang tidak pernah ia sebut sama sekali. Namun, kegugupannya itu langsung hilang ketika melihat senyum ramah Charles. Dan benar saja, Abbie terlihat tidak suka dengan itu.
Rasanya sekarang Metti ingin menangis saja. Ada gadis yang menyukai Charles selain dirinya dan sekarang pria yang tiap hari merayunya dengan setangkai bunga mawar merah kini menghilang setelah mengantarnya pulang malam itu. Ada sedikit rasa kecewa dalam dirinya ketika ia tak menjumpai Frank sesudah ia mengacuhkan pria itu.
"Holla, mi amor. Te echo de menos. (Aku merindukanmu)."
Sebuah suara yang sangat dirindukannya memanggilnya, mengatakan merindukan dirinya.
Rasanya ia melayang sekarang.
.
*****
.
Ig @xie_lu13