
Tristan menatap nanar kepergian Adira dari rumah mereka.
Dia bingung harus mencegah atau membiarkan Adira pergi begitu saj.
Padahal, tujuan awal dia pulang adalah untuk bertanya alasan pertemuan Elvan dan Adira.
Tapi, Tristan sudah terbawa emosi dulu sebelum mendengar cerita dari Adira secara utuh.
Tristan berusaha mencerna ucapan Adira yang mengatakan dirinya akan menyesal.
“Apa aku sudah keterlaluan?” tanya Tristan pada dirinya sendiri.
Adira menatap segala isi rumahnya dengan sedih.
Rumah yang ditinggalinya bersama Tristan, rumah yang sudah dua tahun ini begitu meninggalkan banyak kenangan, Adira harus meninggalkan rumah itu.
Adira belum tahu kapan dia akan kembali lagi.
Dia menangis melihat setiap sudut ruangan yang seakan meninggalkan jejak tawa bahagia dirinya dan Tristan dulu.
Adira sangat mencintai Tristan lebih dari apa pun.
Tapi, rasa kecewa karena ucapan Tristan membuat Adira memilih pergi untuk sementara.
Adira ingin memberikan ruang untuk dirinya sendiri dan Tristan, agar saling introspeksi diri.
Setelah sampai di ambang pintu, Adira berbalik demi bisa memindai seluruh ruangan di dalam rumahnya yang pastinya akan sangat Adira rindukan.
Dia menyeka air matanya yang sedari tadi deras mengalir.
“Maaf, aku harus menenangkan diri dulu. Setelah ini mungkin aku akan kembali,” ucap Adira yang ditujukan untuk Tristan.
Ya, walaupun Tristan tidak mungkin mendengarnya.
Adira berharap, Tristan akan menyusul dan mencegahnya untuk pergi.
Tapi, saat Adira sudah sampai ambang pintu, Tristan tidak menampakkan batang hidungnya.
Dia menghela nafas dan berbalik, kemudian dia menarik kopernya keluar dari rumahnya sendiri.
.........
“Mau ke mana Neng?” tanya sang sopir taksi yang membawa Adira.
“Bentar Pak. Saya cari penginapan yang dekat sini dulu,” ucap Adira sambil sibuk dengan ponselnya.
Sang sopir mengangguk menanggapi.
Beruntung, Adira masih punya uang di tabungannya.
Selain transferan dari Tristan, Adira juga masih mendapat transferan dari papanya.
Membicarakan tentang papa, Adira jadi teringat dengan kedua orang tuanya.
Sedang apa mereka?
Apa perjalanan bisnis keduanya lancar?
Adira merindukan kedua orang tuanya.
Adira tidak ingin menceritakan masalah yang sedang dihadapinya kepada kedua orang tuanya.
Dia tidak mau membuat orang tuanya pulang hanya karena dirinya.
Beginilah kalau sudah menjadi orang dewasa. Kita akan kehilangan tempat untuk bercerita.
“Kenapa aku nggak nginep di rumah mama aja ya. Nanti kan aku bisa telepon,” ucap Adira mendapat ide di mana dia akan menginap.
“Pak, ke perumahan Paspampres aja, Pak,” ucap Adira memberi tahu.
“Baiklah, Neng.” jawab sang sopir.
Setelah setengah jam, akhirnya taksi yang dikendarai Adira sampai di depan rumah orang tuanya.
Adira segera membayar taksi dan masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Ada asisten rumah tangga dan satpam yang menjaga rumahnya selama orang tuanya melakukan perjalanan bisnis.
Saat Adira memasuki rumahnya, bik Yati yang memang belum tidur, melihat Nona mudanya datang membawa koper besar pun mengernyit bingung.
Namun, bik Yati memilih diam dan tidak mau ikut campur terlalu jauh.
“Eeeeh ... Non Adira kesini sama siapa?” sapa bik Yati ramah.
Adira tersenyum tipis. Lalu dia menjawab,
“Sendiri, Bik. Tolong bantuin bawa koper saya ke atas ya, Bik,” ucap Adira meminta tolong dengan sopan.
Wajahnya sudah terlihat murung mendengar pertanyaan bik Yati.
Baru satu jam Adira meninggalkan rumah, dia sudah rindu sekali dengan suaminya itu.
Mata Adira mulai berkaca-kaca mengingat soal Tristan.
Bik Yati yang melihat perubahan mimik wajah Adira pun memilih bertanya.
“Non Adira kenapa? Apa ada masalah?” tanya bik Yati khawatir.
Adira menggeleng dan berusaha tersenyum.
“Nggak papa, Bik. Ya udah, ayo bik bawain. Maaf ya, jadi ngrepotin,” ucap Adira tak enak hati.
Dia segera membawa koper Adira menuju kamar.
Adira mengikuti dari belakang.
“terima kasih ya, Bik.” ucap Adira saat sudah sampai depan kamarnya.
“Sama-sama, Neng. Ya udah, bibik tinggal dulu ya. Nanti kalau butuh apa-apa, bilang aja ke bibik,” ucap bik Yati sebelum melenggang pergi untuk istirahat.
Adira mengangguk dan tersenyum tipis.
Setelah kepergian bik Yati, Adira segera masuk sambil menyeret kopernya menuju kamarnya.
Kamar masa kecil dan masa mudanya sebelum dia menikah.
Adira langsung merebahkan dirinya dia atas ranjang.
Tubuhnya telentang menghadap langit-langit kamar, pikirannya mulai melanglang buana.
Air matanya kembali jatuh mengingat semua kenangan indah dan manis yang telah dia lewati bersama Tristan.
“Aku nggak tahu kenapa Kak Tristan bisa se tidak terima itu saat aku menyebut nama Sindy,” monolog Adira masih dengan tangisnya.
“Padahal kan aku cuma mau tanya dan mau menjelaskan semuanya. Malah dia keburu emosi dulu. Gimana sih, kesel aku,” Adira mengomel pada dirinya sendiri.
Tapi, sesakit apa pun Tristan berucap, Adira tetap mencintainya.
Dan sialnya, Adira malah merindukannya sekarang ini.
“Gimana aku bisa tidur kalau nggak ada pak Suami,” ucap Adira tersenyum disela tangisnya.
“Dasar pak Suami yang nyebelin dan cemburuan,” monolog Adira lagi.
*
*
*
Setelah kepergian Adira cukup lama, Tristan baru tersadar dan mencari Adira di setiap sudut ruangan.
Dia tidak menemukan Adira di manapun.
Tristan semakin kelimpungan dibuatnya.
Adira telah benar-benar pergi meninggalkan rumah itu.
“Kenapa kamu mesti keluar dari rumah sih, Ra.” monolog Tristan menyesal.
Air matanya mengalir di kedua sudut matanya.
Dia terduduk lemas di lantai dingin itu.
Tristan juga menjambak rambutnya sendiri karena merasa menjadi manusia paling bodoh.
Tristan kemudian ingat dengan ponselnya.
Dia mencarinya dan segera menelepon Adira.
Saat telepon telah tersambung, Tristan mendengar dering ponsel Adira di dalam kamarnya.
Tristan semakin putus asa mengetahui bahwa Adira tidak membawa ponselnya.
Tristan akan mencari Adira malam ini juga.
Tristan harus memastikan bahwa Adira baik-baik saja.
“Tunggu aku, Ra. Aku akan datang dan membawa pulang kamu lagi,” ucap Tristan dan segera mengambil kunci mobilnya.
Tristan mencari Adira di setiap jalan yang dia lewati. Dia tidak melihat Adira sedang berjalan atau duduk di pinggir jalan.
Tristan teringat satu tempat yang mungkin bisa Adira datangi.
Tristan seketika menepuk jidatnya karena pikirannya selalu blank jika sedang ada masalah dengan Adira.
“Mungkin Adira di rumah mama Dewi. Aku ke sana aja untuk memastikan,” monolog Tristan lagi.
Kemudian dia melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya.
Sungguh, dia sangat menyesal.
Setelah bertemu dengan Adira, Tristan akan meminta maaf dan akan mendengarkan semua penjelasannya.
Tristan juga akan membawa pulang istrinya kembali ke rumah mereka.
Tak akan Tristan biarkan kerajaannya kehilangan ratunya.
Karena itu akan membuat keadaan istananya menjadi kacau.
"Maafin aku, Ra. aku segera datang."
Tristan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dia ingin segera sampai.
Namun, karena tidak menyadari ada truk dari arah berlawanan, Tristan langsung terkejut dan membanting setir berusaha menghindari truk muatan itu.
Terdengar bunyi decitan ban mobil yang sangat nyaring di jalanan yang mulai lenggang itu.
BRAK!