
Happy Reading!😊
.
*****
Pemilik manik cokelat itu tak bisa membayangkan, bagaimana ia bisa menerima dengan hangat setiap sentuhan manis pria itu. Ia masih belum bisa memejamkan matanya padahal sekarang sudah tengah malam. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu. Pria itu meminta izin untuk menciumnya, dan dengan bodohnya dia tidak menolak malah membalas ciuman itu.
"Akhh..."
Ia meremas rambutnya frustasi dan berguling-guling di kasur besarnya.
Tapi, ia menyukai sentuhan pria itu. Hangat, lembut, tidak ada paksaan. Ia terlena dengan ciuman itu sampai ia lupa akan ancaman yang keluar dari bibir Philip dua tahun lalu.
Ia membuka handphonenya dan menekan-nekan layarnya. Tak lama kemudian ia menemukan postingan seseorang yang sudah sangat lama menyapanya lewat Direct Message.
csd.
Aku tak menyangka, aku melakukannya. Dan benar saja, jantungku rasanya mulai bermasalah.
Gadis itu penasaran. Ia mengomentari postingan itu. Lama ia menunggu balasan. Tapi sepertinya pemilik postingan itu sudah terlelap dalam mimpinya. Abbie kesal dan melemparkan ponselnya asal.
Tapi, ia mengambilnya lagi ketika ada sebuah notifikasi. Sebuah pesan bukan balasan dari komentarnya.
csd.
kau belum tidur?
abbjjandra
belum. belum mengantuk.
csd.
why?
abbjjandra
ada sesuatu yang mengganggu pikiranku🙁
csd.
tidurlah. masih banyak yang harus kau lakukan besok.
abbjjandra
hufftt. kau sama sekali tidak membantu. membuatku tambah kesal saja.
Bertubi-tubi bunyi notifikasi itu tapi Abbie tak menghiraukannya lagi. Ia masih senang berpetualangan di alam fantasinya. Saking asyiknya, ia terlelap tanpa niat.
*****
"Pagi yang indah," gumam Abbie sambil terus menyetir mobilnya perlahan menuju sekolah.
Tanpa sadar, ia membelokkan mobilnya ke arah lain dari jalan yang biasa ia lalui. Ia mendesah.
"Aku benar-benar gila sekarang."
Ia melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang duduk memainkan ponselnya di halte. Ia menghembuskan napasnya gusar.
"Kenapa dia suka sekali menaiki kendaraan umum?"
Ia menekan klakson mobilnya tepat di hadapan orang itu. Segera ia menurunkan kaca mobilnya.
"Ayo, sebelum kau terlambat."
Orang itu tersenyum sembari mendekat. Ia memasuki mobil itu dan duduk di kursi penumpang di samping Abbie.
Abbie melajukan mobilnya perlahan.
"Kenapa kau tidak memakai motor itu, Charlie?"
"Aku sedang tidak ingin."
"Besok kau harus membawanya. Jemput aku," perintahnya.
"Aku mengerti, Abbie sayang."
Pipi Abbie merona mendengar kata 'sayang' yang meluncur dari mulut Charles. Ia salah tingkah. Namun, ia segera memalingkan wajahnya ke luar jendela sebelum pria itu menyadarinya. Ia salah. Charles terlanjur melihatnya. Ia terkekeh.
"Kenapa kau merona?"
"Aku tidak begitu."
"Aku akan memanggilmu seperti itu mulai sekarang."
"Aku tidak sudi."
"Sayang..."
Suara Charles melembut mengandung nada menggoda. Ia terkekeh melihat rona di pipi Abbie bertambah. Gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan malu.
"Kau merona lagi, sayang."
"Berhenti mengatakannya, Charlie."
"Tapi kau suka."
"Aku sedang tidak ingin berdebat, Charlie. Berhentilah, ku mohon!"
"Baiklah. Next time saja."
Charles tersenyum. Mengingat hal yang dilakukannya kemarin, ia juga merona.
Ia tak sungkan-sungkan lagi menyampaikan perasaannya pada Abbie, entah melalui perilaku ataupun kata 'sayang' yang membuatnya merona sendiri.
Charlie mencondongkan badannya ke arah kemudi. Secepat kilat ia mencium pipi kiri gadis itu.
"Aku tahu."
Abbie sudah merona sekarang. Ia meremas kemudi. Jantungnya berdebar saking bahagianya.
"Kapan aku bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaanku semalam?"
Charles masih tersenyum manis sambil mengelus pipi yang baru saja diciumnya. Abbie menepis tangannya.
"Aku tidak menjanjikan kapan waktu itu. Tapi akan ada saatnya kau mengerti keresahanku."
Ia melihat wajah sendu milik pria itu meski bibirnya tak melunturkan senyum.
"Maaf."
"Aku mengerti. Tapi, jangan menjauhiku!" pinta Charles memohon.
"Buktinya sekarang kita masih bersama."
Charles terkekeh. "Kau benar."
Perjalanan ke sekolah hari ini terasa menyenangkan bagi mereka.
*****
"Charlie...Ke sini. Aku sudah siapkan kursi ini untukmu."
"Tampan, kursi di sampingku masih kosong."
"Charlie, aku membuatkanmu makan siang."
"Makan bersamaku, ya?"
Beribu rayuan dilontarkan siswi-siswi di kantin ketika Charles dan Abbie masuk ke sana membuat Abbie kesal sendiri.
"Sialan. Mereka membuat darahku mendidih," geramnya di tempatnya berdiri.
"Ayolah, sayang. Aku tidak menyukai mereka."
"Cih...Kau mulai pandai merayu ya."
Charles tersenyum merona. Ia tahu Abbie cemburu melihatnya dikerumuni banyak gadis. Hanya saja, mendengar kata 'cinta' langsung dari mulut gadis itu yang sangat ia tunggu-tunggu.
"Kemarilah."
Ia menarik lengan Abbie untuk mengantri membeli makanan. Ia tak menghiraukan panggilan gadis-gadis itu lagi. Ia hanya fokus pada gadis yang merajuk di hadapannya ini.
"Besok kau harus memakai kacamatamu lagi. Aku bisa saja membunuh mereka semua kalau aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi."
Sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, Abbie terus mengoceh.
Pria itu hanya mengangguk. "Hm, tapi aku tidak janji."
Abbie melotot tidak percaya. "Apa?"
"Kau mulai kurang ajar, ya. Beberapa hari ini aku memang baik padamu, tapi jangan sampai membuatku ingin menjauhimu."
Kata-katamu membuatku tidak ingin menghabiskan sisa makanan ini.
Charles merasa kerongkongannya dicekat. Makanan yang ia telan rasanya terhenti di sana. Ia mulai merasakan aura dingin dari ancaman Abbie. Ia takut dijauhi gadis itu.
Charles mencintainya. Ia tak mau kehilangan orang yang dicintainya seperti ia pernah kehilangan sosok ayahnya. Ia akan melakukan apapun agar orang yang dicintainya tidak menjauhinya.
"Aku mengerti. Maafkan aku."
"Berhenti me---"
"Kalian berdua di sini rupanya."
Seorang siswa menghampiri keduanya dengan napas terengah-engah seperti baru melakukan lomba lari. "Segeralah ke ruangan Mr. Di Vaio. Dia menyuruhku memanggil kalian. Mungkin dia mau membahas tentang olimpiade itu." Ia menjelaskannya dengan satu tarikan napas.
"Gracias."
Keduanya langsung beranjak dari tempatnya ketika mendengar penjelasan siswa itu. Makanan yang mereka santap tidak dihiraukan lagi. Mereka tidak ingin mengulur waktu agar tidak mendapat hadiah mengerikan dari si Asesino.
"Masuk."
Setelah mengetuk dan terdengar suara pemilik ruangan itu, keduanya langsung masuk.
Abbie sudah tidak setakut pada awalnya terhadap guru itu, tapi ada saatnya juga ia merasa terintimidasi.
Mr. Di Vaio bangkit dari meja kebesarannya menuju sofa minimalis di dalam ruangan itu.
"Duduklah."
"Gracias."
"Apa kalian sudah siap?" Mr. Di Vaio membuka pembicaraan. Keduanya mengangguk.
Ia mendesah lega. "Baguslah. Saya harap--bukan, bukan hanya saya." Ia meralat ucapannya sendiri. "Sekolah harap kalian berdua melakukan yang terbaik untuk kita."
"Kami mengerti."
"Dua hari lagi. Ingat itu. Jaga kesehatan kalian!" Ia memberi wejangan. "Hari ini dan besok tidak ada bimbingan lanjutan. Pergunakan waktu kalian sebaik mungkin untuk itu." Ia mengakhiri arahannya.
Keluar dari sana, keduanya tampak senang.
"Ayo bersenang-senang sebelum waktunya tiba."
Ada seseorang yang mengintai dari balik kegelapan. "Silahkan menikmati." Ia menyeringai dan segera berlalu dari sana.