Treat You Better

Treat You Better
63. Honeymoon



Adira menggeliat saat merasakan sinar matahari masuk ke Indra penglihatannya.


Dia sedikit memicing untuk menyesuaikan cahaya.


Saat akan duduk, dia merasakan benda berat melingkar di perutnya.


Saat Adira melihat ke bawah, tangan Tristan sudah melingkar sempurna di perutnya.


Tristan pun mengerang karena merasakan pergerakan Adira.


“Selamat pagi Adira sayang ....” ucap Tristan tersenyum manis.


“Selamat pagi ....” jawab Adira tersenyum malu karena panggilan ‘sayang’ yang Tristan sematkan.


“Mau mandi bareng atau gimana nih?” tanya Tristan sambil mengerling nakal.


Adira mendongak untuk bisa menatap Tristan.


Tampan.


Satu kata yang langsung ada dalam pikiran Adira.


“Beruntungnya aku bisa memiliki kak Tristan. Udah ganteng, pengertian lagi.” gumam Adira dalam hati.


“Yang ada nggak cuma mandi nanti deh.” ucap Adira kesal.


“Emang kenapa? Nggak papa kan, mandi bareng?” tanya Tristan mencoba menggoda Adira.


“Aku malu lah Kak ....” Lalu Adira memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah.


“Kenapa harus malu? Aku kan udah liat semuanya semalam.” ucap Tristan santai.


Adira langsung melotot dan memberikan pukulan bertubi-tubi di dada Tristan.


Dan pukulan tangan Adira, tidak berarti apa-apa bagi Tristan.


Lagi-lagi wajah Adira dibuat merona.


“Udah lah aku mandi dulu. Pasti udah pada nunggu buat sarapan.”


Setelah mengatakannya, Adira segera berlari menuju kamar mandi. Adira takut Tristan benar-benar merealisasikan keinginannya untuk mandi bersama.


Padahal semalam mereka telah melakukannya tiga kali.


Tristan terkekeh melihat Adira lari terbirit-birit sambil melilitkan selimut di tubuhnya.


Adira jadi terlihat seperti kepompong.


...........


“Pengantin baru bangunnya kesiangan nih ....” ledek Bu Siska saat melihat anak dan menantunya baru datang untuk sarapan.


“Rambut Adira juga basah, Ma.” Ucap Amanda ikut meledek.


“Tadi malem gimana?” tanya bu Siska pada Adira.


Tristan dan Adira saat ini sudah duduk dan akan sarapan bersama keluarganya.


“Ya nggak gimana-gimana ....” jawab Adira polos.


“Jebol nggak gawangnya?” tanya bu Siska lagi.


“Mama apa-apaan sih nanya begituan. Ya udah pasti jebol dong.”


Adira mengira bahwa Tristan akan menyelamatkannya dari pertanyaan sang Mertua.


Namun ternyata, Tristan sama saja.


“Semoga lekas jadi ya. Mama udah nggak sabar pengen gendong cucu.” ucap bu Dewi yang juga menimbrung.


“Aku baru nikah kemarin lho, Ma ... kalau mama lupa.” Adira tak habis pikir dengan para orangtua.


“Kaya kalian semua nggak pernah muda dan nggak pernah malam pertama aja deh ....” gumam Adira kesal dalam hati.


Semua hanya terkekeh menanggapi.


Kemudian mereka melanjutkan sarapan dengan diam.


Setelah sarapan selesai, tepat pukul dua belas siang, semua check out dari hotel.


Sedangkan Adira dan Tristan, mereka akan pergi untuk berbulan madu.


Pak Hendra yang akan menghandle semua pekerjaan Tristan.


Jadi, Tristan tidak perlu merasa khawatir.


Semua keluarga sudah pulang dari hotel.


Hanya tinggal pak Hendra, bu Siska, pak Irawan, bu Dewi, Amanda, Lidya, Kinara, Vian, Azka dan Doni.


Mereka semua mengantarkan Adira dan Tristan sampai lobi hotel.


Setelah mobil yang Adira dan Tristan berjalan meninggalkan hotel, semua yang mengantar memutuskan untuk pulang.


Teman Adira dan Tristan juga berpamitan setelah urusan mereka selesai.


...........


“Kita mau kemana sih sebenarnya ....” rengek Adira sejak saat pertama kali menaiki mobil menuju bandara.


Kurang lebih setengah jam, mobil pun sampai di bandara.


Keduanya segera melakukan check-in karena sebentar lagi pesawat akan terbang.


“Jawa Timur? Kakak nggak salah nih? Kita mau kesana?” Tristan langsung mendapat pertanyaan beruntun dari Adira sesaat setelah check-in.


“Iya. Kita kesana honeymoon,nya. Semoga kamu suka ya ....” ucap Tristan tersenyum bahagia.


“Di Jawa Timur, kita mau kemana emangnya?” Sepertinya, Adira tidak pernah lelah untuk bertanya.


Tristan hanya tersenyum santai dan enggan memberi tahu kemana destinasi tujuan mereka.


“Jangan senyum terus dong, Kak ... Jawab aku ....” ucap Adira merengek seperti anak kecil.


Cup.


Tristan membungkam mulut Adira dengan kecupan singkat di bibirnya.


Dan benar saja, Adira terdiam sambil menggercap-gercapkan matanya lucu.


Wajah Adira terlihat menggemaskan sekali.


Tristan terkekeh lagi.


Memang benar, cinta yang tepat akan membuat seseorang merasakan kebahagiaan hanya dengan hal-hal yang sederhana.


Sesederhana saat Tristan melihat Adira tersenyum.


Pesawat yang akan di tumpangi oleh Tristan dan Adira akan segera berangkat.


Para penumpang di himbau untuk segera memasuki pesawat.


Setelah mendengar pengumuman dari pengeras suara, keduanya pun masuk ke dalam pesawat.


Selang beberapa menit, pesawat pun take off.


Di dalam pesawat, Adira tertidur sangat pulas.


Dia masih saja lelah karena terus di gempur oleh Tristan semalaman.


Sekitar satu setengah jam take off tanpa transit, akhirnya pesawat berhasil landing dengan selamat di Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya.


Adira sudah bangun sejak tadi.


Keduanya turun dari pesawat dan mencari taksi untuk menuju Hotel yang sudah Tristan booking.


Taksi yang di tumpangi Adira dan Tristan sampai di hotel bintang lima.


Hotel mewah dengan kualitas bintang lima.


Setelah melakukan reservasi, keduanya segera menuju kamarnya.


Setelah sampai, Adira langsung merebahkan dirinya di ranjang.


Dia sangat lelah melakukan perjalanan jauh dari Jakarta menuju Surabaya.


Tristan yang melihat itu, hanya tersenyum dan membiarkan Adira istirahat terlebih dahulu.


Dia akan menunggu petugas hotel yang membawakan kopernya datang.


Selang beberapa menit, petugas hotel datang dengan membawa satu koper besar.


Tristan menerimanya dan memberikan uang tips untuk petugas itu.


Baju Adira dan Tristan memang sengaja digabung agar lebih praktis.


Setelah menerima kopernya, Tristan menyiapkan baju ganti untuk dirinya.


Kemudian berjalan masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual membersihkan diri.


Setengah jam Tristan habiskan di dalam kamar mandi.


Sekarang dia sudah berbaring di sebelah Adira dan mengamati wajah damai Adira yang sedang tertidur pulas.


"Berhari-hari berada di kamar juga nggak masalah buat aku, Ra." monolog Tristan terkekeh pelan.


Tristan juga membayangkan wajah Adira yang akan terlihat berbinar dan bahagia saat Tristan membawa Adira ke suatu tempat nantinya.


Ya, Tristan berencana mengunjungi tempat wisata yang ada di Surabaya.


Tristan ingin membuat Adira bahagia. Karena bahagianya Adira adalah bahagianya juga.


Saking asiknya memandangi wajah damai Adira, mata Tristan akhirnya merasakan kantuk.


Tristan pun ikut tertidur dengan posisi memeluk Adira.


Dia juga merasa lelah setelah perjalanan jauh dari Jakarta menuju Surabaya.


.


.


.


.


.


.


.


**Segitu dulu ya ceritanya.


aku lagi pusing banget mikirin deadline sama revisi. jadi update nya dikit doang.


makasih buat para reader yang masih setia baca karya aku.


semoga kalian semua diberi kesehatan oleh Yang Maha Kuasa.


dari aku mau mengucapkan, selamat hari raya idul Fitri.


Mohon maaf lahir dan batin ya....😊**