
Pagi telah kembali menyapa, Tristan sudah terbangun dari tidurnya saat keadaan masih gelap. Dia kemudian membersihkan dirinya dengan mandi.
Tidak lupa sehabis mandi, Tristan langsung mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat shubuh.
Dia sudah memakai baju Koko dan sarung yang melilit di pinggangnya.
Setelah itu, dia memakaikan peci di kepalanya dan menggelar sajadah menghadap kiblat.
Tristan melakukan kewajibannya kepada Sang Maha Kuasa dengan sepenuh hati.
Setelah sholat selesai, tidak lupa Tristan memanjatkan doa kepada Sang Khalik agar di ampuni segala dosa-dosanya.
Dia juga meminta petunjuk untuk segera di temukan dengan Adira.
Setelah selesai, dia melipat kembali sajadah dan sarung yang sudah dia lepas.
Kemudian, Tristan berganti pakaian dengan baju kantor.
Ya, hari ini Tristan akan pergi ke kantor. Kehidupan terus berjalan, jadi Tristan akan berusaha untuk tetap hidup sambil menunggu kabar tentang Adira.
“Selamat pagi, Ma, Pa.” sapa Tristan kepada orang tuanya saat sudah sampai di meja makan untuk melakukan sarap bersama.
“Selamat pagi, Tris. Hari ini kamu mau ke kantor?” tanya pak Hendra yang melihat Tristan sudah memakai baju kantornya lengkap.
“Iya, Pa. Tristan nggak boleh terpuruk terus,” jawab Tristan tersenyum tipis. Kemudian Tristan mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang tersedia.
“Bagus dong. Kamu harus percaya bahwa jodoh itu nggak akan ke mana,” timpal Bu Siska tersenyum, tangannya sibuk memindai nasi beserta lauknya ke atas piring suaminya.
Tristan mengangguk dan tersenyum simpul. Dia juga membenarkan ucapan mamanya itu.
Kemudian, mereka melakukan sarapan dengan di selingi obrolan ringan.
Setelah itu, pak Hendra dan Tristan pamit dengan bu Siska untuk berangkat bekerja.
Bu Siska mengantarkan keduanya sampai ambang pintu.
Pak Hendra dan Tristan menuju kantor dengan mobil yang berbeda, karena Tristan akan mampir dulu ke suatu tempat.
Setelah mobil suami dan anaknya mulai menjauh, bu Siska berkata.
“Semoga Allah segera memberikan petunjuk tentang keberadaan Adira.” ucap bu Siska berdoa.
Setelah itu, bu Siska masuk kembali ke dalam rumah.
*
Tristan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi.
Dia akan berkunjung ke rumah mertuanya, barangkali mereka sudah menemukan titik terang tentang keberadaan Adira.
Bukan hanya itu, dia harus tetap menjalin silaturahmi dengan kedua orangtua Adira.
Memang, hubungannya dengan Adira sedang tidak baik, namun tidak ada salahnya jika silaturahmi dengan orangtuanya tetap terjalin baik.
Tidak butuh waktu lama, mobil Tristan langsung sampai di pelataran rumah mertuanya.
Dia segera turun dan berniat ingin masuk rumah. Namun, niatnya itu urung karena ucapan pak satpam yang berjaga di rumah tersebut.
“Mas Tristan mau ketemu ibu sama bapak ya? Sayangnya, mereka sedang bepergian, Mas. Berangkat kemarin siang,” ungkap pak Budi memberitahu.
“Pergi ke mana ya, Pak? Bapak tahu nggak?” tanya Tristan penasaran.
Setahu Tristan, kedua mertuanya itu tidak ada perjalanan bisnis.
“Kurang tahu saya, Mas. Lebih baik Mas bertanya langsung ke bapak atau ibu. Tapi, mereka membawa koper sih, Mas,” ucap pak Budi lagi memberitahu.
“Membawa koper ....” gumam Tristan yang masih bisa di dengar oleh pak Budi.
“Ya udah, kalau gitu saya pamit aja ya, Pak. Makasih atas informasinya,” ucap Tristan berpamitan lalu menuju mobilnya lagi.
Setelah di dalam mobil, Tristan mencari di mana keberadaan ponselnya. Setelah dapat, dia segera menghubungi seseorang.
“Don, lacak ponsel orangtua Adira. Mereka nggak di rumah dan orang rumah nggak tahu ke mana,” titah Tristan yang langsung diiyakan oleh Doni di seberang sana.
Kemudian, Tristan menutup telepon itu secara sepihak.
Tristan bisa menduga kalau Doni pasti sudah mengomel dan mengumpati dirinya karena langsung mematikan telepon dan tidak menjawab pertanyaannya.
Mungkinkah mereka sudah menemukan Adira?
Dan sekarang ini, mereka sedang menemui Adira secara diam-diam?
Alasannya sudah sangat jelas Tristan ketahui. Apalagi jika bukan ingin menyembunyikan dari dirinya.
Bisa jadi, Adira yang menyuruh pak Irawan dan bu Dewi untuk merahasiakan keberadaannya kepada semua orang.
Setelah berperang dengan isi kepalanya sendiri, akhirnya Tristan melajukan mobilnya lagi menuju kantornya.
Tidak mungkin dia membatalkan hari pertamanya ke kantor setelah sekian lama tidak bekerja.
Mungkin, setelah mendapat informasi dari Doni, Tristan bisa tahu persis Ke mana kedua orang tua Adira.
Tristan berharap, ini akan menjadi jalannya untuk menemukan Adira.
Semoga saja.
Butuh waktu tiga puluh menit Tristan mengemudikan mobilnya menuju kantor.
Setelah sampai, dia segera menuju ruangan yang dulu menjadi ruangannya.
Setelah menutup pintu ruangannya, Tristan memandangi sekeliling ruangan tempat kerjanya.
Dia rindu suasana kantor yang sibuk dan penuh keseriusan. Jika sudah berada di kantor, Tristan tidak pernah bermain-main.
Setelah puas, Tristan duduk di kursi kebesarannya.
Di atas meja kerjanya, terdapat foto dirinya dan Adira yang terbingkai indah di dalam pigura.
Tristan masih ingat jelas di mana dulu mereka mengambil foto tersebut.
Dia tidak akan pernah lupa dan akan selalu mengingatnya.
Ya, foto tersebut di ambil di puncak gunung Semeru.
Gunung yang menjadi saksi cinta mereka berdua. Di sanalah dulu mereka melakukan bulan madunya.
Bulan madu yang bukan kaleng-kaleng.
Tristan mengambil foto tersebut dan mengelus pipi Adira yang ada di foto tersebut.
Dia tersenyum mengingat masa-masa indah yang dulu dia lalui bersama Tristan.
“Aku rindu banget sama kamu, Ra. Apa kamu juga merindukan aku?” monolog Tristan pada dirinya sendiri.
“Bagaimana bisa kamu setega itu pada anak kita yang belum lahir. Jika aku tidak ada, bagaimana nasib anak kita yang akan lahir tanpa di dampingi ayahnya,” ucap Tristan lagi.
Matanya selalu berkaca-kaca bila mengingat Adira dan calon anaknya.
“Maafin aku, Ra ... waktu itu aku nggak jujur sama kamu dan membuat kamu kecewa,”
Air mata Tristan sudah tidak bisa di bendung lagi. Dia menangisi Adira dan calon anaknya.
Tristan menyesal telah berbohong selama ini dengan Adira. Seharusnya Tristan jujur saja karena Adira pasti akan mengerti dan memberikan saran yang tepat.
Adira selalu bisa membawa dirinya untuk selalu tenang dalam keadaan apapun.
Itulah mengapa Tristan merasa dirinya begitu bodoh.
Tristan tidak menyalahkan Sindy, ataupun orang lain.
Dia menyalahkan dirinya sendiri. Semua kendali ‘iya atau tidak’ berada di tangannya.
Tapi karena merasa tidak tegaan, Tristan menjadi berpikiran tidak rasional dan akhirnya melukai hati Adira.
Sudah menjadi keharusan bila Tristan menolak permintaan Sindy untuk selalu mengunjunginya.
Karena dia adalah lelaki beristri. Dan sudah semestinya juga, Tristan harus menghindari percikan-percikan api yang akan membakar rumah tangganya menuju kehangusan.
Semoga, setelah kejadian seperti ini terjadi, Tristan tidak mengulangi kesalahannya lagi. Semoga Tristan bisa belajar dari pengalamannya.
Bahwa, lelaki beristri tidak sewajarnya berdekatan dengan lawan jenis terlalu intens.