Treat You Better

Treat You Better
100. Bangkit



Hari berganti minggu, dan minggu telah berganti bulan.


Hampir tiga bulan sudah kepergian Adira dan selama itu juga, Adira seakan menghilang di telan bumi.


Tidak ada yang tahu ke mana perginya Adira sekarang ini.


Semua keluarga, kerabat, dan sahabat merasa sangat kehilangan Adira. Tak terkecuali Tristan.


Kepergian Adira benar-benar menjadi pukulan telak untuknya.


Semua menyalahkan Tristan karena tidak mau terbuka dengan sang istri. Mereka tidak mempermasalahkan Niat baik Tristan yang ingin membantu Sindy sebagai sesama manusia.


Namun yang mereka sayangkan adalah, mengapa Tristan melakukan semuanya sendiri dan tidak berkoordinasi dengan istri maupun sahabatnya.


Azka dan Doni sampai mengumpati kebodohan Tristan yang sudah di atas rata-rata.


Hidupnya menjadi kacau pasca kepergian Adira tiga bulan yang lalu.


Tiga bulan bagi Tristan sudah berasa seperti tiga abad lamanya.


Tidak banyak kegiatan yang Tristan lakukan selain berdiam diri di rumah kedua orangtuanya.


Tristan sudah meninggalkan rumahnya dengan Adira karena merasa tidak sanggup bila harus teringat dengan Adira secara terus-menerus.


Namun, pak satpam yang berjaga masih Tristan suruh untuk bekerja menjaga rumahnya. Begitu juga dengan teh Ratih yang Tristan suruh untuk selalu rutin membersihkan rumahnya.


Tristan berharap Adira akan segera kembali dan pulang ke rumah mereka.


Sedangkan untuk pak Yanto, Tristan alihkan tugas untuk bekerja di rumah Amanda dan Doni.


Karena belum mempunyai sopir pribadi, Amanda dan Doni menyambut baik niat Tristan yang tidak mau pak Yanto sampai kehilangan pekerjaannya.


Mereka memperkerjakan pak Yanto sebagai sopir pribadi di rumahnya.


Seperti saat ini, Tristan sedang merebahkan dirinya di sofa yang terletak di ruang keluarga.


Televisi memang menyala, namun, pandangan Tristan menatap kosong ke arah depan. Otaknya tidak pernah absen dalam memikirkan Adira.


Tristan selalu berpikir, apakah Adira juga memikirkan dan merindukan dirinya juga?


Bagaimana dengan anak yang masih berada di kandungannya?


“Ini semua salahku. Adira harus menanggung rasa sakit dan kecewa karena diriku,” ucap Tristan menyesal yang sedalam-dalamnya.


Pikiran Tristan melayang ke kejadian saat terakhir kali Tristan melihat Adira dengan tatapan penuh luka menatap dirinya yang sedang bersama Sindy.


Jika dirinya ada di posisi Adira, mungkin Tristan akan melakukan hal yang sama.


Masalah soal Sindy, dia akhirnya di rawat di rumah sakit jiwa.


Namun, baru dua minggu menjalani perawatan di sana, depresinya kambuh. Sindy akhirnya melakukan percobaan bunuh diri lagi dengan menusuk perutnya sendiri menggunakan gunting.


Sindy juga menyayat pergelangan tangannya sehingga dia kehabisan darah dan meninggal dunia sehari setelah mendapat penanganan di rumah sakit terlebih dahulu.


Tentang keluarga dan anaknya, Tristan belum mengetahui keberadaan mereka sampai sekarang.


Dia merasa kasihan melihat kisah hidup Sindy yang harus mati karena bunuh diri.


Namun, Tristan mencoba untuk memahami bahwa mungkin inilah jalan yang sudah di tentukan untuk Sindy oleh Tuhan.


Setelah kematian Sindy, Tristan tidak ambil pusing karena dirinya juga selalu mengalami pusing kepala setelah kepergian Adira.


Tristan juga mengalami insomnia setiap malamnya. Pengaruh Adira dalam hidup Tristan sangatlah besar.


Tristan sekarang menjadi lelaki pemalas dan enggan pergi ke kantor seperti sediakala.


Pekerjaan setiap harinya sekarang  adalah buruh rebahan. Namun, matanya tetap sulit terpejam jika tak meminum obat tidur yang tentunya sudah atas resep dokter.


Tristan mengusap wajahnya frustasi.


Baru di tinggal Adira selama tiga bulan saja kondisi Tristan sudah tidak karuan. Rambut yang sudah mulai panjang karena tidak pernah dia cukur, rambut halus di sekitar rahangnya juga ikut tumbuh dengan subur.


Tristan sudah seperti orang Arab yang memiliki jambang dan rambut panjang. Bedanya, rambut itu tidak terawat dan terlihat berantakan.


Apalagi lingkaran hitam di sekitar bawah matanya, membuat keadaan Tristan menjadi sangat menyedihkan dan tidak terurus.


“Mau sampai kapan kamu begini terus, Tris?” tanya bu Siska untuk yang kesekian kali.


Bu Siska tidak pernah menyalahkan Tristan maupun Adira. Mungkin memang ujian rumah tangga mereka harus seperti itu dahulu, pikir bu Siska.


Tristan hanya melirik sekilas mamanya itu dan kembali melamunkan Adira lagi.


Bu Siska menghela nafasnya lelah. Lalu dia berkata lagi.


“Rubahlah diri kamu untuk lebih baik lagi. Jangan terus-terusan bersedih hingga lupa bahwa kamu punya tanggung jawab,” ucap bu Siska memberi semangat.


Tristan mengernyit bingung dengan ucapan mamanya itu. Tanggung jawab yang seperti apa ya g di maksudkan mamanya itu?


“Tanggung jawab apa memangnya, Ma?” tanya Tristan dengan tampang bodohnya.


Bu Siska langsung berdecak sebal dengan pertanyaan yang Tristan lontarkan.


“Kayaknya, bukan cuma hati kamu yang ikut kebawa oleh Adira, tapi otak kamu juga deh,” gerutu bu Siska yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya itu.


“Mama apaan sih. Aku kangen banget sama Adira, Ma. Sampai kapan Adira akan menghilang terus,” ucap Tristan sambil menatap foto Adira yang di jadikan walpaper di ponselnya.


“Ya mana Mama tahu.” jawab bu Siska dengan mengetikkan bahu.


“Tapi, Mama punya petunjuk untuk bisa menemukan Adira,” ucap bu Siska berbisik di telinga Tristan.


Tristan langsung berbinar dan menatap mamanya itu dengan penuh harap.


“Petunjuk apa, Ma?” tanya Tristan antusias.


“Rekening kamu kan selalu transfer ke rekening Adira secara otomatis setiap bulannya kan? Bisa nggak, cek kalau Adira pakai uang yang kamu transfer atau nggak?” tanya bu Siska memastikan.


Tristan tampak berpikir sejenak dan mencerna ucapan mamanya.


“Adira punya nomor rekening yang sudah atas nama Adira sendiri. Dan sayangnya, aku mentransfer ke nomor rekening itu, Ma,” ucap Tristan melemah.


Harapannya untuk menemukan Adira seakan meredup lagi.


Bu Siska menghela nafasnya dengan kasar. Entah harus dengan cara apa lagi bu Siska mencari keberadaan Adira.


Bahkan, pak Irawan dan Bu Dewi yang sebagai orangtuanya saja, tidak tahu di mana Adira sekarang.


“Mama cuma mau ngomong, jika memang kamu dan Adira berjodoh, entah besok, lusa, atau nanti, kalian pasti akan dipertemukan kembali. Jodoh pasti bertemu Tris. Kamu harus percaya itu,” ucap bu Siska memberikan semangat kepada anaknya itu.


Tristan masih terdiam dan belum menjawab ucapan mamanya.


“Tristan ... Kamu harus bangkit dong. Jangan gini terus. Mama tuh capek liat kamu yang nggak bertenaga dan kerjaannya cuma rebahan. Kamu nggak kasian sama papa kamu yang sudah tua tapi harus berjuang menghidupi anaknya yang sudah besar dan sebentar lagi punya anak?” omel bu Siska menyindir agar Tristan bisa segera bangkit dari keterpurukannya.


Tristan merasa tercubit dengan ucapan mamanya barusan. Tidak ada yang salah dari ucapannya. Memang benar, dirinya hanya beban jika terus-menerus terpuruk.


Kehidupan terus berjalan, entah itu ada Adira atau tanpa Adira.


Tristan berpikir, sudah cukup rasanya dia menyusahkan kedua orangtuanya. Sudah cukup kesedihannya itu dia simpan dan kembali hidup normal.


Masalah Adira, biar waktu yang akan menjawabnya.


Jika Adira memang di takdirkan untuknya, sejauh apapun Adira pergi, pasti Adira akan pulang lagi ke dalam pelukannya.


“Baiklah, Ma. Tristan akan bangkit lagi dan kembali bekerja di sektor membantu papa,” putus Tristan kemudian setelah berpikir sejenak karena ucapan mamanya.


Bu Siska menutup mulutnya tidak percaya, bila hanya mengatakan jodoh pasti bertemu saja bisa membuat Tristan kembali seperti semula, Bu Siska menyesal tidak mengucapkannya sejak dulu.


Tanpa menunggu lama, Bu Siska langsung membawa Tristan ke dalam pelukannya.


Dia tersenyum haru untuk itu.


Tristan akan selalu mengabdikan hidupnya untuk menunggu Adira entah sampai kapanpun itu.


Tidak akan ada nama lain di hatinya selain nama Adira di dalamnya.


Sampai matipun, Adira tetap akan menjadi cintanya.


Anggaplah semua itu sebagai penebusan setiap kesalahan yang Tristan lakukan terhadap Adira.