
Vian dan kinara POV.
Hari ini, Vian dan Kinara akan menyebar undangan pernikahannya. Pertama-tama, mereka akan mendatangi rumah Adira dahulu.
Mereka sekarang ini sudah berada di mobil menuju kediaman Adira dan Tristan.
Senyum selalu mengembang di bibir keduanya.
Setelah sampai, Vian membunyikan klakson untuk dibukakan pintu oleh sang satpam.
Memang, rumah Adira di desain dengan pagar tinggi dan tertutup. Namun hal itu demi keamanan rumah dan orang yang tinggal di dalamnya.
Sekarang ini memang sudah marak adanya kejahatan di mana pun berada.
Setelah gerbang terbuka, Vian mengucapkan terima kasih dan segera melesatkan mobilnya di carport yang tersedia di depan rumah Adira.
Setelah mobil berhenti, keduanya turun dari mobil dan berjalan beriringan memasuki rumah Adira.
Pintu sudah terbuka, sehingga keduanya bisa langsung masuk.
“Assalamualaikum!” sapa Kinara untuk pertama dengan suara cempreng, khasnya.
“Waalaikumsalam!” pekik suara Adira dari dalam.
Baru suara yang terdengar. Adira belum menampakkan batang hidungnya.
Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya dia muncul dari arah tangga.
Vian dan Kinara akhirnya masuk sebelum di persilahkan.
“Eh! Kalian? Ayo sini, duduk dulu,” ucap Adira tersenyum senang melihat kedatangan dua sejoli itu.
Vian dan kinara menurut. Mereka mendudukkan dirinya di sofa yang terletak di ruang tamu.
Wajah Kinara tampak bahagia dari sejak pertama kali memasuki rumah Adira hingga sampai sekarang.
Adira menaikkan satu alisnya penuh tanda tanya.
“Lo sehat kan, Kin? Perasaan dari tadi senyum mulu,” ucap Adira sambil mengernyit bingung karena melihat wajah Kinara yang tidak biasanya selalu menebar senyum.
Kinara berdecak sebal karena ucapan sahabatnya satu ini.
Kinara cemberut, jadi pertanyaan. Kinara banyak senyum, juga jadi pertanyaan. Kinara jadi bingung harus bersikap bagaimana.
Sedangkan Vian, dia sudah tergelak renyah mendengar pertanyaan yang Adira lontarkan.
“Lo tahu nggak?” tanya Kinara dengan senyum manisnya. Alisnya dia naik turunkan.
Adira menggeleng dan menjawab singkat.
“Enggak ....” jawab Adira polos, seperti anak kecil yang belum tahu apa-apa.
Lagi-lagi Kinara berdecak mendengar jawaban Adira.
“Ck. Lo tanya dong, tahu apa gitu ... Masa jawabnya cuma enggak,” gerutu Kinara dengan bibir mencebik kesal.
Adira dan Vian terkekeh bersamaan melihat wajah kesal Kinara.
“Iya, iya maaf deh. Ada maksud apa nih kedatangan kalian ke sini? Mau sebar undangan?” tanya Adira menebak.
Kinara dan Vian akan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Adira. Namun sebelum itu terjadi, Adira sudah memotongnya.
“Eeeh ... Bentar dulu, jangan jawab dulu. Kita tunggu setelah jeda pariwara berikut ini,” ucap Adira sudah seperti Presenter di TV yang menayangkan berita terkini.
Dari arah dapur, teh Ratih datang membawa nampan berisi minuman dan camilan.
Teh Ratih meletakkan minuman dan camilan itu di atas meja lalu mempersilahkan Vian dan Kinara untuk menikmati hidangan ringan.
“Terima kasih, Teh.” ucap Kinara ramah.
Vian juga mengucapkan hal yang sama seperti yang Kinara ucapkan.
Teh Ratih mengangguk dan tersenyum ramah.
“Sama-sama, Neng. Silahkan di minum,” ucap teh Ratih mempersilahkan.
Kemudian, teh Ratih pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah teh Ratih sudah tidak terlihat lagi, Adira kembali bertanya.
“Kalian datang ke sini mau sebar undangan kan?” tanya Adira dengan tatapan menyelidik.
Pasalnya, Adira sempat melihat postingan Kinara di akun sosial media yang mengunggah begitu banyak tumpukan kertas undangan.
Dan saat Adira perbesar fotonya, di sampul depan bertuliskan nama Kinara dan Vian di sana.
“Kok Lo tahu sih?” tanya Kinara mengernyit heran.
Masalahnya, kinara maupun Vian belum memberitahu salah satu sahabatnya sekalipun.
“Tahu dong. Gue kan pawang hujan di Mandalika waktu ada event moto GP,” jawab Adira jumawa.
“Yaaah ... Nggak jadi kejutan dong. Gue kira, Lo belum tahu dan akan terkejut dengan kabar bahagia dari gue,” gerutu Kinara dengan wajahnya yang murung.
“Nggak papa kali. Kejutan atau nggak, Lo bakalan tetep nikah kan? Nggak akan tiba-tiba dibatalkan kan, cuma karen Gue nggak terkejut?” tanya Adira sambil tersenyum manis.
Tentu saja Adira terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa Vian dan Kinara akan segera menikah.
Akhirnya, setelah berpacaran begitu lama, keduanya akan meresmikan hubungannya di mata hukum dan agama. Dan itu membuat Adira bahagia.
“Nggak juga sih. Ini ... Buat Lo sama bang Tristan. Aku jadikan satu aja biar hemat. Palingan, itu undangan bakal dibuang kalau nggak dibakar,” ucap Kinara sambil menyodorkan undangan pernikahan dirinya dan Vian.
Adira tertawa meledek mendengar penuturan Kinara yang sok hemat banget. Padahal kalau sudah berbelanja, Kinara yang paling lupa diri.
Vian merasa tidak terima jika Kinara berucap seperti itu.
Karena berapa pun uangnya, dengan senang hati Vian akan menggelontorkan uang tersebut untuk pernikahannya.
“Jangan bilang gitu dong, Yang. Aku yang malu nih, dikira nggak bisa bayar buat cetak undangan,” ucap Vian memprotes.
Kinara menggumamkan kata maaf dan meringis menatap Vian.
Jadi telunjuk dan jari tengahnya diangkat dan membentuk huruf ‘v’.
Adira lagi-lagi tertawa melihat interaksi pasangan yang sudah tidak muda lagi itu.
Setelah cukup lama berada di rumah Adira, sepasang kekasih itu pamit karena harus mengunjungi rumah Amanda dan Doni juga.
Adira mengizinkan keduanya pergi dan mengatakan akan datang bersama Tristan di hari bahagia Vian dan kinara.
Setelah mobil yang dikendarai Vian dan Kinara sudah tak terlihat lagi, Adira masuk kembali ke dalam rumah menuju kamarnya.