
Happy reading!😊😘
.
*****
Sepulang dari rumah sakit itu, Abbie langsung bergelung di tempat tidurnya. Menutup seluruh badannya dengan selimut tebal beranimasi Mickey Mouse. Dinginnya air conditioner tidak lagi dirasakan kulitnya.
Ia masih tidak habis pikir bahwa pelakunya adalah pria berambut putih itu lagi. Ia tak menyangka perbuatannya sudah melewati batas. Mencelakai, bukan, tapi berniat membunuh orang-orang terdekatnya.
Dan orang yang dicelakainya sekarang adalah pria yang dicintai Abbie. Meski status mereka belum jelas, tapi perasaannya tidak bisa ia sangkal. Ia mencintai pria itu.
Pria yang dulu ia katai cupu dan kampungan, pria yang ia jadikan pelampiasan kekesalannya, pria yang ia paksa ke sana-sini. Pria itu menggoyahkan hati dan pikirannya. Berulang kali ia menyangkal bahwa pria itu bukan orang yang pantas bersamanya, tetapi ada saja hal-hal yang tidak masuk akal yang membuat mereka selalu bersama.
Mungkin ia masih cupu dan kampungan bagi sebagian orang, tapi bagi Abbie itu adalah bagian terindah yang ia pakai untuk menjauhkan Charles dari rival-rival yang mungkin saja akan merebut hatinya. Abbie tidak akan membiarkan hal itu terjadi karena sekarang ia yakin telah mencintai pria itu. Bukan hanya cinta, tapi sudah sangat cinta.
Itulah yang ia rasakan pertama kali melihat wajah pucat milik Charles. Ia merasa kehilangan. Kehilangan senyuman manis dan ungkapan-ungkapan cinta yang selalu mendebarkan jantungnya.
Ingin rasanya ia membunuh Philip saat itu juga kalau tidak segera mengantarnya ke rumah sakit. Rasa bencinya pada pria itu semakin dalam. Waktu kehilangan Levin, ia tidak sesakit ini.
"Philip gila. Psikopat!"
Ia berteriak sambil mengusap kasar air matanya. "I'll kill you, b*st*rd!"
Ia tidak ingin kehilangan lagi. Cukup sudah ia kehilangan Levin akibat ulah pria berambut putih itu. Ia akan memperjuangkan Charles kali ini dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya.
"I promise, I'll treat you better!"
Ia berjanji dalam hati.
Sebelum benar-benar memejamkan matanya, Abbie mengecek ponselnya berharap ada notifikasi dari akun instagramnya.
*****
Tidak ada yang istimewa hari ini. Sambutan hangat dari Kepala Dinas tidak banyak yang didengarnya. Ia kikuk duduk sendirian di kursi yang disediakan bagi perwakilan dari Ezmeralda High School. Perwakilan dari sekolah-sekolah lain berdampingan dengan teman-temannya. Tidak ada satu sekolahpun yang datang sendirian seperti dirinya.
Mungkin sekarang adalah saatnya mengakui kekalahan bagi sekolahnya setelah berulang kali menyabet juara umum dalam ajang olimpiade seperti ini. Ia tak banyak berharap. Menang dan kalah itu sama saja 'kan? Bukannya ia pesimis, tapi melihat cara tatap siswa lain dari sampingnya membuat ia tidak percaya diri.
Di sekolahnya, mungkin dialah siswi yang paling percaya diri. Bukan hanya karena kecantikan dan kekayaan orang tuanya, tapi karena otaknya yang cerdas.
Bukankah itu puteri tunggal Benjamin D'alejjandra?
Kasihan sekali, mungkin dia egois tidak menginginkan yang lain ikut andil dalam ajang ternama seperti ini makanya ia duduk sendirian seperti itu.
Dia lumayan juga buat kita pakai semalam. Hahaha
Mampukah dia menyelesaikan materi nanti?
Berbagai hinaan keluar dari mulut-mulut berbisa siswa sekolah lain. Mereka menerka apa yang dilihat mereka dan membuat spekulasi sesuai keinginan hati mereka.
Bukan Abbie namanya kalau ia hanya diam mendengarkan. Pelan-pelan ia melemparkan sebuah pulpen yang ada di atas mejanya ke arah seorang pria yang mengucapkan kata-kata pelecehan tadi dan mengenai batang hidung pria itu. Emosinya tidak bisa ia kendalikan lagi.
"*****, apa yang kau lakuk--mmmpphhh...." Seorang teman di sampingnya langsung menutup mulutnya karena terkejut oleh teriakan pria itu.
Semua mata langsung tertuju pada mereka. Ada yang menatap tajam, ada yang mengumpat dan menendang kursi yang didudukinya.
Abbie terkekeh pelan dari tempatnya. "****** kau," gumamnya.
Semua tamu yang hadir bahkan Kepala Dinas yang tadi memberikan kata sambutan terdiam.
Seorang siswa dari sekolah ternama -mungkin sedikit kurang terkenal daripada Ezmeralda High School- meneriakkan kata kasar yang ditujukan pada seorang gadis.
Wartawan dan jurnalis yang hadir di sana langsung memotret dan menuliskan apapun yang baru saja terjadi. Ini berita yang sangat besar, begitulah pikir mereka.
"Selamat berjuang. Tuhan tahu apa yang sedang dan yang sudah kalian perjuangkan. Yakinilah bahwa semua pergumulan kalian sudah kalian dapatkan hasilnya. Entah nanti hasilnya memuaskan atau tidak, pantang menyerahlah. Kalian masih punya banyak waktu luang. Perbaiki apa yang salah, pelajari apa yang belum kalian mengerti, dan jangan pernah berhenti berharap pada-Nya."
Karena merasa sudah tidak ada lagi yang perlu disampaikan, akhirnya profesor yang bertugas menyampaikan kata sambutan itu mengakhiri penuturannya.
Berakhirnya kata sambutan itu disambut oleh tepuk tangan meriah para siswa-siswi. Abbie hanya tersenyum tipis, sangat tipis bahkan hampir tidak terlihat sama sekali.
Tatapan matanya sendu. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membangunkan Charles. Pria itu tertidur. Ingin sekali ia berteriak memaki orang yang telah mencelakai pria itu. Philip, ya memaki Philip. Br*ngs*k s****n itulah yang membuatnya harus berdiri sendiri dan berjuang sendiri di sini tanpa Charles.
"D'alejjandra, are you ok?"
Tiba-tiba suara Mr. Di Vaio mengejutkannya.
"Si."
Juga dengan orangtuanya. Meskipun nanti hasilnya tidak memuaskan, setidaknya ia sudah berusaha semampunya. Ia memang tidak ingin mengecewakan Ben. Apalagi kata-katanya pagi tadi membuat semangat Abbie sedikit meningkat.
"Apapun bebanmu saat ini, serahkanlah pada Tuhan. Tidak ada yang mengecewakan dari perjuanganmu."
Kata-kata itu terngiang kembali di otaknya. Apa maksud dari perkataan papa tadi? Apa dia juga meragukan kemampuan otakku ini sehingga ia pasrah saja? Cih, membayangkannya saja membuat Abbie kesal setengah mati.
"I can do it better than you guess."
Ia mengepalkan tangannya dan mengacungkannya ke udara.
Tanpa sepengetahuannya, ada seseorang yang tersenyum memperhatikannya dari arah belakangnya. Ia ditemani beberapa perempuan berseragam putih dengan tas-tas medis di tangannya.
"Apa yang dilakukannya? Hahaha. Dia memang selalu menggemaskan, Phil."
Orang yang disebutkan namanya itu mendengus. "Menggemaskan apanya? Dia seperti macan kesurupan kalau bersamaku. Kau saja yang tergila-gila padanya sehingga tidak menyadari siapa dia."
Orang itu terkekeh dan menatap orang yang di sampingnya. "Dia salah paham padamu, Phil. Apa kau tidak ingin meluruskannya?"
"Biarkan saja." Philip menjawab acuh.
Orang itu berjalan mendekat dengan tangan kirinya menempel di dada dengan gips yang masih membalut dan digantung dengan kain ke lehernya.
Abbie menghela napasnya dan menghembuskannya perlahan guna mengusir kegugupan yang tiba-tiba saja melandanya. Ini hanya olimpiade, bukan di depan pers yang selalu mengejar ketika kau melakukan kesalahan, Abbie, begitu pikirnya.
Ia sangat terkejut ketika mendapati satu tangan melingkar di pinggangnya. Tangan itu sangat erat seperti tidak ingin melepaskan tubuh Abbie. Ia berbalik dan hendak meninju orang yang sudah lancang memeluknya.
Deg.
Jantungnya berhenti seketika. Ia membeku. Tangannya yang mengepal di udara terhenti tanpa bergerak lagi.
Apa aku salah? Apa mataku sudah bermasalah? Beginikah rasanya berhalusinasi saat seseorang mengkonsumsi narkoba? Dia? Dia datang?
Ia mengucek matanya berkali-kali memastikan bahwa apa yang di hadapannya ini adalah benar adanya.
Orang yang di hadapannya itu tersenyum manis menampilkan deretan giginya. Senyum yang dirindukannya selama beberapa jam kemarin.
"Aku merindukanmu."
Orang itu berbisik di telinganya sambil terkekeh melihat reaksinya.
Abbie menyentuh tangan yang masih melingkar di pinggangnya. Hangat. Ia merasakannya.
Seketika ia memeluk orang itu. "Aku juga merindukanmu, Charlie."
"Aww...sakit."
"Maaf."
Epilog :
"Kenapa kau juga ikut ke sini?" Abbie menunjuk kesal pada Philip.
"Dia juga salah satu pesertanya."
"Huh?!"
"Hahaha...kau menggemaskan. Tentu saja perwakilan sekolah harus tiga peserta. Satu mata pelajaran Biologi, yang satunya Kimia, dan yang satunya lagi pelajaran Fisika." Charles menjelaskan maksud kedatangan Philip di tengah-tengah mereka.
"Lalu, kenapa dia tidak ikut bimbingan seperti kita?"
Charles mengangkat bahunya.
"Tentu saja karena daddy-nya Frank ingin mengerjai kalian." Philip yang menjawab sambil tersenyum.
"Apa?! K*p*r*t gila! Asesino! Anjing rabies! Macan tutul! Harimau gila! Singa kesurupan!"
Abbie berteriak kesal sampai ia tersengal oleh napasnya yang tidak beraturan karena sangat marah pada Mr. Di Vaio. Ia menepuk-nepuk dadanya karena sesak.
Charles dan Philip tertawa keras melihatnya.
.
*****
ig @xie_lu13