Treat You Better

Treat You Better
126. Adira nakal



Adira langsung memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang suaminya berikan.


Memang sulit menolak pesona suaminya sendiri.


Adira selalu terbuai akan setiap sentuhan yang Tristan berikan.


Suara laknat dari mulut Adira pun tidak bisa di hentikan lagi.


Berulang kali Adira mengeluarkan suara laknat itu saat tangan Tristan di bawah sana terasa maju dan mundur.


Tristan tersenyum penuh kemenangan menatap wajah sayu Adira yang meminta lebih.


Kemudian, Tristan membalikkan tubuh Adira untuk membelakanginya.


“Hah!”


Suara laknat Adira terdengar lagi saat milik Tristan berhasil masuk ke dalam milik Adira.


Hingga beberapa jam ke depan, pasti hanyalah suara luknut yang mengisi kamar mandi yang semula terasa dingin kini berubah menjadi panas.


Tok. Tok. Tok.


Terdengar suara ketukan pintu dari depan kamar Adira dan Tristan.


Keduanya tidak menghiraukan ketukan itu karena mereka masih sibuk dengan penyatuan yang belum terhenti sejak dua jam yang lalu.


Setelah dari kamar mandi, Tristan mengajak Adira untuk melakukan penyatuan di depan cermin.


Dan terbukti, gaya tersebut berhasil membuat permainan keduanya semakin menggelora.


Tok. Tok. Tok.


Tristan berdecak sebal karena orang yang ada di depan sana telah mengganggu kesenangannya.


“Seh–benh–tarh.” pekik Adira yang suara luknutnya masih terdengar jelas.


Tristan semakin mempercepat temponya, dan keduanya melakukan pelepasan untuk yang ke sekian kalinya lagi.


Tanpa keduanya sadari, dari luar pintu, ada seseorang yang sedang mendengarkan suara-suara yang keduanya hasilkan.


Seseorang tersebut hanya bisa mengulum senyum sambil geleng-geleng kepala karena mengerti sedang terjadi perang di dalam sana.


Karena tidak mau mengganggu kegiatan keduanya, seseorang tersebut segera turun kembali ke lantai bawah.


*


“Duo Mama sama duo Papa ada di sini sejak kapan?” tanya Adira terkejut terheran-heran.


Bahkan, Aarav yang tadi tertidur di mobil sekarang sudah terbangun dan berada di gendongan papa Hendra yang sedang mengobrol di teras bersama papanya.


Adira selalu lupa waktu saat sudah bermain di ranjang bersama Tristan.


Bu Dewi dan Bu Siska saling melirik satu sama lain dan bersamaan dengan itu, keduanya menatap Adira dengan tatapan memicing dan tersenyum nakal.


“Habis berapa ronde?” tanya bu Dewi sambil menaik-turunkan alisnya.


Adira langsung gelagapan tidak tahu harus menjawab apa.


“Harusnya mau tujuh, tapi karena ada yang mengetuk pintu, akhirnya cuma bisa lima kali,” jawab Tristan dengan santainya.


Mata Adira melotot seperti akan keluar dari tempatnya saking lebarnya.


Adira merasa malu jika membahas masalah ranjang dengan orang tuanya.


“Woah!” bu Siska dan Bu Dewi kompak bertepuk tangan mendengar ucapan Tristan.


“Apaan sih, pake tepuk tangan segala,” ucap Adira bersungut kesal dengan tingkah ibu kandung dan ibu mertuanya itu.


“Berarti Tristan strong dan long time dong?” ucap bu Siska tanpa berfilter.


Adira sampai tepuk jidat dan segera berlalu meninggalkan kedua wanita yang sangat berarti di hidup Adira.


Sedangkan Tristan, dia sudah tersenyum bangga karena pujian yang mamanya ucapkan.


“Susul deh, Tris. Adira memang gitu, malu-malu tapi mau,” ucap Bu Dewi yang ikut meledek anaknya itu.


Tristan tergelak melihat tingkah kedua ibunya itu. Kemudian dia berjalan tergesa untuk mengejar Adira.


“Sayang, mau ke mana sih? Masa marah lagi?” ucap Tristan sambil mencekal pergelangan tangan Adira.


Cup.


Karena tidak tahan, Tristan langsung mengecup bibir Adira yang cemberut itu.


“Ih! Apaan sih main cium aja,” ucap Adira sambil bersungut kesal.


“Kamu mau ke mana?” tanya Tristan lagi dan tidak menghiraukan kekesalan yang Adira luapkan.


“Aku mau lihat Echa. Aarav udah bangun kok dia belum ya? Aku mau cek ke kamarnya dulu,” ucap Adira mengatakan alasannya.


Tanpa di duga, Tristan langsung memeluk tubuh Adira dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Adira.


“Jangan begini lah, Mas. Nanti kalau ada yang liat, aku kan malu,” rengek Adira meminta di lepaskan.


“Sebentar aja. Rasa-rasanya aku belum puas hanya melakukan lima kali sama istriku paling cantik,” ucap Tristan gombal.


Adira langsung memberikan pukulan bertubi-tubi di lengan Tristan.


Kelakuannya sama saja seperti duo mamanya.


Bret!


Dress yang Adira kenakan tiba-tiba lepas semua kancingnya karena tarikan Tristan yang begitu kencang.


Adira terdiam sesaat melihat kancing dress bagian atasnya yang sudah berjatuhan di lantai.


“Mas Tristan Wijaya.” ucap Adira menggeram kesal sambil menatap tajam suaminya.


Tristan tersenyum nakal karena lagi-lagi melihat sesuatu yang menyembul dari balik dress.


Tristan langsung menangkup kedua gunung kembar itu dari arah belakang.


Otak Adira ingin segera menolaknya, namun tubuhnya malah menerima dengan baik rangsangan yang suaminya berikan.


“Bunda sama ayah, pacalan lagi?”


Suara Echa terdengar dari arah belakang.


Tristan segera menghentikan aksinya dan menoleh menatap Echa.


“Nggak papa dong pacalan. Kan udah nikah. Ayo temui duo Oma sama duo opa di depan!” ajak Tristan untuk membiarkan Adira mengganti bajunya terlebih dahulu.


Sebelum benar-benar berlalu, Tristan menyempatkan diri untuk menoleh dan mengedipkan sebelah matanya kepada Adira.


Adira membalasnya dengan ciuman jarak jauh.


Keduanya tertawa tanpa suara mengingat tingkah absurd keduanya.


Setelah Tristan dan Echa berlalu, Adira bisa bernafas dengan lega dan segera berjalan menuju teras jemuran untuk mencari bajunya.


Tidak mungkin Adira mengganti baju ke kamarnya yang harus melewati tangga.


Itu berarti, Adira juga harus melewati jembatan duo mama.


Dan itu akan buruk karena dirinya pasti akan mendapat ledekan tiada henti.


Setelah dapat, Adira segera mengganti bajunya di dalam kamar belakang yang merupakan kamar terdekat.


“Neng Adira ada di sini? Apa ada yang mau saya bantu?” ucap teh Ratih saya melihat atasannya itu keluar dari kamar belakang.


“Eh! Teh Ratih di sini?” ucap Adira terlonjak kaget karena kehadiran teh Ratih yang tiba-tiba.


“Ini memang area saya. Kenapa Neng Adira ada di sini?” tanya teh Ratih belum menyerah.


“Numpang ganti baju karena baju yang ini, kancingnya lepas semua,” jawab Adira sambil membuka dress-nya yang sudah tidak ada kancing yang menempel di sana.


“Kok bisa?” tanya teh Ratih heran.


“Bisalah, kan karena kekuatan cinta,” ucap Adira yang sama sekali tidak teh Ratih paham maksudnya.


Setelah itu, Adira melenggang pergi meninggalkan teh Ratih yang masih melongo dengan ucapan atasannya itu.


"Memangnya apa hubungannya kekuatan cinta sama kancing baju yang terlepas?" gumam teh Ratih bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


Seketika teh Ratih membelalakkan mata dan menutup mulutnya tidak percaya dengan maksud ucapan Adira.


"Astaga, neng Adira sudah jadi nakal sekarang ya," monolog teh Ratih sambil geleng-geleng kepala.