Treat You Better

Treat You Better
74. Undangan pernikahan.



“Abang cuma mandi, sampai 45 menit?!” tanya Amanda tak percaya.


Dia juga melihat jam di pergelangan tangannya.


“Mandi bukan sembarang mandi. Mungkin Tristan mandinya pake kembang tujuh rupa,” Doni menjawab perkataan Amanda dengan ledekan.


“Nanti, kalau kalian udah nikah, pasti bakal betah berlama-lama di dalam kamar.” ucap Tristan, sambil tersenyum santai dan langsung mendudukkan dirinya di double sofa yang berada di ruangan tersebut.


Adira langsung memelototi Tristan.


Sedangkan Amanda dan Doni, mereka sama-sama memutar bola matanya malas.


Selang beberapa menit kemudian, Vian dan Kinara datang kemudian disusul Azka dan Lidya.


Mereka saling menyapa dan berpelukan karena sudah lama tidak bertemu.


Setelah lulus, mereka jadi jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.


Mereka semua telah bekerja. Jadi, jika bukan hari libur atau cuti, mereka tidak bisa selalu bertemu.


“Gimana nih, kelanjutan hubungan kalian?” tanya Adira kepada Azka dan Lidya.


Azka dan Lidya memang jarang sekali mengumbar kemesraan di depan umum.


Berbeda dengan Vian dan Tristan, mereka terang-terangan menunjukkan kemesraan bersama pasangannya.


Sedangkan Doni, dia orangnya yang sedang-sedang saja.


Tidak terlalu di umbar, namun kadang di tunjukan juga.


Lengkap sudah formasi mereka bersama pasangannya masing-masing.


Kembali lagi ke pertanyaan Adira.


Lidya dan Azka saling melempar pandang dan tersenyum simpul.


Semua yang berada di ruangan tersebut menunggu jawaban yang akan Lidya dan Azka berikan.


Lidya tidak menjawab, dia justru mencari sesuatu di dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.


“Ini ... buat kalian semua,” ucap Lidya masih mempertahankan senyum simpulnya.


Semua membelalakkan mata, mulutnya menganga lebar tak percaya.


Adira mengambil salah satu undangan yang tergeletak di atas meja.


Dia mulai membuka dan membacanya.


Disitu tertulis nama Lidya dan Azka lengkap dengan tanggal pernikahannya.


Jika dilihat, memang benar itu adalah undangan pernikahan.


“Kalian serius?” tanya Adira pelan.


Dia masih tak percaya dengan kabar yang baru saja dia dengar.


“Serius dong. Dua minggu lagi acara di adakan,” ucap Azka santai.


Belum selesai rasa terkejut mereka, kini mereka kembali dikejutkan dengan tanggal pernikahan Lidya dan Azka yang diadakan tidak lama lagi.


Lidya dan Azka sudah menduga bahwa teman-temannya akan terkejut dengan kabar yang mereka bawa.


Memang terlalu cepat. Tapi menurut keduanya, lebih cepat lebih baik.


“Apa?!” pekik Kinara menggema di se isi ruangan.


“Serius, dua minggu lagi acara di adakan,” ucap Lidya mengulang.


“Gue lagi terkejut Lid ... bukan bertanya. Gue udah denger,” jawab Kinara menjelaskan.


“Woah! Selamat Bro! Lebih cepat lebih baik,” ucap Tristan ikut bahagia.


Dia berhambur menyalami Azka ala-ala cowok.


Doni dan Vian tersenyum dan melakukan hal sama.


Adira segera sadar dari rasa terkejutnya. Dia juga berhambur memeluk Lidya dengan sangat erat. Begitu juga dengan Amanda dan Kinara.


Saat pelukan mereka terlepas, Kinara berceletuk,


“Kenapa Lo duluan sih, yang nikah. Kan pacarannya duluan Gue,” ucap Kinara cemberut.


“Ya biarin dong. Gue juga mau hubungan yang halal kaya Adira,” jawab Lidya.


“Udah ... Udah ... Ada waktunya kalian semua juga bakal nikah kok. Santai aja ... Tinggal nunggu giliran,” ucap Adira jumawa.


“Iya, yang udah nikah ... Sombong amat dah.” Jawab Kinara kesal.


Mereka tergelak bersama melihat bibir cemberut Kinara. Namun sedetik kemudian, Kinara juga ikut tersenyum bahagia dan berkata.


“Gue bahagia banget Lid! Diam-diam Lo main sebar undangan aja ya,” ucap Kinara memeluk Lidya lagi.


Lidya ikut tersenyum dan membalas pelukan itu.


Semua orang yang berada di ruangan tersebut merasa sangat bahagia dengan kabar pernikahan Lidya dan Azka.


Mereka juga bercerita banyak tentang kehidupan mereka setelah tiga bulan belakangan ini.


*


*


*


Adira sudah membersihkan dirinya terlebih dahulu. Kini giliran Tristan yang membersihkan dirinya di kamar mandi.


Setelah selesai, Tristan segera naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan yang Adira kenakan.


Adira belum tidur, dia masih sibuk dengan ponsel yang berada di tangannya.


Tristan yang melihat itu langsung bertanya.


“Kamu lagi liat apa, Sayang?” tanya Tristan. Dia mendekatkan wajahnya pada layar ponsel milik Adira.


“Aku lagi liat postingan Instagram aku. Fotonya perlu di perbaharui deh,” jawab Adira masih fokus menatap layar ponselnya.


Tristan langsung mengambil alih ponsel yang Adira genggam. Lalu dia meletakkannya dia atas nakas.


“Ada yang lebih penting dari pada memperbaharui foto,” ucap Tristan tersenyum manis.


Dia membawa Adira ke dalam pelukannya dan menelusupkan wajahnya di leher jenjang milik Adira.


Tristan mengendus-endus wangi tubuh Adira, wangi lavender.


Wangi yang sudah menjadi candunya itu.


Adira yang paham akan maksud Tristan, dia tersenyum dan balik memeluk leher Tristan.


“Benar ... Ini lebih penting dari apapun,” ucap Adira tersenyum miring.


Adira langsung mengecup bibir Tristan dengan lembut. Dia juga menyesapnya atas bawah bergantian.


Tristan tersenyum disela ciumannya dan membalas ciuman Adira tak kalah lembut.


Ciuman mereka semakin dalam. Hingga tanpa terasa, lidah keduanya sudah saling membelit satu sama lain.


Ciuman mereka berubah menjadi ciuman agresif. Mereka melakukannya dengan kasar.


Karena sudah tidak tahan, Tristan segera melepas pakaian yang melekat pada tubuh Adira.


Sret!


Baju tidur yang Adira kenakan sobek karena ulah Tristan yang melepasnya terlalu kasar.


“Sobek lagi?” tanya Adira di sela ciumannya.


“Besok kita beli yang banyak, Sayang,” jawab Tristan sambil melepas seluruh pakaiannya.


Adira mencebikkan bibirnya kesal, dan itu justru membuat Adira terlihat sangat imut.


Tristan semakin tidak tahan melihat bibir yang mengerucut itu. Dia langsung meraup dengan rakus bibir ranum itu.


Adira membalasnya dengan tak kalah menggelora. Keduanya melakukan penyatuan berulang-ulang dan berharap akan ada buah cintanya yang tumbuh di rahim Adira.


..............


Sinar matahari mulai muncul di celah gorden kamar Adira dan Tristan.


Adira perlahan membuka mata dan memicing menatap ke arah jam dinding.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.


Adira segera membangunkan Tristan dengan menepuk pelan pipinya.


Tristan terdengar melenguh dan memicingkan mata. Dia tersenyum manis saat menemui wajah Adira yang pertama kali dia lihat saat bangun tidur.


"Selamat pagi, Sayang." sapa Tristan pertama kali.


Selamat pagi, suamiku tersayang." jawab Adira balas tersenyum manis.


"Bangun gih ... udah jam setengah enam nih. Entar telat ke kantornya." perintah Adira lembut sambil mengacak gemas rambut Tristan dan menyisirnya menggunakan jemarinya.


"Aku capek banget karena permainan kita semalam. Kamu itu ... benar-benar hebat semalam," ucap tristan tersenyum begitu manis.


Ucapannya Tristan jujur. Semalaman Adira yang memimpin permainan.


Wajah Adira langsung bersemu merah mengingat begitu agresif permainan dirinya.


Adira langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Tristan dan menjawab,


"Apaan sih. buruan bangun ... nanti telat."


Tristan tersenyum dan semakin memeluk Adira erat.


"Aku berangkat siang. Aku harus mengisi tenagaku dulu, Sayang," ucap Tristan dengan maksud menggoda Adira.


Wajah Adira tambah merona. Dia tersenyum bahagia karena suaminya terpuaskan dengan permainannya.


Untuk menghindari rasa malunya, Adira pamit ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dia berlari secepat kilat dengan tubuh yang masih polos.


Tristan tergelak dengan tingkah Adira yang terlihat malu-malu.


Lalu Tristan melanjutkan tidurnya lagi.