Treat You Better

Treat You Better
Masih lamaran.



“ehem... ehem..” tatapan Tristan dan Adira teralihkan oleh deheman para orangtua dan Amanda. Keduanya jadi salah tingkah sendiri.


“Udah dulu ya Tristan sama Adira tatap-tatapannya. Sekarang kita mulai dulu tujuan kita kesini mau apa.” Ucap pak Hendra yang tidak tahan untuk menjahili anak-anaknya.


“Iya om.” Jawab adira sambil tersenyum kikuk


Tristan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena salah tingkah.


“Ayo silahkan diminum dulu.” Ucap Bu Dewi mempersilahkan setelah Bu yati menaruh minuman dan cemilan di meja.


Setelah di persilahkan mereka meminum minuman mereka masing-masing.


“ Irawan, langsung saja saya ingin menyampaikan maksud kedatangan saya ke rumah kamu. Pasti kamu sudah tau lah karena Adira pasti telah memberi tahu. Tapi saya sebagai orangtuanya Tristan, ingin meminta Adira secara baik-baik”. Ucap pak Hendra menjelaskan.


Pak Irawan dan Bu Dewi masih setia mendengarkan sambil memasang senyum.


“Ayo Tristan. Sekarang kamu yang ngomong dong. Kan kamu yang mau minta Adiranya buat kamu”. Ucap pak Hendra sambil menepuk paha Tristan. Semua terkekeh.


“Hem... Sebelumnya om, mungkin om sudah tau kalau saya dan Adira sudah menjalin hubungan. Namun karena saya tidak ingin kehilangan Adira, saya berniat untuk melamar anak om untuk diri saya.” Ucap Tristan menjeda ucapannya. Dia menarik nafas lalu menghembuskannya lagi. Dia merasa sangat gugup.


“Saya tidak bisa berjanji untuk selalu ada kebahagiaan dalam suatu hubungan. Tapi saya berjanji akan selalu ada dalam suka maupun duka. Karena hidup pastinya tidak selalu tentang kebahagiaan.”. ucap Tristan tulus. Dia mengakhiri kalimatnya dan mempersilahkan om Irawan memberikan suaranya.


Jantung Adira saat ini berpacu lebih cepat dari biasanya. Dia begitu takut papanya tidak mau memberinya restu.


Namun dugaan Adira salah. Papanya tersenyum begitu puas setelah Tristan menyelesaikan kalimatnya. Adira bisa sedikit bernafas lega.


Sedangkan Tristan, dia sudah ketar-ketir takut salah bicara di depan calon mertua. Dia berusaha untuk menetralkan kegugupannya. Dia ingin lebih gentle dengan mengungkapkan isi hatinya sendiri tanpa minta di bantu oleh Papanya.


“Om salut sama kamu. Mana mungkin om nggak menerima menantu kaya kamu.” Ucap pak Irawan begitu bahagia.


“Tapi.....” ucap pak Irawan lagi menggantungkan kalimatnya.


“Tapi kenapa om?.” Tanya Tristan penasaran.


“Kamu harus tanyakan dulu pada Adira. Mau nggak dia nikah sama kamu hehe.” Jawab pak Irawan terkekeh.


Deg.


Deg.


Deg.


Diam seketika. Semua menunggu jawaban dari Adira. Sedangkan yang ditunggu masih bergeming dengan wajah datarnya.


“Gimana Ra?” tanya Tristan memastikan.


Adira masih juga diam. Membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut menatap ke arah Adira.


Krik. Krik. Krik.


Adira yang ditatap oleh semua jadi meringis sendiri.


“A-aku nggak bisa.” Jawab Adira terbata.


Semua orang yang berada di ruangan tersebut terkejut dengan jawaban Adira. Bukankah Adira juga sama cintanya dengan Tristan? Mengapa tidak bisa?.


Semua masih menatap ke arah Adira dengan tatapan menyelidik. Seakan tidak percaya dengan ucapan Adira barusan.


“Maksud kamu apa Ra? Kamu mau buat keluarga aku malu? Kamu mau buat pertemanan papa kita hancur” ucap Tristan kesal dan tidak terima dengan jawaban Adira


“Dengerin aku dulu kak. Aku belum selesai ngomong.” Ucap adira lembut dan begitu santai.


“Maksud aku, aku nggak bisa. Nggak bisa nolak hahaha” jawab Adira tertawa puas karena berhasil mengerjai semua.


“Lo tuh bisa aja bikin semua orang deg-degan tau nggak.” Ucap amanda yang akhirnya bisa bernafas lega.


Sedangkan Tristan masih tidak percaya bahwa Adira bisa juga membuat hidupnya seperti menaiki roaller coaster dalam satu waktu.


Akhirnya pertemuan itu dilanjutkan dengan makan malam bersama. Setelah makan malam selesai, keluarga Tristan pamit pulang. Namun Tristan masih ingin berada di rumah Adira dahulu.


“Mau ngomong apa lagi sih kak?” tanya Adira ketus.


Mereka sudah duduk di ruang tv berdua. Orangtua Adira sudah masuk ke kamarnya. Mereka duduk bersebelahan di Doble sofa depan tv.


“Kamu nggak suka aku ada disini?” tanya Tristan dengan wajah dibuat nelangsa.


“Bukan gitu. Tapi ini udah malem. Kita bisa bicara besok kan” ucap Adira menjelaskan.


“Nggak bisa. Karena kita tadi nggak bisa ngobrol berdua. Kamu terlalu asik sama mama sama amanda.” Ucap Tristan kesal.


“Ya udah si.... Emang mau ngomong apa?” tanya Adira to the point.


“aku mau nanya. Kenapa kamu tadi bikin aku takut dan deg-degan?” tanya Tristan dengan tatapan menyelidik.


Adira yang ditatap seperti itu meringis sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.


“hehehe.. sengaja... Biar kaya di film-film gitu” ucap Adira sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tristan mengernyit bingung. Apa ada film yang seperti itu?. Ah tapi untuk apa Tristan memikirkannya? Nggak penting. Yang terpenting adalah sekarang Adira sudah diikat olehnya.


“Jadi .. rencana nikah kapan nih?” tanya Tristan mengalihkan pembicaraan.


“Kak.....” ucap Adira menggeram.


“Oke sorry. Aku tunggu kamu lulus. Emm... Kamu berarti dua Minggu lagi KKN ya?” tanya Tristan sambil menatap Adira.


“Iya.. aku berangkat dua Minggu lagi”. Ucap Adira balas menatap Tristan.


“Berapa bulan disana?” tanya Tristan lagi. Tangannya sudah memegang tangan Adira lalu dikecupnya pelan.


“Cuma satu bulan kak. Kita bakal El De Er. Nggak papa kan?” tanya Adira kepada Tristan.


“Satu bulan ya? Nggak papa. Aku siap nungguin kamu sampai kapanpun”. Ucap Tristan sambil mengecup punggung tangan Adira lagi.


Perlakuan Tristan membuat hati Adira begitu berbunga-bunga. Tukang bunga sampai kalah karena bunga yang bermekaran di hati Adira sangat banyak dan begitu merekah. Haha.


“Kenapa senyum?”. Tanya Tristan merasa aneh dengan tingkah Adira.


“Nggak papa. Tetap seperti ini ya kak. Jangan pernah berubah” ucap Adira sendu. Lalu menghambur ke pelukan Tristan dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Tristan.


Tristan tidak menjawab namun membalas pelukan Adira sangat erat sambil mengecup kepala Adira berulang-ulang.


'bagaimana aku bisa berubah, jika sejak saat jatuh cinta padamu aku tak bisa berpaling dan melihat perempuan lain lagi' ucap Tristan yang tentunya hanya dalam hati.


“Kamu juga nggak boleh berubah. Kita harus lewatin semuanya sama-sama” ucap Tristan tambah memeluk Adira erat.


...........


Akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Adira sudah siap untuk berangkat ke sebuah desa di Sukabumi sebagai tempat KKN,nya. Dia bersama tujuh orang temannya yang satu jurusan. Termasuk Lidya. Sedangkan Amanda, dia berbeda desa dari tempat KKN Adira.


Dalam tim Adira ada empat perempuan dan tiga laki-laki. Mereka berangkat bersama menggunakan satu mobil milik salah satu teman dari mereka.


“Nanti kalo udah sampe, kabarin ya Ra.” Ucap tristan seperti tidak rela melepas kepergian Adira.


Tristan memang mengantar Adira ke tempat berkumpulnya tim Adira.


“Iya.. tapi sabar ya takut nggak ada sinyal. Kan ada di desa” ucap Adira begitu lembut.


“Mukanya jangan ditekuk gitu dong. Aku jadi berat nih mau berangkat” ucap Adira yang merasa tak tega melihat raut wajah Tristan.


Tapi dirinya juga merasakan hal yang sama, tidak ingin berjauhan dengan kekasih hati. Rasanya ingin dekat dekat terus. Tidak tahu nanti jika sudah berada di sana Adira bisa menahan rindunya atau tidak.


Tristan pun tersenyum terpaksa menanggapi. Matanya terlihat berkaca-kaca seakan mau ditinggal satu tahun.


“Nggak. Kamu harus berangkat. Supaya kamu bisa cepet lulus dan kita bisa cepet nikah” ucap Tristan sambil tersenyum. Berat sekali rasanya harus berjauhan dan menahan rindu selama satu bulan.