
Adira dan Tristan saat ini sedang berada di pantai pink atau biasa disebut dengan pink beach. Pantai tersebut merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di Labuan Bajo. Masih banyak sekali pantai-pantai lainnya yang berada di Labuan Bajo. Oleh sebab itu, Labuan Bajo mendapat julukan Kota Seribu Sunset.
Mata Adira benar-benar ter manjakan dengan keindahan pantai pink itu. Pantai tersebut memiliki pasir berwarna soft pink dan air laut berwarna biru yang sangat bersih dan jernih. Di sekitar pantai tersebut juga terdapat beberapa bukit yang mengelilingi.
Adira memilih duduk di tepian pantai dan melihat Tristan yang sedang berenang di tepian pantai. Suasana yang sangat menenangkan bisa mendengar deburan ombak yang tidak terlalu kencang.
Di pantai pink tersebut, keindahan alamnya masih sangat terjaga dan masih sedikit pengunjung yang datang. Karena, kebanyakan pantai di Indonesia yang sudah banyak pengunjungnya, akan banyak sampah-sampah yang berserakan.
Memang, sebagian orang masih saja enggan untuk membuang sampah pada tempatnya. Hal itulah yang menjadikan kerugian untuk manusia maupun alam sekitar.
“Kenapa nggak berenang?” tanya Tristan yang sudah naik ke permukaan. Sejak tadi, Tristan memperhatikan Adira yang entah sedang melamunkan apa. “Kok dari tadi diam aja?” tanya Tristan lagi.
Adira menoleh dan mendapati suaminya sudah duduk di samping dirinya. Adira tersenyum tipis dan menjawab. “Aku kangen anak-anak, Mas. Mereka lagi ngapain ya sekarang?” ucap Adira sambil menerawang jauh seakan-akan bisa menembus dinding perbedaan pulau.
Tristan langsung memeluk tubuh Adira dan berkata. “Apa kita pulang saja?” tanya Tristan tulus.
“Nggak usah, Mas. Kita kan bisa video call. Sayang banget resort yang udah kita booking sampai dua minggu ke depan,” jawab Adira merasa khawatir takut Tristan benar-benar merealisasikan keinginannya.
Tristan tersenyum lembut, dia juga merindukan kedua anaknya yang berada di Jakarta. Tapi Tristan berpikir, dirinya dan Adira benar-benar butuh untuk refresing. Biarkanlah semua yang mengurus anak-anak adalah kedua orang tuanya. “Kapan lagi bisa liburan tanpa di ganggu anak-anak kan, Sayang?” tanya Tristan yang berhasil menyadarkan Adira.
Memang benar, sejauh ini mereka selalu di ikuti oleh anak-anak ke mana pun mereka pergi. Dan saat bersama anak-anaknya, Tristan dan Adira tidak bisa sepenuhnya bermesraan karena akan ada sekat penghalang, yaitu anak-anak.
Adira dan Tristan langsung tergelak renyah bersamaan mengingat Aarav yang begitu posesif terhadap Adira. Tidak boleh sedikit pun Aarav melihat Tristan sedang memeluk Adira. Karena sudah di pastikan, Aarav akan marah dan merasa kesal dengan ayahnya itu. Dia beranggapan bahwa ayahnya akan merebut bundanya.
“Daripada galau, mending kita main lari-lari, Yuk!” ajak Tristan agar bisa sedikit menghibur istrinya. Adira tersenyum lebar dan mengiyakan ucapan suaminya.
Adira segera beranjak dari duduknya dan menarik lembut tangan suaminya untuk dia ajak berlari-lari di pasir lembut berwarna pink itu. “Ayo, Mas udah siapin fotografernya kan? Buat mengabadikan momen kita di sini?” tanya Adira yang jiwa instagramable,nya mulai kambuh.
Tristan terkekeh dan mengacak rambut Adira dengan gemas. “Udah dong, apa sih yang nggak buat istri aku yang paling cantik,” ucap Tristan sambil mencubit pelan pipi chubby Adira.
Ya, Adira pernah mengatakan ingin berlibur ke pantai dan di video dari ketinggian menggunakan drone. Karena dulu belum sempat terwujud, saat ada kesempatan untuk mewujudkannya, Adira tidak akan menyia-nyiakan semuanya.
Setelah itu, keduanya berlari-lari kecil di pinggiran pantai untuk menikmati pemandangan alam yang telah di suguhkan oleh Tuhan dengan sedemikian indahnya. Mereka bercanda dan tertawa bersama karena rasa bahagia yang menyelimuti hati keduanya.
*
Setelah melaksanakan salat jamaah, Adira tidak langsung makan. Dia akan menghubungi anak-anaknya yang sedang berada di Jakarta. Kemarin, Adira hanya berbincang sebentar saja karena Aarav terlalu banyak bertanya. Bukan bertanya tentang bagaimana keindahan alam di Labuan Bajo. Melainkan, dia bertanya apakah adik barunya sudah dibuat.
Adira jelas tidak bisa berucap apa pun. Adira sudah bingung harus menjawabnya dengan bagaimana. Akhirnya, Tristanlah yang menjawab pertanyaan absurd dari Aarav. “Ayah sama bunda udah bikin tapi nggak tau berhasil atau enggak. Aarav sama Echa doain aja semoga adik barunya cepat jadi,”
Begitulah kira-kira jawaban yang berhasil Tristan kasih pada Aarav agar tidak banyak bertanya lagi. Entah dari siapa Aarav bertanya dengan kalimat seperti itu. Dan setelah di telusuri, ayahnya sendiri yang mengatakan bahwa akan membuatkan adik baru untuk Aarav. Adira langsung memelototi suaminya yang sudah sembarangan bicara di depan anak-anak.
Pantas saja Aarav melepaskan Adira begitu saja saat Adira akan pergi berlibur. Biasanya, Aarav selalu menempel ke mana pun Adira pergi. Termasuk ikut berbelanja. “Aku kan mau jagain bunda di saat ayah lagi kerja dan nggak bisa mengawasi bunda,” itulah ucapan Aarav waktu itu saat Adira akan pergi berbelanja bulanan bersama Echa.
Adira memang sengaja mengajak Echa karena Echa merupakan anak perempuan. Tapi karena Aarav juga memaksa ikut, Adira akan dengan senang hati menerimanya.
“Hallo kak, dek!” sapa Adira saat panggilan video telah tersambung.
Tristan ikut bergabung dan duduk mendekati Adira agar wajahnya juga terlihat di layar ponsel milik Adira.
“Hai Ayah dan Bunda ...” jawab Aarav dan Echa bersamaan. Wajah keduanya sudah muncul memenuhi di layar ponsel milik Adira.
“Ayah sama bunda masih lama ya, di sana?” tanya Echa di seberang sana.
Adira tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Echa. “Enggak kok. Bentaran lagi pulang,” Itu merupakan suara Tristan yang menjawab pertanyaan Echa.
“Kak Echa udah nggak sabar pengen di beliin oleh-oleh dari situ, Bun,” ucap Aarav yang suaranya terdengar berbisik namun masih bisa di dengar oleh Echa yang berada di sebelahnya.
Echa langsung memelototi Aarav yang telah membocorkan pembicaraan keduanya semalam. “Kamu kan udah janji nggak bakal kasih tau bunda sama ayah kalau aku ngarepin oleh-oleh,” protes Echa yang bibirnya sudah cemberut kesal.
Adira dan Tristan terkekeh geli melihat adik dan kakak itu berdebat hanya karena masalah sepele. “Ya Udin ... Cuma masalah oleh-oleh aja kalian ribut. Itu sih udah pasti Sayang,” ucap Adira menengahi adik dan kakak di seberang sana.
“Horee!!” pekik Aarav dan Echa kegirangan. Mereka sudah berjingkrak-jingkrak di atas kasur yang bisa Adira dan Tristan tebak adalah kasur milik Echa. Karena warna sepreinya tidak bisa berbohong. Echa dan warna hitam, memang sudah tidak bisa di pisahkan lagi.
“Kalian enggak kangen sama ayah dan bunda nih? Cuma kangen sama oleh-olehnya aja?” tanya Tristan mulai menggodai kedua anaknya itu. Echa dan Aarav langsung terdiam dan menatap layar ponsel yang menampilkan wajah ayah dan bundanya.
Aarav dan Echa terlihat saling pandang sebelum menjawab pertanyaan ayahnya. “KANGEN BANGET!” pekik Aarav dan Echa lagi sangat kencang.
Tristan dan Adira sampai meringis mendengar suara melengking dari dua bocah tersebut. Namun kemudian, Adira dan Tristan tersenyum lebar dan geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua bocah yang masih duduk di bangku SD itu.