Treat You Better

Treat You Better
Tamu Tak Diundang



Jangan lupa tinggalkan jejak ya!😘


.


.


.


.


.


.


"Apa kau tidak akan mempersilahkan aku masuk?" tanya Abbie melihat Charles tidak bergeming dari tempatnya.


"Dari mana kau tahu tempatku?"


Charles balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Abbie.


"Menyebalkan!"


Abbie langsung menerobos masuk ke dalam apartemen itu.


"Aku bisa tahu apapun yang perlu aku tahu."


Sambil duduk bersandar dengan menyilangkan kaki di sofa kecil di sana, ia mengisyaratkan Charles untuk ikut duduk.


"Kenapa kau datang ke sini? Dari mana kau tahu alamatku?" Charles rupanya belum menyerah dengan pertanyaannya.


"Apa itu penting sekarang?" sinisnya sambil melihat penampilan cowok itu.


Cowok yang sering dikatainya kampungan itu penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat kalau sudah di rumah.


Kenapa dia sangat imut begini kalau sudah di rumah sih?


Apa alasannya merubah penampilannya menjadi cowok culun dan terlihat kampungan sekali di sekolah?


"Heii...Di mana kacamata bodohmu itu? Mataku sakit melihat penampilan konyolmu yang seperti sekarang," teriaknya lagi.


"Memang kenapa? Apa aku aneh?"


Charles dengan sigap langsung berdiri melihat penampilannya di kaca jendela seberang. Ia bingung.


Tidak ada yang aneh!


"Pergilah! Ambil kacamata bodohmu itu lagi. Aku tidak suka melihat wajahmu yang bertambah jelek itu tanpa kacamata. Bagaimana kalau ada orang lain yang melihatmu seperti itu?


Aku saja hampir pingsan tadi."


Dasar cewek aneh.


Apa pedulimu?


Charles bersungut di dalam hatinya tapi ia bangkit juga dari tempatnya.


Abbie mengulas senyum puasnya ketika melihat gurat kebingungan Charles.


Kenapa dia sangat manis begitu sih? Abbie.


Lihat.


Senyuman anehnya itu muncul lagi.


Apa dia sedang mempermainkanku? Charles.


"Apa sekarang kau puas?" tanya Charles ketika ia sudah mengenakan kacamatanya kembali.


"Hahahahah...."


Tawa Abbie pecah ketika ia melihat Charles begitu penurut. Bagaimana tidak, wajahnya yang memerah karena kesal sudah seperti kepiting rebus ditambah kacamata itu membuatnya sangat menggemaskan.


"Kau sangat penurut. Anak baik." Sambil menepuk bahu cowok itu.


Dia benar-benar aneh.


Apa dia salah makan tadi? Atau sekarang dia lagi sakit?


Pikiran Charles sudah ke mana-mana, tanpa sadar ia menyentuh kening cewek itu.


"Tidak panas," gumamnya.


"Heii...Apa kau pikir aku sakit?" teriak Abbie sambil menepis telapak tangan cowok itu.


"Mungkin saja. Kau benar-benar aneh sejak tadi."


"Apanya yang aneh, bodoh? Kau yang aneh."


Charles mengangkat bahu acuh. Sudahlah, pikirnya. Mungkin dia memang sudah seperti itu dari sananya.


"Apa tujuanmu datang ke sini?"


"Belajar. Mau apalagi?"


Huuffttt.


Apa memang semua cewek seperti ini? Aneh, tapi benar-benar nyata. Sambil mengehembuskan napasnya kasar.


Aku bisa gila kalau harus belajar bersamanya setiap hari.


Charles sengaja menulikan telinganya ketika Abbie terus berceloteh.


"Apa kita tidak akan belajar?"


Setelah perdebatan panjang tentang materi mana yang ingin dipelajari, akhirnya Charles memilih untuk mengalah.


Mengalah bukan berarti kalah 'kan?


Mereka mulai mempelajari bagian tersulit terlebih dahulu kemudian diakhiri bagian yang menurut mereka lebih mudah.


Bosan karena materinya terlalu monoton, akhirnya Abbie memilih melemparkan pertanyaan-pertanyaan konyol kepada Charles.


"Heiii...Jawab pertanyaanku dulu." Serunya memecah kesunyian.


Ia tersenyum manis. Cowok itu hanya memandangnya datar.


Karena tidak ada tanda- tanda ketidaksukaan, akhirnya ia bersuara.


"Malam apa yang menyeramkan?"


Tanpa berpikir panjang, cowok berkacamata itu menjawab.


"Malam ketika ada tamu tak diundang."


"Kau menyindirku, ya?" tudingnya.


"Baguslah kalau kau merasa diri," jawab cowok itu acuh.


"Jawabannya apa?" lanjutnya.


"Ma' lampir."


Charles hanya ber-oh ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tak menanggapi.


"Kau bilang datang untuk belajar. Apa ini yang disebut belajar?" tegur Charles.


"Kau itu sama seperti materi itu. Monoton. Sama sekali tidak menyenangkan."


"Kau lupa? Kau yang memilih materi ini tadi. Dan sekarang kau juga yang memilih berhenti," ujar Charles.


"Ya, ya. Aku tahu. Bagaimana kalau kita berhenti saja? Aku sudah mengantuk sepertinya tidak bisa melanjutkan lagi ," tawarnya.


"Pulanglah. Tidak baik untuk cewek sepertimu keluar malam-malam," sahut Charles ketika ia melihat jam di handphonenya dan menyadari bahwa hari sudah mulai malam.


"Hmm...Baiklah," katanya sambil berjalan menuju pintu.


Apa pantas aku meminta nomor handphonenya terlebih dahulu?


Bagaiman reaksinya nanti?


"Ehh..tunggu dulu."


Sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal, Abbie memberanikan dirinya.


"Ehm...Bolehkah aku meminta nomormu?"


"Nomor apa?" tanya cowok itu bingung.


"Hah?" Abbie terkejut dengan reaksi cowok itu.


Reaksinya benar-benar aneh. Aku pikir dia tahu maksudku itu. Sungguh! Dia benar-benar sesuatu.


"Apa kau bodoh? Mana mungkin aku meminta nomor sepatumu padahal aku jelas-jelas tahu ukuran kakimu dari postur tubuh jelekmu itu."


Abbie mulai kesal.


"Mana handphonemu?" tanyanya sambil menengadahkan telapak tangan di depan cowok itu.


Charles segera meletakkan benda pipih itu di sana. Ia melihat Abbie menuliskan beberapa butir angka yang acak di layar sana. Tak lama kemudian, handhone di saku cewek itu berbunyi.


"Aku akan menghubungimu nanti," serunya sambil mengembalikan handphone milik cowok itu.


Selepas perginya Abbie, Charles segera merebahkan dirinya di kamar.


*****


Seorang pria berpakaian layaknya petugas pembersih segera mengambil handphonenya dan menelepon seseorang.


"Nona baru saja keluar, Tuan!" ucapnya setelah seseorang di sana mengangkat teleponnya.


"Laksanakan tugasmu. Terus awasi dia!"


"Baik, Tuan!"


Pria yang ditugasi Tuan-nya itu segera mengikuti ke mana arah perginya orang yang dibuntutinya.


Abbie segera pulang menuju mansion keluarganya karena jam di tangan menunjukkan pukul 21.45 waktu setempat.


"Kau darimana saja, Abbie?" tanya ibunya ketika ia baru saja masuk, belum juga melepaskan sepatu ketsnya.


"Belajar di rumah teman," jawabnya sambil berlalu.


"Sampai jam segini?" tanya ibunya lagi.


"Iya. Aku akan mengikuti Olimpiade dua minggu lagi." Ia berbalik menghadap ibunya.


"Papa sudah pulang?"


"Belum. Ada sedikit masalah di perusahaan. Jadi, papamu akan sedikit terlambat. Kau makanlah terlebih dulu. Nanti mama makan saat papamu pulang."


"Baiklah."


*****


Matahari pagi bersinar tanpa malu-malu tapi panasnya belum terasa karena udara dingin semalam belum sirna dari embun-embun segar di dedaunan.


Abbie sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia segera turun menuju meja makan dan bersiap sarapan.


"Apa masalah perusahaan papa sudah teratasi?" tanya Abbie memulai perbincangan sebelum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Makanlah dulu. Jangan khawatirkan masalah itu. Oh iya, mama mu bilang kau akan mengikuti Olimpiade," tanya ayahnya.


Abbie mengangguk mengiyakan.


"Belajarlah dengan baik. Jangan mengecewakan D'Alejjandra Group. Kau tahukan masa depan perusahaan itu bergantung padamu. Keberhasilanmu menjadi tolok ukur kejayaannya nanti," jelas ayahnya panjang lebar.


Cih...Perusahaannya yang dipikirkan.


Apa papa tidak ingin tahu siapa yang menjadi pembimbingku?


Tak sanggup menjawab seperti itu, akhirnya Abbie hanya mengangguk lemah.


"Baiklah."


Setelah menghabiskan sarapannya, Abbie segera mengendarai mobilnya membelah udara pagi di pusat kota.


"Kau di mana? Mr. Di Vaio mencarimu. Katanya kita harus bimbingan sekarang," suara seseorang dari teleponnya seberang sana membuat mood Abbie langsung down. Bukan suaranya, tetapi nama seseorang yang disebut itu membuatnya badmood.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca!😙


.


.


.


.


.


.


Love,


Xie Lu♡