Treat You Better

Treat You Better
120. Hidup terus berlanjut



“Lagi? Kan udah empat kali. Masih kurang memangnya?” tanya Adira, matanya sudah membelalak tidak percaya.


Tubuhnya saja sudah sangat lemas karena permainan panas Tristan yang memang sudah libur selama tiga bulan. Dan belum cukup sampai di situ, sebentar lagi saat dirinya sudah melahirkan, Tristan akan libur kembali.


Adira tertawa mengingat itu akan segera terjadi.


“Kok ketawa?” tanya Tristan heran.


Adira hanya menggeleng sebagai jawaban. Tidak mungkin dirinya mengatakan dengan jujur bukan?


“Ini udah jam satu, dan kalau Kakak minta lagi, kita bakal tidur jam berapa?” tanya Adira lengkap dengan wajah piasnya.


Tristan terkekeh pelan menanggapi pertanyaan Adira yang seakan merasa keberatan dengan permintaan dirinya.


Tristan tidak berniat untuk melakukan penyatuan lagi. Dia hanya berniat untuk menggoda istri cantiknya itu. Mungkin karena hormon kehamilannya yang membuat Adira semakin terlihat cantik.


Ngomong-ngomong soal kehamilan, Tristan jadi ingat bahwa dirinya belum mengetahui apa jenis kelamin calon anaknya.


“Kamu udah periksa dengan cara USG belum, Sayang?” tanya Tristan lembut.


“Udah, kenapa memangnya?” tanya Adira santai.


“Udah tahu jenis kelaminnya belum?” tanya Tristan antusias.


Adira menggeleng dan tersenyum.


“Belum. Aku sengaja nggak pengen tahu dulu biar nanti pas lahiran jadi surprise,” jawab Adira memberikan alasan.


Tristan tampak mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti dengan apa yang di ucapkan Adira.


“Bagus kalau begitu. Toh, mau cewek atau cowok sama aja bagi aku,” ucap Tristan kemudian.


“Ya udah, kita tidur dulu ya. Mas Sayang.” ucap Adira sambil membenamkan wajahnya di dada bidang milik Tristan.


Tristan tampak tertegun dengan sebutan baru yang Adira ucapkan.


Bagai kerbau di colok hidungnya, Tristan langsung menurut begitu saja dan memeluk tubuh Adira untuk membawanya menuju alam mimpi.


........


Sudah satu minggu ini Doni dan Amanda meninggalkan mereka semua.


Namun, kehidupan manusia yang masih hidup akan terus berjalan dan berlanjut.


Adira dan Tristan masih berada di kediaman keluarga Wijaya karena tidak mungkin pulang meninggalkan kedua orang tuanya.


Kondisi Tristan dan pak Hendra sudah mulai terbiasa menerima ketidak hadiran Amanda dan Doni. Keduanya sudah tampak legowo dengan kondisi yang sekarang tanpa Doni dan Amanda.


Begitu juga dengan Adira yang sudah mengikhlaskan kepergian Doni dan Amanda.


Hanya saja, ibu mertuanya masih betah mengurung dirinya di dalam kamar dan hanya keluar sesekali saat akan makan.


Adira sangat memahami perasaan yang ibu mertuanya rasakan. Pasti tidak mudah kehilangan anak dan menantunya secara bersamaan.


Adira sangat percaya bahwa ini sudah menjadi ketentuan Allah SWT.


Saat ini Adira sedang menyuapi Echa makan pagi. Dirinya sudah sarapan dengan Tristan tadi. Sekarang giliran Echa yang harus diberi nutrisi.


“Nda, yayah lum puyang?” tanya Echa untuk yang ke sekian kali. (Bunda, ayah belum pulang?)


Adira sampai kehabisan kata-kata harus menjawabnya dengan apa. Sudah banyak sekali kata kebohongan yang Adira ucapkan untuk memberi pengertian kepada Echa.


“Bunda sama ayah urusannya belum selesai. Echa yang sabar ya, mereka pasti juga kangen sama, Echa,” jawab Adira lagi dengan kebohongan.


Echa tampak mengangguk patuh dengan ucapan yang Adira lontarkan.


“Sekarang Echa makan yang banyak dulu biar cepat besar. Nanti kalau udah besar, Echa bisa ketemu sama ayah dan bunda,” ucap Adira lagi sambil menyodorkan sesendok nasi tim lengkap dengan lauk sayur dan daging ayam yang sudah di masak dengan matang.


Echa tampak kebingungan mencerna ucapan dari tantenya itu. Namun tak urung, Echa mengangguk mengiyakan.


Tidak berselang lama, akhirnya makanan Echa habis. Adira segera menyodorkan air putih untuk Echa minum.


Adira segera berjalan menuju wastafel untuk meletakkan piring dan gelas kotor bekas Echa makan.


Sedangkan Echa, dia sudah sibuk lagi dengan mainan legonya.


Tanpa Adira sadari, sejak tadi bu Siska memperhatikan interaksi keduanya yang sudah sangat akrab.


Tapi bukan itu yang menjadi fokus bu Siska. Melainkan pertanyaan yang Echa lontarkan tentang kedua orang tuanya.


Adira begitu pintar dalam menjawab pertanyaan yang Echa lontarkan tanpa harus membuat Echa bertanya lebih jauh lagi.


Bu Siska merasa beruntung memiliki menantu seperti Adira. Dia bisa menjalankan perannya dengan sangat baik.


Bu Siska juga merasa senang, Adira mau merawat Echa dengan sangat baik di saat semua orang sedang dalam masa berkabung.


Kemudian, bu Siska berjalan mendekati Adira yang sedang sibuk mencari sesuatu di dalam lemari pendingin.


“Adira ....” panggil bu Siska lembut.


Adira segera menoleh ke sumber suara dan mendapati ibu mertuanya sudah berdiri di dekatnya.


“Mama! Yuk sarapan dulu, Ma. Mama harus makan biar mag Mama bisa segera sembuh,” ucap Adira sambil berjalan menuju rak piring guna mengambilkan piring untuk ibu mertuanya itu.


Bu Siska masih diam dan memperhatikan Adira yang begitu gesit ke sana dan ke mari.


“Mama duduk dulu. Mama mau makan apa? Di meja ada ayam ungkep. Tapi kalau Mama mau makan yang lain, kaya bubur misalnya, Adira bisa buatkan untuk Mama,” cerocos Adira lagi yang sudah kembali dari meja makan setelah meletakkan piring di atas meja untuk ibu mertuanya.


Bu Siska segera mencekal tangan Adira dengan lembut untuk menghentikan pergerakan gesit yang Adira lakukan.


“Pelan-pelan, Ra. Kamu memang nggak susah lagi hamil besar gitu, jalannya cepat banget,” ucap bu Siska lembut.


“Nggak papa, Ma. Adira percaya, kalau kita nggak mager, pas lahiran nanti pasti akan mudah,” jawab Adira sambil tersenyum simpul.


“Kamu nggak perlu siapin apa-apa untuk Mama. Mama udah berterima kasih banget sama kamu karena mau merawat Echa dengan baik di saat kami sedang dalam masa berkabung,” ucap bu Siska tulus.


“Mama nggak usah ngomong gitu. Aku nggak masalah kalau harus menjadi ibu sambung untuk Echa,” jawab Adira bersungguh-sungguh.


Bu Siska sampai berkaca-kaca mendengar ucapan Adira yang terdengar tulus dan tidak ada keraguan di sana.


“Mama sebagai orang dewasa merasa sangat egois karena mementingkan perasaan Mama sendiri. Padahal Echalah yang paling merasa kehilangan di sini,” ucap Bu Siska merasa rendah diri.


“Ssst ... Mama nggak boleh ngomong begitu. Suatu saat Echa juga bakal mengerti kok, Ma. Tidak ada yang baik-baik saja saat seorang ibu kehilangan anaknya,” jawab Adira berusaha menenangkan.


Tanpa menjawab, Bu Siska langsung berhambur memeluk Adira dan merasa berterima kasih dengan menantunya itu.


Entah akan seperti apa nasib Echa jika tidak ada Adira yang menjaga dan merawatnya.


“Sekali lagi terima kasih ya, Ra. Mama akan berusaha untuk ikhlas dan sabar menerima semua cobaan yang telah Allah SWT berikan kepada kita semua,” ucap Bu Siska yang masih dalam pelukan Adira.


Adira tersenyum bahagia dan menjawab.


“Sebagai manusia, kita hanya bisa mengikuti semua takdir yang sudah di gariskan untuk diri masing-masing, Ma. Allah juga tidak akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan hamba-Nya,”


Setelah Adira mengucapkan itu, tiba-tiba ada tangan yang menarik-narik dress yang Adira kenakan.


Saat Adira menatap ke bawah, ternyata pelakunya adalah Echa.


Adira segera melepas pelukan dan memberikan kode kepada bu Siska untuk menghapus air matanya.


“Oma napa nis?” tanya Echa kebingungan. (Oma kenapa nangis)


“Nggak papa. Tadi cuma kelilipan,” jawab Adira berbohong.


“Nini, Echa iyup.” ucap Echa lucu lengkap dengan suara cadelnya. (Sini Echa tiup)


Bu Siska dan Adira hanya tersenyum sendu menatap begitu lucu dan lugunya seorang Echa.