Treat You Better

Treat You Better
78. Belanja bulanan.



 


Saat ini Adira sudah berada di sebuah supermarket untuk berbelanja. Dia sedang memilih barang yang dia butuhkan untuk kebutuhan dapurnya.


Dia sudah mendorong troli untuk menaruh barang belanjaannya.


“Apa lagi ya, yang kurang?” monolog Adira pada dirinya sendiri.


Matanya menelisik barang belanjaan yang berada di troli.


“Kecap sama saus tiramnya belum,” monolog Adira lagi.


Setelah itu, dia segera mendorong trolinya menuju di mana rak kecap dan kawan-kawan berada.


Saat sudah sampai, tangannya terulur untuk mengambil salah satu kecap.


Bersamaan dengan itu, ada tangan lain yang ingin mengambil kecap yang Adira akan ambil juga.


“Silahkan, untuk anda saja,” ucap Adira dan menarik tangannya kembali.


Dia menoleh kepada seseorang tersebut.


Seseorang tersebut juga menoleh.


Adira terpaku di tempat saat menyadari siapa seseorang tersebut.


Sama halnya dengan Adira, seseorang tersebut juga terkejut.


“Adira?” sapa orang tersebut.


Dia masih tak percaya akan dipertemukan dengan Adira karena tidak sengaja.


Padahal, dia sudah berusaha untuk bisa menemui Adira apa pun caranya.


Dari pihak Adira, sama sekali tidak ada respon baik.


“Elvan ....” ucap Adira masih terkejut dan berusaha mencerna keadaan yang sedang di alaminya.


Seseorang di masa lalu yang sudah mendapat ganjaran karena ulah kriminal yang dia lakukan.


Siapa lagi korbannya, jika bukan Tristan dan Adira.


Ada rasa rindu sebagai teman yang pernah sangat dekat dengannya.


Namun, ada rasa kecewa juga di dalam hati kecil Adira.


“Akhirnya Gue bisa ketemu sama Lo juga. Gue udah berusaha buat bisa temuin Lo, tapi dari pengacara Lo, nggak pernah beri kesempatan,” ucap Elvan.


Dia sangat senang dan bahagia bagai menemukan sebuah lotre milyaran rupiah.


“Buat apa Lo mau menemui gue?” tanya Adira ketus.


Dia segera berjalan sambil mendorong troli meninggalkan Elvan begitu saja.


Elvan yang melihat Adira pergi begitu saja, dia segera mengejarnya dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa berbicara dengan Adira.


Setelah Adira dekat, Elvan segera mencekal tangan Adira agar berhenti dan mau mendengarkannya.


“Ra, beri Gue kesempatan buat bicara ke Lo,” ucap Elvan memohon.


Tanpa menoleh, Adira pun berkata.


“Apa lagi yang mau Lo jelasin?” tanya Adira dengan nada datar dan dinginnya.


Dia melirik tangannya yang dicekal Elvan. Elvan yang menyadari akan ketidaknyamanan Adira, dia segera melepaskan cekalan itu.


“Gue mau minta maaf sama Lo, sama Tristan juga. Kalau Lo ada waktu, kasih Gue kesempatan buat bicara,” ucap Elvan memohon lagi.


Dia memang bersungguh-sungguh ingin meminta maaf dan ingin memperbaiki semua kesalahan yang pernah dia lakukan.


Dia sudah berdamai dengan keadaanya saat ini.


Masalah kesehatan mental, dia sudah sembuh seratus persen dari depresinya.


Adira menghela nafasnya lelah.


Dia berbalik untuk bisa menghadap Tristan.


“Baiklah ... Gue bayar belanjaan Gue dulu. Kita bicara di kafe depan aja,” putus Adira kemudian.


Dia ingin memberi kesempatan kepada Elvan memperbaiki diri.


Bagaimanapun juga, Elvan berhak mendapatkan kesempatan kedua.


Dan setelah menjalani hukumannya, Adira berharap Elvan segera merubah sikap dan sifat buruknya.


Elvan mengangguk dan tersenyum senang. Lalu Elvan berucap lagi.


“Gue tunggu di sana aja ya, Ra. Lo bayar dulu, sekalian Gue pesen minuman,”


Elvan tidak mempermasalahkan itu. Yang terpenting adalah, Adira sudah mau berbicara dengannya.


 


Setelah Elvan berlalu, Adira segera berjalan menuju meja kasir untuk membayar belanjaannya.


Adira harus antri dahulu.


Setelah sampai pada gilirannya, Adira segera memindahkan belanjaan ke meja kasir untuk di scan oleh petugas kasirnya.


“Jadi, satu juta dua ratus lima puluh ribu ya, Mbak,” ucap SPG tersebut.


Adira mengangguk dan menyerahkan kartu ATM nya.


Setelah selesai, Adira segera menenteng barang belanjaannya yang banyak itu.


Pak Yanto yang melihat bosnya kesusahan, segera berlari dan mengambil alih semua belanjaan yang berada di tangan Adira.


“Terima kasih, Pak.” ucap Adira berterima kasih.


“Nggak papa, Neng. Udah jadi tugas saya juga,” jawab pak Yanto sambil tersenyum ramah.


“Pak, aku belum selesai ya. Aku masih ada urusan sebentar. Pak Yanto bisa tunggu di mobil atau mau ngopi dulu juga nggak papa,”


Adira berucap sambil menyodorkan uang satu lembar berwarna merah.


“Ini Pak, pakai ini kalau mau jajan sama beli kopi,”


Pak Yanto menerimanya dengan senyum senang dan menggumamkan terima kasih.


“Terima kasih, Neng.”


Iya. Saya tinggal dulu ya, Pak. Nanti kalau sudah selesai, aku telepon Bapak,” ucap Adira.


Dia segera berlalu meninggalkan pak Yanto dan berjalan ke arah di mana Elvan telah duduk manis di kursinya.


“Mau bicara apa, Van? Langsung aja,” ucap Adira to the point.


Elvan menghela nafas lalu menghembuskannya pelan.


“Waktu Gue di penjara, pengacara Gue udah meminta pengacara Lo buat bawa Lo sama Tristan menemui Gue,” ucap Elvan terpotong.


Dia ingin mengambil nafasnya dulu.


“Gue tau, Gue lancang karena meminta Lo yang datang. Tapi Lo pasti tau alasannya karena Gue nggak mungkin keluar yang temuin Lo,” sambung Elvan lagi.


Adira menghela nafasnya lagi. Dia merasa jengah karena Elvan tidak berbicara langsung ke inti pembicaraan.


“Langsung aja lah, Van. Tujuan Lo mau ngomong sama Gue tuh, sebenarnya apa?” ucap Adira yang sudah merasa tidak betah berlama-lama bersama Elvan.


“Maaf, karena Gue terlalu berbelit-belit. Oke! Gue ke inti pembicaraan aja,” ucap Elvan akhirnya.


“Gue, dengan kesungguhan hati ingin meminta maaf sama Lo sama Tristan juga atas kesalahan yang dulu pernah Gue perbuat. Gue tahu, perbuatan Gue bakalan sulit buat di maafin, tapi Gue akan tetap berusaha selalu meminta maaf sama Lo,” ucap Elvan panjang lebar dan dengan satu tarikan nafas.


Matanya menatap Adira agar Adira percaya, bahwa dirinya dengan segenap hati meminta maaf.


Adira menatap Elvan dengan tatapan yang sulit sekali di artikan.


Kemudian, Elvan melanjutkan ucapannya lagi.


“Beri Gue kesempatan satu kali lagi buat memperbaiki diri, Ra ....” ucap Elvan memohon.


Kedua tangannya sudah menangkup sempurna di depan Adira.


“Gue udah maafin Lo kok. Tapi, buat kita kaya dulu lagi, kayaknya nggak bisa. Semua udah berubah, Van,” jawab Adira membuka suaranya.


“Gue sadar diri kok, Ra. Gue nggak mau meminta Lo buat bisa kaya dulu lagi. Dengan Lo maafin Gue, itu udah buar Gue bisa hidup tenang,” ucap Elvan tersenyum bahagia karena telah mendapat maaf dari Adira.


Adira mengangguk dan balas tersenyum tipis.


Cekrek.


Cekrek.


Cekrek.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengambil foto keduanya secara diam-diam saat keduanya terlihat saling melempar senyum.


Seseorang tersebut tersenyum jahat menatap hasil jepretannya.