
Setelah bercengkerama dengan anak-anak dan orang tuanya yang berada di Jakarta lewat panggilan video, Adira dan Tristan memilih untuk melaksanakan salat isya terlebih dahulu. Setelah itu, mereka pergi keluar untuk mencari makan malam.
Adira mengatakan bahwa dia bosan dengan makanan yang berada di Resort. Dia mengatakan ingin makanan yang lain sambil jalan-jalan menikmati keindahan kota Labuan Bajo di malam hari.
Adira dan Tristan sudah bersiap dengan baju hangatnya untuk keluar dari Resort. Keduanya sudah memakai jaket, syal, kaos kaki, dan juga kaos tangan agar tidak merasa kedinginan saat berada di luar ruangan nanti.
Setelah keluar dari Resort, Tristan langsung menggandeng tangan Adira posesif. Tristan seakan-akan ingin menunjukkan bahwa Adira hanyalah miliknya. Mereka sudah tahu restoran mana yang akan mereka kunjungi. Karena lumayan jauh dari Resort, keduanya memilih memesan taksi online lewat aplikasi.
Tidak berapa lama, taksi tersebut muncul dan keduanya segera masuk untuk menuju restoran yang akan mereka jadikan tempat untuk makan malam.
Sekitar dua puluh menit kemudian, keduanya telah sampai. Setelah turun, Tristan membayar biaya tagihan dan segera menggandeng tangan Adira kembali. Keduanya masuk lebih dalam lagi untuk segera memesan makanan karena perutnya sudah sangat lapar.
Setelah duduk di salah satu meja kosong yang hanya terdiri dari dua meja, Adira segera membuka buku menu dan melihat-lihat makanan ala yang akan dia makan malam ini. “Mas mau pesan apa? Ada nasi kolo nih ... Mau cobain nggak?” tanya Adira sambil masih sibuk membolak-balik buku menu.
“Boleh deh. Aku belum pernah makan nasi bakar khas Labuan Bajo satu ini. Sama pesankan sup ikan kuah asam khas Labuan Bajo juga,” sambung Tristan lagi yang memang sudah tahu ada menu ikan di rumah makan tempat mereka makan.
Adira mengangguk dan segera mencatat semua yang suaminya pesankan. “Aku juga mau nasi Kolo sama sambal teri juga,” ucap Adira yang juga memesan menu yang sama.
“Ya udah, semua makanan khas Labuan Bajo, kamu boleh pesan. Kita harus mencobanya, Sayang,” putus Tristan akhirnya. Dia juga penasaran dan ingin mencicipi makanan khas dari Labuan Bajo.
Adira menurut dan segera menuliskan semua pesanan yang dia mau. Setelah itu, dia memanggil waiters untuk mengambilkan pesanannya.
Nasi Kolo merupakan nasi bakar khas Labuan Bajo yang cara pembuatannya lebih istimewa. Nasi Kolo di bakar menggunakan alat khusus di atas bara api. Nasi Kolo juga diberi bumbu khas sebelum dibakar. Setelah itu, nasi di panggang menggunakan bambu selama tiga puluh menit.
Untuk sup ikan kuah asam juga merupakan makanan khas dari Labuan Bajo. Itu merupakan ikan yang dimasak dengan cara diberi kuah yang rasanya asam dan gurih.
Sambal ikan teri juga sangat cocok untuk di makan bersama dengan nasi Kolo. Itu merupakan perpaduan yang enak dari sebuah makanan khas dari Labuan Bajo.
Selang beberapa menit, makanan yang Adira pesan sudah siap dan di antar menuju mejanya. Selain makanan di atas, Adira juga memesan tumis bunga pepaya khas Labuan Bajo. Rasanya tentu tidak kalah enak dari makanan yang lainnya.
“Wow! Ternyata bukan hanya nasi ya, yang keluar,” ucap Adira terkejut saat nasi Kolo yang dia pesan sudah lengkap dengan lauknya. Ada ayam goreng, tahu, tempe, sambal dan lengkap dengan lalapannya.
Tristan juga sama terkejutnya. Salah mereka juga karena Riska bertanya lebih dulu. “Nggak papa. Entar kita habisin sama-sama,” ucap Tristan menenangkan. Adira mengangguk dan segera memakan makanan pesanannya.
Lidah Adira dan Tristan langsung ter manjakan dengan gurih dan nikmatnya nasi Kolo khas Labuan Bajo. Tidak butuh waktu lama, nasi habis beserta lauk-pauknya. Adira juga sudah mencampurkan sambal ikan teri dan juga tumis bunga pepaya. Tristan juga memakan apa yang Adira makan.
Tinggallah sup ikan kuah asam yang belum tersentuh sama sekali. Perut Tristan dan Adira sama sekali belum kepenuhan untuk mengisinya lagi dengan sup ikan di depannya.
“Tinggal satu lagi, dan kita bakal menang,” ucap Tristan sambil tersenyum menatap Adira. Adira mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. “Perut aku masih muat kok untuk di isi dengan sup ikan ini,” jawab Adira dan langsung menyendoknya ke atas piringnya.
Lagi-lagi lidah Adira dan Tristan begitu di manjakan dengan kenikmatan makanan khas Labuan Bajo.
“Habis makan dan kenyang, aku jadi ngantuk,” ucap adira yang sudah merebahkan dirinya di atas ranjang yang berukuran king size. Tristan mendekat dan duduk di pinggiran ranjang. “Ternyata, makanan di sini enak-enak banget ya. Tapi kamu harus gosok gigi sama bersih-bersih dulu, Sayang,” ucap Tristan sambil memerintah Adira dengan lembut.
Namun sedetik kemudian, Tristan bisa mendengar dengkuran halus keluar dari mulut Adira. Tristan hanya bisa menggelengkan kepalanya karena Adira mudah sekali tertidur jika sudah kenyang.
Karena tidak mau mengganggu istirahat istrinya, Tristan membenarkan posisi tidur Adira dengan hati-hati. Setelah itu, dia menyelimuti Adira agar tidak kedinginan. Sedangkan dirinya, dia tidak langsung tidur melainkan menggosok giginya dan bersih-bersih. Setelah itu, baru Tristan menyusul istrinya menuju alam mimpi.
*
Samar-samar Tristan mendengar suara ayam berkokok yang entah dari mana asalnya. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak pernah Tristan dengar karena hidup di kota besar dan sudah modern.
Saat melihat jam pada ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi waktu Indonesia bagian timur. Setelah mengumpulkan nyawa sebanyak-banyaknya, Tristan beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Tristan sempat melirik Adira yang masih saja tertidur sangat pulas. Hal itu membuat Tristan tidak tega untuk membangunkannya. Akhirnya, Tristan memilih untuk mandi dahulu. Nanti, setelah dirinya selesai mandi dan Adira belum juga bangun, dengan sangat terpaksa Tristan akan membangunkan Adira.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, Tristan sudah kembali dari kamar mandi. Tristan masih saja melihat Adira tertidur begitu pulas. Saat melihat jam di ponsel, waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi dan sebentar lagi Adira bakal terlambat untuk melaksanakan salat subuh.
Akhirnya Tristan memilih untuk membangunkan Adira. “Sayang, bangun ... Udah subuh nih ....” ucap Tristan lembut dan menggoyangkan tubuh Adira agar terbangun. Tidak susah untuk membangunkannya, Adira langsung membuka matanya dan mendapati suaminya yang sudah lengkap dengan baju salatnya.
“Udah subuh ya? Mas udah mandi? Udah salat?” tanya Adira sambil berusaha untuk duduk, tangannya sibuk mengucek kedua matanya yang seakan enggan untuk terbuka.
Tristan tersenyum dan mengangguk. “Ayo mandi dulu. Aku salat dulu aja nggak papa ya? Takut nggak keburu kalau nungguin kamu,” ucap Tristan lagi sambil tersenyum lembut menatap istrinya.
“Iya, aku mandi dulu kalau begitu,”
.
.
.
.
**Aku mau kasih pengumuman nih. sebentar lagi, kisah adira sama Tristan bakal selesai...
terima kasih untuk yang masih setia baca dan kasih dukungannya.
ikuti terus kisah Adira sama tristan sampai tamat ya..
hanya sebentar lagi aja kok hihihi😁😁**