Treat You Better

Treat You Better
Lamaran.



 


Kedua orangtua Tristan benar-benar merealisasikan keinginan nya untuk melamar Adira. Mereka sudah menyiapkan segala sesuatunya. Termasuk hantaran yang akan dibawa dan diberikan kepada Adira.


Adira juga telah memberi tahu orangtuanya dan tentu saja orangtua Adira sangat bahagia untuk itu. Mereka juga menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan keluarga Tristan.


Keluarga Adira tidak mengundang kerabat maupun keluarga lainnya. Karena ini masih lamaran. Mungkin nanti pas acara pertunangan, keluarga Adira akan mengundang kerabat dan keluarga dekat.


Pagi ini rencananya, Adira dan mamanya ingin pergi ke butik untuk membeli dress yang akan Adira kenakan nanti. Keluarganya juga nanti. Mamanya juga akan melakukan hal yang sama.


“Yang ini gimana Ra?”. Tanya Bu Dewi menunjukkan sebuah dress untuk kesekian kalinya.


Ya, mereka memang telah berada di butik dan sedang memilih dress mana yang cocok.


“Nggak ma. Adira nggak suka modelnya”. Jawab Adira untuk kesekian kali.


“Pusing mama. Ya udah kamu pilih sendiri aja. Mama juga mau milih.” Ucap Bu Dewi sambil memijat pelipisnya.


“Iya, Adira cari sendiri aja. Mama juga cari yang bagus buat mama gih.” Ucap Adira menyetujui.


Mamanya itu terlalu bersemangat. Yang akan dilamar siapa yang paling semangat siapa. Ck.


Akhirnya kedua wanita beda generasi itu mencari kebutuhannya masing-masing. Adira segera menemukan dress yang cocok untuk dirinya.


Adira tersenyum sumringah menatap dirinya di kaca ruang ganti.


Begitu juga mamanya, dia membantu Adira untuk mencoba dressnya. Dan dia sangat takjub dengan dress yang Adira kenakan. Sangat pas ditubuh Adira. Adira terlihat sangat cantik.


“Cocok ini Ra. Mama suka ini. Bagus modelnya”. Ucap Bu Dewi sambil tersenyum sumringah.


“Siapa dulu yang milih gitu loh.” Jawab Adira jumawa.


Setelah mendapatkan yang diinginkan. Keduanya tidak langsung pulang dan menuju salon.


Bu Dewi menyuruh Adira untuk spa terlebih dahulu agar tubuh Adira segar dan bersih. Ibunya juga melakukan hal yang sama.


Bu Dewi merindukan saat-saat seperti ini. Saat bisa belanja dan pergi ke salon bersama Adira. Karena kesibukannya masing-masing, keduanya hanya bisa bertemu di rumah.


Mengingat semua itu, mata Bu Dewi berkaca-kaca. Anaknya sudah dewasa. Padahal baru kemarin rasanya dia menggendong dan menyusui Adira. Waktu cepat sekali berlalu.


Bu Dewi mengusap matanya agar air matanya tidak dilihat oleh Adira.


“Udah ma. Kita pulang sekarang?”. Tanya Adira yang memang sudah selesai perawatan.


“Udah yuk. Kita harus siap-siap dirumah.” Jawab Bu Dewi berusaha bersikap baik-baik saja.


“Oke ma.” Ucap Adira tanpa curiga kepada mamanya. Bu Dewi sangat bersyukur Adira tidak mengetahui dia menangis.


Ini hari bahagianya, sebagai seorang ibu, Bu Dewi tidak ingin Adira bersedih karena melihat ibunya menangis.


.........


Kabar tentang lamaran Adira dan Tristan terdengar sampai ke telinga Elvan. Hal itu tentu saja membuat Elvan marah karena Tristan selalu selangkah lebih maju darinya.


Keadaan Elvan belum pulih sepenuhnya. Setelah pulang dari rumah sakit, Elvan dianjurkan untuk banyak beristirahat. Seperti saat ini, semua barang yang ada di dalam kamarnya hancur berantakan karena Elvan. Dia melampiaskan kemarahannya lewat benda-benda yang ada di kamarnya.


Randi yang mengetahui itu tidak ingin mendekat dahulu. Takut malah jadi sasaran kemarahan Elvan.


Papanya tentu saja pergi ke luar negeri lagi. Bahkan dalam masa Elvan sakit, papanya hanya menemaninya dua hari. Setelah itu dia sibuk kembali dengan pekerjaannya.


Elvan akan segera menyusun rencana setelah dia benar-benar sembuh dan bisa berjalan normal.


Dia masih tetap pada pendiriannya, bahwa Adira harus menjadi miliknya.


.........


“Ayo ma buruan. Kita pasti udah ditungguin.” Ucap Tristan tidak sabaran ingin segera menemui dan melamar Adira.


“Iya bentar Tris. Mama sama Amanda kan harus make up dulu. Lama dikit nggak papa.” Ucap Bu Siska sedikit kesal. Karena dari tadi anaknya itu memintanya untuk cepat-cepat berangkat.


“Bentar Napa bang. Banyak barang yang harus di siapin. Bantuan dong biar cepet.” Sahut Amanda yang juga lumayan kesal.


Pletak!


Bu Siska menjitak kening Tristan.


“Aw! Apa sih ma. Main kasar terus”. Pekik Tristan sambil mengelus bekas jitakan mamanya.


Amanda yang melihat itu pun tertawa.


“Emang kamu mau ke rumah Adira nggak bawa apa-apa? Malu-maluin banget. Untung mama kamu ini pengertian dan tidak sombong. Jadi segalanya udah diurus sama mama sama Amanda.” Jawab Bu Siska sombong karena anaknya ini masa tidak tahu menahu tentang lamaran.


Harusnya walau belum pernah melamar seseorang, Tristan mesti tahu tata caranya. Bu Siska kesal di buatnya.


“Oooooh.. iya ya ma. Terus gimana nih. Dimana barangnya? Tristan bawa ke mobil dulu kalo gitu”. Ucap Tristan paham.


Kemudian Bu Siska menunjukkan dimana barang-barang hantarannya dan Tristan segera membawanya ke mobil.


Tepat pukul tujuh malam, mobil yang di kendarai keluarga Tristan memasuki halaman rumah Adira.


Suasana di rumah Adira lumayan dari biasanya. Karena memang asisten rumah tangga dan tukang kebun lembur karena acara lamaran itu. Ditambah ada Lidya dan Kinara yang bikin heboh se isi rumah.


Sedangkan barang hantaran, Bu Siska menyuruh pegawai di rumah Adira membantu membawakannya.


Jantung Tristan berdegup kencang saat memasuki rumah Adira. Padahal sudah sering sekali Tristan kerumah Adira. Namun hari ini berbeda. Kehadirannya disini untuk meminang Adira. Tristan tentu gugup setengah mati.


Setelah sampai di ruang tamu, keluarga Tristan langsung disambut oleh Bu Dewi dan pak Irawan. Bu Dewi dan Bu Siska melakukan cipika-cipiki. Amanda juga melakukannya dengan Bu Dewi.


Sedangkan pak Irawan, dia berpelukan ala pria cool dengan pak Hendra. Sedangkan Tristan, dia memilih mencium punggung tangan om Irawan. Amanda juga melakukan hal yang sama.


Lalu kedua orangtua Adira mempersilahkan keluarga Tristan untuk duduk dan akan segera memanggil Adira untuk turun.


“Gimana kabar kamu wan.” Tanya pak Hendra kepada pak Irawan.


“tidak lebih baik dari hari ini hen. KoAku bahagia banget hari ini”. Jawab pak Irawan disertai kekehan.


“Kita akan jadi besan” ucap pak Hendra yang juga ikut terkekeh.


Tristan, Amanda dan papa mamanya duduk di satu sofa panjang yang muat untuk empat orang. Sedangkan pak Irawan, dia duduk di single sofa yang diapit oleh dua sofa panjang.


Tidak lama kemudian Bu Dewi terlihat menuruni tangga. Lalu tidak jauh dibelakangnya, ada Adira.


Tristan sampai tidak bisa berkedip saking terpananya dengan penampilan Adira.


Adira memakai dress floral berwarna Sage green. Sangat manis dan pas untuk Adira. Rambutnya di gerai dan di bagian pangkal rambutnya dibuat bergelombang.



Saat Adira sampai di ruang tamu, Tristan masih belum mengalihkan pandangannya. Dan itu membuat para orangtua ingin menjahilinya. Termasuk Amanda.


“Kedip dong kedip. Kelilipan nanti” ledek pak Hendra yang memperhatikan Tristan dari tadi.


“Waah Kakak ipar gue emang cantiknya luar biasa”. Puji Amanda yang juga terpana dengan kecantikan calon kakak iparnya itu.


“Hai om.. Tante..” ucap Adira kemudian. Lalu menyalami calon mertuanya dengan mencium punggung tangannya.


“Cantik banget kamu Ra. Tristan sampe nggak kedip tuh”. Ucap Bu Siska saat Adira menyalaminya. Dagunya menunjuk ke arah Tristan.


“Bisa aja Tante hehe.” Jawab Adira malu-malu


Adira pun duduk disebelah ibunya yang sudah duduk terlebih dahulu di sofa yang bersebrangan dengan sofa yang diduduki Tristan.


Saat ini Tristan dan Adira duduk saling berhadapan. Mata Tristan benar-benar tak bisa mengalihkan pandangannya dari Adira.


Adira yang ditatap se intens itu oleh Tristan menjadi salah tingkah. Dia menyelipkan anak rambut yang lancang menutupi wajahnya untuk mengusir rasa gugup itu.