Treat You Better

Treat You Better
Oh Adira!



 


Tristan menimang-nimang ucapan Adira. Perkataan Adira ada benarnya juga. Dia tidak akan membantu untuk hal yang satu ini. Tristan berharap, keputusannya sudah benar.


“Benar yang kamu bilang. Kamu nggak marah kan?”. Tanya Tristan kemudian.


“Marah untuk apa?”. Tanya Adira merasa bingung.


“Soal tadi siang .... Aku bantuin Sindy..”. ucap Tristan pelan dan sangat hati-hati.


“Aku nggak marah. Tapi..... Siapa tadi nama anaknya Sindy?”. Ucap Adira terpotong karena lupa akan nama Kenrick.


“Kenrick. Panggilannya Ken”. Jelas Tristan masih menatap Adira.


Adira melirik sinis ke arah tristan, lalu membuang pandangannya ke arah depan.


“Langsung hafal nih ya yang jadi ayah pura-pura”. Ucap Adira ketus. Karena memang sejak tadi Adira menahan dongkol akibat cerita masalalu Tristan. Dia tidak bisa untuk tidak peduli. Adira tetap merasa kepikiran.


Masa lalu ...


Biarlah masalalu.


Jangan kau ungkit jangan ingatkan aku


Masa lalu ...


Biarlah masalalu..


Sungguh ...


Hatiku tetap cemburu.


Lagu yang benar-benar mewakili hati Adira saat ini. Kenapa dia jadi bernyanyi. Ck.


Tristan tergelak dengan sikap Adira.


“Nggak. Nggak gitu. Emang kan mudah juga namanya di ingat”. Jawab Tristan menjelaskan dan tidak ingin Adira salah paham.


“Lanjut tadi mau ngomong apa Ra”. Ucap Tristan mengalihkan topik pembicaraan.


“Oke.. aku nggak marah. Mungkin niat Kakak ingin membantu. Tapi apa suatu hari tidak menjadi Boomerang untuk diri kakak sendiri?. Secara kan sekarang kenrick taunya kakak tuh ayah kandungnya, dan akan menganggapnya seperti itu terus. Lalu sampai kapan? Apa kakak benar-benar sanggup?”. Ucap Adira sambil menatap Tristan memohon pengertian.


Tristan masih mencerna ucapan Adira. Dia masih setia dengan diamnya. Adira yang menyadari itu langsung menyambung


ucapannya.


“Tapi kakak sudah melangkah terlalu jauh dengan mau membantunya tadi siang. Mungkin mulai sekarang, kak Tristan akan selalu dicari oleh Kenrick. Dan dia akan bertanya dan meminta bertemu lagi dan lagi..”. ucap Adira lagi.


“Lalu? Aku harus bagaimana?. Aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih Ra. Kepalaku rasanya penuh”. Ucap Tristan sambil menjambak rambutnya kasar.


“Hei tenang kak. Kita akan jalani sama-sama. Kita akan cari jalan keluar sama-sama”. Ucap Adira menenangkan. Sesegera mungkin Adira menyambar tangan Tritan dan menggenggamnya. Tristan yang mendapat perlakuan seperti langsung menatap tangannya sendiri yang berhasil di genggam Adira.


Mata mereka saling beradu. Saling bertatapan begitu dalam. Tristan pun membalas genggaman tangan Adira dengan menaruh telapak tangannya di punggung tangan Adira yang menggenggam tangannya.


“Oh Adira .....”. pekik Tristan merasa gemas dan lega dengan sikap Adira.


“Terima kasih. Maaf aku belum bisa menjadi yang terbaik buat kamu”. Ucap Tristan sambil menatap sendu Adira.


Adira tersenyum menanggapi.


“Untuk menjadi yang terbaik itu nggak mudah. Seperti yang sedang aku usahakan saat ini”. Ucap Adira balas menatap Tristan.


“Makasih Ra. Makasih karena kamu udah percaya. Kamu bahkan masih mau bersamaku setelah apa yang aku lakukan di masalalu”. Ucap Tristan tak bisa berkata-kata lagi. Adira benar-benar bisa menenangkannya. Disaat ketakutan dan kekalutan menghantui, Adira mau merangkulnya dan mengajaknya menghadapi bersama-sama. Tristan memang tidak salah pilih.


Dia ingin hanya Adira yang mendampingi hidupnya, selamanya.


“Jika kita mencintai seseorang, kita juga harus mencintai masa lalu nya. Karena setiap orang pasti punya masalalu. Dan masalalu itu sudah berlalu. Yang terpenting sekarang dan masa depan”. Ucap Adira lagi.


Tristan benar-benar merasa beruntung memiliki Adira. Adira memang gadis pengertian. Hati dan logikanya seakan berjalan seirama.


.............


Setelah cukup lama berbincang masalah serius, Tristan mengajak Adira keluar mencari makan malam. Setelah sebelumnya pamit terlebih dahulu kepada orangtua Adira. Ya, Tante Dewi dan Om Irawan sudah berada dirumah tepat pukul lima sore. Dan bertepatan itu juga, Adira dan Tristan telah menyelesaikan pembicaraannya. Tristan akhirnya bisa bernafas lega.


Akhirnya Tristan memilih bercengkrama dengan kedua orangtua Adira. Mereka membicarakan kegiatan hari ini dan untuk Tristan dan papa Adira, jika sudah bertemu pasti yang dibahas masalah bisnis.


Tepat pukul enam lewat tiga puluh menit, mama dan papa Adira berangkat menuju tempat diadakannya resepsi pernikahan teman bisnisnya. Dan saat itu juga, Adira dan Tristan memilih keluar untuk mencari makan malam.


“Kamu mau makan apa Ra?”. Tanya Tristan sambil masih fokus mengemudi.


“Pecel lele aja gimana kak?. Kayaknya enak tuh”. Jawab Adira. Dia merasa air liur nya ingin menetes membayangkan ikan lele di cocok sambel tomat. Apalagi ditambah lalapan daun kemangi dan mentimun, Adira merasa sudah tak sabar untuk segera sampai.


“Oke. Kita makan pecel lele”. Ucap Tristan kemudian.


Walau Adira terbiasa hidup mewah, dia tidak malu meminta makan di pinggir jalan. Adira memang gadis luar biasa. Pikir Tristan. Dia sungguh merasa beruntung.


Akhirnya mobil yang dikendarai keduanya sampai. Tristan memarkirkan mobilnya di tepi jalan terlebih dahulu. Setelah berhasil parkir, Tristan dan Adira segera turun menuju stand penjual pecel lele.


Setelah sampai stand, Tristan langsung menyebutkan pesananya.


“Bang, pecel lele dua sama minumnya teh manis anget dua ya bang”. Ucap Tristan kepada Abang tukang pecel lele itu.


“Siap mas. Ditunggu”. Jawab Abang tersebut.


Kemudian Tristan dan Adira segera mencari tempat kosong. Untung disini tidak terlalu ramai. Jadi memudahkan keduanya untuk mendapat kursi duduk. Mereka duduk saling berhadapan.


“Kak Tristan..” panggil Adira lirih.


“Kenapa Ra?”. Tanya Tristan sambil menatap Adira.


“Disebelah stand ini kan ada tukang bubur kacang itu tuh...” ucap Adira ragu-ragu.


“Iya ada. Terus kamu beli gitu?”. Tanya Tristan sambil tersenyum. Dia tau sejak tadi Adira tidak melepaskan pandangan ke Abang tukang bubur.


“Hehee.. tau aja”. Adira menjawab dengan kekehan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Ya beli aja nggak papa. Nanti habis makan dari sini langsung beli”. Ucap Tristan yang berhasil membuat senyum Adira terbit.


“Oke makasih kak”. Jawab Adira sumringah.


“Bagus lah kalau kamu makannya banyak. Biar nggak kurus gitu”. Ucap Tristan meledek.


“Mana ada aku kurus. Ini tuh body goals yah..”. jawab Adira merasa tak terima di Katai kurus.


Tristan hanya terkekeh menanggapi. Tristan menelisik tubuh Adira  dari atas ke bawah. Memang, tubuh Adira tipe-tipe body goals banget. Sebagai laki-laki Tristan mengakui itu. Tinggi badan proporsional,kulit putih mulus, hidung mancung, bulu mata lentik dan turun ke bawah lagi......


Ck...


Tristan berdecak untuk dirinya sendiri. Tristan menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir pikiran bersihnya. Hahaha.


“Kenapa kak?”. Tanya Adira sambil memicingkan mata seakan tau apa yang ada dipikiran Tristan.


Saat sadar Tristan memperhatikan dua gundukan di dadanya, Adira langsung menutupi dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“Stop it!. Kakak liatin apa hah!!”. Pekik Adira merasa malu dan tak terima.


Tristan langsung gelapan sendiri. Tapi tak urung dia terkekeh.


“Memang apa yang aku lihat?”. Tanya Tristan santai.


“Jangan sok polos gitu deh. Aku tuh tau pikiran kakak kemana mendengar kata body goal. Nyesel aku ngomong gitu”. Ucap Adira kesal. Wajahnya cemberut.


Tristan tertawa dibuatnya. Melihat ekspresi Adira yang begitu menggemaskan dan tebakan Adira memang benar.


“Udah jangan cemberut gitu. Belum saatnya buat si unboxing. Tunggu sampai halal dulu”. Ucap Tristan sambil tersenyum smirk ke arah Adira.


Pipi Adira langsung merona. Karena rasa malu dan tidak bisa menimpali ucapan Tristan, Adira melayangkan pukulan bertubi-tubi di lengan Tristan yang bertumpu di atas meja.


“Stop!! Stop!. Udah ya udah.. aku minta maaf oke?”. Ucap Tristan menenangkan.


Adira langsung berhenti dan bersedekap. Bibirnya mencebik.


“Unboxing ... Unboxing...” gumam Adira kesal yang masih bisa di dengar oleh Tristan.


Tristan mengulum senyum. Senang sekali menggoda Adira.